Pendakian Gunung Lawu (3265 MDPL)


Lawu adalah sebuah gunung yang diyakini sebagai poros Pulau Jawa. Ia menempati urutan ke 76 sebagai yang tertinggi di Dunia. Gunung berjenis stravolcano ini terakhir meletus ditahun 1885. Terkenal memiliki bentang alam dengan keindahan yang mengagumkan. Sisi mistinya masih melegenda lewat tutur cerita dari masa ke masa. Bagi warga sekitar, Lawu menjadi anugrah besar penggerak roda kehidupan. Sementara bagi kami Lawu adalah kawah candradimuka untuk manempa diri.

Keinginan mengunjungi puncak Lawu sudah jauh hari kami agendakan. Namun persiapannya berbanding terbalik. Sangat minim, dan tergolong nekat untuk seorang pemula. Ini seperti melakukan estafet, setelah sehari sebelumnya kami mengakhiri perjalanan panjang di Situ Lengkong Panjalu (Ciamis). Hasrat yang terus memuncak memaksa kami merubah jadwal. Agenda pun dipercepat se-minggu lebih awal.  Tentu saja dengan pertimbangan yang harus kami tanggung sendiri resikonya.

Jumat sore (23/03/18) kelana itu terlaksana. Ekspedisi kecil ini hanya beranggotakan dua orang saja. Seperti biasa ada semacam touring kecil menuju lokasi. Dari Tulungagung kami bergegas ke arah barat melewati Trenggalek, Ponorogo dan langsung memotong jalur utama menuju Magetan. Tapi bukan tanpa drama, harus ada yang ditebus untuk sebuah jalan pintas. Hari yang beranjak gelap dan suasana sepi perkampungan sempat membuat kami salah jalan. Itu pun masih berlanjut dengan ritual menembus hutan belantara. Bagian yang terberat adalah saat melintasi tanjakan ekstrim, sementara torsi motor tidak sesui ekspektasi. Sungguh aksi uji nyali yang menyenangkan.

Posisi Gunung Lawu persis di antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ia menjadi benteng besar perbatasan provinsi. Secara adminstrasi gunung ini masuk ditiga wilayah sekaligus. Yaitu Kabupaten Ngawi, Magetan dan Karanganyar. Ada empat  jalur pendakian untuk menuju ke puncak Lawu. Diantaranya Via Srambang (Ngawi), Cemoro Sewu (Magetan), Cemoro Kandang (Karanganyar) dan jalur Candi Cetho (Karanganyar). Semua jalur tersebut memiliki karakteristik dan sensai yang berbeda. Jalur yang paling terkenal adalah Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Keduanya hanya berjarak sekiatar 300 meter.

Hampir 4 jam lamanya kami berjibaku diatas motor. Melewati satu demi satu perkotaan dan banyak perkampungan kecil. Hingga sampailah di kawasan Telaga Sarangan yang terkenal itu. Ia merupakan bagain dari lereng Lawu dengan ketinggian 1200-an MDPL. Dari Sarangan ke Cemoro Sewu jaraknya masih sekitar 5 Kilometer.

Basecamp Cemoro Sewu
Beban berat seperti berkurang separuhnya, mana kala kami sampai di Cemoro Sewu. Angin kencang dan udara dingin pun seketika menyergap badan. Tidak banyak pendaki yang terlihat, hanya ada dua baris motor. Meskipun begitu aktifitas pendakian tidak pernah putus. Selanjutnya kami bergegas menghampiri sebuah warung di dekat parkiran. Bersantai sejenak sembari menikmati semangkok soto dan susu jahe hangat. Kegiatan semcam ini selalu sukses melepas lelah perjalanan.

Suasana pagi di sekitar basecamp Cemoro Sewu Kabupaten Magetan 

Sayangnya agenda pendakian kami masih esok pagi. Itu artinya butuh tempat untuk menginap. “Bisa ke basecamp depan itu mas” jawab pemilik warung menenangkan. Beruntunglah kami malam itu, mendapat tempat singgah  geratisan. Basecamp Cemoro Sewu ini lumayan nyaman, lengkap dengan fasilitas penunjang seperti mushola dan kamar mandi. Memang tidak luas, tapi cukup untuk menampung beberapa rombongan. Keberadaanya sangat membantu para pendaki terutama yang datang dari luar kota.

Menjelang Pendakian 
Gunung Lawu memiliki tiga puncak utama. Yaitu puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Yang tertinggi berada di Hargo Dumilah (3265 MDPL). Butuh waktu sekitar 8 Jam jika ditempuh dari Cemoro Sewu. Ini merupakan jalur tercepat sekaligus terekstrim dibandingkan rute lainnya. Nantinya pendaki akan melewati 5 Pos, dengan trek yang hampir seluruhnya berupa tangga batu. Keunikan dari jalur Cemoro Sewu ini adalah adanya warung dibeberpa pos pendakian, bahkan sampai di bagian puncak.

Peta / denah pendakian Gunung Lawu 

Suasana pagi kala itu sedikit lebih rame. Para pendaki mulai berdatangan, dari rombongan besar, tim kecil seperti kami, hingga yang solo traveling (sendirian). Semuanya sibuk dengan persiapannya masing - masing. Kami merasa seperti yang paling minimalis. Tidak banyak barang bawaan yang kami persiapkan. Untuk melengkapinya kami segera menuju ke warung di seberang jalan. Tentu yang tidak boleh dilupakan adalah sarapan. Nasi pecel dan Teh Hangat menjadi pilihan kami untuk mengisi energi. Sebagai pendukung selama perjalanan, kami hanya mengandalkan 2 botol air mineral dan beberapa makanan ringan.

Saya segera menghampiri loket di dekat gerbang masuk. Sebelum melakukan pendakian wajib hukumnya melakukan registrasi. Hanya ada satu petugas dengan tiga antrian termasuk kami. Selanjutnya beberapa lembar kertas disodorkan untuk kami isi. Demi keamanan ketua atau salah satu dari anggota diharuskan menaruh KTP asli disana. KTP tersebut nantinya bisa diambil setelah selesai pendakian. Ada tiket masuk yang harus dibayar, besarnya Rp10.000,- per orang.

Dari Basecamp ke Pos 1
Kami mengawali dengan doa bersama. Tetap memohon perlindungan dan petunjuk pada sang Pemilik alam. Akhirnya langkah pertama dimulai. Perlahan kami meninggalkan pintu gerbang dan segera mendapati suasana baru. Cuaca cerah dan hangat mentari seolah menunjukan hari itu bersahabat. Estimasi waktu dari Bascamp meuju Pos 1 adalah 1,5 Jam. Waktu tempuh tersebut untuk ukuran perjalanan santai.

Pintu gerbang pendakian gunung Lawu dari Cemoro Sewu

Sedari awal jalannya berupa makadam (batuan yang disusun rapi) tapi masih tergolong landai. Di bagian tertentu ada yang cukup menanjak, sangat pas untuk pemanasan. Bagi pemula seperti kami, fase ini adalah penyesuaian diri. Baru beberapa menit  saja nafas terasa sesak, disusul detak jantung yang ikut meningkat. Kami harus segera beradaptasi jika memimpikan puncak diatas sana. Perlahan namun pasti kami mulai menemukan ritma yang pas. Mulai bisa mengatur nafas dan belajar selaras dengan alam. Yang jelas dilarang keras meremehkan alam sekecil apapun. Betapa mendaki gunung tidak hanya ujian fisik tapi juga mental. Kami pun melihat sendiri salah satu dari pendaki yang memutuskan menyerah diujian tahap awal ini.

Suguhan hutan pinus menjadi pemandangan awal. Selajutnya melintasi ladang penduduk yang ditandai dengan adanya pos bayagan (pos sayur). Ini adalah titik pertengahan menuju Pos 1.  Perjalanan pun terus berlanjut sampai di sendang Panguripan. Sebuah sumber mata air alami yang dikeramatkan. Bagi para pendaki airnya bisa dimanfaatkan untuk mengisi perbekalan atau sekedar untuk cuci muka. Dari tempat ini kami naik sedikit dan sampailah di Pos Pertama. Ada semacam kebahagian kecil yang terpancar. Tentu saja karena target waktu terpenuhi dan bonus istirahat yang dinanti.

Di Pos 1 terdapat bangunan (shelter) yang berukuran cukup luas. Bangunan ini bisa digunakan untuk istirahat maupun berteduh dikala cuaca buruk. Mungkin muat sekitar dua puluhan orang. Di dekatnya terdapat warung, namun pagi itu masih belum buka.

Hutan belantara memenuhi sepanjang trek menuju Pos 1 

Menuntaskan trek panjang Pos 2
Ini adalah trek terpanjang dari semua trek antar Pos. Butuh waktu tempuh sekitar 2,5 Jam. Jalurnya mulai terjal, membentuk tangga batu berundak. Pohon - pohon besar berjenis pinus masih menjadi pemandangan utama. Hijau luas berpadu dengan vegetasi hutan lainya. Masih terlihat sedikit sisa kebakaran hutan tahun 2015 silam. Maka tidak heran jika banyak terpasang papan larangan membuat api.

Sampai disini kami mulai menikmati perjalanan. Menghirup udara sejuk dan bebas memandangi pegunungan disekitarnya. Sesekali terdengar gemuruh angin yang cukup keras. Ini mungkin yang disebut dengan suara alam.

Masih di jalur menuju Pos 2, kami bertemu batu besar yang terkenal dengan “watu jago”. Batu ini sangat efektif dijadikan penanda. Bentuknya pun unik dengan jurang disisinya. Tapi sayang keindahannya tergangu karena adanya coretan (vandalisme) dari tangan - tangan jahil. Coretan tidak bertanggung jawab tersebut kami jumpai tidak hanya di watu jago saja, tapi juga di batu – batu yang lain.

Trek yang panjang itu akhirnya kami tuntaskan. Di Pos 2 terdapat bangunan (shelter) dan warung di sampingnya. Posisi pos berada di bawah dinding batu yang tinggi. Halaman di Pos 2 ini memang cukup luas. Terlihat dua tenda yang berdiri tepat di depan warung. Meskipun di dalam warung tersebut juga disediakan ruang untuk beristirahat.

Dua tenda milik rombongan pendaki berdiri di halaman Pos 2
Suasana teduh di depan shelter Pos 2 


Nyeker dan Ujian mental menuju Pos 3
Matahari mulai meninggi namun teriknya seperti tidak terasa. Dikondisi semacam ini harus tetap waspada, Karena paparan sinar ultraviolet sangat mungkin membakar kulit. Keringat bercucuran menyertai langkah yang sudah memasuki 5 jam perjalanan. Pada titik ini adalah ujian mental sebenarnya. Sebagai pemula konsistensi kami sangatlah tidak stabil. Tenaga mulai terkuras dan masih sampai di pertengahan. Kami sering berhenti untuk istirahat. Bahkan sempat tertidur dipinggir tanga - tanga batu itu.

Jarak antara Pos 2 ke Pos 3 sekitar 800 meter. Tapi medannya lebih berat dari trek sebelumya. Banyak tanjakan dan hampir tidak ada bonus jalan landai. Di trek ini hutan pinus digantikan dengan pemandangan alam terbuka. Batu - batu besar mendominasi. Di samping kanan dan kiri jalan berupa tebing dan jurang yang cukup berbahaya. Sesekali tercium juga wangi belerang jika angin cukup kencang.

Bentang alam di sekitar trek menuju Pos 3

Cobaan seperti tidak ada habisnya. Sendal yang saya pakai tiba - tiba copot. Itu artiya perjalanan selajutnya harus dilakukan dengan nyeker (tanpa alas kaki). Bukan perkara mudah mengingat medannya bukan berupa tanah melainkan batu. Sebagian batu – batu tersebut ujungya runcing, jadi ketika berjalan harus ekstra hati - hati. Bagi warga sekitar nyeker adalah hal biasa, karena mereka sudah terbiasa sedari kecil. Seperti halnya penjual makanan atau pemilik warung yang terbiasa membawa beban logistik untuk dijual lagi diatas sana.

Dengan tetap terus melangkah sampailah kami di Pos 3. Ada sebuah bangunan (shelter) dengan halaman yang tidak terlalu luas. Mungkin hanya cukup untuk satu tenda. Tidak ada warung seperti halnya di Pos - Pos sebelumnya. Disekitar pos ini biasanya ada yang menaruh sesajen dan dupa.

Jalak Lawu
Sambutan pun datang dari sang tuan rumah. Menurut cerita, jika bertemu dengan burung Jalak Lawu itu tandanya diterima sebagai tamu. Banyak yang menganggap Jalak Lawu sebagai jelmaan dari kiai Lawu. Ia adalah abdi setia dari Raja Brawijaya V yang bertugas menjaga gunung Lawu. Sebagaian orang  meyakini burung ini sebagai peliharaan Raja Brawijaya V. Oleh karena itu ada larangan untuk tidak mengganggunya. Cerita ini masih langgeng di dengungkan sebagai khasanah budaya masyarakat sekitar.

Burung Jalak Lawu ( Jalak Gading ) satwa endemik Gunung Lawu

Jalak lawu merupakan spesies endemik Gunung Lawu. Itu artinya ia tidak ditemukan di daerah lainnya. Ia serig juga disebut dengan Jalak Gading. Karena warnanya yang gading atau coklat kehitaman. Ciri fisik lainnya adalah paruh dan lingkar mata berwarna kuning. Yang unik burung ini sangat akrab dengan manusia. Ia tidak takuk ketika didekati, atau dikasih makan.

Jalak lawu ini dipercaya dapat menjadi pemandu jalan. Ini bukan sekedar mitos, kami pun membuktikannya sendiri. Ia sering hinggap di dekat kami, kemudian terbang lagi dan hinggap lagi di dekat kami. Arah terbangnya sering mengikuti trek menuju puncak. Jika kabut datang ini bisa menjadi alternatif yang membantu. Selain menjadi pemandu, ia juga dipercaya memberikan info jika akan terjadi bahaya.


Medan terberat di Pos 4
Perjelanan di Pos 4 adalah yang terberat. Cuaca cerah mendadak berkabut. Seketika jarak pandang terhalang. Hujan pun turun perlahan tepat di jalan dengan kemiringan super itu. Sekedar informasi, trek menuju Pos 4 ini sangat curam. Di beberpa bagian dipasang pagar pembatas berupa beton dan pegangan besi diatasnya. Namun kondisinya sudah mulai rusak. Langkah kaki harus tepat memilih batu - batu yang diinjak sebagai tumpuan. Salah sedikit bisa terpleset, apalagi jika medannya sedikit licin karena hujan.

Di tengah rintik hujan kami masih tetap mantab melangkahkan kaki. Suhu karena hujan mendadak turun drastis. Itu pun masih di dukung dengan ketinggian 3000 MDPL dan angin yang berhembus tipis. Sungguh nikmat meresapi keadaan semacam ini. Tapi bukan kami sendiri, beberapa kelompok lain juga mengalaminya.

Satu pelajaran lagi yang kami dapat adalah tentang keakraban. Sapaan seperti “monggo mas, semangat, kurang sedikit lagi posnya, mari....” selalu diucapkan mana kala berpapasan dengan sesama pendaki. Tanpa mengenal status sosial dan latar belakang orang yang baru kenal. Semuanya mendadak menjadi saudara. Tidak jarang kami juga berkenalan dan sedikit berbincang santai sembari melepas lelah. Menambah persahabatan adalah hal wajib bagi sesama pendaki. Karena sejatinya kitapun tidak bisa hidup sendiri.

Istirahat setelah lelah menempuh trek terekstrim menuju Pos 4

Jika mulai lelah kami menerapkan skema setiap 10 menit berhenti untuk insitirahat. Yang penting harus tetap berjalan. Salah satu hiburan yang menarik di jalur Pos 4 ini adalah memandangi bonsai yang menempel liar di dinding tebing batu. Macam tumbuhan khas pegunungan seperti edelwais pun juga sering terlihat. Bahkan Lawu juga dijuluki sebagai gunung seribu bunga dan seribu jamu. Berbagai macam bunga langka seperti anggrek hitam Lawu dan tanaman obat tumbuh subur disini.

Beberapa menit berlalu sampailah kami di Pos 4. Hanya ada papan tulisan yang menjadi penanda. Tempatnya sempit, tidak ada bangunan untuk istirahat. Ada beberapa spot foto menarik dengan latar belakang yang pas. Akan tetapi kabut tebal masih menyelimutinya.

Melewati Sumur Jolotundo dan Bermalam di Pos 5 
Dari Pos 4 menuju Pos 5 Jaraknya sekitar 150 meter. Tentu saja masih dengan kemiringan ektrimnya. Jarak yang cukup dekat bisa jadi malah terasa lama. Mana kala mata menengok ke atas dan hanya terlihat tangga batu yang ujungnya menghilang dibalik semak.

Kami masih terus saja melagkah menembus kabut yang mulai datang lagi. Semakin ke atas cuacanya semakin sulit diprediksi. Begitu cepat berganti seakan tidak bosan memberi kejutan. 
Dari sini pemandangan lebih luas dan terbuka. Vegetasinya tidak selebat di Pos sebelumnya. Lebih banyak bukit dengan rumput liar.

Mendung dan kabut mulai datang menjelang sore 

Sebelum sampai di Pos 5, kami menjumpai sumber mata air keramat. Namanya sumur Jolotundo. Bentuknya berupa goa vertikal dengan ukuran tidak terlalu besar. Kebanyakan pendaki jarang memasukinya. Itu karena aksesnya yang curam dan gelap. Untuk bisa sampai harus turun kebawah sedalam 5 meter. Kabarnya dari sumur Jolotundo ini bisa terdengar suara debur ombak pantai selatan yang jauhnya mencapai ratusan kilometer dari puncak Lawu.

Dari sumur Jolotundo menuju Pos selanjutnya ada bonus jalan datar. Disisi jalan tersebut terdapat jurang tersamar kabut. Tidak butuh waktu lama kami pun sampai di Pos 5. Sebuah dataran yang luas diantara dua bukit. Lengkap dengan warungnya yang selalu sibuk menyambut para tamu. Banyak pendaki yang mendirikan tenda dan bermalam disana.

Kami langsung menuju warung. Merebahkan badan yang sedari pagi terus dipaksa berjalan. Kepulan asap dari dapur warung seperti tidak ada hentinya. Seorang dibaliknya adalah wanita berumur 40 tahunan yang selalu sibuk memasak. Ia jarang sekali beranjak dari tungku tempat ia beraktifitas. Menjaga bara api dan persediaan kayu bakar demi menyajikan hidangan terbaik untuk tamu - tamunya. Kami percaya betul, bahwa profesi yang iya jalani saat ini adalah anugrah besar bagi para pendaki.

Mahal kah harga makanan diatas ketinggian 3100 MDPL itu?, Jawabnya adalah tidak. Selisihnya sangat sedikit bahkan bisa dikatakan sama. Mengingat betapa beratnya mengangkut logistik dari bawah sana. Untuk satu porsi nasi pecel harganya dua belas ribu rupiah. Segelas teh hangat atau susu jahe dijual tidak lebih dari lima ribu rupiah. Harga gorengan sekitar seribu sampai dengan dua ribu rupiah. Harga yang merakyat untuk menebus sebuah kebutuhan primer.

Ruangan di dalam warung sangatlah luas. Semua sisinya tertutup rapat. Mencegah angin gunung jika malam tiba. Kondisinya pun cukup bersih dan nyaman. Maka tidak heran jika dijadikan langganan tempat bermalam. Inilah yag menberanikan kami tidak membawa tenda pada pendakian kali ini. Tapi sangat beresiko jika dilakukan tanpa perhitungan yang matang. Mungkin jika bertepatan hari libur, bisa saja kami tidak mendapat tempat disana.

Suasana warung di Pos 5 tempat para pendaki beristirahat

Sore itu suasana warung tampak lengang. Hanya ada tiga orang dari rombongan lain yang kami temui. Setelah menyantap makan, kami memohon izin pemilik warung. “Bu bolehkah kami menginap disini” tanya saya penuh harap. “Silahkan Mas, disini sudah biayasa orang nginep” jawab ramah pemilik warung. Ya, Kami memutuskan akan menginap di warung tersebut sampai esok pagi.

Yang istimewa lagi, di Pos 5 ini ada fasilitas buang hajat. Sebuah WC mungil dibangun sedikit menjauh di balik warung. Ada dua bilik yang tersedia dengan atap terbuka. Semuanya dalam kondisi yang layak pakai. Untuk airnya harus membeli di warung seharga lima ribu rupiah per-botol (1,5 liter). Keberadaan WC ini sangatlah membantu.

Sore berganti malam, kami masih bertahan di dalam warung. Semakin malam pendaki silih berganti berdatangan. Ruangan pun terasa sesak di setiap sudutnya. Ternyata memang banyak yang mengandalkan warung ini untuk bermalam.

Sedikit yang bisa kami lakukan malam itu. Hanya istirahat santai saja sembari menunggu pagi datang. Dari dalam sempat terdengar juga suara rintik hujan. Sungguh tidak senyaman itu tidur diatas dataran nan tinggi seperti ini. Berselimut dingin dan menahan sakit persendiaan imbas dari kerja paksa badan. Syukur kami bisa berdamai dengan alam. Mata pun terpejam cukup lama, menikmati malam di puncak gunung untuk kali pertama.

Bertemu Matahari Terbit di Atas Awan
Suara riuh terdengar dari luar tempat kami tidur. Menembus dinding terpal dari bangunan semi permanen itu. Akhirnya membangunkan kami dari kenikmatan istirahat panjang. Tapi di dalam ruang semua masih serba gelap. Hanya cahaya senter kecil yang terlihat. Sementara asap warung terus saja mengepul. Mengahangati para tamu yang jumlahnya membludak saat kami terbangun. Mereka masih tergeletak tiduran menahan lelah.

Kami segera menghapiri pintu dan bergeges keluar. Suara itu bersumber dari histeria para pendaki. Mereka memenuhi setiap sudut Pos 5 untuk bersiap menyaksikan fajar. Semua sibuk dengan peralatan rekam masing - masing. Beradu cepat memilih posisi yang tepat. Meski subuh masih beberapa menit lagi menyapa.

Melihat matahari terbit merupakan hal yag biasa. Tapi menyaksikannya langsung dari atas awan adalah impian banyak orang. Terlebih lagi bagi para pemburu fajar. Yang rela bersusah payah mendaki di malam - malam yang sebagian orang lebih memilih tidur nyenyak di kamar.

Kami sendiri tidak berambisi tentang hal ini. Bahkan mengubur dalam - dalam momen yang serba sulit didapat itu. Karena bagi kami tujuan utama adalah puncak saja. Namun begitulah semesta. Selalu saja menghadiahkan sesuatu tanpa terduga.

Kami pun tersadar,  jika tempat berpijak kala itu sangatlah istimewa. Salah satu yang terbaik untuk berjumpa sang bagaskara. Secepatnya saya ikut menyibukkan diri mencari posisi. Tapi semua terlambat, halaman sudah penuh orang yang lebih sigap bersiap.

Semesta merestui. Sore sebelumnya, saya sempat iseng mengelilingi semua sudut Pos. Ingatan pun tertuju pada sebuah lokasi tersembunyi. Benar saja, tempatnya sangat strategis. Beruntung tempat itu luput dari pengawasan para pendaki lain. Kami harus berkejaran dengan waktu, karena semua akan berlangsung begitu cepat.

Ramai orang bersiap menyambut fajar 
Samudra awan  saat fajar menyingsing di Pos 5 Gunung Lawu

Detik - detik berhaga itu akhirnya datang dengan menawan. Pendar pesona sang fajar menampakan diri penuh keanggunan. Cahaya kuning emas membias di atas samudra awan yang bergerak harmoni. Diikuti angin subuh yang behembus tipis menerpa embun dedaunan. Kami hanya bisa terdiam dan menghirup sejuk dalam - dalam. Pantaslah banyak orang yang rela bersusah payah demi pesta cahaya itu. Sungguh rahmat Tuhan yang luar biasa cantiknya.

Foto siluet dengan latar belakang negeri diatas awan berhasil menjadi kenangan. Kenangan yang sangat berkesan dan mungkin saja menjadi candu di kemudian hari. Tapi lebih dari itu otak merekam sagat tajam lewat mata kepala ini. Lalu menyimpannya rapat - rapat penuh bahagia. Sebuah Cerita yang pasti kami tidak akan pernah lupa jika ditanya kapan saja. 

Sendang Drajat
Estafet selanjutnya adalah Sendang Drajat. Sumber mata air di dekat puncak Lawu. Perjalanan dari Pos Lima menuju tempat ini cukup berkesan. Jalan setapak nampak jelas membelah bukit. Sedikit melingkar dengan pemandangan kota Magetan dari ketinggian. Telaga sarangan juga terlihat, bersanding dengan padatnya pemukiman dan kotak - kotak sawah nan jauh disana.

Sendang Drajat merupakan tempat yang dikeramatkan. Dipercaya sebagai mata air suci yang pernah dipakai oleh Raja Brawijaya V. Airnya jernih dan melimpah. Bagi pendaki, ini adalah oase untuk memenuhi kebutuhan logistik. Namun bagi sebagian orang lebih dari itu. Mandi di sendang ini menjadi ritual yang diyakini penuh berkah. Tentu saja tidak semudah itu melakukaknnya. Hanya orang bernyali tinggi yang mampu. Bayangkan saja, betapa dinginnya mengguyurkan air keseluruh tubuh di lembah gunung itu. Suhu di sekitar puncak Lawu terkenal super dingin. Bahkan di bulan tertentu bisa dijumpai embun yang berupah menjadi lapisan es tipis.

Pagi itu suasana di sendang drajat cukup ramai. Masih terlihat beberapa tenda yang berdiri. Ada yang masih bersantai selepas melihat sunrise. Ada juga yang beruji nyali dengan nekat mandi disana. Namun lalu lalang orang menuju puncak lebih banyak jumlahnya. Sebagai tempat transit di tempat ini juga terdapat warung.

Pemandangan jalur menuju sendang Drajat
Pemandangan Kota Magetan dari puncak Lawu 
Mendaki tanpa sendal (nyeker) menuju puncak
Salah satu keindahan vegetasi di sekitar lembah Gunung Lawu
Terlihat samar penampakan gunung - gunung di sebelah timur
Sendang Drajat sumber mata air di sekitar puncak Lawu 

Cerita Menjelang Puncak
Cuaca cerah mengiringi kami selepas singgah di Sendang Drajat. Mentari meninggi, tapi suhu menjelang puncak tetap saja beku. Sudah sehari lebih pendakian ini berlangsung. Kami harus tetap menjaga asa demi puncak.

“Wah hebat kakinya kuat, semangat mas” sapa seorang pendaki ketika melihat saya telanjang kaki. Saya membalasnya dengan senyuman, tentu sambil menahan sedikit sakit. Beda dengan jalur di Pos – Pos sebelumnya. Nyeker pagi itu tidak berjalan mulus. Banyak kerikil tajam terasa menembus telapak. Waktu tempuh pun bertambah lama.

Tidak ada cara lain selain terus berjalan. Sedikit terhambat tapi hikmahnya besar. Kami jadi lebih peka dengan suasana. Mengamati embun di dedaunan, Jalak lawu di ranting pohon dan tentu saja savana dengan batas cakrawala. Semua terekam kuat dalam ingatan.

Dari kejauhan terlihat pemukiman berdiri di salah satu puncak Lawu. Atapnya nampak beragam warna. “itu warung Mbok Yem, warung tertinggi se-Indonesia” rekan saya memberitahu. Saya menghela nafas panjang. Langkah pun kami percepat.



Hargo Dalem (3100 MDPL) berhasil kami singgahi. Puncak pertama untuk pagi yang bersejarah. Tapi tidak tampak seperti puncak. Mungkin karena adanya pemukian semi permanen itu. Sisi seberang timur lah yang mengingatkan pada ketinggian.

Di warung Mbok Yem saya membeli sendal. Walaupun hanya sendal jepit, tapi fungsinya sangat krusial. Sementara, beberapa pendaki sudah memenuhi setiap sudut warung ini. Banyak pula tenda berdiri di halamannya.

Napak Tilas di Hargo Dalem
Sebuah misteri dan sejarah terukir abadi di Hargo Dalem. Dulu, di akhir abad 14 Raja Brawijaya V memilih puncak Lawu untuk mengasingkan diri. Merelakan masa jayanya sebagai Raja Majapahit terakhir. Kemudian melakukan moksa.

Moksa adalah melepaskan diri dari semua ikatan duniawi kehidupan fana. Orang awam mengartikannnya dengan menghilang tanpa jejak atau meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad. Tradisi ini lazim dilakukan oleh raja - raja Jawa, sebagai bentuk penyempurnaan hidup.

Inilah yang melatar belakangi suasana keramat di Lawu. Banyak orang yang melakukan napak tilas sejarah dengan cara berziarah. Bersilaturahmi dengan leluhurnya meskipun beda dunia.


Bangunan yang diyakini sebagai pamoksan sang raja hampir setiap hari kunjungi. Bagian inti bangunan tersebut berbahan kayu dengan ukiran - ukiran khas Jawa. Kemudian ada bagian luar yang lebih permanen melindungi bangunan inti. Bendera merah putih besar dipasang mengelilingi bagian samping. Suasana sunyi dan tenang sangat terasa ketika kami datang.

Salam hormat kami untuk sang Raja. Leluhur yang mengawali terbentuknya Nusantara. Tanah air yang terdiri dari bangsa - bangsa yang kini lahir kembali sebagai Indonesia Raya.

Melepas Haru di Puncak Hargo Dumilah
Pendakian puncak babak kedua dimulai. Tujuan utama adalah hargo Dumilah. Tempat tertinggi se-gunung Lawu (3265 MDPL).

Selepas dari Hargo Dalem, kami balik arah. Menyusuri kembali jalan sebelumnya. Tidak jauh dari situ ada papan penunjuk. Terlihat jalur setapak menjulang ke atas. Hanya tanah dengan bongkahan batu yang berserakan.


Kami mulai naik, bersama dengan para pendaki lain. Sedikit sekali yang lewat jalur ini. “Puncak kurang sedikit lagi mas ” sapa pendaki lain yang sedang turun. Semangat seperti dipacu oleh rasa penasaran. Jalur yang tidak sampai 200 meter dari hargo Dumilah itu ternyata cukup menantang. Sesekali kami harus berhenti untuk mengatur nafas. Kemudian merangkak, dan berjibaku dengan tanah yang super miring.

Sayup – sayup terdengar suara dari atas. Rasanya tidak asing dengan itu. Kami semakin tidak sabar lagi untuk mendekat. Akhirnya, tangis pecah kala sampai dipuncak tertinggi. Sekelompok pendaki melantunkan sholawat (Mahalul Qiyam) dengan mantab. Meluluhkan hati siapapun yang mendengarnya.

Selang beberapa detik kemudian suasana bertambah haru. Sekelompok pendaki lain mengibarkan sang saka diiringi lagu Indonesia Raya. Sungguh kami pun ikut terbawa suasana sangat bahagia itu.



Suguhan bentang alam dari puncak sungguh mewah. Dari ketinggian kami mendapati berbagai sudut pandang. Memanjakan mata, memanjakan rasa lewat suasana baru.

Tapi kabut asap mendadak datang begitu cepat. Hujan menyertai dengan rintiknya yang dingin. Kami harus rela mengakhiri kunjungan ini. Berat hati untuk pulang, namun semua punya masanya.


*****


Semua rangkaian perjalanan telah usai. Waktunya berpulang dengan segudang cerita dan pengalaman. Mendaki gunung mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Bahwa untuk sampai sebuah tujuan perlu proses yang harus dijalani, diyakini, dan dicintai. 


Share:

Pasar Splendid Malang, Pasar Rasa Taman dan Kebun Binatang


Sebagai kota besar, Malang dikenal sebagai surganya tempat belanja. Berbagai barang dagangan mudah dijumpai di kota ini. Mulai dari yang tradisional hingga moderen pun ada. Jajaran pertokoan dan gedung - gedung perbelanjaan (Mall) semakin hari kian bertambah. Di sisi lain aktifitas di pasar tradisional tidak kalah ramainya hingga sekarang. Uniknya di Kota ini terdapat pasar tematik yang cukup menarik perhatian. Seperti Pasar Wilis yang khusus menjual buku dan Pasar Comboran yang menjadi pusat jual beli barang bekas (loak). Salain dua pasar tersebut, ada satu pasar tematik lagi yang juga cukup terkenal. 

Orang Malang tentu sangat akrab dengan tempat ini. Namanya Pasar Splendid, Pasar unik yang khusus menjual bunga, burung dan ikan hias. Selain sebagai tempat jual beli, Splendid menawarkan pengalaman lain. Kios pedagang bunga yang tersusun bak taman serta suasana pasar burung yang meriah sangat layak dijadikan alternatif wisata urban. Pungunjungnya pun selalu membludak. Banyak yang datang dari luar kota, bahkan sesekali terlihat turis asing yang berseliweran. 

Lokasi Pasar Splendid ini berada persis di tengah jantung Kota Malang. Sehingga memudahkan pengunjung untuk menemukannya. Jika sahabat dari stasiun baru Malang bisa langsung menuju ke arah Alun - Alun Tugu Malag, dilanjutkan jalan kaki ke arah barat, maka sudah sampai di lokasi. 

Sejarah Berdirinya Pasar Splendid
Pasar Splendid diperkirakan berdiri sejak tahun 1960-an. Awalnya hanya tempat berkumpul para pedagang burung. Tidak ada perencanaan khusus untuk membangun pasar. Namun semakin hari peminatnya terus bertambah. Kemudian terbentuklah komunitas besar yang akhirnya lebih dikenal sebagai pasar khusus burung.  Pada tahun 1967 Pasar ini direlokasi ke daerah Comboran oleh Pemerintah Kota Malang. Namun kembali dipindahkan ke lokasi aslinya di Jl. Brawijaya pada tahun 1993. Kerana semakin tertata dan ramai, pada tahun 2000-an ditambahlah devisi pasar bunga dan tanaman. Lokasinya terpisah, namun masih dalam satu kawasan. 

Menurut penuturan beberapa pedagang, penamaan pasar ini diambil dari nama  hotel Splendid Inn. Tempat penginapan tertua di Kota Malang yang lokasinya hanya beberapa meter saja dari pasar ini. Untuk memudahkan dalam pencarian masyarakat menamainya dengan Pasar Splendid.

Susana Taman di Pasar Bunga Splendid  
Rabu Pagi (14/02/17) keinginan untuk ke Pasar Splendid akhirnya terlaksana. Kunjungan ini saya mulai dari Pasar Bunga terlebih dulu. Lokasinya berseberangan dengan masjid besar Ahmad Yani. Suasana Jl. Brawijaya sisi utara pagi itu lebih ramai dari biasanya. Mungkin juga bertepatan dengan hari kasih sayang, sehingga permintaan bunga meningkat. Jalan ini menjadi bagian depan pasar, disamping kanan dan kirinya berjajar kios - kios bunga. Disinilah tempat yang menyediakan jasa perangkaian bunga untuk berbagai kebutuhan. Bisa untuk keperluan ucapan duka cita, ucapan romantis atau keperluan bisnis.


Dari tempat parkir, saya menyebrangi jalan kecil itu. Bergegas menuju gapura pasar di seberangnya. Bagian dalam pasar bunga ini tidak tampak seperti pasar pada umumnya. Penataan yang rapi dengan kombinasi aneka bunga dan tumbuhan sangat nyaman dipandang. Pantaslah kalau lokasi ini sering dijadikan spot andalan pecinta fotografi. Suasananya lebih mirip taman yang dibuat untuk jual beli.


Warna hijau mendominasi setiap sudut pasar ini. Sekat pembatas antara kios satu dengan yang lainnya pun sulit terlihat. Semua seperti menyatu dengan barang dagangannya. Warna - warni bunga disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan pembeli. Aneka macam bunga dijual disini. Seperti bunga Asoka, Melati, Mawar, Adenium, Dahlia, Jepun, Safron dan masih banyak lagi. Namun yang paling banyak dicari adalah Anggrek. Anggrek memiliki banyak jenis dan variasinya. Harganya mulai dari puluhan ribu hingga jutaan. 

Meskipun branding-nya pasar bunga, tapi tidak hanya bunga saja yang dijual. Bermacam tanaman non bunga juga turut dijajakan. Sahabat bisa dengan mudah menemukan tanaman obat (toga / apotek hidup) dan tanaman buah - buahan. Peralatan dan bahan penunjangnya pun juga disediakan. Seperti aneka pot berbagai ukuran dan variasi, pupuk, kompos, bibit dan lain sebagainya. 




Saya tidak bosan - bosan mengelilingi pasar ini. Setiap sudutnya menawarkan pemandangan yang berbeda. Meskipun tidak terlulu luas, saya yakin pengunjung yang datang merasa puas. Saya sempat menjumpai salah satu spot keren. Sepertinya spot berbentuk pintu ala taman tersebut sengaja didesain manarik untuk berfoto.


Layaknya sebuah pasar kegiatan tawar - menawar pun kerap terdengar. Namun begitu suasananya relatif tenang. Para pedagannya juga ramah, sesekali terlihat sedang asik berbagi pengetahuan dengan pengunjung. Koleksi yang lengkap dan penataan yang rapi menjadi andalan pasar ini. Pohon - pohon besar disekelilingnya yang teduh juga menambah nyaman. Sungguh tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi. 

Kebun Binatang ala Pasar Burung Splendid
Dari lokasi pasar bunga, saya cukup berjalan sekitar 50 meter ke selatan. Ya kunjungan saya lanjutkan ke Pasar Burung. Suasananya jauh berbeda, di pasar burung terbesar se-Malang Raya ini sangat riuh. Lalu lalang orang dan kegiatan transaksi jual beli cukup meriah pagi itu. Pasar burung ini berada di sepanjang Jl. Brawijaya bagian selatan. Dari pintu gerbang sampai tembus Jl. Majapahit panjangnya sekitar 200 meter. Disitulah berdiri kios - kios yang menjual aneka spesies burung dan perlengkapannya. 


Beberapa saat setelah menelusuri pasar ini, saya seperti berada di kebun binatang mini. Ternyata tidak hanya burung saja yang dijual. Ada hewan lain yang juga diperjualkan meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Diantaranya Marmut, Kelinci, Ayam Cemani, Kucing, Anjing, Monyet, Musang, Biawak dan Bulus. Pantas lah jika sebagaian orang ada yang menyebutnya dengan pasar hewan.


Suara kicauan burung terdengar di setiap sudut. Sejauh mata memandang pun terlihat jajaran sangkar dengan aneka warna - warni burung didalamnya. Bagi pecinta burung, tentu ini adalah tempat yang paling diburu. Kios - kios saling berhimpit dan berhadapan memenuhi sepanjang jalan. Memanjakan para pengunjungnya dengan kebutuhan yang super lengkap. Mulai dari pakan, kandang, sangkar, obat - obatan dan semua perlengkapan untuk memelihara burung.


Pedagannya tidak hanya berada di kios atau toko saja. Sebagaian ada yang berjualan di luarnya. Kabarnya jumlah semua pedagang disini lebih dari lima ratusan. Saya menjumpai banyak spesies burung disini. Mulai dari yang terkenal bahkan sampai yang langka ada. Beberapa jenis burung yang saya jumpai diantaranya Kenari, Jalak, Cucak Rowo, Cucak Ijo, Podang, Kolibri, Murai, Pelatuk, Pipit dan masih banyak lagi. Namun yang paling menyenangkan ketika melihat burung hantu. Pedagang burung hantu ini seperti sudah langganan kiosnya dijadikan spot foto. Itu karena sebagian koleksinya (burung hantu) ditaruh diluar kandang. Lucunya burung unik tersebut tidak panik ketika difoto atau ada pengunjung yang mendekatinya.


Seperti cuaca, tren spesies burung pun juga ada musimnya. Misanlnya untuk diakhir tahun trennya burung jenis lovebird. Maka harga burung ini akan mengalami kenaikan. Nanti di pertengahan atau di akhir tahun trennya bisa saja berganti. Inilah salah satu yang mempengaruhi harga burung. Sedangkan untuk jenis burung yang lagka, harganya relatif stabil. Berbicara soal harga, di pasar splendid ini sangat relatif. Mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Akhirnya kemampuan negosiasi dan pengetahuan tentang burung pun juga sangat penting untuk menawar harga.



Di ujung Pasar Burung Splendid terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan dengan Jl. Majapahit. Di bawahnya mengalir Sungai Brantas yang membelah kota Malang. Suasana diatas jembatan tersebut malah lebih ramai. Beberapa pedagang berjualan di tepinya. Akses ini cukup untuk dilewati motor tapi sangat tidak rekomendasi. Akan lebih nyaman mana kala dengan berjalan kaki melihat koleksi burung yang dijual disana. Jika dilihat dari topografinya, Pasar Splendid ini memang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS). Sungai ini juga yang melewati Kampung Biru Arema, Kampung Warna - Warni Jodipan, dan Kampung Tridi yang terkenal itu. 

Pasar Ikan Hias Splendid 
Selesai menikmati Pasar Burung, saya ingin langsung beranjak pulang. Menelusuri kembali jalan yang sudah terlewati. Namun ada semacam gapura kecil membuat penasaran. Misi saya kala itu memang harus tuntas menjelajahi setiap sudup Pasar Splendid. Tidak disangka, masih ada satu bagian pasar yang hampir terlewati. Itu adalah Pasar Ikan Hias yang cukup menarik dikunjungi. Puluhan kios berjajar menempati lokasi tersendiri. Displai akuarium dipajang dimana - mana. Seperti Pasar Bunga dan Pasar Burung, barang dagangan di Pasar Ikan  Hias ini juga lengkap. Tidak hanya ikan hias, tapi juga mencakup peralatan pendukungnya. 


Ikan hias yang dijual disini terdiri dari jenis air tawar dan air laut. Bukan rahasia lagi, bahwa Pasar ini terkenal super murah. Mulai dari seribu rupiah ada. Tapi untuk jenis tertentu hanganya bisa mencapai jutaan. Sekali lagi keterampilan menawar juga perlu dipelajari untuk memperoleh harga yang cocok.

Warna - warni ikan hias akan memanjakan setiap mata para pengunjung. Belum lagi suguahan beberapa dekorasi akuarium yang unik seakan berlomba menunjukan yang paling cantik dilihat. ¬Berbgai. Berbagai spesies ikan dipertontonkan dengan indah. Bagi yang baru mulai hobi ikan, tempat ini sangatlah rekomendasi. Banyak pilihan ikan yang ditawarkan, bagi yang awam tentu membuat bingung. Tapi jangan kawatir, pedagang disini sangat baik hati untuk berbagi ilmu. 

Pengalaman berkunjung ke Pasar Splendid ini sangat mengesankan bagi saya. Sebuah pasar tematik yang tidak hanya sebagai tempat jualan tapi juga layak dijadikan alternatif wisata. Banyak yang bisa dinikmati, bahkan bisa diaplikasikan untuk kegiatan edukasi. Kedepannya pasti akan ada inovasi baru dari tempat keren di Malang ini. 

Share:

“Slametan Nduduk Pondasi”, Tentang Tradisi Orang Jawa ketika Membangun Rumah


Pagi - pagi sekali saya kedatangan orang atur - atur (mengundang untuk suatu keperluan). Ketika melihat jam dinding ternyata masih pukul enam. “Sakniki Mas Nggeh, Kajate Slametan Nduduk Pondasi” ungkapnya memberi penjelasan. Ya, pagi itu juga saya diminta untuk menghadiri acara slametan.

Slametan atau selamatan adalah tradisi yang paling sering dilakukan masyarakat Jawa. Pada Prakteknya slametan dilakukan dengan cara mengundang beberapa tetangga dan kerabat. Kemudian berkumpul dan melakukan doa bersama. Diakhiri dengan makan bersama dan membawa berkat (bingkisan makanan) untuk dibawa pulang. Tujuan utama dari slametan adalah mendapat keselamatan dan perlindungan dari Tuhan Semesta Alam. Slametan juga merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur.

Bagi masyarakat Jawa slametan selalu dilakukan hampir disemua kejadian. Mulai dari kelahiran, kematian, khitanan, pernikahan, terkait perayaan Islam, menyambut hari atau bulan tertentu, bersih desa, membeli kendaraan, membuat rumah, dan tentu saja masih banyak lagi.

Kebetulan hari itu libur akhir pekan. Pak Nani sedang punya hajat membangun rumah. Lebih tepatnya masih tahap awal yaitu membuat pondasi. Prosesi ini sering disebut dengan istilah “Nduduk Pondasi”. Nduduk memiliki arti “menggali”, maksudnya menggali tanah untuk keperluan pondasi. Ada tradisi khas yang selalu dilakukan orang – orang di Dusun Ngembong (Kab. Tulungagung), ketika membuat pondasi. Seperti masyarakat jawa pada umumnya, mereka mengawalinya dengan slametan.

Saya pun bergegas menuju rumah yang punya hajat. Ikut srawung (berbaur) dengan tetangga dengan kehidupan sosialnya yang khas. Ketika saya datang, ruangan sudah penuh. Ada sekitar sepuluh orang yang sudah hadir. Mereka duduk bersila mengelilingi berkat dan beberapa properti untuk keperluan slametan. Slametan seperti ini memang skalanya lebih kecil. Undangannya pun hanya untuk tetangga dekat saja.

Suasana acara slametan setelah selesai doa
Disetiap slametan nduduk pondasi ini biasanya ada beberapa makanan dan properti khusus. Mungkin sebagian orang memaknainya sebagai sesajen. Padahal bukan itu masksudnya. Ada banyak hal tersirat yang ingin disampaikan lewat simbol makanan atau properti tersebut. Ya banyak sekali petuah - petuah luhur Jawa yang tersembunyi dibaliknya.

Lalu apa saja yang biasanya dihidangkan dalam slametan ini ?
  • Jenang Sengkolo adalah bubur beras yang ditengahnya diberi gula merah. Sesui namanya, digunakan sebagai perlambangan tolak bala.
  • Sego Gureh adalah nasi putih yang memiliki rasa gurih karena dimasak dengan santan kelapa. Nasi menjadi simbol kehidupan dan kesejahteraan.
  • Lodho (ingkung) adalah masakan ayam utuh yang hanya diambil isi perutnya. Ini melambangkan keutuhan wujud, maksudnya segala harapan dan keinginan bisa terwujud atau tercapai.
  • Pala Kependem adalah semua jenis umbi - umbian yang termasuk didalamnya telo rambat, suweg, bote, ganyong, uwi, dan lainnya. Jika dilihat dari kenyataannya, polo kependem merupakan sebuah akar dari tumbuhan. Analogi akar erat kaitannya fondasi rumah yang terpendam (kependem).
  • Gedang Rojo (Pisang Raja) dipilih karena kata “gedang” memiliki pelafalan yang dekat dengan kata “padang” (terang). Sehingga diharapkan segala prosesi yang dijalankan menjadi terang 

Tentu tidak hanya empat diatas, masih beberapa yang belum saya tuliskan. Yang pasti ada banyak hal yang harus dipelajari untuk menafsirkan simbol - simbol tradisi tersebut. Butuh banyak informasi untuk diinformasikan ulang pada generasi selanjutnya.

Acara pagi itu dipimpin salah seorang sesepuh. Dimulai dari sambutan, dan penjelasan maksud diadakannya slametan. Kemudian berlanjut pembacaan beberapa surat pendek Al-Qur’an bersama - sama. Untuk acara slametan seperti ini bacaanya tidak terlalu panjang. Sebagai puncaknya doa bersama pun dilakukan dengan penuh kekhusyukan.

Selesei doa, dua orang bergegas membagi berkat. Sego gureh dan ayam lodho dibagikan sama rata. Termasuk dengan jajanan khas slametan seperti jongkong dan apem. Berkat berasaal dari kata barokah (arab), diharapkan menjadi sebuah berkah bagi yang memakannya. Berkat ini nantinya dibawa pulang oleh masing - masing undangan.

Berkat slametan yang terdiri dari sego gureh, ayam lodho, geneman, telor, dan jajanan sslametan
Inilah yang menjadi salah satu kebahagiaan anak kecil di desa. Mereka akan antusias menanti berkat yang dibawa ayahnya sepulang dari slametan. Meskipun sederhana berkat menjadi sesuatu yang paling ditunggu - tunggu.

Selain berkat, juga ada nasi rames untuk dimakan bersama - sama usai acara slametan. Tak ketinggalan segelas kopi dan teh menjadi pelengkap jamuan. Suasana hangat pun tercipta. Kami saling bercengkrama membahas kabar masing - masing. Topik tentang sawah menjadi hal utama, karena kami memang tinggal dipedesaan.

Selesei acara slametan orang - orang akan kerumah masing - masing. Tapi sebagian ada yang balik lagi kerumah yang punya hajat untuk “sambatan”. Sambatan ini adalah istilah gotong royong. Para tetangga ini akan suka rela memberikan bantuan tenaga. Durasinya mungkin tidak lama atau malah terkesan simbolis, tapi cukup membantu tukang dalam proses pengerjaan pondasi.

Kebahagiaan ketika pulang membawa berkat hasil slametan
Begitulah harmonisnya kehidupan sosial di desa. Tentang slametan ini tentu saja ada pelajaran yang dapat dipetik. Kebersamaan (Jamaah) adalah mutlak diperlukan manusia sebagai makhluk sosial. Slametan juga mengajarkan untuk berbagi (sodaqoh) kepada sesama. Puncaknya slametan mengajarkan kita untuk selalau mengingat Tuhan dalam melakukan semua hal. Baik itu sebelum maupun sesudah. Karena sejatinya kehidupan hanya bersumber dari Tuhan Yang Maha Segalanya. 
Share:

Akhir Tahun di Pantai Goa Cina


Suatau hari di Bulan Desember seorang sahabat menghubungi saya. Lewat percakapan pesan singkat, ia mengutarakan keinginannya untuk berkunjung ke Malang Selatan. Sebagai seorang pendatang, ia tertarik untuk mengenal tempat wisata di sekitarnya. Lantas meminta saya menemani kunjungan perdananya tersebut.

Kami sepakat memilih penghujung akhir tahun sebagai waktu berkunjung (31/12/2017). Dengan konsekuensi mungkin terkena imbas macet panjang. Tidak ada perencanaan yang matang. Semua mengalir begitu saja. Bahkan tujuaan perjalanan ini belum ditentukan ketika akan berangkat. 

“Yang penting pantai, Kamu yang lebih tahu”, ucapnya pada saya  pagi itu. Seketika saya dipaksa menentukan. Tidak mudah, mengingat ini pengalaman pertamanya. Jadi pilihannya harus yang terbaik.

Malang selatan memang dikenal memiliki garis pantai yang panjang. Dari barat ke timur ada sekitar seratusan pantai – pantai ternama. Dan tentu saja belum semua sempat saya singgahi. Hanya empat pantai saja yang sudah, itu adalah Pantai Balekambang, Pantai Nganteb, Pantai Gatra dan PantaiTiga Warna.

Cukup lama saya berjibaku dengan ponsel. Mencari referensi yang paling cocok. Memilih satu dari sekian banyak daftar pantai yang semuanya menarik. Dari sekian banyak pantai yang ada, pilihannya jatuh pada pantai Goa Cina. Ini juga akan menjadi pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di pantai itu.

Pukul 9 pagi kami berangkat dari pusat kota. Mengambil rute Gadang, Bululawang  dan Gondanglegi. Dengan tujuan akhir Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Benar saja efek libur akhir tahun membuat jalanan lebih padat. Beruntung kami menggunakan motor, sehingga cukup leluasa menembus riuhnya kendaraan.

Memasuki wilayah pegunungan, Jalannya semakin sempit dan berkelok - kelok. Bonus pemandangan alam hijau segera menyertai kami. Namun harus tetap waspada. Karena ada sebagian jalan curam yang menantang. Sesekali kami juga melintasi sungai berbatu dengan airnya yang jernih. Menembus hutan, dan menyaksikan langsung sawah berundak tersusun rapi.

Pemandangan Perbukitan di Sekitar JLS Malang
Hampir 2 jam lamanya kami menempuh perjalanan. Akhirnya sampai juga di Jalur Lintas Selatan (JLS) Malang. JLS adalah mega proyek yang akan menghubungkun semua kota yang ada di selatan Jawa. Di Kabupaten Malang sendiri sudah rampung sekitar 24 kilometer. Menghubungkan wilayah Balekambang dan Sendangbiru yang dulu aksesnya sangat sulit.

Hari sudah siang ketika kami melintasi JLS. Kami pun memutuskan menepi dari badan jalan. Pilihannya adalah sebuah warung sederhana. Menyantap nasi pecel menjadi ritual yang menyenangkan siang itu. Saat puncak libur seperti ini banyak dijumpai pedagang dadakan. Tidak hanya warung saja, pedagang buah dan sempol (cilok) juga turut memeriahkan pesta libur akhir tahun ini.
Suasana Jalur Lintas Selatan Malang 

Beranjak dari istirahat, perjalanan berlanjut. Motor kembali kami pacu melintasi bukit – bukit hijau nan eksotis. Sebelum sampai ke pantai Goa Cina ada lokasi pantai lain yang kami lewati. Jumlahnya cukup banyak. Diantaranya Pantai Nganteb, Pantai Ngudel, Pantai Batu Bengkung dan berlanjut melewati jembatan lengkung bajul mati yang terkenal itu.

Pukul 11.27 kami tiba di Dusun Tumpak Awu, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang (Jawa Timur). Lokasi dimana Pantai Goa Cina berada. Sebuah gapura besar berarsitektur cina di seberang jalan menjadi petunjuk yang jelas. Dari gapura tersebut masih ada 1,4 km jalan yang harus ditempuh. Sebagian besar sudah beraspal, hanya saja masih ada sebagian lagi yang berupa makadam.

Memasuki pos, motor kami diberhentikan. Dari bilik loket petugas mengeluarkan tiga lembar karcis masuk. Semuanya harus ditebus dengan uang tiga puluh ribu rupiah. Dengan rincian karcis masuk seharga Rp.10.000,- per orang dan uang parkir sebesar Rp.10.000,- per motor. Disisi lain kami melihat antrian motor dan mobil pribadi yang mengular.

Mengapa dinamai pantai Goa Cina ?
Ini mungkin sedikit aneh. Mengingat lokasinya berada di Malang. Nama tempat ini sebenarnya adalah pantai “Rowo Indah”. Ceritanya bermula pada tahun 1950-an. Ada seorang biksu (etnis cina) yang bertapa di sebuah goa di sekitar pantai tersebut. Kemudian ia meninggal tanpa diketahui penyebabnya. Ketika ditemukan, yang tersisa hanya tulang belulangnya saja, dengan sebuah mangkok dan tulisan mandarin di langit - langit goa. Hingga akhirnya goa tersebut dikenal dengan sebutan Goa Cina. Nama “Goa Cina” pun lebih populer dan menggeser nama pantai “Rowo Indah”.


Untuk masuk ke dalam goa, pengunjung harus menaiki tangga terlebih dulu

Petualangan sebenarnya baru dimulai. Dari pintu parkir kami bergegas keluar. Mengikuti jalan yang membawa kami tepat disebelah bukit. Riuh orang mengantri sudah memenuhi bagian tangga bukit tersebut. Mereka rela berdesakan demi melihat rupa goa diatas sana.

Pantai Goa Cina memiliki garis pantai sepanjang 800 meter. Saya membaginya menjadi dua, bagian barat dan timur. Keduanya dipisahkan oleh sebuah bukit karang yang menjorok ke laut. Jika dilihat dari atas (google maps) bukit tersebut seperti tepat berada di tengah lokasi pantai. Di atas bukit itulah lokasi goa cina berada. Bukit ini sebenarnya adalah sebuah pulau yang letaknya sangat dekat dengan daratan.

Area untuk mendirikan tenda terasa nyaman karena dinaungi pepohonan 

Meski matahari sedang berada dipuncaknya. Suasana teduh nan nyaman menjadi kesan pertama kami. Itu karena adanya pohon – pohon besar yang menaungi area pantai. Di bawah pohon tersebut pengunjung memanfaatkannya untuk bersantai dengan menggelar tikar. Ada juga yang mendirikan tenda. Seseorang menawarkan harga sewa tenda Rp. 150.000,- per malam pada kami. Harganya mungkin lebih murah jika tidak bertepatan dengan libur akhir tahun.

Mengeksplorasi Bagian Barat
Kami kembali berjalan menuju sisi barat. Hamparan pasir putih memanjang sukses membius penglihatan kami. Seketika lelah karena perjalanan sirna begitu saja. Bagian pasir putihnya yang luas seakan cukup untuk menampung ledakan pengunjung kala itu.

Air lautnya bening, dengan warna hijau toska menawan. Namun jika siang datang, kondisinya berubah. Air menjadi pasang, lebih tinggi dari kondisi waktu pagi. Seperti ciri khas pantai selatan lainnya, ombak disini sangat besar. Papan pengumuman dilarang berenang ditempel di beberapa sudut. Meskipun begitu banyak yang nekat melanggar.

Tidak henti - hentinya saya berdecak kagum. Pantai ini seperti indah dilihat dari sisi manapun. Sayangnya siang itu langit berubah gelap. Hujan turun dan memaksa kami berteduh di gubuk beratap daun itu.

Sisi bagian barat Pantai Goa Cina kala siang hari saat mendung 
Pemandangan salah satu bukit di Pinggir Pantai ( Bagian Barat Pantai Goa Cina )
Meskipun hujan, hasrat untuk menikmati pantai tetap membara
Foto diambil dari ujung barat pantai Goa Cina
Tebing di sisi paling barat pantai Goa Cina berbatasan langsung dengan pantai Watu Leter

Karena semakin deras, kami pun segera beralih. Tidak jauh dari pantai terdapat warung - warung berjajar rapi. Di situlah kami melanjutkan berteduh. Suasana santai sangat terasa, mungkin karena adanya kepulan asap ikan bakar yang nikmat itu. Akhirnya kami memilih bercengkrama dan menyeruput secangkir kopi sembari menunggu hujan reda. 

Tidak hanya warung, disini juga tersedia fasilitas yang lengkap. Seperti toilet umum, camping ground, dan tentunya mushola (tempat ibadah).

Pukul 2 siang hujan berhenti. Meskipun masih sedikit mendung, tapi tidak menyurutkan semangat kami. Eksplorasi kembali berlanjut. Disekitar pantai kami menemui aneka hewan laut. Sementar melongok keatas terlihat bukit karang hijau dengan gubuk dibawahnya cukup menarik untuk difoto. Kabarnya karena keindahannya inilah, lokasi ini sering digunakan sebagai spot foto pernikahan.

Blusukan di Atas Bukit
Kami menyusuri setiap jengkal pasir putihnya yang panjang itu. Di ujung barat ini kami mendapati sebuah jalan setapak menuju bukit. Dari  depan tampak bagus, dengan pavingnya menembus rerimbunan pohon. Rasa penasaran kami samakin memuncak. Satu persatu anak tangga kami lewati. Sayangnya fasilitas jalan berpaving belum selesai sampai diatas. Masih ada separo lebih yang berupa tanah. 


Sisa hujan beberapa menit yang lalu membuat jalan menjadi licin. Tantangannya bertambah dengan kemiringan jalan. Malah dibeberapa bagian terlihat sangat vertikal. Salah sedikit bisa terpeleset. Yang lebih berbahaya adalah batu - batu tumpul disekitar jalan kecil tersebut.

Karena nekat salah satu dari kami terpeleset hingga dua kali. Beruntung tidak terjadi masalah serius. Hanya saja celana bagian atas dipenuhi tanah lumpur. Untuk melanjutkan saya melepas alas kaki. Kemudian aktif mencari pegangan batang pohon untuk samapai keatas. Tentu jika tidak hujan tidak akan sesulit ini.

Panorama Pantai Goa Cina dari Ketinggian 

Belum sampai di puncak saya menengok kearah timur. Sungguh tidak sia - sia perjalanan ini. Sisi lain pantai goa cina kami dapati dari ketinggian. Dari celah dedaunan pemandangan pantai seakan bertambah indah berkali - kali lipat. Dari atas bukit ini pula kami tahu, bahwa kami berdiri diatas perbatasan antara pantai goa cina dan pantai watu leter. Pantai watu leter pun juga terlihat mengagumkan dari atas sini.
   
Menjelajahi Sisi sebelah Timur
Selepas naik bukit kami segera turun. Kemudian napak tilas dengan jejak kami sebelumnya. Sisi sebelah timur belum kami jamah. Sementara waktu berlalu begitu cepatnya.

Mengambil posisi start dari bukit goa cina, kami menelusuri setiap jengkal sisi timur ini. 

Panoramanya berbeda dengan sisi sebelah barat. Bebatuan eksotis lebih mendominasi mata pandang. Batu - batu karang tersebut menjadi pembatas antara daratan dan lautan. Sebagian besar berwarna coklat dan hijau lumut. Ukurannya bervariasi, bentuknya pun unik. Terdapat juga lubang - lubang di bebatuan karang yang dimanfaatkan anak - anak untuk bermain.

Memandangi pulau karang bersama pasangan
Seorang anak bermain - main dengan bebatuan karang
Fokus pada ombak yang lebih mirip Tsunami 

Menariknya di depan pantai kita bisa menyaksikan panorama pulau - pulau karang. Ya ada beberapa pulau dan batu karang besar yang letaknya cukup dekat dengan pantai. Yang terbesar adalah Pulau Goa Cina, Pulau Bantengan dan Pulau Nyonya. Semuanya di tumbuhi pepohonan hijau yang lebat.

Suara gemuruh ombak terdengar hampir setiap waktu. Itu kareana pengaruh arus gelombang yang bertemu dari arah timur, barat, dan selatan. Arus gelombang tersebut saling menghantam diantara Pulau Bantengan dan Pulau Nyonya. Semakin sore suara gelombang yang dihasilkan semakin keras. Maka tidak heran jika tidak ada prahu nelayan bersliweran di area tersebut.

Jika sahabat punya waktu luang, sangat disarankan untuk bisa menginap. Kabarnya, meskipun berada di selatan, dari Pantai Goa Cina kita dapat melihat keindahan matahari terbit. Bermalam diatas pasir dengan suara gemuruh ombak akan menjadi pengalaman menarik. Satu lagi, jika hari masih pagi air biasanya surut. Jadi bisa menyebrang ke pulau - pulau terdekat. Kemudian menikmati jernihnya air bersama awan biru cerah.

Menikmati Pantai Goa Cina dari Balik Pepohonan

Karena hari semakin sore, kami pun kembali keatas. Duduk sejenak diatas bangunan semen yang memanjang di tepian pantai. Sambil mengamati luasnya bagian timur pantai. Dari jauh terlihat dominasi batuan karang sedikit berkurang. Ya hari ini kami belum selesai menyentuh ujung paling timur pantai goa cina. Lain waktu kami pasti kembali, dengan persiapan yang lebih matang.

Tempat bersantai paling nyaman, duduk dan memandangi deburan ombak selatan

Ada satu hal yang membuat kami tidak nyaman. Masih saja kami dapati sampah dan sisa makanan yang mengganggu dibeberapa titik. Secuil harapan dari kami untuk ciptaan indah Tuhan yang satu ini. Semoga lebih banyak lagi orang yang sadar akan kebersihan. Tidak hanya datang untuk bersenang - senang, tapi bertanggung jawab dengan menjaga kelestarian alam. Terakir, kami mengajak siapa saja untuk membuang sampah pada tempatnya. Dimanapun dan kapanpun.








Share: