Friday, 8 September 2017

Semarak Gelaran Karnaval Budaya di Trenggalek

Karnaval budaya menjadi agenda wajib di Trenggalek pada bulan Agustus. Itu karena bertepatan dengan dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus hari jadi Kabupaten Trenggalek. Suka cita masyarakat ditumpahkan dengan beragam kreatifitas. Tidak tanggung - tanggung karnaval digelar tidak hanya satu kali. Di tahun ini (2017) salah satu tema yang diusung adalah unsur etnik (Trenggalek Etnic Carnival). Peserta diharuskan menampilkan beragam kesenian khas trenggalek dan Nusantara.

Totalitas dari masyarakat Trenggalek sangat besar untuk menyukseskan gelaran tahunan ini. Semua bisa terlihat dari keunikan - keunikan yang ditampilkan peserta. Pengunjungnya pun membludak tumpah ruah memenuhi jalanan Kota. Menikmati langsung pesta rakyat sekaligus bernostalgia dengan budayanya. 

OMBONEJAGAD berkesempatan mengabadikan momen berharga ini lewat rubik foto. Kami selalu mendukung kegiatan budaya untuk mengenalkan keindahan Nusantara, 














TURONGGO YAKSO
JARANAN KHAS TRENGGALEK








CERITA RAKYAT
GAJAH PUTIH DAN DAM BAGONG 









Share:

Tuesday, 5 September 2017

Cerita Tentang Pembuat Barongan dan Keris dari Dusun Ngembong



Ada secerca harapan yang saya tangkap dari dusun kecil tercinta ini. Namanya Mas Ali Sodik (30), anak muda yang menaruh minat pada kearifan budaya Jawa. Khususnya dalam hal pembuatan benda seni dan pusaka. Dari belajar secara otodidak, ia sudah menghasilkan beberapa karya bernilai seni tinggi. Beberapa diantaranya seperti barongan dan keris sukses membuat saya takjub. 
 
Pagi itu (1/8/17) saya bertandang ke rumah Mas Ali di Dusun Ngembong, Desa Bulus, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Tujuannya tentu melihat lebih dekat Mas Ali berkreasi. Di Dusun Ngembong ini juga terkenal dengan industri kerajinannya. Meskipun masih sekala rumahan namun produk yang dihasilkan layak untuk diperhitungkan. Produk seperti anyaman bambu dan sangkar burung dari Dusun ini sudah dikenal masyarakat luas. Maka tak heran jika para pengrajin handal (seniman) lahir dari tempat ini.

Mengintip Proses Pembuatan Barongan
Dari teras rumah sederhananya kala itu, sudah nampak kesibukan. Seperti biasa Mas Ali larut dalam keseriusan menyelesaikan buah karyanya. Ketika saya datang, segera ia menghentikan semua aktifitasnya. Menyambut penuh ramah, dan mempersilahkan saya melihat dari dekat proses pembuatan barongan. 


Barongan adalah topeng berbentuk kepala naga yang terbuat dari kayu. Bagian mulutnya bisa digerakan, jika mengatup maka keluar bunyi keras. Barongan diperankan sebagai tokoh antagonis, berkuasa, dan menakutkan. Produk seni khas jawa ini bisa didapati pada seni pertunjukan jaranan. Barongan memegang peranan penting karena menjadi inti cerita seni pertunjukan jaranan. Cukup satu orang untuk memainkannya. Barongan akan semakin menarik kala pemainnya kerasukan makhluk halus.  


Ketertarikan Mas Ali pada pertunjukan Barongan menantang kreatifitasnya. Empat tahun yang lalu ia memberanikan diri membuat barongan. Ia menuturkan awalnya hanya bermodal mengamati dan kesungguhan. Bahkan hanya menggunakan peralatan dan bahan baku seadanya. Satu persatu karya ia hasilkan dengan penuh ketelatenan. Membuat barongan itu harus multi talenta. Setidaknya harus punya keterampilan dasar melukis dan memahat. Yang lebih penting lagi tentu jiwa seni yang tinggi. 

Proses pembutan barongan kurang lebih tujuh hari. Tergantung kerumitan ukiran pada topeng kayu tersebut. Semakin rumit semakin lama. Tentu saja juga semakin tinggi nilai jualnya. Tahap pertama adalah mempersiapkan bahan baku berupa kayu. Uniknya Mas Ali hanya menggunakan kayu dari pohon yang tumbang secara alami. Seperti tumbang diterjang angin, Lapuk akibat faktor usia pohon, atau sisa penebangan imbas pembangunan jalan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Filosofi ini ia pegang teguh dan sering ia kampanyekan. Baginya berkarya tidak hanya untuk kepentingan manusia. Berkarya juga wajib selaras dengan alam.

Bahan baku utama barongan adalah kayu berbentuk tabung. Dari kayu tersebut kemudian dibuatlah sketsa dasar. Tahap ini butuh imajinasi dan kepekaan bentuk seni tiga dimensi. Setelah selesai berlanjut pada proses membuat ukiran. Dengan bantuan tatah (peralatan ukir) ia mulai mengerjakan tahap demi tahap. Semuanya dikerjakan manual mengandalkan keterampilan tangan. 

Dan pagi itu saya ikut melakukan proses pengecatan. Beberapa cat warna – warni sudah disiapkan lengakap dengan kuasnya. Proses pengecatan pada kepala barongan sudah hampir selesai. Mas Ali melanjutkan dengan melukis bagian jamang. Jamang adalah bagaian belakang kepala barongan bentuknya lebih mirip gunungan pada wayang. Bahannya dari kulit binatang namun bisa juga dengan kulit sintetis yang lebih murah.




“Membuat karya seni itu harus dengan hati, supaya bisa diterima oleh hati” ucapnya pada saya sembari menuruskan melukis. Karya Barongan Mas Ali ini sudah banyak dimiliki beberapa grup kesenian jaranan lokal. Bahkan yang terbaru peminatnya sudah luar daerah. Harga dari barongan yang termurah berkisar tiga juta rupiah. Untuk ukuran yang lebih besar mungkin lebih mahal lagi. Saya mencoba memainkan barongan yang sudah jadi. Cukup berat untuk mengangkatnya, tapi ini adalah pengalaman berkesan untuk saya.

Kerajinan Keris yang Berkelas
Bakat seni keterampilan Mas Ali juga menghasilkan keris. Benda yang tidak hanya dijadikan senjata adat, tetapi lebih pada pusaka oleh suku Jawa. Dulu pusaka ini hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Raja dan Bangsawan ternamalah yang berhak memilikinya. Keris adalah simbol kekuasaan. Seseorang yang memegang keris dianggap memiliki jiwa kepemimpinan yang karismatik. 


Bagi Mas Ali membuat keris adalah kebanggaan tersendiri. Jumlah pengerajin keris memang jarang ditemui. Meskipun kepopuleran keris masih langgeng dari generasi ke genarasi. Butuh lebih banyak lagi pengerajin keris. Semua itu untuk keberlanjutan masa depan keris sebagai benda pusaka khas.


Keris umumnya memang berbahan logam seperti baja. Namun sebagai pusaka ada juga yang dibuat dari bahan kayu tertentu. Mas Ali sendiri lebih banyak menggunakan bahan yang full kayu. Bukan kayu sembarangan, ia hanya memilih jenis yang teruji kualitasnya. Dan tentu saja masih dengan filosofinya tentang alam. Salah satu yang ia pilih adalah kayu stigi. Kayu yang terkenal dengan daya magis dan memiliki segudang kelebihan. Untuk mengetes keaslian kayu stigi, biasanya harus dimasukan kedalam air. Yang unik kayu stigi ini langsung tenggelam, seperti memiliki berat layaknya logam. Kabarnya jenis kayu ini sulit untuk dicari. 


Dari bahan berkualitas tersebut Mas Ali membuat keris dengan cita rasa seni tinggi. Lekukan - lekukan khas penuh makna tercipta pada karyanya tersebut. Jenis Majapahitan dan Sunan Kalijaga menjadi ragam yang paling banyak ia kerjakan. Semua bisa dilihat dari bentuk dan ukiran pada gagang dan sarung keris. Sama seperti barongan, semakin banyak detail ukiran semakin banyak pula ketelatenan yang dibutuhkan. Semua akan terbayar lunas dengan hasil karya yang berkelas. Sebuah karya seni berwujud pusaka yang menjadi kebanggaan.

Melestarikan budaya bukanlah perkara mudah di zaman yang serba dinamis ini. Para pelestari pun umumnya sudah berusia lanjut. Ini karena proses pewarisan budaya sering terbentur perubahan zaman. Budaya dianggap sudah ketinggalan zaman. Padahal banyak yang dapat diambil untuk dipelajari. Lebih jauh lagi budaya adalah identitas suatu bangsa. Maka menjaga dan meneruskannya adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Dari Mas Ali saya mendapat pelajaran yang begitu berharga. Kecintaan pada budaya dan kearifan hidup bersama alam. Tentang berkarya dengan hati dan hasil karya yang bisa menyentuh semua hati. Dan tentu saja pengalaman berharga melihat langsung pelestarian budaya penuh makna.

Catatan :
  •  Sahabat bisa membeli atau memesan barongan dan keris secara langsung maupun online dengan menghubungi  085257494323
  • Sahabat bisa mengunjungi langsung tempat pembuatan kerajinan Barongan dan Keris di rumah Mas Ali. Lokasinya di Dusun Ngembong, (RT.1 / RW.1 | No.1) Ds. Bulus, Kec. Bandung, Kab. Tulungagung, Jawa Timur. Buka setiap hari mulai pukul 8 pagi ( Kecuali Hari Libur )





Share:

Saturday, 22 July 2017

Geliat Seni Tradisi Jaranan di Desa Pucung Kidul



Setiap daerah di Nusantara pasti memiliki produk seni tradisi yang khas. Seni tradisi lahir sebagai bentuk kreatifitas masyarakat atas budayanya. Tentu bukan hanya sekedar hiburan, didalamnya juga diselipkan nilai – nilai filosofis yang sarat akan makna. Bentuknya bisa berupa tembang (lagu), musik, tari, drama, atau gabungan dari unsur - unsur tersebut. Yang pasti ciri seni dengan keindahannya yang universal sangat mudah diterima semua kalangan.

Di Tulungagung (Jawa Timur) banyak dijumpai ragam seni tradisi yang saat ini masih teguh dipertahankan. Seni tradisi bernafas budaya jawa seperti Karawitan, Tayupan, Jemblungan, Wayang Kulit, Jedor, Tiban, Ketoprak / Ludruk, Reog Kendang, Kentrung, dan Jaranan adalah aset berharga yang mewarnai kehidupan di kampung halaman tercinta. Saya yakin kesenian – kesenian tersebut juga bisa dinikmati di daerah lain, khususnya di pulau Jawa. Namun yang khas Tulungagung seperti Reog Kendang, Kentrung, dan Jaranan cukup sulit ditemukan di tempat lain. Kecuali ditanggap (diundang) oleh seponsor khusus seperti instansi atau donatur independent pecinta seni.

Kali ini ijinkan kami mengajak sahabat untuk berkunjung ke desa Pucung Kidul, Kecamatan Boyolangu. Melihat lebih dekat salah satu seni tradisi khas Tulungagungan. Jaranan begitulah orang – orang menyebut seni tradisi ini. Kesenian yang masih digemari sebagian besar orang Tulungagung, penikmatnya pun merata hingga lintas generasi. Seni tradisi ini banyak di temukan di daerah Jawa Timur khususnya bagian selatan. Namun perkembangannya tidak sepesat dan sesemarak di Tulungagung. Setiap Kecamatan atau bahkan hampir setiap desa – desa di Tulungagung punya grup jaranan. Dari sini lahir para seniman kondang yang sukses. Proses regenerasi juga tidak ketinggalan. Anak - anak muda ikut antusias mempelajari seni tradisi daerahnya itu. Berbagai inovasi terus ditambahkan. Hasilnya lahirlah grup – grup jaranan legendaris yang dikenal banyak orang. Lihat saja grup jaranan Kuda Birawa atau Safitri Putra yang mendunia dengan seni jaranan dangdut kreasinya.

Kata “Jaranan”  sendiri berasal dari bahasa Jawa. Jaran artinya kuda istilah jaranan bisa bermakna kuda mainan atau bermain kuda. Sebagian orang mungkin lebih mengenalnya dengan istilah kuda lumping atau Jaran Kepang. Jaranan ini sebenarnya tidak hanya sekedar tarian. Dalam jaranan bisa kita nikmati alunan musik dari para pemain gamelan, bahkan sekarang dikolaborasikan dengan peralatan musik moderen.  Ada juga aksi ndadi atau kesurupan yang justru ditunggu – tunggu penonton.

Kenal lebih dekat dengan Jaranan
Malam itu (11/07/17) saya menerima ajakan dari Pak Ali (32) salah seorang teman yang juga pecinta seni tradisi. Rencananya kami akan menonton langsung pertunjukan jaranan. Ini adalah pertunjukan kali pertama setelah lama libur lebaran. Jadwal pertunjukan kami dapatkan dari grup sosial media. Tentu kami sudah hafal betul tempatnya. Sayangnya untuk jadwal kali ini lokasinya cukup jauh. Harus melewati dua Kecamatan dulu untuk sampai di desa Pucul Kidul.

Riuhnya kerumunan warga menjadi penanda bahwa kami telah sampai. Dibawah purnama kami ikut berbaur mendekati panggung terbuka. Panggung dimana seni tradisi jaranan dipentaskan disitu. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung kehebohan para seniman jaranan. Sementara di bagian belakang panggung dibuatkan dekorasi dengan tema berbentuk bagunan candi. Dari situ pula saya tahu, grup jaranan yang sedang tampil ini adalah Turonggo Siswo Budoyo. Grup jaranan kebanggan warga Desa Pucung Kidul. Kali ini mereka tampil dirumahnya sendiri. Dalam rangka syukuran salah seorang sesepuh desa.


Wangi aroma kembang dan kemenyan menjadi santapan wajib untuk kami hirup. Menambah kesan mistis yang selama ini kerap dikaitkan dengan pementasan jaranan. Sayangnya perhatian saya lebih tertarik pada lantunan musik pengiring jaranan. Terkesan bersemangat dan asik untuk ikut manggut manggut. Sumber suara itu ternyata berasal dari pemain gamelan disamping panggung. Tentu saja tidak hanya gamelan, ada juga peralatan sekelas band yang juga turut memeriahkan. Belum lagi dukungan dari soundsystem yang dipasang didepan panggung. Saya yakin tidak hanya pemain jaranannya yang bersemangat untuk jingkrak – jingkrak. Penonton pun pasti ikut hanyut layaknya menonton konser band – band ibu kota. 

Ketika kami datang, acara sudah berlangsung di atas panggung. Tampak beberapa anak kecil menunjukan kebolehannya. Generasi baru pewaris jaranan ini tampil percaya diri sebagaimana orang dewasa. Pakem - pakem gerakan jaranan sentherewe mereka suguhkan dengan lincah dan gesit. Jaran dari anyaman bambu mereka tunggangi. Peran pasukan bekuda khas kerajaan ditampilkan dengan gagah perkasa. Tak lupa cemeti (Cambuk) digenggamnya dengan erat sesekali terdengar suara cambukan “ceples, ceples, ceples ….. “


Ini masih pukul sembilan malam, untuk jaranan biasanya berdurasi lebih dari empat jam. Mereka menjadi tim pembuka yang menggebrak panggung terbuka malam itu. Selanjutnya masih ada beberapa penampilan lagi. Tentu saja dengan formasi dan pemain yang berbeda. Di ronde kedua ini pemainnya usia remaja. Mereka terlihat lebih matang dari grup sebelumnya. Formasi pemainnya sagat bervariasai. Salah satu yang saya ingat adalah saat penapilan campuran, kolaborasi dua remaja perempuan dan dua remaja laki - laki.

Dalam pertunjukan seni jaranan Tulungagungan ada semacam alur cerita yang khas. Mulai dari gerakan berkelompok  yang menggambarkan kekompakan pasukan kerajaan. Kemudian gerakan solo  ala kesatria berkuda. Dilanjutkan dengan kisah pasukan berkuda melawan celeng. Gerakan pemain celeng sangat tidak beraturan. Bertingkah gesit dan rakus persis seperti babi hutan. Pada puncaknya kita akan disuguhkan pertarungan kesatria berkuda dengan barongan.

Aksi Barongan dan “Ndadi
Barongan adalah sosok berkarakter menakutkan dan berkuasa. Diwujudkan dalam bentuk naga versi mitologi Jawa. Sosok naga juga lekat dengan kisah legenda yang ada di Tulungagung, Seperti naga baruklinthing yang mashur itu. Properti untuk barongan seperti topeng pada reog Ponorogo. Namun dengan ukiran kepala naga yang lebih seram. Hidungnya besar dan matanya melotot keluar. Yang unik bagian mulut topeng barongan ini bisa digerakan. Sehingga keluar bunyi keras “dok, dok, dok … “ karena hal ini ada juga yang menyebutnya sebagai dokdokan. Untuk memainkan barongan hanya butuh satu orang. Penari barongan haruslah memiliki tenaga yang kuat, sebab ukuran topeng barongan ini cukup berat. Belum lagi sang penari harus menggerakan mulut barong dengan lincah. Pertarungan barongan dengan kesatria berkuda memang selalu mendebarkan. Tingkah polah barongan lebih brutal dari celengan. Sesekali terjadi aksi akrobatik seperti salto atau melompat tinggi. Tak jarang pula terjadi kontak fisik layaknya adegan di film laga.


Malam semakin larut kami pun semakin hanyut dalam pentas rakyat itu. Tepat pukul duabelas malam hal yang paling ditunggu pun kami dapati. Apalagi kalau bukan ndadi alias kesurupan. Ini memang terlihat aneh, namun selalu menarik perhatian. Pertunjukan jaranan tanpa adegan ndadi seperti sayur tanpa garam. Kurang lengkap atau bahkan kurang greget. Ndadi adalah kondisi dimana pemain jaranan kerasukan makhluk halus (ghaib). Kerasukan menjadi hal yang wajar, bahkan umumnya para makhluk halus ini memang sengaja diundang.  Kerjasama ini semata - mata hanya untuk memeriahkan jalannya pertunjukan.

Satu persatu pemain jaranan kesurupan gerakannya jadi lebih agresif dan tak umumnya manusia. Dulu kalau seorang ndadi bisa aneh – aneh permintaanya. Seperti makan beling (pecahan kaca), mengupas sabut kelapa dengan gigi, atau makan bara api yang panas. Untungnya kami tidak mendapati kejadian se-ekstrim itu. Hanya saja jantung ini ikut berdebar saat salah seorang yang ndadi dengan mata melotot berlari mendekati penonton. Perang antara pasukan berkuda dan barongan menjadi lebih hidup berkat kesurupan ini. Barongan yang ganas benar - benar nyata malam itu. Pemainnya seperti hilang kendali. Suara dari mulut barongan semakin cepat dan keras. Disisi lain sang penantang pasukan berkuda juga ikut kesurupan. Seperti tidak ada ketakutan di raut wajahnya. Melawan barongan dengan gagah dan penuh keberanian.

Pertunjukan seni tradisi rakyat ini ditutup dengan kemenangan pasukan berkuda. Namun belum cukup sampai disitu, prosesi untuk menyadarkan para pemain yang ndadi tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menyadarkannya butuh bantuan juru gambuh (pawang) selaku pemimpin tertinggi di pertunjukan tersebut. Untuk yang tingakat bias acara menyadarkannya pun cukup ditepuk bahunya atau disuruh makan kembang. Semakin tinggi level ndadinya maka semakin sulit untuk disadarkan. Kalau sudah begini sang juru gambuh akan menerapkan jurus andalannya seperti menidurkan pemain atau mencambuknya dengan mantra tertentu. Yang pasti malam itu pertunjukan berjalan dengan lancar. Di akhir pertunjukan sang juru gambuh memanjatkan slametan atau doa atas suksesnya pertunjukan tersebut. Penonton pulang dengan membawa cerita mengesankan kerumah mereka masing - masing. Begitulah secuil cerita kearifan lokal yang terjadi di desa Pucung Kidul malam itu. Secuil cerita yang mengabarkan bahwa seni tradisi lokal masih hidup dan tetap dinikmati sebagian besar rakyat Nusantara.



Share:

Friday, 23 June 2017

Tradisi Menghias Jalan Desa Menjelang Hari Raya


Hampir genap satu bulan orang - orang Islam melaksanakan puasa. Hari - hari yang disucikan itu memasuki minggu terakhirnya. Setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan, begitu pula perjumpaan dengan Ramadhan. Suka cita bulan puasa pun merasuki seluruh kehidupan Masyarakat Nusantara. Negeri zamrud katulistiwa dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Berbagai tradisi tahunan dihadirkan kembali dengan penuh antusias baik di perkotaan hingga di gang – gang kecil pedesaan. Mudik, ngabuburit, buka bersama, nyumet mercon (bermain petasan), tadarus di langgar, ngaji pasan (pesantren kilat) dan kegiatan rondo (membangunkan orang sahur) menjadi warna tersendiri yang hanya ada di bulan suci ini.

Tahun ini saya lebih beruntung, bisa menikmati sepanjang momen puasa di kampung halaman. Desa tercinta yang tidak pernah kalah meriahnya dengan perkotaan ketika Ramadhan. Banyak orang - orang desa yang tinggal di kota - kota besar, mulai dari mencari nafkah, kuliah bahkan ada yang sudah menetap dan beranak pinak disana. Tidak sedikit pula yang sukses karena keuletan dan kesungguhanya. Namun sejauh apapun kita merantau, rumah adalah tempat yang paling dirindukan untuk kembali. Maka tidak heran jika arus mudik meningkat berkalilipat menjelang lebaran. Ramadhan di kampung halaman adalah idaman bagi perantau yang lama tak pulang. Entah sukses atau belum, pulang adalah obat mujarab untuk mengobati kerinduan. Suasana rumah dan kegiatan masyarakat desa yang senang berpesta menjadi hal yang paling ditunggu. Momen seperti itulah yang menjadi mesin nostalgia bagi siapapun yang merasakannya. Momen yang tidak pernah ada habisnya untuk diceritakan, momen yang selalu memaksa saya untuk selalu menuliskannya.

Seminggu menjelang berakirnya Ramadhan suasana desa tampak lebih meriah. Hari Raya yang kehadirannya tinggal menghitung hari akan mengakhiri puncak Ramadhan. Kesibukan akan bertambah, berbagai persiapan pun mulai dikerjakan. Ada salah satu tradisi yang khas menjelang lebaran. Jalan - jalan yang menjadi penghubung antar desa tampil beda dari biasanya. Lebih meriah,  semarak dan semakin berwarna. Tidak hanya jalan utama jalan - jalan di gang - gang kecil pun tidak luput dari kemeriahan. Warga akan berlomba - lomba menghias jalan semenarik mungkin. Sentuhan kreatifitas dan kekompakan dari anak - anak mudanya memiliki peran yang cukup penting pada proyek tahunan ini. Siang malam secara bergantian dari yang tua hingga yang muda bahu membahu aktif bekerja sama. Dananya diambil dari sumbangan sukarela para warga sendiri. Susunan panitanya berjalan otomatis tanpa peraturan yang mengikat. Ada yang bertugas mencari dana, tim desain yang super kreatif, pelaksana lapangan, penyemangat, komentator dan tak ketinggalan tim konsumsi yang setia menemani. Semua atas dasar kesadaran masing - masing. Kekompakan semacam ini mungkin yang sulit dijumpai di perkotaan. 



Kalau sahabat ingin merasakan pengalaman lebaran yang berbeda berkunjunglah ke desa kami. Sebelum hari raya datang, riuhnya pesta ala rakyat pedesaan sudah bisa sahabat rasakan. Utamanya di desa Kamulan, Sumbergayam, Pakis, Semarum, Ngadisuko dan desa - desa lain yang berada di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Kemeriahan juga bisa ditemui di Desa Bulus, Ngepeh, Gandong, Kesambi, Sebalor, Ngunggahan yang berada di Wilayah Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Kecamatan Durenan dan Bandung adalah dua kecamatan perbatasan Kabupaten yang dikenal selalu meriah setiap perayaan hari besar agama maupun nasional. Saya meyakini kalau kemeriahan semacam ini sejatinya juga merata hampir diseluruh wilayah Nusantara, khususnya Jawa.


Gambaran kemeriahannya adalah seperti pesta - pesta rakyat yang penuh kreatifitas. Di siang hari sahabat akan menjumpai umbul - umbul yang pasti ada di setiap rumah. Umbul - umbul adalah sebutan untuk kain panjang yang menyerupai bendera. Memasang umbul - umbul ini sudah menjadi hal wajib meskipun tanpa perintah. Hiasan yang khas tentu warna - warni kain yang memiliki desain berbeda di setiap desa. Ada yang di pasang di sisi kanan dan kiri jalan, ada yang di pasang melingkar ke atas badan jalan. Ada pula yang memasang lampion dengan pernak perniknya. Satu lagi untuk kemeriahan malam hari, pemasangan lampu hias sudah menjadi tradisi baru untuk melengkapi kemeriahan hari raya. Lampu warna - warni dipasang di setiap rumah, dipasang dengan tiang pancang dari bambu yang melengkung kejalan. Malam hari di jalan - jalan desa akan bertabur cahaya lampu hias yang berwarna - warni. Berjalan di sana seperti memasuki lorong goa yang dipenuhi cahaya. Tidak cukup sampai disitu, biasanya di tempat – tempat penting seperti Langgar / Masjid dibuatkan gapura dadakan yang bertabur hiasan lengkap dengan lampu yang memanjakan mata.  


Tradisi menghias jalan menjelang hari raya ini sudah turun - temurun dilakukan. Setiap tahunnya selalu ada inovasi mengenai ide desain yang labih menarik. Mereka ingin membuat sesuatu yang lebih sepesial dan bermakna untuk Idul Fitri yang hanya akan datang setahun sekali. Kegiatan semacam ini sekaligus untuk menyambut tamu atau keluarga yang datang dari perantauan. Gotongroyong dan kekompakan warga lah kunci sukses proyek tahunan ini. Banyak makna yang terselip, tidak hanya sekedar berpesta menghias jalan adalah wujud syukur dan suka cita warga desa dalam menyambut datangnya hari raya.



Share:

Monday, 22 May 2017

Mengenal Tradisi Megengan di Jawa

Islam dan Jawa dua kata ini menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan. Islam sebagai agama rahmat semesta alam sudah beberapa abad lamanya masuk ke tanah Jawa. Semua itu tidak terlepas dari kearifan dan kekreatifan Walisongo dalam menyampaikan Islam melalui pendekatan sosial budaya. Tanpa kekerasan, tanpa pemaksaan, dakwah islam dilakukan dengan penuh kasih sayang. Tanah Jawa memang terkenal memiliki tradisi yang kuat dalam melestarikan budayanya. Sebagian orang – orang Jawa masih berpegang teguh untuk menghormati leluhurnya. Oleh karena itu sangat tepat jika metode pendekatan sosial budaya diberlakuakan untuk mendapatkan hati orang – orang Jawa. Kini usaha para Walisongo tersebut berbuah manis, Islam turut memberi warna hampir diseluruh tradisi Jawa. Islam melengkapi tatanan nilai adat istiadat Jawa yang sebetulnya memang sangat relevan. Alkulturasi budaya tercipta sangat indah, beberapa pesan dakwah pun disampaikan dengan penuh estetika melalui bermacam - macam media budaya. Salah satunya bisa kita temukan pada tradisi Megengan yang memiliki banyak makna tersirat.


“Allahumma Barik lana fi Rojaba wa Sya’bana wa Ballighna Ramadhana” kalimat tersebut akan semakin ramai didengungkan melalui corong langgar (masjid) di desa - desa. Sekaligus menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadhan sudah dekat. Suka cita masyarakat pun lebih semarak kususnya di minggu terakir bulan Ruwah (Sya’ban). Ada sebuah tradisi yang dilakukan khusus untuk menyambut kedatangan wulan poso (bulan puasa). Orang jawa menyebutnya dengan “Megengan”. Ini juga dilakukan di desa saya Dusun Ngembong, Kabuten Tulungagung, Jawa Timur bagian selatan.

Foto Berkat
 Setiap keluarga, khususnya ibu - ibu akan disibukkan dengan aktifitas masak - memasak. Mereka harus mempersiapkan “berkat” untuk dibagikan kepada tetangga. Berkat adalah sebutan untuk satu paket makanan yang terdiri dari nasi dan lauk pauk serta dilengkapi dengan jajanan tradisional. Tidak ada ketentuan khusus dalam pembuatan berkat. Namun sebagian orang jawa tetap menjaga beberapa yang khas. Misalnya seperti kue “apem” yang selalu ada di setiap berkat. Kue apem ini memiliki filosofi yang dalam, secara subtansi bisa diartikan sebagai simbol permintaan maaf. Tidak hanya apem jika mau mempelajari, setiap detail makanan dan jajanan dari berkat sebenarnya adalah sebuah simbol yang memiliki makna khusus.
Foto Kue Apem
Dulunya berkat berawal dari sesajen yang ditujukan sebagai perlengkapan pemujaan, dan sesajen tidak boleh dimakan. Karena tidak sesuai ajaran Islam maka dirubahlah sesajen tersebut menjadi berkat yang digunakan untuk media sodaqoh dan orang boleh memakanya. Kata berkat yang mengandung makna barokah memang diharapkan dapat menjadi barokah bagi siapa saja yang membuat maupun memakannya. Inilah bukti bahwa Islam datang bukan untuk menghapus melainkan untuk menyempurnakan yang sudah ada.

Sejarah awal dimulainya tradisi megengan secara pasti memang sulit ditelusuri. Namun dugaan kuat memang berasal dari hasil pemikiran Sunan Kalijaga. Seorang wali yang terkenal memiliki kecerdasan dan kreatifitas tinggi dibidang kesenian  dan kebudayaan. Sunan Kalijaga banyak memberikan terobosan dalam memperkenalkan Islam. Produk kreatifitasnya seperti wayang kulit, aneka tembang bernuansa petuah, dan alkulturasi budaya seperti kasus berkat diatas telah melekat di hati rakyat hingga kini.

Jadi Megengan adalah tradisi untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Istilah megengan secara bahasa memiliki arti “menahan”. Kata menahan erat kaitannya dengan puasa, bahkan bisa dibilang sebagai pelajaran inti dari puasa itu sendiri. Secara tersirat ini juga pesan sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam menjalani salah satu rukun islam. Tradisi semacam ini mungkin sulit ditemukan di daerah lain, karena sifatnya yang lebih kedaerahan. Megengan menjadi ciri khas muslim di Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada Islam.

Apakah perintah langsung megengan ada dalam Islam ?, Tentu saja tidak. Tapi perintah untuk saling berbagi (sodaqoh), menjaga silaturahmi, dan melakukan dzikir atau doa banyak dicontohkan dalam Islam. Megengan ini adalah bentuk dari penerapan nilai - nilai islam tersebut yang dikemas dalam sebuh tradisi dengan nama megengan.


Setiap daerah memiliki tatacara sendiri dalam pelaksanaan megengan. Di desa saya megengan dilakukan dengan tiga cara. Pertama dilakukan secara individu, jadi setiap keluarga membuat berkat, sebelum dibagikan berkat - berkat itu didoakan. Doa ditujukan untuk diri sendiri dan juga untuk para luluhur. Kemudian berkat di bagikan kepada para tetangga untuk dimakan. Kegiatan semacam ini tampak seperti saling tukar menukar berkat. Selama sepuluh hari berturut – turut itu bisa dibilang hari berkat nasional. Berkat akan berdatangan silih berganti, bahkan terkadang ada jadwal yang ditentukan. Pelaksanaan yang kedua hampir mirip cara pertama. Bedanya pihak tuan rumah mengundang tetangga terdekat untuk datang ke rumah. Seperti halnya pada selametan, dalam megengan ini juga dilakukan doa bersama. Yang ketiga adalah dilaukan secara berjamaah atau secara masal. Dengan membawa berkat semua warga akan berbondong - bondong memenuhi langgar (masjid). Kemudian melakukan doa bersama yang dipimpin oleh kiai (pemuka agama). Acara berlanjut dengan saling tukar menukar berkat. Puncak dari tradisi megengan ini adalah melakukan nyekar. Nyekar adalah istilah ziarah kubur dalam bahasa Jawa. Nyekar akan ramai saat dua hari sebelum puasa.

Dari tradisi megengan banyak pelajaran yang dapat dipetik. Yang utama tentu ajakan untuk mempelajari dan menerapkan esensi dari dilakukannya puasa, yaitu sikap megeng (menahan sagala keburukan). Kita juga bisa mengambil hikmah lain dari proses tradisi ini. Tentang silaturahmi yang menghasilkan hubungan sosial masyarakat yang harmonis, tentang sikap teguh menjaga warisan budaya dan tentang menghormati jasa para leluhur melalui doa - doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara sederhana dengan melakukan megengan ini maka kita diajak untuk menerapkan nilai - nilai dalam Islam melalui bentuk tradisi lokal. Yang pasti megengan memiliki manfaat bagi diri sendiri, bagi orang lain dan bahkan memiliki manfaat bagi orang yang sudah meninggal. Itulah potret kecil dari kehidupan sosial dimasyarakat pedesaan menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Share:

Sunday, 23 April 2017

Terpikat Pesona Pantai Coro dan Tebing Banyu Mulok

Matahari bersinar dengan cerahnya sementara udara sejuk memenuhi pagi. Tanpa pikir panjang saya langsung bergegas mengambil motor. Mengajak saudara kecil saya untuk menyusuri jalanan desa yang masih lengang. Terlintas sebuah keinginan untuk menikmati suasana pantai, meskipun sudah terbilang cukup sering. Desa tempat saya tinggal memang tidak jauh dari pantai selatan Jawa. Banyak keindahan alam yang bertebaran. Yang terdekat seperti Watu Gedong dan Kalimas sudah saya tuliskan sebelumnya, dan sampai sekarang pesonanya tetap menjadi buah  bibir. Saya tinggal di Kabupaten Tulungagung lebih tepatnya di bagian paling barat dan berbatasan langsung dengan kabupaten Trenggalek.Jika ditarik garis lurus kurang lebih hanya 14 kilometer saja jarak antara rumah dengan kawasan teluk popoh yang terkenal itu.


Kawasan teluk popoh punya segudang tempat - tempat menawan. Secara beruntun sahabat bisa mengunjungi Pantai Klatak, Pantai Gemah, Pantai Bayem, Trowongan Neyama, Pantai Sidem, Padepokan Reco Sewu, Laut Bebas dan Pantai Popoh sendiri yang sudah melegenda. Terlebih lagi setelah kawasan tersebut di lewati Jalur Lintas Selatan. Membuat siapapun selalu antusias untuk mengeksplorasinya.

Di perjalanan saya sempat pesimis. Mengingat akhir pekan yang ramai, itu tandanya harus berbagi pantai dengan pengunjung yang lain. Rasanya mustahil mendapat suasana yang lebih tenang. Saya teringat nama pantai yang sudah lama saya dengar. Tetapi belum sempat saya kunjungi. Pantai Coro, begitulah orang biasa menyebutnya. Letaknya di sebelah timurdan berdekatan dengan pantai popoh. Pertama mendengar Pantai Coro ketika masih sekolah tingkat pertama. Jalan yang harus ditempuh terbilang sulit namun pantainya masih alami begitulah penjelasan dari teman saya. Penjelasan singkat tersebut membuat rasa penasaran saya memuncak. Namun sudah hampir bertahun – tahun belum juga kesampaian.

Hanya lima belas menit saja saya sudah sampai di kawasan popoh. Tentu saya sudah hafal betul jalanannya. Dulu hampir setiap minggu saya menghabiskan waktu di kawasan tersebut. Sedikit naik turun gunun dan melewati hutan kecil sampailah saya di jalan percabangan. Papan petunjuk sederhana itu memberikan informasi cukup jelas. Arah sebelah kanan langsung menuju pantai Popoh. Arah sebelah kiri kemudian saya pilih. Motor melewati padepokan reco sewu, salah satu jalur menuju Pantai Coro dan Tebing Banyu Mulok. Sedikit informasi, Banyu Mulok sendiri belakangan juga naik daun. Suatu tempat dengan padang rumputnya yang luas dan tebing batu yang megah. Meskipun sudah tersohor lagi - lagi saya juga belum sempat mengunjunginya.Kembali ke perjalanan, saya memilih parkir tepat didepan jalur masuk. Berisiap - siap jalan kaki dan menaklukan medan didepan sana, demi Pantai Coro dan Bonusnya Tebing Banyu Mulok.

Panas terik pagi mulai terasa. Menerawang kedepan hanya terlihat jalan kecil menembus belantara. Kondisi jalan setapak masih alami, hanya berupa tanah tanpa pengecoran. Beruntung cuacanya mendukung, kalau musim hujan tentu lain ceritanya. Kondisi seperti ini sangat mirip dengan perjalanan yang saya lakukan setahun lalu di Pantai Gatra dan Tiga Warna (Malang Selatan). Rumusnya sangat jelas, tempat - tempat yang tergolong alami selalu memerlukan usaha ekstra untuk mendapatkanya. Saya sempat menanyakan langsung pada penduduk sekitar. Berapa jarak yang harus saya tempuh dengan jalan kaki. “Kurang lebih satu setengah kilometer mas untuk sampai di sana” Jawab seorang penjaga parkir dengan ramah. Sambil menghela nafas, saya keluarkan hanphone dari saku celana. Mencoba memastikan jarak sebenarnya dengan google maps. Ternyata jika ditarik garis lurus jaraknya 1 km dari parkiran. Tetapi dengan kondisi jalan yang tidak semuanya lurus saya kira memang lebih dari 1 Km.



Langkah pertama saya mulai. Menginjakan kaki dan mencoba menikmati perjalanan kecil ini. Banyaknya pohon jati memberikan keuntungan sendiri bagi saya. Selain menjadi payung alami, pemandangan khas hutan bisa dinikmati di sepanjang perjalanan. Belum lama berjalan sudah disambut kali kecil yang memotong jalan. Airnya cukup jernih dan mengalir lirih melintasi batu - batu alam. Entah dari mana sumbernya yang pasti air tersebut air tawar. Tidak jauh dari kali pertama ini saya juga mendapati kali lagi. Ukuranya sedikit lebih lebar dan sekali lagi airnya jernih menggoda. Menurut warga segitar untuk sampai di Pantai Coro harus melawati tujuh kali terlebih dahulu. Kali - kali tersebut hanya berukuran kecil dan tidak perlu menggunakan jembatan.

Dalam perjalanan saya menjumpai beberapa pengunjung lain. Mereka terlihat berhenti sejenak di pinggir jalan. Kebanyakan dari mereka masih usia remaja. Namun ada juga satu dua rombongan keluarga. Sesuai perkiraan saya, pengunjungnya bisa dihitung jari meskipun akhir pekan. Beberapa menit kemudian saya sampai di pos pertama. Dua orang penjaga berseragam tampak sudah siap menyambut. Dari dalam loket sederhana itu mereka sibuk mempersiapkan tiket. Di sebelahnya ada dua warung kecil dan lainya hutan. “Tiket masuknya lima ribu mas, satu orang saja”  ucapnya pada saya. Sesudah membayar saya bergegas melanjutkan perjalanan. Pikir saya sudah dekat, ternyata kondisi jalannya lebih ekstrim.


Batu besar di samping kanan dengan jalanya miring empat puluh lima derajat wajib dilewati. Sangat asik untuk berpetualang, meskipun cukup untuk membuat kita ngos - ngosan. Di bawah jalan miring tersebut saya berjumpa dengan penduduk sekitar. Seorang bapak setengah baya yang sibuk dngan hasil panen pisangnya. Dua keranjang pisang – pisang besar tampak penuh dibawanya. Namun ada sedikit masalah dengan motornya. “Sudah biasa pak pakai motor di jalan seperti ini ?” sapa saya. “Biasa mas, biasanya juga lancar - lancar saja, Cuma ini tadi salah setingan motornya”. Saya kembali menerawang keatas dan membayangkan bagaimana motor bebek tersebut bisa naik.

Kucuran keringat sudah membasahi badan. Untungnya semilir angin dengan cepat meredakanya. Begitu segar, sensasi bahagia seperti habis berolahraga seketika itu juga muncul. Saya kembali bersemangat dan tetap melangkah dengan santai. Dari jauh tampak warna biru di sela - sela pohon jati yang berbaris rapi. Semakin saya dekati malah tidak sampai - sampai. Warna awan yang cerah berubah seperti fatamorgana di tengah perjalanan yang terik ini. Tampa sadar saya sudah berada di depan warung kecil. Hanya ada satu warung itu saja, di sampingnya hutan belantara. “Mampir dulu mas, istirahat sebentar disini” sapa seorang ibu mencairkan suasana. Saya hanya tersenyum dan membalas sapa kemudian melanjutkan perjalanan. Karena matahari juga sudah mulai naik. Sesekali saya juga menjumpai gubuk - gubuk kecil tempat singgah penduduk. Aktifitas berkebun menjadi roda ekonomi andalan. Karena tanahnya yang subur,kebun - kebun tumbuh dengan hasil bumi yang melimpah ruah disini.

Perjalanan yang cukup panjang akhirnya mulai menunjukan hasil. Masih dari atas bukit saya melihat warna biru lagi. Warna biru sedikit hijau yang berbatasan langsung dengan warna putih kecoklatan pasir pantai. Hamparan pantai seluas 400 meter sangat menawan dari kejauhan. Saya menghentikan langkah sejenak. Di tengah semak - semak liar itu saya menghirup nafas panjang. Memandangi lagi dengan setengah tidak percaya. Ternyata ada juga pantai berpasir putih di sekitar teluk popoh, sementara pantai - pantai lain di sekitarnya semua berpasir coklat.


Tidak sabar rasanya segera turun kebawah. Jalan mulai sedikit menurun, di sampingnya terdapat sebuah bukit. Dengan hati - hati saya menyusurinya. Sebuah bener yang dipasang di antara dua pohon menjadi penanda pintu masuk yang sederhana. Gambaran singkat tentang Pantai Coro ini adalah berada di balik bukit. Membentuk teluk berukuran kecil. Menghadap langsung ke arah selatan samudra Indonesia. Di kedua sisinya diapit tebing batu megah. Bahkan di sisi barat gugusan tebing batu terlihat memanjang dan luar biasa. Kesan alami begitu kuat saya rasakan. Sedikit sekali pengunjung yang datang. Bahkan bisa kita ibaratkan pantai pribadi.


Pasirnya putih sedikit kecoklatan dan tentunya sangat bersih. Memanjang dari barat ke timur. Pohon - pohon yang teduh dengan akarnya yang besar memenuhi pinggir pantai. Membuat siapapun yang datang ingin bersantai di bawahnya. Saya langsung melepaskan sendal, membuat jejak kaki di pasirnya yang lembut. Memandangi batu - batu karang yang terhempas ombak. Sayang ombaknya cukup besar.


Boleh bermain air tapi disarankan di tepi saja demi keamanan. Saya sangat menikmati setiap jengkal pasirnya. Dari ujung barat sampai ujung timur sangat sayang untuk di lewatkan. Ada juga sumber air tawar yang keluar dari bawah pohon. Mengalir lirih menyisir batu karang yang menjadi pembatas pantai.

Di sisi paling timur, saya rasa menjadi tempat ternyaman. Saya sedikit naik keatas menghampiri warung yang ada di pinggir Pantai. Dua botol minuman dingin segera saya beli. Minum di bawah pohon dengan suasana pantai yang sepi menjadi simulasi surga dunia. Saya cukup lama terdiam, meresapi kemegahan ciptaan Tuhan yang satu ini.

Tebing Banyu Mulok
Tidak mau larut dalam buaian pesona Pantai Coro saja, ingatan saya kembali tersedar. Tebing Banyu Mulok masih menjadi teka - teki yang belum terpecahkan. Rasa penasaran tentang kemegahanya menguasai rasa ingin tahu saya. Itu semua karena papan petunjuk di sebelah timur pantai Coro. Di dekat karang besar ada jalan setapak menuju arah timur. Semak belukar tumbuh dengan liar disana. Tingginya cukup untuk menyembunyikan tubuh kami. Semakin lama jalanya semakin naik. Semakin naik pemandangan yang didapat malah semakin menakjubkan. Seakan tidak peduli panas, langkah kaki tetap semangat mengitari bukit kecil. Terdepat gubuk kecil, mungkin digunakan sebagai tempat jualan. Satu tanjakan panjang berhasil saya tuntaskan.


Saya seperti berada disisi lain dari bukit sebelumnya. Samar - samar warna biru laut mengintip dari jauh. Sejauh mata memandang lebih didominasi rumput liar. Sedikit sekali pohon, kalaupun ada bisa dihitung jari jumlahnya. Namun tidak ada kesan gersang yang saya temui. Semua berwarna hijau atau dalam bahasa jawa terkenal dengan istilah ijo royo - royo. Jalan setapak masih belum selesai di tempuh.


Saya masih harus berjalan lagi beberapa langkah untuk sampai di Banyu Mulok. Membelah hijaunya rumput liar yang dari jauh lebih mirip dengan kebun teh. Sebuah bendera merah putih dengan gagah berkibar di atas tebing. Menjadi penanda bahwa kami telah sampai di tempat yang luar biasa ini. Kekaguman tidak henti - hentinya terucap. Entah dengan apa lagi saya harus mendeskripsikan eloknya Banyu Mulok ini. Wajah alam yang masih alami menyapa penuh damai.


Saya benar - benar menikmati birunya samudra Indonesia lebih leluasa. Luas dan seolah tanpa batas. Garis horizon antara laut dan langit hanya dibedakan tipis dengan gradasi warna biru. Keunikan Banyu Mulok sebenarnya ada pada ombaknya yang besar. Ombak tersebut akan menghantam kokohnya dinding tebing. Hingga airnya sampai naik dan menyembur ke atas. Mungkin karena hal itulah asal dari penamaan Banyu Mulok didapat.



Dalam bahasa Jawa kata Banyu Mulok bermakna air yang naik keatas. Kalau beruntung sahabat juga bisa melihat indahnya pelangi kecil dari bias cahaya karena air yang menghantam tebing. Dan yang paling menyenangkan adalah saya hanya menjumpai dua orang saja ketika berkunjung di tempat ini. Sepi, tenang, nyaman, dan sangat bebas menikmati keindahan surga dunia.

sumber : mreyhanflorean.blogspot.co.id
Untuk sementara sampai disini dulu petualangan kami, mungkin lain waktu bisa mampir ke pantai Dadap yang juga masih bersebelahan dengan Tebing Banyu Mulok. Banyak hikmah yang saya dapat. Banyak keindahan yang saya nikmati, dan semoga tetap banyak bersyukur karena dilahirkan di bumi Nusantara yang indah ini.

Info Penting :
  • Bagi sahabat yang berada diluar daerah bisa mempersipkan tiket perjalanan dan penginapan secara online melalui Tiket.com. Sekedar info untuk menuju Tulungagung, Sahabat dapat menggunakan kereta api dan turun di stasiun Tulungagung. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan transportasi umum menuju ke arah Pantai. Di sekitar teluk Popoh juga terdapat hotel dan penginapan murah lainnya untuk memudahkan liburan sahabat.
  • Pantai Coro dan Banyu Mulok berada di Ds. Gerbo, Kec. Besuki , Kab. Tulungagung. Kurang lebih 35 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Tulungagung
  • Peringatan penting untuk tidak membuang sampah sembarangan !

.
Share: