Minggu, 23 April 2017

Terpikat Pesona Pantai Coro dan Tebing Banyu Mulok

Matahari bersinar dengan cerahnya sementara udara sejuk memenuhi pagi. Tanpa pikir panjang saya langsung bergegas mengambil motor. Mengajak saudara kecil saya untuk menyusuri jalanan desa yang masih lengang. Terlintas sebuah keinginan untuk menikmati suasana pantai, meskipun sudah terbilang cukup sering. Desa tempat saya tinggal memang tidak jauh dari pantai selatan Jawa. Banyak keindahan alam yang bertebaran. Yang terdekat seperti Watu Gedong dan Kalimas sudah saya tuliskan sebelumnya, dan sampai sekarang pesonanya tetap menjadi buah  bibir. Saya tinggal di Kabupaten Tulungagung lebih tepatnya di bagian paling barat dan berbatasan langsung dengan kabupaten Trenggalek.Jika ditarik garis lurus kurang lebih hanya 14 kilometer saja jarak antara rumah dengan kawasan teluk popoh yang terkenal itu.


Kawasan teluk popoh punya segudang tempat - tempat menawan. Secara beruntun sahabat bisa mengunjungi Pantai Klatak, Pantai Gemah, Pantai Bayem, Trowongan Neyama, Pantai Sidem, Padepokan Reco Sewu, Laut Bebas dan Pantai Popoh sendiri yang sudah melegenda. Terlebih lagi setelah kawasan tersebut di lewati Jalur Lintas Selatan. Membuat siapapun selalu antusias untuk mengeksplorasinya.

Di perjalanan saya sempat pesimis. Mengingat akhir pekan yang ramai, itu tandanya harus berbagi pantai dengan pengunjung yang lain. Rasanya mustahil mendapat suasana yang lebih tenang. Saya teringat nama pantai yang sudah lama saya dengar. Tetapi belum sempat saya kunjungi. Pantai Coro, begitulah orang biasa menyebutnya. Letaknya di sebelah timurdan berdekatan dengan pantai popoh. Pertama mendengar Pantai Coro ketika masih sekolah tingkat pertama. Jalan yang harus ditempuh terbilang sulit namun pantainya masih alami begitulah penjelasan dari teman saya. Penjelasan singkat tersebut membuat rasa penasaran saya memuncak. Namun sudah hampir bertahun – tahun belum juga kesampaian.

Hanya lima belas menit saja saya sudah sampai di kawasan popoh. Tentu saya sudah hafal betul jalanannya. Dulu hampir setiap minggu saya menghabiskan waktu di kawasan tersebut. Sedikit naik turun gunun dan melewati hutan kecil sampailah saya di jalan percabangan. Papan petunjuk sederhana itu memberikan informasi cukup jelas. Arah sebelah kanan langsung menuju pantai Popoh. Arah sebelah kiri kemudian saya pilih. Motor melewati padepokan reco sewu, salah satu jalur menuju Pantai Coro dan Tebing Banyu Mulok. Sedikit informasi, Banyu Mulok sendiri belakangan juga naik daun. Suatu tempat dengan padang rumputnya yang luas dan tebing batu yang megah. Meskipun sudah tersohor lagi - lagi saya juga belum sempat mengunjunginya.Kembali ke perjalanan, saya memilih parkir tepat didepan jalur masuk. Berisiap - siap jalan kaki dan menaklukan medan didepan sana, demi Pantai Coro dan Bonusnya Tebing Banyu Mulok.

Panas terik pagi mulai terasa. Menerawang kedepan hanya terlihat jalan kecil menembus belantara. Kondisi jalan setapak masih alami, hanya berupa tanah tanpa pengecoran. Beruntung cuacanya mendukung, kalau musim hujan tentu lain ceritanya. Kondisi seperti ini sangat mirip dengan perjalanan yang saya lakukan setahun lalu di Pantai Gatra dan Tiga Warna (Malang Selatan). Rumusnya sangat jelas, tempat - tempat yang tergolong alami selalu memerlukan usaha ekstra untuk mendapatkanya. Saya sempat menanyakan langsung pada penduduk sekitar. Berapa jarak yang harus saya tempuh dengan jalan kaki. “Kurang lebih satu setengah kilometer mas untuk sampai di sana” Jawab seorang penjaga parkir dengan ramah. Sambil menghela nafas, saya keluarkan hanphone dari saku celana. Mencoba memastikan jarak sebenarnya dengan google maps. Ternyata jika ditarik garis lurus jaraknya 1 km dari parkiran. Tetapi dengan kondisi jalan yang tidak semuanya lurus saya kira memang lebih dari 1 Km.


Langkah pertama saya mulai. Menginjakan kaki dan mencoba menikmati perjalanan kecil ini. Banyaknya pohon jati memberikan keuntungan sendiri bagi saya. Selain menjadi payung alami, pemandangan khas hutan bisa dinikmati di sepanjang perjalanan. Belum lama berjalan sudah disambut kali kecil yang memotong jalan. Airnya cukup jernih dan mengalir lirih melintasi batu - batu alam. Entah dari mana sumbernya yang pasti air tersebut air tawar. Tidak jauh dari kali pertama ini saya juga mendapati kali lagi. Ukuranya sedikit lebih lebar dan sekali lagi airnya jernih menggoda. Menurut warga segitar untuk sampai di Pantai Coro harus melawati tujuh kali terlebih dahulu. Kali - kali tersebut hanya berukuran kecil dan tidak perlu menggunakan jembatan.

Dalam perjalanan saya menjumpai beberapa pengunjung lain. Mereka terlihat berhenti sejenak di pinggir jalan. Kebanyakan dari mereka masih usia remaja. Namun ada juga satu dua rombongan keluarga. Sesuai perkiraan saya, pengunjungnya bisa dihitung jari meskipun akhir pekan. Beberapa menit kemudian saya sampai di pos pertama. Dua orang penjaga berseragam tampak sudah siap menyambut. Dari dalam loket sederhana itu mereka sibuk mempersiapkan tiket. Di sebelahnya ada dua warung kecil dan lainya hutan. “Tiket masuknya lima ribu mas, satu orang saja”  ucapnya pada saya. Sesudah membayar saya bergegas melanjutkan perjalanan. Pikir saya sudah dekat, ternyata kondisi jalannya lebih ekstrim.


Batu besar di samping kanan dengan jalanya miring empat puluh lima derajat wajib dilewati. Sangat asik untuk berpetualang, meskipun cukup untuk membuat kita ngos - ngosan. Di bawah jalan miring tersebut saya berjumpa dengan penduduk sekitar. Seorang bapak setengah baya yang sibuk dngan hasil panen pisangnya. Dua keranjang pisang – pisang besar tampak penuh dibawanya. Namun ada sedikit masalah dengan motornya. “Sudah biasa pak pakai motor di jalan seperti ini ?” sapa saya. “Biasa mas, biasanya juga lancar - lancar saja, Cuma ini tadi salah setingan motornya”. Saya kembali menerawang keatas dan membayangkan bagaimana motor bebek tersebut bisa naik.

Kucuran keringat sudah membasahi badan. Untungnya semilir angin dengan cepat meredakanya. Begitu segar, sensasi bahagia seperti habis berolahraga seketika itu juga muncul. Saya kembali bersemangat dan tetap melangkah dengan santai. Dari jauh tampak warna biru di sela - sela pohon jati yang berbaris rapi. Semakin saya dekati malah tidak sampai - sampai. Warna awan yang cerah berubah seperti fatamorgana di tengah perjalanan yang terik ini. Tampa sadar saya sudah berada di depan warung kecil. Hanya ada satu warung itu saja, di sampingnya hutan belantara. “Mampir dulu mas, istirahat sebentar disini” sapa seorang ibu mencairkan suasana. Saya hanya tersenyum dan membalas sapa kemudian melanjutkan perjalanan. Karena matahari juga sudah mulai naik. Sesekali saya juga menjumpai gubuk - gubuk kecil tempat singgah penduduk. Aktifitas berkebun menjadi roda ekonomi andalan. Karena tanahnya yang subur,kebun - kebun tumbuh dengan hasil bumi yang melimpah ruah disini.

Perjalanan yang cukup panjang akhirnya mulai menunjukan hasil. Masih dari atas bukit saya melihat warna biru lagi. Warna biru sedikit hijau yang berbatasan langsung dengan warna putih kecoklatan pasir pantai. Hamparan pantai seluas 400 meter sangat menawan dari kejauhan. Saya menghentikan langkah sejenak. Di tengah semak - semak liar itu saya menghirup nafas panjang. Memandangi lagi dengan setengah tidak percaya. Ternyata ada juga pantai berpasir putih di sekitar teluk popoh, sementara pantai - pantai lain di sekitarnya semua berpasir coklat.


Tidak sabar rasanya segera turun kebawah. Jalan mulai sedikit menurun, di sampingnya terdapat sebuah bukit. Dengan hati - hati saya menyusurinya. Sebuah bener yang dipasang di antara dua pohon menjadi penanda pintu masuk yang sederhana. Gambaran singkat tentang Pantai Coro ini adalah berada di balik bukit. Membentuk teluk berukuran kecil. Menghadap langsung ke arah selatan samudra Indonesia. Di kedua sisinya diapit tebing batu megah. Bahkan di sisi barat gugusan tebing batu terlihat memanjang dan luar biasa. Kesan alami begitu kuat saya rasakan. Sedikit sekali pengunjung yang datang. Bahkan bisa kita ibaratkan pantai pribadi.


Pasirnya putih sedikit kecoklatan dan tentunya sangat bersih. Memanjang dari barat ke timur. Pohon - pohon yang teduh dengan akarnya yang besar memenuhi pinggir pantai. Membuat siapapun yang datang ingin bersantai di bawahnya. Saya langsung melepaskan sendal, membuat jejak kaki di pasirnya yang lembut. Memandangi batu - batu karang yang terhempas ombak. Sayang ombaknya cukup besar.


Boleh bermain air tapi disarankan di tepi saja demi keamanan. Saya sangat menikmati setiap jengkal pasirnya. Dari ujung barat sampai ujung timur sangat sayang untuk di lewatkan. Ada juga sumber air tawar yang keluar dari bawah pohon. Mengalir lirih menyisir batu karang yang menjadi pembatas pantai.

Di sisi paling timur, saya rasa menjadi tempat ternyaman. Saya sedikit naik keatas menghampiri warung yang ada di pinggir Pantai. Dua botol minuman dingin segera saya beli. Minum di bawah pohon dengan suasana pantai yang sepi menjadi simulasi surga dunia. Saya cukup lama terdiam, meresapi kemegahan ciptaan Tuhan yang satu ini.

Tebing Banyu Mulok
Tidak mau larut dalam buaian pesona Pantai Coro saja, ingatan saya kembali tersedar. Tebing Banyu Mulok masih menjadi teka - teki yang belum terpecahkan. Rasa penasaran tentang kemegahanya menguasai rasa ingin tahu saya. Itu semua karena papan petunjuk di sebelah timur pantai Coro. Di dekat karang besar ada jalan setapak menuju arah timur. Semak belukar tumbuh dengan liar disana. Tingginya cukup untuk menyembunyikan tubuh kami. Semakin lama jalanya semakin naik. Semakin naik pemandangan yang didapat malah semakin menakjubkan. Seakan tidak peduli panas, langkah kaki tetap semangat mengitari bukit kecil. Terdepat gubuk kecil, mungkin digunakan sebagai tempat jualan. Satu tanjakan panjang berhasil saya tuntaskan.


Saya seperti berada disisi lain dari bukit sebelumnya. Samar - samar warna biru laut mengintip dari jauh. Sejauh mata memandang lebih didominasi rumput liar. Sedikit sekali pohon, kalaupun ada bisa dihitung jari jumlahnya. Namun tidak ada kesan gersang yang saya temui. Semua berwarna hijau atau dalam bahasa jawa terkenal dengan istilah ijo royo - royo. Jalan setapak masih belum selesai di tempuh.


Saya masih harus berjalan lagi beberapa langkah untuk sampai di Banyu Mulok. Membelah hijaunya rumput liar yang dari jauh lebih mirip dengan kebun teh. Sebuah bendera merah putih dengan gagah berkibar di atas tebing. Menjadi penanda bahwa kami telah sampai di tempat yang luar biasa ini. Kekaguman tidak henti - hentinya terucap. Entah dengan apa lagi saya harus mendeskripsikan eloknya Banyu Mulok ini. Wajah alam yang masih alami menyapa penuh damai.


Saya benar - benar menikmati birunya samudra Indonesia lebih leluasa. Luas dan seolah tanpa batas. Garis horizon antara laut dan langit hanya dibedakan tipis dengan gradasi warna biru. Keunikan Banyu Mulok sebenarnya ada pada ombaknya yang besar. Ombak tersebut akan menghantam kokohnya dinding tebing. Hingga airnya sampai naik dan menyembur ke atas. Mungkin karena hal itulah asal dari penamaan Banyu Mulok didapat.



Dalam bahasa Jawa kata Banyu Mulok bermakna air yang naik keatas. Kalau beruntung sahabat juga bisa melihat indahnya pelangi kecil dari bias cahaya karena air yang menghantam tebing. Dan yang paling menyenangkan adalah saya hanya menjumpai dua orang saja ketika berkunjung di tempat ini. Sepi, tenang, nyaman, dan sangat bebas menikmati keindahan surga dunia.

sumber : mreyhanflorean.blogspot.co.id
Untuk sementara sampai disini dulu petualangan kami, mungkin lain waktu bisa mampir ke pantai Dadap yang juga masih bersebelahan dengan Tebing Banyu Mulok. Banyak hikmah yang saya dapat. Banyak keindahan yang saya nikmati, dan semoga tetap banyak bersyukur karena dilahirkan di bumi Nusantara yang indah ini.

Catatan :
-    Pantai Coro dan Banyu Mulok berada di Ds. Gerbo, Kec. Besuki , Kab. Tulungagung
-    Kurang lebih 35 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Tulungagung
-    Peringatan penting untuk tidak membuang sampah sembarangan !

.
Share:

Minggu, 26 Maret 2017

Jelajah Budaya di Candi Jawi



Candi adalah sebutan untuk sebuah bangunan purbakala yang memiliki nilai sejarah. Hampir semua kerajaan di Nusantara khususnya Jawa membangun sebuah candi. Selain digunakan sebagai tempat peribadatan, candi juga menyimpan informasi peradaban bahkan memiliki fungsi teknologi. Banyak candi yang tersebar di tanah Jawa, Baik yang sudah ditemukan maupun yang masih tertimbun di dasar tanah. Namun karena rentang waktu yang panjang sebagian candi ditemukan dengan kondisi yang butuh perbaikan. Hanya beberapa saja yang ditemukan masih utuh. Salah satu contoh Candi yang masih dapat kita saksikan hingga saat ini adalah Candi Jawi. Peninggalan masa Kerjaan Singosari ini berdiri kokoh di seberang jalan Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur). Tentang candi Jawi, banyak informasi penting yang dapat kita pelajari. Salah satunya adalah tentang teknologi pengairan yang bisa dibilang canggih pada masanya.

Dalam rangka memperingati hari air, sejumlah komunitas peneliti dan pecinta sejarah di Malang mengadakan acara bertajuk “Jelajah Patirthan”. Kegiatanya adalah mengunjungi beberapa situs bersejarah yang berkaitan dengan air. Dua hari sebelum kegiatan berlangsung saya sudah antusias mendaftarkan diri pada acara jelajah budaya ini. Hari Minggu Pagi tanggal (19/3/2017) perjalanan di mulai dari depan stasiun kota baru Malang. Dua bus berukuran besar menampung sejumlah peserta dari berbagai latar belakang. Mulai dari peneliti, akademisi, fotografer, awak media dan masyarakat umum pecinta sejarah, semua berbaur menjadi satu. Dalam satu hari lima situs bersejarah akan kami tuntaskan. Sejumlah seniman dan penari juga ikut ambil bagian dengan aksi teatrikalnya.  Perjalanan kali ini seperti refleksi sejarah yang lengkap.

Pukul sembilan pagi bus sudah sampai di kaki gunung Welirang, lokasi dimana Candi Jawi berada. Suasananya lebih ramai, mungkin karena faktor hari libur dan jumlah peserta jelajah yang memang cukup banyak. Saya langsung bergegas memasuki halamannya yang luas. Menembus suasana pagi di tempat yang dianggap sakral oleh leluhur bangsa Jawa.  Letak candi Jawi persis di seberang jalan besar, diapit pemukiman - pemukiman padat penduduk. Sekilas memang mirip sebuah taman. Tertata rapi dengan kombinasi rumput hijau dan desain arsitekturnya yang megah. Ada parit / kolam air yang mengelilingi bangunan utama. Lebih tepatnya candi berada pada bagian tengah kolam air dengan posisi tanah yang lebih tinggi. Sahabat bisa membayangkannya seperti danau Toba dengan daratan di tengahnya. Bentuk kolamnya persegi dan simetris, di dalamnya terdapat kumpulan tumbuhan teratai. Banyak ikan hias yang bersembunyi di balik teratai yang juga turut menghibur pengunjung. Kalau berkenan kita boleh memberi makan ikan - ikan tersebut dengan pakan yang dijual di dekat pintu masuk. Pintu masuknya berada di sebelah timur. Dulu pintu masuk sebelah timur ini hanya untuk kalangan tertentu (Raja dan Keluarganya). Pintu gerbang sebelah baratlah yang seharusnya untuk umum. Namun sekarang hal itu sudah tidak berlaku, hanya pintu disebelah timur yang dijadikan pintu masuk umum. Setelah melewati kolam, saya harus naik beberpa anak tangga untuk sampai di pelataran utama. Sementara para peserta lain sudah siap mengambil posisi untuk mendengarkan penjelasan dari Bapak M. Dwi Cahyono, seorang peneliti sejarah yang menjadi pemandu pada kegiatan jelajah patirthan ini. Kami seperti diajak kuliah di alam terbuka, mempelajari bangunan bersejarah dan peradaban budaya langsung dari sumbernya.





Sejarah Singkat Candi Jawi
Berdirinya Candi Jawi berawal dari perintah Raja Kertanegara, Raja terakhir kerajaan Singosari. Kitab Negarakertagama pupuh 56 mengungkapkan bahwa bangunan tersebut juga dibangun sendiri oleh Raja Kertanegara. Sedangkan untuk penamaan candi berasal dari kata “jajawa” (syair 55 bait 3) dan kata “JawaJawa” (syair 73 bait 3) yang semuanya termuat pada kitab Negarakertagama. Sedangkan kata “Jawi” merupakan bahasa krama dari kata “Jawa”, yang memiliki makna lebih halus. Pelafalan “Jawi” mungkin tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat Jawa pada umumnya, untuk menghormati sesuatu yang dianggap sakral dengan tingkatan bahasa krama. Tahun awal pembuatanya diperkirakan pada akhir pemerintahan kerajaan Singosari yaitu abad ke-13. Mengenai fungsi dari candi jawi ada perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Sebagian menyatakan candi ini dibuat sebagai tempat peribadahan, Karena dibangun pada saat raja Kertanegara masih hidup. Pendapat lainya menganggab candi ini bukan sebagai tempat ibadah, dengan alasan arsitektur candi yang membelakangi gunung pawitra (penanggungan) meskipun masih dalam satu garis lurus.


Raja Kertanegara menganut ajaran singkretisme Siwa-Budha. Singkretisme adalah suatu proses perpaduan tentang kepercayaan atau agama. Faham singkretisme raja Kertanegara memberikan pengaruh besar pada corak arsitektur candi Jawi. Unsur Siwa ditemukan pada bagian bawah candi, sedangkan unsur budha bisa dilihat pada bagian atas candi berupa bentuk dagobha (stupa). Pada tahun 1253 Saka, bagian ujung candi Jawi pernah tersambar petir. Yang mengakibatkan kerusakan fisik bahkan hilangnya arca aksobhya (budha). Selang satu tahun setelah insiden tersebut dilakukan renovasi Candi oleh kerajaan Majapahit. Jadi pembangunan candi Jawi ini dilakukan lintas generasi dua kerajaan besar Nusantara. Proyek tersebut dibawah kuasa Raja Hayam Wuruk, Raja Kerajaan Majapahit ke-empat yang masih memiliki hubungan darah dengan leluhurnya Raja Kertanegara. Renovasi peninggalan bersejarah ini juga sebagai bentuk penghormatan Raja Hayam Wuruk kepada leluhurnya. Ini lah yang menarik perhatian saya, ada pelajaran yang dapat dipetik dari kejadian ini. Bagaimana arifnya seorang Raja dengan kebesaranya tetapi tidak pernah lupa untuk menghormati para leluhurnya.

Tentang Arsitektur Candi Jawi
Ketika sedang serius mendengarkan penjelasan yang panjang, saya sempat terkesan dengan salah satu pernyataan. Ternyata candi Jawi ini memiliki gambaran tentang detail rancang bangunannya sendiri. Lebih tepatnya pada relif di sebelah utara. Relif tersebut menunjukan detail penggambaran arsitektur komplek candi Jawi beserta suasananya. Jika dicermati lebih dalam, saya menduga komplek candi jawi yang sekarang hanya sebagian kecil saja. Mestinya lebih luas lagi jiga ditinjau dari penggambaran pada relifnya.




Bangunan utama candi berukuran panjang 14,24 meter dan lebar 9,55 meter. Tingginya mencapai 24,5 meter menjulang ke langit, lebih tinggi dari bangunan yang ada di sekitarnya. Bentuk bangunan candi tinggi dan ramping, mirip dengan candi Prambanan yang ada di Jawa Tengah. Bangunan utama candi ini terdiri dari beberpa blok. Dari paling bawah berupa batur, tangga, kaki, tubuh, atap, ratna dan puncaknya adalah dagobha (stupa). Bentuk atapnya seperti limas segi empat yang meruncing pada puncaknya. Pada bagian tubuh candi sahabat bisa menemukan sebuah bilik / ruangan kecil berisi yoni bermotif naga. Menurut kitab Negarakertagama dulu di dalam rungan tersebut juga terdapat beberapa arca hindu. Sayang sekarang sudah tidak ada lagi ditempatnya, sebagian ada yang sudah dibawa ke museum. Sahabat bisa masuk ke dalam bilik candi dengan menaiki beberapa anak tangga. Ada beberapa arca disisi kanan dan kiri tangga dan pada bagian atas pintu masuk bilik terdapat ukiran banaspati. Satu hal yang menarik lagi bagi saya adalah penggunaan material batu putih (kapur) pada bagian tubuh candi. Warnanya lebih putih dan kontras dengan batu - batu penyusun candi yang lain. Dari jauh gradasi warna batu - batu candi ini terlihat elegan ketika dipandang.

Teknologi Irigasi Candi Jawi
Tentang parit atau kolam yang mengelilingi candi Jawi, ada penjelasan kusus yang berkaitan dengan sistem teknologi pengairan (irigasi). Menurut bapak M. Dwi Cahyono, air yang berada di kolam dengan kedalaman 2 meter tersebut dipasok melalui pipa air bawah tanah. Airnya berasal dari sumber air yang letaknya tidak jauh dari lokasi candi. Beliu menujuk sebuah pohon besar arah gunung Welirang untuk memberi tanda dimana sumber air tersebut berada. Jadi air dalam parit candi Jawi terisi secara otomatis, melalui teknologi pipa air bawah tanah yang terbuat dari pahatan batu. Air dalam parit candi Jawi kemudian dialirkan lagi ke saluran bawah tanah menuju area persawahan. Trowonganya mungkin masih berada di bawah jalan raya. Dengan sekema aliran air tersebut maka parit yang mengelilingi candi Jawi juga digunakan sebagai tempat untuk memonitor debit sumber air. Debit sumber air akan berbanding lurus dengan debit air yang berada di parit.



Dari penjelasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa teknolongi irigasi sudah ada dan bahkan sudah diterapkan oleh arsitek kerajaan Singosari sejak abad ke-13. Candi tidak hanya dibuat sebagai tempat peribadahan saja akan tetapi juga dirancang sebagai sarana teknologi irigasi. Pemerintah kerajaan juga memahami betul tentang air sebagai sumber kehidupan. Oleh karena itu mereka selalu memanfaatkanya secara bijak dan arif.


Relif - Relif di Candi Jawi
Penjelasan tentang relif yang terpahat pada candi Jawi memang banyak penafsiran. Pada sisi utara sudah jelas bahwa relif tersebut menggambarkan bangunan candi Jawi sendiri. Motif - motif tumbuhan yang banyak mungkin melambangkan bahwa dulunya daerah ini adalah hutan belantara. Inilah keunikan candi Jawi, mungkin hanya satu - satunya candi yang menggambarkan dirinya sendiri. Di sisi sebelah selatan terdapat relif yang menggambarkan suasana penyambutan rombongan elit. Hal tersebut diperkuat dengan adanya simbol hewan gajah sebagai alat transportasi. Informasi yang saya dapat secara keseluruhan gambaran tentang relif di candi Jawi mengisahkan tentang perjalanan spiritual manusia. Gambaran tersebut diperankan tokoh utama seorang perempuan bernama Gayatri. Gayatri menjalani wanaprasta atau pendalaman rohani yang kisahnya dimuat pada relif candi Jawi. 



Puas mengeksplorasi area utama Candi Jawi, saya bergegas menuju tempat yang paling pojok diluar parit. Saya mendapati unsur bata merah yang menjadi jejak arsitektur Kerajaan Majapahit, Material bata merah bisa sahabat lihat pada gapura (Candi bentar). Candi bentar atau gapura ini hanya tinggal bagian bawahnya. Berada di luar parit dan posisinya tidak simetris dengan banguanan utama. Saya mencoba berdiri diatas gapura bentar tersebut dan memandangi candi Jawi dari kejauhan. Posisi gapura yang tidak simetris ini memberikan keuntungan tersendiri. Sahabat bisa mendapatkan sudut pandang candi yang berbeda. Saya merasa tampat ini yang paling strategis untuk melihat siluet candi Jawi ketika terbit matahari atau saat bulan purnama. Ada bangunan kecil di dekat gapura (candi bentar) yang mungkin sering dilewatkan pengunjung. Ruangan tersebut berisi kumpulan arca dan serpihan - serpihan benda purbakala lain. Pengunjung bisa mengamatinya dari pembtas berupa pagar besi.




Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari jelajah budaya ini. Tentag kearifan Raja Kertanegara (Singosari) dalam menjalani hidupnya. Sikap untuk selalu menghormati leluhur seperti yang diajarkan raja Hayam Wuruk (Majapahit). Pelajaran tentang arsitektur candi Jawi yang penuh dengan filosofi. Dan yang paling berkesan adalah bahwa penerapan teknologi irigasi sudah dilakukan oleh leluhur bangsa Nusantara. Mereka mengolah sumber daya alam secara bijak dan profesional. Terlepas dari itu semua, keindahan dan panorama candi Jawi memang layak untuk diapresiasi. Ini adalah sebuah wawasan dan kebanggaan yang harus dikabarkan khusunya pada generasi Nusantara.





Aksi teatrikal dari kolaborasi para seniman dan penari menjadi penutup kunjungan kami di Candi Jawi. Sekelompok orang - orang berbakat tersebut mempersembahkan maha karya yang mengesankan. Musik - musik tradisional diperdengarkan dengan penuh kekhusyukan, sementara para penari dengan penuh penjiwaan melakukan perannya. Sebuah lakon dibawakan dengan kedalaman cerita, beberapa orang hanyut dalam ekpresi – ekspresi seniman yang serius. Saya seperti dibawa ke masa silam, masa dimana saat kerajaan Nusantara berlangsung dalam kebesaranya. Hampir semua pengunjung terbawa suasana pertunjukan. Tidak hanya sekedar menikmati tapi kami juga mendapati pesan – pean moral didalam pemesntasan tersebut. Itulah secuil cerita dari jelajah budaya di Candi Jawi. Ini masih awal, ada empat situs bersejarah lagi yang harus kami kunjungi dalam waktu satu hari. Simak perjalanan kami selanjutnya ....  (bersambung)
Share:

Senin, 20 Maret 2017

Tentang Perjalanan dan Cerita dibalik Pantai Popoh

Dari sekian banyak pantai - pantai di Tulungagung, Popoh bisa dibilang sebagai rajanya. Hampir semua orang Tulungagung pasti pernah mendengarnya. Bahkan tidak sedikit yang memiliki kenagan masa kecil di tempat tersebut. Popoh adalah pantai pertama yang secara khusus dibangun dengan segala fasilitas lengkapnya. Dulu tempat ini adalah salah satu referensi utama ketika berkunjung ke Tulungagung. “Belum ke Tulungagung kalau belum ke Popoh” ungkapan tersebut menjadi slogan kuat hingga sekarang. Tidak hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga budaya dan sejarah panjang yang sangat asik untuk ditelusuri. Ada pantai dengan batu dan pohon pohon besarnya yang rimbun, Ada aktifitas nelayan dan tempat pelelangan ikanya, Serta keindahan laut bebas dan cerita di balik padepokan reco pentung / reco sewu.
Secuil Sejarah dan Budaya di Pantai Popoh
Sebelum berbicara tentang popoh ada baiknya kita menengok dulu sejarah panjang yang terdapat didalamnya. Versi yang lebih lama mengungkapkan bahwa kisah popoh bermula dari seorang tokoh legendaris Tumenggung Yudhonegoro. Masyarakat popoh juga menyebutnya dengan nama asli Raden Kromodipo, beliau adalah kepala prajurit dari Kerajaan Mataram. Kerajaan mataram yang sedang gencar melakukan perluasan wilyah melakukan ekspansi dibeberapa kawasan pantai selatan. Termasuk di wilayah popoh yang kala itu masih berupa hutan belantara. Tumenggung Yudhonegoro mendapat tugas dari atasanya Adipati Andong Biru salah seorang pembesar kerajaan mataram yang memiliki kekuasaan di pesisir jawa bagaian selatan. Sang Tumenggung diminta untuk melakukan babat alas sekaligus membuat pemukian di wilayah popoh. Tugas itupun akhirnya dilaksanakan dan berhasil menjadikan kawasan baru berpenduduk di wilayah pantai selatan Popoh. Atas jasa besar tersebut Tumenggung  Yudhonegoro mendapat keistimewaan untuk mempersunting putri Gambar Inten, anak dari Adipati Andong Biru. Sebagai bentuk rasa syukurnya sang Tumenggung melakukan sedekah laut dengan cara melarung sembonyo ke laut pantai Popoh. Tradisi larung sembonyo tersebut masih dipertahankan secara turun temurun hingga saat ini oleh masyarakat Popoh. Setiap tahun tepatnya di hari minggu kliwon bulan Selo sesuai kalender Jawa larung sembonya selalu meriah dan mengundang banyak orang untuk datang ke Popoh.

Mengunjungi Langsung Pantai Popoh
Saya memulai perjalanan dari pusat kota Tulungagung. Bergerak menuju ke selatan melewati kecamatan Boyolangu, dan Kecamatan Campurdarat yang tersohor dengan industri marmer terbesar se-Asia tenggara. Perjalanan terus berlanjut menuju Kecamatan Besuki, yang merupakan lokasi pantai Popoh berada. karena tempat ini adalah salah satu dari tempat wisata terkenal, maka banyak papan penunjuk jalan menuju kesana. Menempuh hampir 35 kilometer dari pusat kota, saya disambut gapura bertuliskan “selamat datang di Pantai Indah Popoh” yang mengindikasikan semakin dekatnya dengan lokasi tujuan. Memang betul semakin dekat, akan tetapi tidak sedekat yang dibayangkan. Setelah gapura tersebut masih ada jalan menanjak yang harus dituntaskan. Meskipun kondisi jalan beraspal mulus namun lokasinya yang berada di pegunungan memaksa siapa pun untuk ekstra hati - hati. Hutan jati mendominasi pemandangan disisi kanan dan kiri jalan. Dari jauh kemegahan bukit - bukit marmer tampak nyata pada perjalanan ini. Terlihat balok - balok putih besar lengkap dengan segala aktifitas eksploitasinya. Semakin keatas panoramanya semakin tampak nyaman dipandang. Hamparan ladang jagung dengan latar belakang samudra Indonesia menjadi salah satu bagian dari kenangan perjalanan ini.


Ada dua jalan bercabang, dari papan penunjuk arah tertulis degan jelas. Arah lurus langsung menuju pantai popoh. Sementara untuk arah kiri menuju padepokan reco penthung, pantai coro dan banyu mulok. Saya memilih mengambil jalan lurus lebih dahulu. Jalanya berubah menurun lumayan tajam, harus konsentrasi dan cekatan memainkan rem. Terlihat kendaraan - kendaraan pribadi bahkan bus wisata mulai berbaris menuju arah yang sama. Pemukiman mulai tampak padat. Kios - kios pedagang makanan dan souvenir rapi berjajar di sepanjang jalan masuk.


Setelah memarkirkan kendaraan saya lebih asik mengamati bangunan berbentuk pendopo itu. Kebutulan ada serangkaian kegiatan budaya di dalamnya. Di sebelah barat pendopo terdapat panggung berukuran sedang, cocok untuk pagelaran pentas seni. Yang mudah diingat adalah keeradaan patung penjaga berwujud buto (moster) yang sering disebut sebagai dwarapala. Patung Dwarapala menjadi simbol setia mengamankan bangunan pendopo. Masyarakat Tulungagung khususnya di wilayah popoh lebih mengenal patung dwarapala dengan sebutan Reco Penthung. Sebuah meriam tua juga dipajang dengan gagahnya di halaman pendopo. Tertulis nama “kyai roro” dalam aksara jawa. Menurut saya pengelola pantai ini juga ingin menonjolkan sisi budaya untuk disuguhkan bagi para tamu yang datang.


Pantai popoh ini didominasi karang landai dengan sedikit pasir. Harus melewati beberapa undakan anak tangga menurun kebawah untuk dapat menikmati pantainya. Menerawang kedepan, mata ini disuguhi perahu - perahu nelayan yang bersandar ramai. Semua mengenakan atribut bendera merah putih diujung paling atas perahu. Dari sela - sela perahu terlihat juga keramba - keramba budidaya. Sementara di sebelah barat yang berbatasan dengan pantai sidem dibuat tanggul buatan untuk menahan abrasi. Bentuknya unik memiliki pola semacam silindris yang tersusun rapi dan berpola. Di atasnya dibangun jalan setapak berpaving yang memanjang sampai ujung tebing. Saya menjumpai goa kecil menghadap arah laut saat mencoba menapaki jalan tersebut. 



Meskipun terkenal dengan mistisnya namun sungguh pemandangan dan suasana alamnya memiliki kesan tersendiri. Sambil melangkahkan kaki saya kembali ke bagian tengah pantai popoh. Menerobos para pedagang makanan dan melewati gapura berbentuk gunungan wayang. Aneka macam souvenir khas Tulungagung tumpah ruah disini. Mulai dari  kerajinan marmer dan kerajinan lain khas penduduk pesisir ramai diburu pengunjung. Di bagian lain penjual aneka hasil laut berkumpul dan membuat grub sendiri. Lapak ikan segar sampai dengan ikan bakar berasap gurihnya menyesaki tempat tersebut. Ini mungkin yang paling ramai Karena pengunjung yang datang mayoritas dari luar kota Tulungagung yang jauh dari pesisir.



Diseberang jalan pengelola pantai popoh membangun taman bermain. Lengkap dengan patung - patung hewan dan figur manusia dengan berbagai profesi. Sekali lagi pohon yang besar menaungi taman bermain ini. Sejuk, hijau dan rindang kesan tersebut seolah belum cukup menggambarkan suasananya. Di atas taman ada semacam penginapan, terlihat tua dan sederhana. Ini mungkin bisa jadi alternatif bagi yang ingin menginab di Pantai Popoh.


Rasa penasaran saya belum cukup sampai disini. Pantai Popoh ini punya semacam dermaga berukuran sedang untuk bersandar perahu - perahu nelayan. Tentunya sepaket dengan tempat pelelangan ikan yang selalu sibuk dengan aktifitasnya. Terbuat dari bongkahan batu - batu besar yang disusun menjorok ke tengah laut, dermaga tersebut terlihat kokoh sebagai sandaran. Ya perahu - perahu nelayan hilir mudik memenuhi dermaga disebelah barat. Sementara di timur dermaga hanya ada beberapa keramba namun bisa dihitung jari. Di sisi timur ini adalah faforitnya para pemancing ikan. Airnya lebih tenag dengan sedikit ombak, hal ini disebabkan letaknya yang berupa teluk.  





Cerita diatas hanya secuil dari gambaran tentang Popoh. Perjalanan masih terus berlanjut, ada bagian dua yang saya tulis terpisah. Yaitu pembahasan tentang bapak Soemiran tokoh yang berjasa besar dalam membangun Pantai Popoh, tentang cerita padepokan Reco Pentung dengan seribu reconya dan eksotisme laut bebas (lepas) yang masih satu area dengan pantai popoh. Baca cerita selanjutnya disini
Share:

Senin, 06 Maret 2017

Menelisik Sejarah Niama dan Perkampungan Nelayan di Pantai Sidem


Sidem adalah nama salah satu perkampungan sekaligus nama pantai yang berada di kawasan teluk Popoh. Berbicara tentang sidem secara menyeluruh akan membuat kagum siapapun yang  mendengarnya. Sekali mendayaung dua pulau terlampaui, tampaknya peribahasa tersebut sangat cocok untuk menggambarkan paket lengkap keindahan Pantai Sidem. Lokasinya berada di Dusun Sidem, Desa Besole, Kecamatan Besuki, kurang lebih 35 kilometer kearah selatan dari pusat kota Tulungagung. Apa yang menarik di Sidem ? Banyak tempat - tempat unik yang memaksa saya untuk menjelajahinya lebih dalam lagi. Mulai dari Sungai dan Terowongan Niama, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Tepi Pantai, Goa Sidem, Hingga Menelisik kehidupan perkampungan nelayan sidem. 

Baca Juga :  Menikmati Pemandangan di Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung 

Untuk menuju perkampungan sidem ada dua alternatif jalan yang bisa ditempuh. Jalur resminya adalah lewat Pantai Popoh kemudian dilanjutkan menempuh jarak dua kilometer ke arah barat. Sementara jalur kedua adalah jalur tidak resmi, bahkan bisa dikatakan terlarang. Jalur kedua tersebut lewat tepian sungai niama menuju PLTA. Hanya motor saja yang bisa masuk, kecuali mobil kusus pegawai PLTA. Dibalik nama Niama yang sederhana ternyata menyimpan banyak fakta sejarah. Niama merupakan mega proyek parit raya untuk mengatasi banjir di Tulungagung. Tujuanya untuk menanggulangi banjir yang kerap melanda Tulungagung. Dulunya sebagian besar wilayah Tulungagung adalah rawa. Sehingga tidak memungkinkan dapat mengalirkan air dengan drainase alami. Wacana mega proyek niama ini sudah di mulai sejak penjajahan jepang. Mekanismenya dengan membuat sungai buatan yang menjadi penghubung dan muara seluruh sungai di Tulungagung. Air dari muara sungai tersebut kemudian dialirkan langsung menuju laut Samudra Hindia. Pekerjaan ini tidaklak mudah, Karena harus membuat trowongan dengan menjebol tanah di bagian bawah pegunungan selatan. Meskipun terlihat mustahil dilakuakan tetapi proyek tersebut berhasil terlaksana dengan menggunakan tenaga romusha. Banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk mewujudkanya. Sayangnya kapasitas trowongan kurang memadai untuk mengalirkan air dari muara sungai. Baru setelah Indonesia merdeka proyek tersebut di ambil alih oleh pemerintah kemudian dikembangkan lagi dengan sekala yang lebih besar. Tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1993 trowongan ini mulai difungsikan menjadi pembangkit listrik dengan memanfaatkan tenaga air dari trowongan niama. Sekarang manfaatnya bisa dirasakan banyak orang. Dari ringkasan sejarah panjang niama saya tertarik untuk melihat langsung mega proyek bersejarah tersebut. Rasanya tidak percaya kalau sungai berukuran besar itu buatan manusia. Disamping kiri dan kanannya dibangun jalan beraspal mulus. Namun ada longsor dibagian tengahnya yang sekarang sedang dilakukang perbaikan (Februari 2017). Saya terus menelusurinya hingga sampai di pintu gerbang kawasan PLTA. Di pintu gerbang ini dijaga langsung oleh petugas setempat. Meskipun sebenarnya dilarang, namun orang masih diperbolehkan masuk. Jalur di kawasan PLTA ini memang lebih pendek rutenya untuk menghubungkan wilayah sidem dengan daerah luar. 

Panorama Sungai Niama 

Menara PLTA

Naik turun menjadi hal biasa menuju pantai sidem. Melewati pepohonan rimbun dengan jalan berkelok - kelok. Melihat dari dekat sebuah Menara dari PLTA yang sekilas mirip dengan marcusuar yang berdiri megah di atas pegunungan selatan. Sebelum sampai di kawasan pantai ada sebuah cekungan berdinding batu besar yang ketika surut panoramanya terlihat menakjubkan. Cekungan ini mungkin bisa disebut sungai kareana ada air yang mengalir, airnya mungkin berasal dari sungai niama. Batu - batu besar yang memenuhi permukaanya membentuk undakan - undakan semacam tangga kecil. Dengan kolam - kolam alami yang manis. Kalau sedang surut mungkin lebih tepat disebut mini air terjun. Sayangnya ditempat tersebut sangat berbahaya jika debit airnya tinggi atau ketika musim hujan.


Cekungan Sungai Niama | Sumber : @exploretulungagung

Setelah melewati tempat indah tersebut perjalanan selanjutnya disambut dengan adanya sebuah goa. Goa Sidem namanya, berada persis diseberang jalan menuju PLTA. Belum banyak penelitian mengenai Goa Sidem ini. Sebuah papan nama yang terpampang di dekat pintu masuk goa memudahkan siapa pun untuk mencarinya. Bagian luar goa terlihat artistik dengan semak belukar yang tumbuh liar. Saya pun sempat masuk dan melihat bagian dalam goa tersebut. Goanya tidak terlalu besar namun cukup mudah masuk kedalamnya. Sayangnya minim sekali penerangan di dalam goa tersebut. 

Tiba saatnya saya melihat dari dekat aliran air yang menerobos trowongan panjang niama. Hanya beberapa meter dari bibir pantai berdiri bangunan PLTA yang megah. Saya membayangkan betapa panjangnya trowongan di bawah gunung itu . Siapapun pasti dengan mudah bisa memperkirakan panjangnya setelah menelusuri sungai niama dari awal. Aliran air yang deras keluar deras melewati kali butan. Mengalir langsung menuju laut samudra Hindia. Warnanya yang coklat membuat gradasi unik ketika berbaur dengan birunya air laut. 


Pantai Sidem dan Perkampungan Nelayan
Pantai sidem berda persis di tengah teluk popoh, menghadap langsung  ke arah selatan samudra hindia. Garis pantainya memanjang namun terpisah menjadi dua bagian Karena adanya sungai ditengahnya. Di sebelah barat terdapat tambak yang cukup luas. Terdapat pohon nanas dan semak liar di pasirnya yang berwarna kecoklatan. Pantai di sebelah barat adalah tempat yang paling romantis. Sepi dan bebas memandang laut lepas. Semantara di sebelah timur adalah perkampungan nelayan yang padat penduduk. Kehidupan sederhana khas pesisir sangat terasa di sidem. Saya melihat ada masjid yang berdiri tepat di pinggir pantai. Sebelahnya berdiri warung - warung makan yang menawarkan menu andalan khas Tulungagungan. 


Mendekat ke bibir pantai saya di suguhi pemandangan yang tidak biasa. Aktifitas menangkap ikan dengan jaring yang ditarik ke pantai menjadi rutinitas warga di Sidem. Warga sidem menyebutnya dengan “Tarik jaring”. Tarik jaring dilakukan dengan menebar jaring besar berukuran 300 meter ke arah laut. Jaring di bawa ke laut menggunakan perahu. Setelah jaring – jaring tersebar orang - orang di pantai bersiap menariknya. Suasana kerjasa begitu harmonis terlihat. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit jaring mulai di tarik kedaratan. Butuh waktu hampir tiga jam untuk menyelesaikan proses ini. Lelah akan sirna ketika hasil tangkapan ikan segar berhasil di dapatkan. Hasil tangkapan tersebut dikumpulkan kedalam keranjang bambu untuk dibawa di tempat pelelangan. Sebagian besar tangkapan diangkut untuk kemudian dijual di Pasar Bandung. Sebagian lainya tentu di olah dan dijajakan langsung di pinggir pantai. Pengunjung bisa membeli ikan segar untuk dijadikan oleh - oleh. Atau membeli ikan bakar yang sudah siap makan adalah pengalaman yang menggoda siapa pun disana. Kreatifitas warga sidem mengolah hasil laut sudah tidak diragukan lagi. Trasi dan Ikan Asin salah satu produk yang laris manis diburu. 

Baca Juga : Tentang Perjalanan dan Cerita dibalik Pantai Popoh 

Saya kembali melanjutkan perjalanan menyisir pantai. Melihat rumah - rumah dan pohon kelapa yang seolah melambaikan daunya. Saya juga menjumpai para tukang mancing yang sedang asik dengan aktifitasnya itu. Pantai Sidem selalu menyimpan kenangan bagi siapa pun yang pernah singgah disana. Tentang alamnya, nelayan, dan kenangan perjalanan yang memaksa kembali untuk bernostalgia.

Share: