Friday, 23 June 2017

Tradisi Menghias Jalan Desa Menjelang Hari Raya


Hampir genap satu bulan orang - orang Islam melaksanakan puasa. Hari - hari yang disucikan itu memasuki minggu terakhirnya. Setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan, begitu pula perjumpaan dengan Ramadhan. Suka cita bulan puasa pun merasuki seluruh kehidupan Masyarakat Nusantara. Negeri zamrud katulistiwa dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Berbagai tradisi tahunan dihadirkan kembali dengan penuh antusias baik di perkotaan hingga di gang – gang kecil pedesaan. Mudik, ngabuburit, buka bersama, nyumet mercon (bermain petasan), tadarus di langgar, ngaji pasan (pesantren kilat) dan kegiatan rondo (membangunkan orang sahur) menjadi warna tersendiri yang hanya ada di bulan suci ini.

Tahun ini saya lebih beruntung, bisa menikmati sepanjang momen puasa di kampung halaman. Desa tercinta yang tidak pernah kalah meriahnya dengan perkotaan ketika Ramadhan. Banyak orang - orang desa yang tinggal di kota - kota besar, mulai dari mencari nafkah, kuliah bahkan ada yang sudah menetap dan beranak pinak disana. Tidak sedikit pula yang sukses karena keuletan dan kesungguhanya. Namun sejauh apapun kita merantau, rumah adalah tempat yang paling dirindukan untuk kembali. Maka tidak heran jika arus mudik meningkat berkalilipat menjelang lebaran. Ramadhan di kampung halaman adalah idaman bagi perantau yang lama tak pulang. Entah sukses atau belum, pulang adalah obat mujarab untuk mengobati kerinduan. Suasana rumah dan kegiatan masyarakat desa yang senang berpesta menjadi hal yang paling ditunggu. Momen seperti itulah yang menjadi mesin nostalgia bagi siapapun yang merasakannya. Momen yang tidak pernah ada habisnya untuk diceritakan, momen yang selalu memaksa saya untuk selalu menuliskannya.

Seminggu menjelang berakirnya Ramadhan suasana desa tampak lebih meriah. Hari Raya yang kehadirannya tinggal menghitung hari akan mengakhiri puncak Ramadhan. Kesibukan akan bertambah, berbagai persiapan pun mulai dikerjakan. Ada salah satu tradisi yang khas menjelang lebaran. Jalan - jalan yang menjadi penghubung antar desa tampil beda dari biasanya. Lebih meriah,  semarak dan semakin berwarna. Tidak hanya jalan utama jalan - jalan di gang - gang kecil pun tidak luput dari kemeriahan. Warga akan berlomba - lomba menghias jalan semenarik mungkin. Sentuhan kreatifitas dan kekompakan dari anak - anak mudanya memiliki peran yang cukup penting pada proyek tahunan ini. Siang malam secara bergantian dari yang tua hingga yang muda bahu membahu aktif bekerja sama. Dananya diambil dari sumbangan sukarela para warga sendiri. Susunan panitanya berjalan otomatis tanpa peraturan yang mengikat. Ada yang bertugas mencari dana, tim desain yang super kreatif, pelaksana lapangan, penyemangat, komentator dan tak ketinggalan tim konsumsi yang setia menemani. Semua atas dasar kesadaran masing - masing. Kekompakan semacam ini mungkin yang sulit dijumpai di perkotaan. 



Kalau sahabat ingin merasakan pengalaman lebaran yang berbeda berkunjunglah ke desa kami. Sebelum hari raya datang, riuhnya pesta ala rakyat pedesaan sudah bisa sahabat rasakan. Utamanya di desa Kamulan, Sumbergayam, Pakis, Semarum, Ngadisuko dan desa - desa lain yang berada di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Kemeriahan juga bisa ditemui di Desa Bulus, Ngepeh, Gandong, Kesambi, Sebalor, Ngunggahan yang berada di Wilayah Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Kecamatan Durenan dan Bandung adalah dua kecamatan perbatasan Kabupaten yang dikenal selalu meriah setiap perayaan hari besar agama maupun nasional. Saya meyakini kalau kemeriahan semacam ini sejatinya juga merata hampir diseluruh wilayah Nusantara, khususnya Jawa.


Gambaran kemeriahannya adalah seperti pesta - pesta rakyat yang penuh kreatifitas. Di siang hari sahabat akan menjumpai umbul - umbul yang pasti ada di setiap rumah. Umbul - umbul adalah sebutan untuk kain panjang yang menyerupai bendera. Memasang umbul - umbul ini sudah menjadi hal wajib meskipun tanpa perintah. Hiasan yang khas tentu warna - warni kain yang memiliki desain berbeda di setiap desa. Ada yang di pasang di sisi kanan dan kiri jalan, ada yang di pasang melingkar ke atas badan jalan. Ada pula yang memasang lampion dengan pernak perniknya. Satu lagi untuk kemeriahan malam hari, pemasangan lampu hias sudah menjadi tradisi baru untuk melengkapi kemeriahan hari raya. Lampu warna - warni dipasang di setiap rumah, dipasang dengan tiang pancang dari bambu yang melengkung kejalan. Malam hari di jalan - jalan desa akan bertabur cahaya lampu hias yang berwarna - warni. Berjalan di sana seperti memasuki lorong goa yang dipenuhi cahaya. Tidak cukup sampai disitu, biasanya di tempat – tempat penting seperti Langgar / Masjid dibuatkan gapura dadakan yang bertabur hiasan lengkap dengan lampu yang memanjakan mata.  


Tradisi menghias jalan menjelang hari raya ini sudah turun - temurun dilakukan. Setiap tahunnya selalu ada inovasi mengenai ide desain yang labih menarik. Mereka ingin membuat sesuatu yang lebih sepesial dan bermakna untuk Idul Fitri yang hanya akan datang setahun sekali. Kegiatan semacam ini sekaligus untuk menyambut tamu atau keluarga yang datang dari perantauan. Gotongroyong dan kekompakan warga lah kunci sukses proyek tahunan ini. Banyak makna yang terselip, tidak hanya sekedar berpesta menghias jalan adalah wujud syukur dan suka cita warga desa dalam menyambut datangnya hari raya.



Share:

Monday, 22 May 2017

Mengenal Tradisi Megengan di Jawa

Islam dan Jawa dua kata ini menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan. Islam sebagai agama rahmat semesta alam sudah beberapa abad lamanya masuk ke tanah Jawa. Semua itu tidak terlepas dari kearifan dan kekreatifan Walisongo dalam menyampaikan Islam melalui pendekatan sosial budaya. Tanpa kekerasan, tanpa pemaksaan, dakwah islam dilakukan dengan penuh kasih sayang. Tanah Jawa memang terkenal memiliki tradisi yang kuat dalam melestarikan budayanya. Sebagian orang – orang Jawa masih berpegang teguh untuk menghormati leluhurnya. Oleh karena itu sangat tepat jika metode pendekatan sosial budaya diberlakuakan untuk mendapatkan hati orang – orang Jawa. Kini usaha para Walisongo tersebut berbuah manis, Islam turut memberi warna hampir diseluruh tradisi Jawa. Islam melengkapi tatanan nilai adat istiadat Jawa yang sebetulnya memang sangat relevan. Alkulturasi budaya tercipta sangat indah, beberapa pesan dakwah pun disampaikan dengan penuh estetika melalui bermacam - macam media budaya. Salah satunya bisa kita temukan pada tradisi Megengan yang memiliki banyak makna tersirat.


“Allahumma Barik lana fi Rojaba wa Sya’bana wa Ballighna Ramadhana” kalimat tersebut akan semakin ramai didengungkan melalui corong langgar (masjid) di desa - desa. Sekaligus menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadhan sudah dekat. Suka cita masyarakat pun lebih semarak kususnya di minggu terakir bulan Ruwah (Sya’ban). Ada sebuah tradisi yang dilakukan khusus untuk menyambut kedatangan wulan poso (bulan puasa). Orang jawa menyebutnya dengan “Megengan”. Ini juga dilakukan di desa saya Dusun Ngembong, Kabuten Tulungagung, Jawa Timur bagian selatan.

Foto Berkat
 Setiap keluarga, khususnya ibu - ibu akan disibukkan dengan aktifitas masak - memasak. Mereka harus mempersiapkan “berkat” untuk dibagikan kepada tetangga. Berkat adalah sebutan untuk satu paket makanan yang terdiri dari nasi dan lauk pauk serta dilengkapi dengan jajanan tradisional. Tidak ada ketentuan khusus dalam pembuatan berkat. Namun sebagian orang jawa tetap menjaga beberapa yang khas. Misalnya seperti kue “apem” yang selalu ada di setiap berkat. Kue apem ini memiliki filosofi yang dalam, secara subtansi bisa diartikan sebagai simbol permintaan maaf. Tidak hanya apem jika mau mempelajari, setiap detail makanan dan jajanan dari berkat sebenarnya adalah sebuah simbol yang memiliki makna khusus.
Foto Kue Apem
Dulunya berkat berawal dari sesajen yang ditujukan sebagai perlengkapan pemujaan, dan sesajen tidak boleh dimakan. Karena tidak sesuai ajaran Islam maka dirubahlah sesajen tersebut menjadi berkat yang digunakan untuk media sodaqoh dan orang boleh memakanya. Kata berkat yang mengandung makna barokah memang diharapkan dapat menjadi barokah bagi siapa saja yang membuat maupun memakannya. Inilah bukti bahwa Islam datang bukan untuk menghapus melainkan untuk menyempurnakan yang sudah ada.

Sejarah awal dimulainya tradisi megengan secara pasti memang sulit ditelusuri. Namun dugaan kuat memang berasal dari hasil pemikiran Sunan Kalijaga. Seorang wali yang terkenal memiliki kecerdasan dan kreatifitas tinggi dibidang kesenian  dan kebudayaan. Sunan Kalijaga banyak memberikan terobosan dalam memperkenalkan Islam. Produk kreatifitasnya seperti wayang kulit, aneka tembang bernuansa petuah, dan alkulturasi budaya seperti kasus berkat diatas telah melekat di hati rakyat hingga kini.

Jadi Megengan adalah tradisi untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Istilah megengan secara bahasa memiliki arti “menahan”. Kata menahan erat kaitannya dengan puasa, bahkan bisa dibilang sebagai pelajaran inti dari puasa itu sendiri. Secara tersirat ini juga pesan sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam menjalani salah satu rukun islam. Tradisi semacam ini mungkin sulit ditemukan di daerah lain, karena sifatnya yang lebih kedaerahan. Megengan menjadi ciri khas muslim di Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada Islam.

Apakah perintah langsung megengan ada dalam Islam ?, Tentu saja tidak. Tapi perintah untuk saling berbagi (sodaqoh), menjaga silaturahmi, dan melakukan dzikir atau doa banyak dicontohkan dalam Islam. Megengan ini adalah bentuk dari penerapan nilai - nilai islam tersebut yang dikemas dalam sebuh tradisi dengan nama megengan.


Setiap daerah memiliki tatacara sendiri dalam pelaksanaan megengan. Di desa saya megengan dilakukan dengan tiga cara. Pertama dilakukan secara individu, jadi setiap keluarga membuat berkat, sebelum dibagikan berkat - berkat itu didoakan. Doa ditujukan untuk diri sendiri dan juga untuk para luluhur. Kemudian berkat di bagikan kepada para tetangga untuk dimakan. Kegiatan semacam ini tampak seperti saling tukar menukar berkat. Selama sepuluh hari berturut – turut itu bisa dibilang hari berkat nasional. Berkat akan berdatangan silih berganti, bahkan terkadang ada jadwal yang ditentukan. Pelaksanaan yang kedua hampir mirip cara pertama. Bedanya pihak tuan rumah mengundang tetangga terdekat untuk datang ke rumah. Seperti halnya pada selametan, dalam megengan ini juga dilakukan doa bersama. Yang ketiga adalah dilaukan secara berjamaah atau secara masal. Dengan membawa berkat semua warga akan berbondong - bondong memenuhi langgar (masjid). Kemudian melakukan doa bersama yang dipimpin oleh kiai (pemuka agama). Acara berlanjut dengan saling tukar menukar berkat. Puncak dari tradisi megengan ini adalah melakukan nyekar. Nyekar adalah istilah ziarah kubur dalam bahasa Jawa. Nyekar akan ramai saat dua hari sebelum puasa.

Dari tradisi megengan banyak pelajaran yang dapat dipetik. Yang utama tentu ajakan untuk mempelajari dan menerapkan esensi dari dilakukannya puasa, yaitu sikap megeng (menahan sagala keburukan). Kita juga bisa mengambil hikmah lain dari proses tradisi ini. Tentang silaturahmi yang menghasilkan hubungan sosial masyarakat yang harmonis, tentang sikap teguh menjaga warisan budaya dan tentang menghormati jasa para leluhur melalui doa - doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara sederhana dengan melakukan megengan ini maka kita diajak untuk menerapkan nilai - nilai dalam Islam melalui bentuk tradisi lokal. Yang pasti megengan memiliki manfaat bagi diri sendiri, bagi orang lain dan bahkan memiliki manfaat bagi orang yang sudah meninggal. Itulah potret kecil dari kehidupan sosial dimasyarakat pedesaan menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Share:

Sunday, 23 April 2017

Terpikat Pesona Pantai Coro dan Tebing Banyu Mulok

Matahari bersinar dengan cerahnya sementara udara sejuk memenuhi pagi. Tanpa pikir panjang saya langsung bergegas mengambil motor. Mengajak saudara kecil saya untuk menyusuri jalanan desa yang masih lengang. Terlintas sebuah keinginan untuk menikmati suasana pantai, meskipun sudah terbilang cukup sering. Desa tempat saya tinggal memang tidak jauh dari pantai selatan Jawa. Banyak keindahan alam yang bertebaran. Yang terdekat seperti Watu Gedong dan Kalimas sudah saya tuliskan sebelumnya, dan sampai sekarang pesonanya tetap menjadi buah  bibir. Saya tinggal di Kabupaten Tulungagung lebih tepatnya di bagian paling barat dan berbatasan langsung dengan kabupaten Trenggalek.Jika ditarik garis lurus kurang lebih hanya 14 kilometer saja jarak antara rumah dengan kawasan teluk popoh yang terkenal itu.


Kawasan teluk popoh punya segudang tempat - tempat menawan. Secara beruntun sahabat bisa mengunjungi Pantai Klatak, Pantai Gemah, Pantai Bayem, Trowongan Neyama, Pantai Sidem, Padepokan Reco Sewu, Laut Bebas dan Pantai Popoh sendiri yang sudah melegenda. Terlebih lagi setelah kawasan tersebut di lewati Jalur Lintas Selatan. Membuat siapapun selalu antusias untuk mengeksplorasinya.

Di perjalanan saya sempat pesimis. Mengingat akhir pekan yang ramai, itu tandanya harus berbagi pantai dengan pengunjung yang lain. Rasanya mustahil mendapat suasana yang lebih tenang. Saya teringat nama pantai yang sudah lama saya dengar. Tetapi belum sempat saya kunjungi. Pantai Coro, begitulah orang biasa menyebutnya. Letaknya di sebelah timurdan berdekatan dengan pantai popoh. Pertama mendengar Pantai Coro ketika masih sekolah tingkat pertama. Jalan yang harus ditempuh terbilang sulit namun pantainya masih alami begitulah penjelasan dari teman saya. Penjelasan singkat tersebut membuat rasa penasaran saya memuncak. Namun sudah hampir bertahun – tahun belum juga kesampaian.

Hanya lima belas menit saja saya sudah sampai di kawasan popoh. Tentu saya sudah hafal betul jalanannya. Dulu hampir setiap minggu saya menghabiskan waktu di kawasan tersebut. Sedikit naik turun gunun dan melewati hutan kecil sampailah saya di jalan percabangan. Papan petunjuk sederhana itu memberikan informasi cukup jelas. Arah sebelah kanan langsung menuju pantai Popoh. Arah sebelah kiri kemudian saya pilih. Motor melewati padepokan reco sewu, salah satu jalur menuju Pantai Coro dan Tebing Banyu Mulok. Sedikit informasi, Banyu Mulok sendiri belakangan juga naik daun. Suatu tempat dengan padang rumputnya yang luas dan tebing batu yang megah. Meskipun sudah tersohor lagi - lagi saya juga belum sempat mengunjunginya.Kembali ke perjalanan, saya memilih parkir tepat didepan jalur masuk. Berisiap - siap jalan kaki dan menaklukan medan didepan sana, demi Pantai Coro dan Bonusnya Tebing Banyu Mulok.

Panas terik pagi mulai terasa. Menerawang kedepan hanya terlihat jalan kecil menembus belantara. Kondisi jalan setapak masih alami, hanya berupa tanah tanpa pengecoran. Beruntung cuacanya mendukung, kalau musim hujan tentu lain ceritanya. Kondisi seperti ini sangat mirip dengan perjalanan yang saya lakukan setahun lalu di Pantai Gatra dan Tiga Warna (Malang Selatan). Rumusnya sangat jelas, tempat - tempat yang tergolong alami selalu memerlukan usaha ekstra untuk mendapatkanya. Saya sempat menanyakan langsung pada penduduk sekitar. Berapa jarak yang harus saya tempuh dengan jalan kaki. “Kurang lebih satu setengah kilometer mas untuk sampai di sana” Jawab seorang penjaga parkir dengan ramah. Sambil menghela nafas, saya keluarkan hanphone dari saku celana. Mencoba memastikan jarak sebenarnya dengan google maps. Ternyata jika ditarik garis lurus jaraknya 1 km dari parkiran. Tetapi dengan kondisi jalan yang tidak semuanya lurus saya kira memang lebih dari 1 Km.


Langkah pertama saya mulai. Menginjakan kaki dan mencoba menikmati perjalanan kecil ini. Banyaknya pohon jati memberikan keuntungan sendiri bagi saya. Selain menjadi payung alami, pemandangan khas hutan bisa dinikmati di sepanjang perjalanan. Belum lama berjalan sudah disambut kali kecil yang memotong jalan. Airnya cukup jernih dan mengalir lirih melintasi batu - batu alam. Entah dari mana sumbernya yang pasti air tersebut air tawar. Tidak jauh dari kali pertama ini saya juga mendapati kali lagi. Ukuranya sedikit lebih lebar dan sekali lagi airnya jernih menggoda. Menurut warga segitar untuk sampai di Pantai Coro harus melawati tujuh kali terlebih dahulu. Kali - kali tersebut hanya berukuran kecil dan tidak perlu menggunakan jembatan.

Dalam perjalanan saya menjumpai beberapa pengunjung lain. Mereka terlihat berhenti sejenak di pinggir jalan. Kebanyakan dari mereka masih usia remaja. Namun ada juga satu dua rombongan keluarga. Sesuai perkiraan saya, pengunjungnya bisa dihitung jari meskipun akhir pekan. Beberapa menit kemudian saya sampai di pos pertama. Dua orang penjaga berseragam tampak sudah siap menyambut. Dari dalam loket sederhana itu mereka sibuk mempersiapkan tiket. Di sebelahnya ada dua warung kecil dan lainya hutan. “Tiket masuknya lima ribu mas, satu orang saja”  ucapnya pada saya. Sesudah membayar saya bergegas melanjutkan perjalanan. Pikir saya sudah dekat, ternyata kondisi jalannya lebih ekstrim.


Batu besar di samping kanan dengan jalanya miring empat puluh lima derajat wajib dilewati. Sangat asik untuk berpetualang, meskipun cukup untuk membuat kita ngos - ngosan. Di bawah jalan miring tersebut saya berjumpa dengan penduduk sekitar. Seorang bapak setengah baya yang sibuk dngan hasil panen pisangnya. Dua keranjang pisang – pisang besar tampak penuh dibawanya. Namun ada sedikit masalah dengan motornya. “Sudah biasa pak pakai motor di jalan seperti ini ?” sapa saya. “Biasa mas, biasanya juga lancar - lancar saja, Cuma ini tadi salah setingan motornya”. Saya kembali menerawang keatas dan membayangkan bagaimana motor bebek tersebut bisa naik.

Kucuran keringat sudah membasahi badan. Untungnya semilir angin dengan cepat meredakanya. Begitu segar, sensasi bahagia seperti habis berolahraga seketika itu juga muncul. Saya kembali bersemangat dan tetap melangkah dengan santai. Dari jauh tampak warna biru di sela - sela pohon jati yang berbaris rapi. Semakin saya dekati malah tidak sampai - sampai. Warna awan yang cerah berubah seperti fatamorgana di tengah perjalanan yang terik ini. Tampa sadar saya sudah berada di depan warung kecil. Hanya ada satu warung itu saja, di sampingnya hutan belantara. “Mampir dulu mas, istirahat sebentar disini” sapa seorang ibu mencairkan suasana. Saya hanya tersenyum dan membalas sapa kemudian melanjutkan perjalanan. Karena matahari juga sudah mulai naik. Sesekali saya juga menjumpai gubuk - gubuk kecil tempat singgah penduduk. Aktifitas berkebun menjadi roda ekonomi andalan. Karena tanahnya yang subur,kebun - kebun tumbuh dengan hasil bumi yang melimpah ruah disini.

Perjalanan yang cukup panjang akhirnya mulai menunjukan hasil. Masih dari atas bukit saya melihat warna biru lagi. Warna biru sedikit hijau yang berbatasan langsung dengan warna putih kecoklatan pasir pantai. Hamparan pantai seluas 400 meter sangat menawan dari kejauhan. Saya menghentikan langkah sejenak. Di tengah semak - semak liar itu saya menghirup nafas panjang. Memandangi lagi dengan setengah tidak percaya. Ternyata ada juga pantai berpasir putih di sekitar teluk popoh, sementara pantai - pantai lain di sekitarnya semua berpasir coklat.


Tidak sabar rasanya segera turun kebawah. Jalan mulai sedikit menurun, di sampingnya terdapat sebuah bukit. Dengan hati - hati saya menyusurinya. Sebuah bener yang dipasang di antara dua pohon menjadi penanda pintu masuk yang sederhana. Gambaran singkat tentang Pantai Coro ini adalah berada di balik bukit. Membentuk teluk berukuran kecil. Menghadap langsung ke arah selatan samudra Indonesia. Di kedua sisinya diapit tebing batu megah. Bahkan di sisi barat gugusan tebing batu terlihat memanjang dan luar biasa. Kesan alami begitu kuat saya rasakan. Sedikit sekali pengunjung yang datang. Bahkan bisa kita ibaratkan pantai pribadi.


Pasirnya putih sedikit kecoklatan dan tentunya sangat bersih. Memanjang dari barat ke timur. Pohon - pohon yang teduh dengan akarnya yang besar memenuhi pinggir pantai. Membuat siapapun yang datang ingin bersantai di bawahnya. Saya langsung melepaskan sendal, membuat jejak kaki di pasirnya yang lembut. Memandangi batu - batu karang yang terhempas ombak. Sayang ombaknya cukup besar.


Boleh bermain air tapi disarankan di tepi saja demi keamanan. Saya sangat menikmati setiap jengkal pasirnya. Dari ujung barat sampai ujung timur sangat sayang untuk di lewatkan. Ada juga sumber air tawar yang keluar dari bawah pohon. Mengalir lirih menyisir batu karang yang menjadi pembatas pantai.

Di sisi paling timur, saya rasa menjadi tempat ternyaman. Saya sedikit naik keatas menghampiri warung yang ada di pinggir Pantai. Dua botol minuman dingin segera saya beli. Minum di bawah pohon dengan suasana pantai yang sepi menjadi simulasi surga dunia. Saya cukup lama terdiam, meresapi kemegahan ciptaan Tuhan yang satu ini.

Tebing Banyu Mulok
Tidak mau larut dalam buaian pesona Pantai Coro saja, ingatan saya kembali tersedar. Tebing Banyu Mulok masih menjadi teka - teki yang belum terpecahkan. Rasa penasaran tentang kemegahanya menguasai rasa ingin tahu saya. Itu semua karena papan petunjuk di sebelah timur pantai Coro. Di dekat karang besar ada jalan setapak menuju arah timur. Semak belukar tumbuh dengan liar disana. Tingginya cukup untuk menyembunyikan tubuh kami. Semakin lama jalanya semakin naik. Semakin naik pemandangan yang didapat malah semakin menakjubkan. Seakan tidak peduli panas, langkah kaki tetap semangat mengitari bukit kecil. Terdepat gubuk kecil, mungkin digunakan sebagai tempat jualan. Satu tanjakan panjang berhasil saya tuntaskan.


Saya seperti berada disisi lain dari bukit sebelumnya. Samar - samar warna biru laut mengintip dari jauh. Sejauh mata memandang lebih didominasi rumput liar. Sedikit sekali pohon, kalaupun ada bisa dihitung jari jumlahnya. Namun tidak ada kesan gersang yang saya temui. Semua berwarna hijau atau dalam bahasa jawa terkenal dengan istilah ijo royo - royo. Jalan setapak masih belum selesai di tempuh.


Saya masih harus berjalan lagi beberapa langkah untuk sampai di Banyu Mulok. Membelah hijaunya rumput liar yang dari jauh lebih mirip dengan kebun teh. Sebuah bendera merah putih dengan gagah berkibar di atas tebing. Menjadi penanda bahwa kami telah sampai di tempat yang luar biasa ini. Kekaguman tidak henti - hentinya terucap. Entah dengan apa lagi saya harus mendeskripsikan eloknya Banyu Mulok ini. Wajah alam yang masih alami menyapa penuh damai.


Saya benar - benar menikmati birunya samudra Indonesia lebih leluasa. Luas dan seolah tanpa batas. Garis horizon antara laut dan langit hanya dibedakan tipis dengan gradasi warna biru. Keunikan Banyu Mulok sebenarnya ada pada ombaknya yang besar. Ombak tersebut akan menghantam kokohnya dinding tebing. Hingga airnya sampai naik dan menyembur ke atas. Mungkin karena hal itulah asal dari penamaan Banyu Mulok didapat.



Dalam bahasa Jawa kata Banyu Mulok bermakna air yang naik keatas. Kalau beruntung sahabat juga bisa melihat indahnya pelangi kecil dari bias cahaya karena air yang menghantam tebing. Dan yang paling menyenangkan adalah saya hanya menjumpai dua orang saja ketika berkunjung di tempat ini. Sepi, tenang, nyaman, dan sangat bebas menikmati keindahan surga dunia.

sumber : mreyhanflorean.blogspot.co.id
Untuk sementara sampai disini dulu petualangan kami, mungkin lain waktu bisa mampir ke pantai Dadap yang juga masih bersebelahan dengan Tebing Banyu Mulok. Banyak hikmah yang saya dapat. Banyak keindahan yang saya nikmati, dan semoga tetap banyak bersyukur karena dilahirkan di bumi Nusantara yang indah ini.

Catatan :
-    Pantai Coro dan Banyu Mulok berada di Ds. Gerbo, Kec. Besuki , Kab. Tulungagung
-    Kurang lebih 35 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Tulungagung
-    Peringatan penting untuk tidak membuang sampah sembarangan !

.
Share:

Sunday, 26 March 2017

Menelisik Sejarah Prasasti Cunggrang



Bertolak dari Candi Jawi rombongan kami kembali melanjutkan perjalanan. Ada empat destinasi lagi yang harus dikunjungi. Semua masih dalam satu rangkaian bertajuk “Jelajah Patirthan” dalam rangka memperingati hari air. Saya bersama Mas Alfian (Ketua Blogger Ngalam) dan Mas Tomi ikut membaur bersama peserta lain di dalam bus. Sementara Bus melaju dengan santainya, mengikuti irama lalu lintas yang cukup ramai siang itu.  Tujuan selanjutnya adalah menelisik prasasti Cunggrang. Prasasti peninggalan tokoh legendaris Empu Sindok, yang berada di sebelah timur kaki gunung suci Pawitra (Penanggungan). Tepatnya di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Baca Juga : Jelajah Budaya di Candi Jawi


Kami sampai di Dusun Sukci pada siang hari (19/03/2017). Bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah lapangan yang cukup luas. Seterusnya kami harus berjalan kaki untuk menuju lokasi. Mungkin kalau menggunakan mobil atau motor bisa langsung sampai. Kali ini saya pun harus menikmati berjalan kaki, meresepai suasana desa kuno ini lebih kusyuk lagi. Beramai - ramai kami diajak menyusuri perkampungan. Melewati jalan dan gang - gang kecil di antra rumah - rumah warga. Beberapa menit kemudian kami sampai di lokasi. Saya merasa cukup sulit untuk menemukannya, ini karena lokasi benda bersejarah tersebut membaur di tengah pemukiman warga. Bahkan lebih menjorok kedalam jika diukur dari badan jalan. Seolah - olah memang berada di belakang rumah warga. Bangunan sederhana berbentuk pendopo menjadi pelindung prasasti Cunggrang dari gempuran cuaca. Di depanya terdapat halaman kecil yang sekaligus menjadi halaman bangunan posyandu di sampingnya.


Semua peserta bergegas memenuhi ruangan pendopo yang dibatasi pagar besi setinggi satu meter itu. Duduk melingkar dan mengelilingi prasasti. Karena jumlahnya yang banyak sebagian tetap antusias berdiri di luar pagar. Di dekat prasasti sudah bersiap Pak Dwi Cahyono (Dosen dan Peneliti Sejarah) menjelaskan banyak hal tentang prasasti ini.

Prasasti Cunggrang diresmikan pada 18 September 929 Masehi (851 Saka). Angka tersebut sekarang juga digunakan sebagai acuan hari jadi Kabupaten Pasuruan. Pendirian prasasti ini diprakarsai oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa yang lebih dikenal dengan Mpu Sindok. Ia adalah raja pertama dari kerajaan Medang (Mataram periode Jawa Timur). Beberapa peneliti sejarah mengungkapkan bahwa Empu Sindok merupakan menantu dari Raja Wawa penguasa kerajaan Medang sebelumnya pada periode Jawa Tengah.  

Pada masa Empu Sindok ini sudah diterapkan sistem pengarsipan. Hal ini juga didapati pada prasasti Cunggrang. Sistem pengarsipan tersebut meliputi penulisan pada daun lontar, proses selanjutnya memahatkan deretan huruf sangsekerta itu pada permukaan batu adesit yang sekarang disebut sebagai Prasasti Cunggarang A. Berlanjut pembuatan salinan pada lempeng tembaga yang disebut sebagai prasasti Cunggrang B. Prasasti Cunggrang versi lempeng tembaga ditemukan di lereng gunung Kawi, dan sekarang keberadaanya tersimpan di kompleks Gereja Kayu Tangan.


Jika kita mengamati prasasti Cunggrang lebih seksama, maka terdapat tiga batu disamping kiri dan kanannya. Yang pertama terdapat batu berbentuk silindris yang sengaja ditanam disamping batu utama prasasti, dikenal dengan sebutan batu sima. Merupakan penanda bahwa wilayah disekitarnya merupakan tanah sima (perdikan). Salah satu isi dari prasasti Cunggrang ini juga menetapkan Desa Cunggrang sebagai tanah sima atau perdikan. Merubah setatusnya dari desa biasa menjadi desa istimewa yang bebas pajak. Selanjutnya terdapat dua batu lumpang (berlubang) disebelah sisinya. Batu lumpang ini digunakan untuk memecahkan endok (telur). Pecah telur mengandung makna bahwa setiap keputusan yang sudah ditetapkan tidak bisa dirubah. Begitupun dengan keputusan raja yang dikenal dengan “Sabda Panditha Ratu” berkaitan dengan penetapan desa perdikan tersebut.

Tugas penduduk yang daerahnya dijadikan perdikan ialah memerlihara tempat pertapaan dan memperbaiki bangunan pancuran di Pawitra. Jika dilihat dari keberadaan prasasti yang sulit untuk dipindahkan, maka bisa dipastikan Desa Cunggrang memang berada di Desa Sukci. Hal ini semakin diperkuat dengan penemuan sejumlah benda - benda bersejarah. Sementara pancuran air yang dimaksud adalah tempat yang sekarang dikenal dengan Candi Belahan (Sumber Tetek). Lokasinya persis di gunung Pawitra (Penanggungan), hanya berjarak kurang dari lima kilometer . Jadi kesimpulanya prasasti Cunggrang ini semacam referensi atau sumber hukum tertulis untuk merawat pancuran air di Candi Belahan.


Banyak yang bisa dipanen dari kunjungan bersejarah ini. Bahwa tradisi literasi dan pengarsipan pun sudah dimulai berabad - abad lamanya. Suatu upaya untuk mengabadikan peristiwa dan mengabarkanya kepada lintas generasi.  Sudah ada sumber hukum tertulis, sudah tergambar dengan jelas bagaimana harmonisnya hubungan penguasa dengan rakyatnya. Imbal balik yang saling menguntungkan dengan segala bentuk apresiasi lainya. Perhatian penguasa terhadap tempat pertapaan dan patirtan menjadi catatan bahawa peradaban leluhur Nusantara sangat memperhatikan kebutuhan rakyatnya dari segi jasmani dan rohani. Hanya sedikit harapan pada pemrintah untuk lebih memperhatikan lagi benda bersejarah semacam ini. Sementara  pesan untuk pengunjung adalah ajakan untuk bersama - sama menjaga prasasti Cunggrang ini. Minimal tidak menyentuhnya, terlebih lagi sengaja merusak. Ini bukan lagi sekedar warisan, lebih dari itu saya menganggapnya sebagai pusaka.

Ikuti perjalanan kami selanjutnya di Candi Belahan (Sumber Tetek)


Share: