Sabtu, 07 Oktober 2017

Ziarah Walisongo, Ekspedisi Religi Keliling Tanah Jawa

Hingga sekarang nama besar Walisongo masih akrap kita dengar. Ceritanya terus bersambung dari generasi ke generasi. Seakan tidak lekang tergerus zaman. Walisongo adalah dewan dakwah yang menyebarkan Islam di Nusantara sejak abad ke 14 M. Anggotanya di kenal dengan sebutan Wali atau Sunan. Seorang tokoh karismatik yang diyakini memiliki kedalaman ilmu dalam berbagai hal. Bahkan masih memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW dan Raja - Raja di Jawa. Di era Walisongo ini pernah terjadi revolusi besar. Orang - orang peribumi  berbondong - bondong masuk Islam dengan masif. Dilanjutkan dengan lahirnya kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Kini prestasi tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Melalui pendekatan budaya, Walisongo memperkenalkan Islam yang damai. Berbagai tradisi Jawa yang sudah berkembang disesuikan dengan nilai Islam. Munculah keindahan alkulturasi budaya yang dapat dinikmati hingga kini. Kesenian wayang, gamelan, dan ragam tembang seperti macopat adalah sebagian kecil contohnya. Media dakwah kreatif ini terbukti ampuh menarik perhatian. Maka tidak heran jika sosok para wali sangat lekat dihati masyarakat.

Masyarakat Jawa khususnya sangat menghormati keberadaan Walisongo. Eksistensinya terus dipertahankan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui napak tilas dengan mengunjungi makam para Wali Allah tersebut. Kagiatan ini lazim disebut sebagai Ziarah Walisongo. Bentuk tradisi yang sudah turun temurun dilakukan. Bahkan di bulan - bulan tertentu, antusiasmenya bertambah besar. Di desa biasanya orang akan melakukan ziarah Walisongo ini secara berkelompok. Meskipun begitu ada juga yang hanya sekeluarga atau atau bahkan seorang diri.

Di awal bulan Rajab (1437 H) kemarin, kami berkesempatan mengikuti ziarah Walisongo. Kami ikut bergabung bersama rombongan dari Tulungagung. Dua bus berukuran besar sudah penuh dengan jama’ah. Ini adalah kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun. Salah seorang rombongan ada yang mengajak serta anak -anaknya. Ia sangat antusias untuk mengenalkan sejarah leluhurnya lewat napak tilas ini.

Posisi keberangkatan bus berada di wilayah paling selatan Jawa. Sementara tujuan kami berada di pesisir utara. Perjalanan darat ini akan menempuh tiga provinsi sekaligus. Berikut ini daftar tempat yang akan kami kunjungi secara beruntun :
  • Makam Sunan Ampel di Surabaya (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Giri di Gresik (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Gresik di Gresik (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Drajat di Lamongan (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Bonang di Tuban (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Muria di Gunung Muria, Kudus (Jawa Tengah)
  • Makam Sunan Kudus di Kudus (Jawa Tengah)
  • Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak (Jawa Tengah)
  • Makam Sunan Gunung Jati di Cerobon (Jawa Barat)
  • Makam Syeh Panjalu di Ciamis (Jawa Barat)


Siang setelah sholat Jum’at bus bergerak pelan menuju pusat kota Tulungagung. Perjalanan ini diawali dengan berziarah ke pondok PETA. Letaknya persis di sebrang Masjid al Munawar ( alun - alun ). Tempat di mana Hadratus Syaikh KH Mustaqim bin Husain di makamkan. Seorang Imam Besar Thariqah yang juga pahlawan saat zaman penjajahan. Kisahnya jarang dipublikasikan, akan tetapi nama besarnya tidak bisa ditutupi. Hal itu terlihat dari acara Haul yang diadakan pondok PETA setiap tahun sekali. Jutaan orang dari penjuru Nusantara selalu ramai memadati acara tersebut.

Dari pusat kota Tulungagung perjalanan dilanjutkan ke arah utara. Kondisi jalan cukup ramai kala itu. Beberapa jam berlalu kota Kediri terlewati. Waktu sholat ashar tiba, bus pun berhenti di Masjid dekat pasar Tunggorono kabupaten Jombang. Selesai sholat hujan mengguyur dengan derasnya. Jalanan yang kami lewati sebagian tergenang air. Namun begitu semua berjalan lancar.

Makam Sunan Ampel (Surabaya)
Malam pukul 21.18 WIB Bus berhenti di lapangan parkir Makam Sunan Ampel. Terlihat masih ada sisa hujan yang belum kering. Surabaya malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.  Kami pun segera turun dan bergegas menuju Makam. Beberapa menit kemudian sebuah gapura masuk kami dapati. Gapura tersebut menjadi penanda yang cukup jelas, karena letaknya di seberang jalan besar. Komplek Makam ini berada di Jl KH Mas Mansyur Kelurahan Ampel, Semampir, Surabaya, Jawa Timur. 


Jalan menuju makam berada persis ditengah pasar. Kios - kiosnya berjajar di samping kiri dan kanan jalan. Berbagai macam barang dagangan pun digelar selama dua puluh empat jam disana. Selain dihuni pedagang lokal, di pasar Ampel juga terkenal dengan pedagang keturunan Arab. Hal itulah yang membuat pasar di Ampel menjadi unik. Barang – barang dagangannya sangat khas dan sulit ditemui di tempat lain. Melewati pasar ini seperti berada di perkampungan arab yang ada di timur tengah.

Tepat diujung pasar ini adalah Masjid Ampel. Masjid tua legendaris yang dibangun sejak era kerajaan Majapahit. Arsitektunya mengagumkan, gabungan dari budaya Arab dan Jawa Kuno. Di sekitarnya juga masih banyak bangunan - bangunan lawas. Membuat suasana tempo dulu semakin kental terasa.


Kami semakin tertarik untuk mengenal banyak hal lagi tentang Sunan Ampel. Dari beberapa sumber sejarah diketahui bahwa Sunan Ampel memiliki nama asli Sayid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat). Keturunan Nabi Muhammad SAW ke-23. Putra dari Syekh Ibrahim Asmoroqondi dan Dewi Candrawulan. Merupakan cucu seorang raja dari kerjaan Campa.

Peran Sunan Ampel ini bermula saat raja Majapahit saat itu mengundangnya ke Jawa. Beliau yang juga masih keponakan salah satu istri Prabu Brawijaya tersebut ditugaskan untuk memperbaiki moral bangsawan dan kawula Majapahit. Seiring berjalannya waktu Sunan Ampel berhasil melaksanakan perintah tersebut. Beliau mendapat hadiah tanah di wilayah Ampel Surabaya. Kemudian mendirkan sebuah masjid dan pesantren untuk menyebarluaskan Islam. Dari situlah kader - kader baru pejuang Islam dibentuk. Mulai rakyat biasa hingga putra dari petinggi tanah Jawa menjadi santri disana. 

Alumni dari pesantren Ampel ini banyak yang menjadi orang besar. Ke-dua putra sunan Ampel yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat juga menjadi bagian dari Walisongo. Sunan Giri dan Raden Paku (Raja Demak) juga santri di Ampel Denta. Sebagai seorang sesepuh Walisongo, beliau sangat sukses mempersiapkan generasi penerus.

Sunan Ampel wafat diperkirakan pada tahun 1478 H. Makamnya berada di sebelah barat Masjid Ampel. Sebelum menuju kesana, kami berhenti sejenak di tempat wudhu untuk bersuci. Kemudian kembali melangkahkan kaki di jalan kecil berpaving samping masjid itu. Untuk sampai di makam utama harus melewati tiga gapura masuk. Semuanya punya makna filosofis tersendiri. Misalnya gapura paneksen yang melambangkan syahadat.


Kerumunan orang dari rombongan lain semakin membludak. Berdesakan memenuhi pintu masuk gapura. Setiap harinya para peziarah memang tidak pernah putus mengunjungi tempat ini. Masing – masing rombangan membentuk barisan rapi mengelilingi makam. Sayup - sayup terdengar lantunan doa, dzikir dan bacaan ayat suci yang saling bersautan

Di area tersebut tidak hanya makam Sunan Ampel saja. Ada juga makam Mbah Soleh dan Mbah Sonhaji (Mbah Bolong). Santri dari Sunan Ampel yang memiliki cerita terkenal. Mbah Soleh adalah seorang yang dipercaya menjaga kebersihan di lingkungan masjid Ampel. Konon beliau meninggal dan hidup lagi sebanyak Sembilan kali. Makamnya yang berjumlah sembilan menjadi bukti kebenaran cerita ini hingga sekarang. Sedangkan Mbah Sonhaji  ceritanya bermula dari banyaknya orang yang meragukan arah kiblat masjid Ampel. Mbah Sonhaji kemudian menjawabnya dengan melubangi Imaman Masjid. Hebatnya dari lubang tersebut tembus sebuah pemandangan Kakbah yang ada di Makkah.

Masih di sekitar Makam, kami mendapati gentong - gentong berisi air. Kabarnya air tersebut berasal dari sumur bersejarah yang kini sudah ditutup besi. Banyak orang meyakini air tersebut memiliki kasiat layaknya air zam-zam di Makkah. Peziarah memanfaatkannya untuk minum dan terkedang ada yang membawanya pulang.


Kami keluar dari komplek makam yang banyak ditumbuhi pohon rindang itu. Kembali menyusuri Masjid dan ramainya pasar untuk melanjutkan perjalanan. Sungguh masih banyak lagi informasi menarik tentang tempat ini. Namun karena jadwal yang cukup padat, kami harus tetap mematuhi agenda yang sudah dibuat.

Makam Sunan Giri
Perjalanan masih berlanjut ke arah utara, Kota Gresik akan kami singgahi setelah Surabaya. Ada dua makam wali yang masuk agenda kunjungan ini. Itu adalah makam Sunan Giri dan Makam Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim). Mereka adalah bagian dari sesepuh yang membesarkan nama besar Gresik. Kota pesisir utara yang terkenal dengan kemegahan industrinya itu. Banyak sejarah besar yang tersimpan disana. Tentang Islam dan kejayaan masa silam yang jarang terpublikasikan. 

Hari semakin malam ketika dua bus rombongan ziarah ini memasuki perbatasan kota. Pukul 21.30 WIB kami sampai di pelataran terminal Desa Kebomas. Terminal khusus yang menampung bus – bus rombongan ziarah wali di area Makam Sunan Giri. Terlihat beberapa bus sudah parkir memanjang. Meskipun malam, aktivitas di terminal ini seakan tidak ada matinya. Jarak antara terminal dan makam sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar satu kilometer saja. 

Ketika turun dari bus puluhan tukang ojek bergegas mendekati kami. Merekalah yang akan mengantarkan peziarah dari terminal ke lokasi makam. Namun begitu ojek bukanlah satu – satunya kendaraan, Dokar yang khas juga masih banyak ditemui di terminal tersebut. Kendaraan yang ditarik kuda itu mampu membawa penumpang 4 sampai 5 orang. Sementara ojek hanya mampu mengangkut 2 penumpang. Namun untuk motor atau mobil pribadi bisa langsung menuju makam. Tanpa harus transit terlebih dahulu seperti rombongan dengan bus. Kami memilih ojek untuk melanjutkan ke makam. Sejak awal perjalanan gas lansung ditancap di jalan yang naik itu. Beruntung driver-nya cukup lihai dan berpengalaman. Sehingga rasa was - was kami terbayar dengan waktu tempuh yang lebih cepat.

Bersambung …
Share:

Jumat, 22 September 2017

Banyu Nget dan Air Terjun Rangkambu, Keindahan dalam belantara Hutan Watulimo


Ini adalah cerita perjalanan kami menembus belantara hutan di Watulimo. Salah satu Kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Trenggalek dengan bentang alamnya yang tersohor. Watulimo adalah surga bagi penikmat pesona alam. Khususnya untuk para petualang yang gemar akan tantangan. Semua ada disini, mulai dari deretan pantai ternama, air terjun eksotis, tebing batu vertical tertinggi di Jawa Timur, goa terpanjang se-Asia Tenggara, dan yang terbaru adalah hutan durian terluas di dunia. Belum lagi dengan keindahan - keindahan lain yang tersembunyi dibalik belantara hutan. Maka sangatlah pantas jika Watulimo dijadikan icon wisata utama Trenggalek.
Kami sangat menikmati perjalanan darat ini. Jalurnya berkelok - kelok naik turun membelah hutan. Sesekali terlihat pemandangan sawah berundak dan kemegahan gunung selatan yang menawan. Semua akan lengkap manakala garis laut membaur dari jarak pandang yang jauh. Pemukimannya tidak terlalu padat. Namun banyak ditemui pedagang buah di pinggir - pinggir jalan. Manggis, salak, pisang dan kalau beruntung bisa melihat langsung panen raya durian.

Tujuan perjalanan ini adalah Dusun Ketro di Desa Dukuh. Desa yang bersembunyi diantara 650 hektar hutan durian. Ya, hutan durian terbesar di dunia. Akses untuk menuju ke Ketro sebenarnya tidaklah sulit. Cukup mengikuti arah ke pantai Prigi. Nanti setelah sampai di pasar Winong (Watulimo) akan ada papan petunjuk yang membantu. Dari pertigaan pasar tersebut hanya butuh kurang dari 500 meter untuk sampai di lokasi.



Apa yang menarik dari Dusun Ketro ini ?. Sejak diresmikan pada Juli 2016 tahun lalu, nama Banyu Nget dan Air Terjun Rangkambu semakin naik daun. Keindahan alam berupa air terjun, aliran sungai berbatu dan kedung dengan air hangat dikemas dalam satu paket wisata.

Butuh proses yang tidak mudah untuk mengangkat wisata baru. Di lahan milik perhutani tersebut dulunya belumlah seperti sekarang. Akses ke air terjun masih sulit, ranting pohon berserakan dimana – mana. Hanya sedikit orang yang tahu tempat ini. Namun kerjasama yang panjang itu sekarang mulai menunjukan hasilnya. Kini Ketro ikut ambil bagian menjadi salah satu destinasi wisata di Watulimo.

Setelah menembus rimbunya pepohonan Dusun Ketro, pagi itu kami sampai di lokasi. Papan selamat datang bertuliskan Banyu Nget terlihat masih baru. Disampingnya ada sebuah gapura dan pos jaga yang mengusung arsitektur etnik. Kami menghentikan motor di lahan parkir luas di atas bukit itu. Keseriusan warga menggarap wisata ini sangat nampak mana kala kami melihat display tempat masuknya. Rumput, aneka tanaman dan bunga disusun sedemikian rupa membentuk taman. Dilengkapi dengan kandang burung dan rumah pohon yang menarik untuk spot foto. Sementara di tengah taman sudah siap anak tangga berundak menuju gerbang kedua perjalan selanjutnya.


Pemandangan Halaman Parkir dari Rumah Pohon

Sebelum melanjutkan perjalanan kami mendapati info yang lebih rinci tentang tempat ini. Ternyata dalam satu kawasan wisata alam ini terdapat spot - spot yang lain. Diantaranya Banyu Nget, Kedung Batu, Goa Grojok, Batu Payung, Rangkambu, dan Goa Rancang. Kesemuanya masih dalam satu rangkaian. Ini seperti paket lengkap yang memaksa kami untuk segera menuntaskannya.

Langkah demi langkah pun mulai kami tempuh. Berjalan kaki melewati jalan setapak dilereng - lereng kecil. Ketika kami datang hanya ada sedikit sekali pengunjung. Mungkin hari masih terlalu pagi. Sejauh mata memandang hanya terlihat hijau pepohonan. Teduh dan membuat suasana damai lebih terasa bersama alam. Namun harus tetap waspada mengingat disamping jalan juga terdapat jurang.

Jembatan Bambu, Gazebo dan Banyu Nget
Kami menghentikan sejenak langkah kaki. Memandangi jembatan bambu yang membelah sungai berbatu itu. Bentuknya unik dengan batu besar yang menopang di tengahnya. Ini seperti bernostalgia dengan sesuatu yang sudah lama dirindukan. Tentu saja kami tak ingin terburu - buru melintasinya. Di seberang jembatan beberapa warung dan gazebo apik tertata rapi. Menghadap kedung banyu nget dan sungai. Semuanya mengusung konsep etnik yang selaras dengan alam. Fasilitas umum seperti Mushola juga sudah dibangun dengan konsep yang sama. Membuat siapapun betah berlama – lama disini.

Perjalanan kali ini terasa lengkap setelah kami bertemu dengan Pak Dani Sugianto. Salah seorang warga sekitar yang menjadi petugas disana. Sehari - hari beliau memiliki banyak peran, sebagai petugas kebersihan, keamanan dan seorang pemandu handal. Pak Dani memaparkan banyak hal tentang tempat ini. Beliau mengungkapkan bahwa setiap harinnya ada saja pengunjung yang datang. Kebanyakan malah dari luar kota. Selain mendapat perhatian dari pemerintah daerah, wisata ini juga menarik perhatian pemerintah pusat. Kabarnya akan ada bantuan untuk proses pembangunan lebih lanjut. Namun begitu menurut Pak Dani pengelolaan wisata ini memiliki standar khusus. Yang pasti konsep selaras dengan alam adalah hal yang utama.

Lokasi Kedung Banyu Nget

Spot pertama bernama Banyu Nget adalah kedung dengan air yang jernih. Luasnya sekitar lima meter dengan kedalaman setengah sampai dua meter. Sesui namanya “Banyu Nget” ini memang berasal dari kata “banyu anget”. Di tempat ini memang terdapat sumber air hangat (banyu anget) yang muncul dari lubang kecil dekat batu. Suhu hangatnya tidak akan terasa kalau sekedar mencelupkan tangan di kedung. Untuk membutikan fenomena banyu anget ini salah seorang pengunjung berenang mendekati sumber. Ia membenarkan perihal fenomena tersebut. Banyak yang percaya airnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Itu karena air hangat yang keluar diduga mengandung belerang. Kabarnya kemunculan sumber air hangat tersebut erat kaitannya dengan gunung api purba. Namun perlu penelitian yang lebih lanjut tentang hal ini.

Kedung Batu, Goa Grojok, dan Watu Payung
Sedikit naik keatas kami menuju ke spot selanjutnya. Butuh sedikit perjuangan meskipun letaknya berdampingan namun aksesnya berupa bidang vertikal. Kami hanya berpijak pada batuan layaknya pemanjat tebing. Ada air terjun kecil namun bukan itu ternyata. Pak Dani memandu kami sampai pada tempat yang diapit dua tebing tinggi. Di tengannya ada sungai yang dihambat beberapa batu. Untuk sampai di Goa Grojok dan Kedung Batu aksesnya lewat batu - batu tersebut. Cukup ekstrim karena salah sedikit bisa terpeleset. Nama Goa Grojok diberikan karena merupakan goa dengan air yang menggrojoknya dari atas. Sedengkan Kedung batu adalah tempat dimana air dari goa grojok bermuara. Persis seperti kolam dari batu yang airnya juga super jernih.


Pak Dani Menunjukan Jalan ke Goa Grojok dan Kedung Batu 

Seorang Pengunjung Berfoto di Spot Watu Payung

Kami harus keluar dari kedua spot tersebut. Bergegas menuju Watu Payung yang berada diatasnya. Jalan setapak yang kami lewati semakin eksotis. Kumpulan bambu menemani sepanjang langkah. Dulu warga sekitar sering memanfaatkan lokasi watu payung untuk berteduh mana kala pergi kehutan. Bongkahan batu besar tersebut membentuk goa kecil yang sanggup menahan terik matahari. Di depannya juga terdapat kubangan kecil yang airnya selalu mengalir.

Air Terjun Rangkambu dan Goa Rancang
Kami melanjutkan petualangan seru ini, dan akhirnya mendapati apa yang kami inginkan. Sebuah air terjun menawan bersembunyi diantara pepohonan yang menjualang tinggi. Kata Pak Dani dulu warga sering mendatangi tempat ini untuk menangkap urang / udang kambu. Sepesies hewan air yang banyak ditemukan di tempat ini. Oleh karena itu warga memberikan nama tempat eksotis ini air terjun / curug “Rangkambu”. Ini seperti lukisan nyata, air terjun dengan kedung dibawahnya yang sangat bening. Karena ini musim kemarau airnya tidak terlalu deras. Hanya mengalir lirih dari puncaknya, melewati dinding batu hitam besar. Kami tak kuasa untuk segera mendekati kolam air alami itu. Bahkan karena kejernihan airnya, mata kita sanggup melihat langsung bagian dasar kedung. Itu artinya spot ini bisa digunakan untuk foto under water. Namun begitu kedalaman kedung di bagian tengah mencapai 4 meter. Bagi yang tidak bisa berenag wajib untuk meminjam baju pelampung atau ban. Atau cukup bermain air di tepian kedung sambil berendam santai.

Suasana di Air Terjun Rangkambu

Kicau burung dan suara ranting yang tertiup angin seakan menjadi musik rileksasi alami. Beberapa menit kami hanya duduk di kursi kayu tepat didepan Rangkambu. Menghirup udara segar khas hutan dan menikmatinya penuh kepuasan. Sungguh nikmat mana lagi yang kami dustakan.

Menerawang keatas terdapat sebuah lubang besar dengan sedikit semak belukar yang menutupinya. Letaknya persis disamping atas air terjun Rangkambu. “Itu Goa Rancang, Masnya mau kami antar kesana ?”. Tentu saja tawaran Pak Dani tersebut langsung kami terima. Tidak mudah untuk sampai kesana, harus berjalan dulu memutari air terjun. Dengan medan tempuh seperti naik kepuncak gunung. Nafas mulai ngos - ngosan dan keringat pun ikut bercucuran. Tapi rasa penasaran yang memuncak membuat kami tetap setia mengikuti langkah Pak Dani. Beberapa menit kemudian kami sampai di puncak air terjun. Ternyasta bagian atasnya adalah sebuah sungai. Sebenarnya semua spot yang sudah dilalui masih terhubung dalam satu rangkaian Kali Keping. Jika naik keatas lagi sejauh beberapa kilometer kita akan sampai pada air terjun / curug Nanas. Tentu saja untuk lain waktu, karena butuh persiapan ekstra.

Panorama dari dalam Goa Rancang

Setelah menyebrangi sungai diatas air terjun sampailah kami di Goa Rancang. Goa rancang ini memiliki dua lubang utama. Yang pertama menghadap air terjun dan yang kedua disebelah barat sebagai pintu masuk . Bagian dalamnya cukup lebar meskipun tidak terlalu dalam. Sekali lagi harus tetap berhati - hati, karena dibagian yang menghadap air terjun itu lebih mirip jurang. Belum ada pengaman yang berarti, lengah sedikit bisa berbahaya. Di ruangan berbatu itu kami bisa menikmati rangkambu dari ketinggian. Sensasinya jauh berbeda, dalam gelap pemandangan kedung di bawah seakan menyala. Akar pohon yang bergelantungan di mulut goa membuktikan bahwa tempat ini masih sangat alami.



Matahari sudah semakin meninggi, rasa lelah pun sudah merasuk. Kami memutuskan untuk kembali menyusuri jalan setapak sebelumnya. Setelah tadi asik naik sekarang waktunya turun gunung. Untuk sementara tujuan kami adalah gazebo di depan Banyu Nget. Di Gazebo kami menghabiskan waktu cukup lama. Beristirhat dan santap siang dari warung sederhana disana. Sembari tetap asik memandangi aliran kali keping.

Salah satu yang paling kami ingat dari tempat ini adalah kebersihannya. Itu tidak terlepas dari kinerja petugas disana. Namun begitu pak Dani sempat mengeluhkan kelakuan beberapa pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Untuk isu klasik tentang sampah ini kami kira harus tetap gencar dikampanyekan. Mengaku mencintai alam berarti harus berani bertanggung jawab atas kelestariannya.

Itulah serangkaian perjalanan kami di Watulimo, Trenggalek. Masih banyak tempat yang harus dikunjungi. Salam berpetualang !



Info Penting :
  • Lokasi wisata ini berada di Dsn. Ketro, Ds. Dukuh, Kec. Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
  • Transportasi umum bisa menggunakan kereta api turun di Stasiun Tulungagung. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Terminal Gayatri Tulungagung. Naik Bus turun di pertigaan Durenan. Atau jika dari Terminal Trenggalek juga turun di Pertigaan Durenan. Dari Durenan silahkan menggunakan angkutan umum kolt / land jurusan Pasar Bandung – P. Prigi. Salanjutnya turun di pasar Winong ( Kecamatan Watulimo). Untuk selanjutnya tanyakan pada warga sekitar.  
  • Akomodasi berupa hotel berada di sekitar pantai Prigi. Tersedia juga “guest house” di sekitar lokasi. Info selengkapnya silahkan hubungi Bapak Dani Sugianto 081240762217

Share:

Jumat, 08 September 2017

Semarak Gelaran Karnaval Budaya di Trenggalek

Karnaval budaya menjadi agenda wajib di Trenggalek pada bulan Agustus. Itu karena bertepatan dengan dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus hari jadi Kabupaten Trenggalek. Suka cita masyarakat ditumpahkan dengan beragam kreatifitas. Tidak tanggung - tanggung karnaval digelar tidak hanya satu kali. Di tahun ini (2017) salah satu tema yang diusung adalah unsur etnik (Trenggalek Etnic Carnival). Peserta diharuskan menampilkan beragam kesenian khas trenggalek dan Nusantara.

Totalitas dari masyarakat Trenggalek sangat besar untuk menyukseskan gelaran tahunan ini. Semua bisa terlihat dari keunikan - keunikan yang ditampilkan peserta. Pengunjungnya pun membludak tumpah ruah memenuhi jalanan Kota. Menikmati langsung pesta rakyat sekaligus bernostalgia dengan budayanya. 

OMBONEJAGAD berkesempatan mengabadikan momen berharga ini lewat rubik foto. Kami selalu mendukung kegiatan budaya untuk mengenalkan keindahan Nusantara, 














TURONGGO YAKSO
JARANAN KHAS TRENGGALEK








CERITA RAKYAT
GAJAH PUTIH DAN DAM BAGONG 









Share:

Selasa, 05 September 2017

Cerita Tentang Pembuat Barongan dan Keris dari Dusun Ngembong



Ada secerca harapan yang saya tangkap dari dusun kecil tercinta ini. Namanya Mas Ali Sodik (30), anak muda yang menaruh minat pada kearifan budaya Jawa. Khususnya dalam hal pembuatan benda seni dan pusaka. Dari belajar secara otodidak, ia sudah menghasilkan beberapa karya bernilai seni tinggi. Beberapa diantaranya seperti barongan dan keris sukses membuat saya takjub. 
 
Pagi itu (1/8/17) saya bertandang ke rumah Mas Ali di Dusun Ngembong, Desa Bulus, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Tujuannya tentu melihat lebih dekat Mas Ali berkreasi. Di Dusun Ngembong ini juga terkenal dengan industri kerajinannya. Meskipun masih sekala rumahan namun produk yang dihasilkan layak untuk diperhitungkan. Produk seperti anyaman bambu dan sangkar burung dari Dusun ini sudah dikenal masyarakat luas. Maka tak heran jika para pengrajin handal (seniman) lahir dari tempat ini.

Mengintip Proses Pembuatan Barongan
Dari teras rumah sederhananya kala itu, sudah nampak kesibukan. Seperti biasa Mas Ali larut dalam keseriusan menyelesaikan buah karyanya. Ketika saya datang, segera ia menghentikan semua aktifitasnya. Menyambut penuh ramah, dan mempersilahkan saya melihat dari dekat proses pembuatan barongan. 


Barongan adalah topeng berbentuk kepala naga yang terbuat dari kayu. Bagian mulutnya bisa digerakan, jika mengatup maka keluar bunyi keras. Barongan diperankan sebagai tokoh antagonis, berkuasa, dan menakutkan. Produk seni khas jawa ini bisa didapati pada seni pertunjukan jaranan. Barongan memegang peranan penting karena menjadi inti cerita seni pertunjukan jaranan. Cukup satu orang untuk memainkannya. Barongan akan semakin menarik kala pemainnya kerasukan makhluk halus.  


Ketertarikan Mas Ali pada pertunjukan Barongan menantang kreatifitasnya. Empat tahun yang lalu ia memberanikan diri membuat barongan. Ia menuturkan awalnya hanya bermodal mengamati dan kesungguhan. Bahkan hanya menggunakan peralatan dan bahan baku seadanya. Satu persatu karya ia hasilkan dengan penuh ketelatenan. Membuat barongan itu harus multi talenta. Setidaknya harus punya keterampilan dasar melukis dan memahat. Yang lebih penting lagi tentu jiwa seni yang tinggi. 

Proses pembutan barongan kurang lebih tujuh hari. Tergantung kerumitan ukiran pada topeng kayu tersebut. Semakin rumit semakin lama. Tentu saja juga semakin tinggi nilai jualnya. Tahap pertama adalah mempersiapkan bahan baku berupa kayu. Uniknya Mas Ali hanya menggunakan kayu dari pohon yang tumbang secara alami. Seperti tumbang diterjang angin, Lapuk akibat faktor usia pohon, atau sisa penebangan imbas pembangunan jalan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Filosofi ini ia pegang teguh dan sering ia kampanyekan. Baginya berkarya tidak hanya untuk kepentingan manusia. Berkarya juga wajib selaras dengan alam.

Bahan baku utama barongan adalah kayu berbentuk tabung. Dari kayu tersebut kemudian dibuatlah sketsa dasar. Tahap ini butuh imajinasi dan kepekaan bentuk seni tiga dimensi. Setelah selesai berlanjut pada proses membuat ukiran. Dengan bantuan tatah (peralatan ukir) ia mulai mengerjakan tahap demi tahap. Semuanya dikerjakan manual mengandalkan keterampilan tangan. 

Dan pagi itu saya ikut melakukan proses pengecatan. Beberapa cat warna – warni sudah disiapkan lengakap dengan kuasnya. Proses pengecatan pada kepala barongan sudah hampir selesai. Mas Ali melanjutkan dengan melukis bagian jamang. Jamang adalah bagaian belakang kepala barongan bentuknya lebih mirip gunungan pada wayang. Bahannya dari kulit binatang namun bisa juga dengan kulit sintetis yang lebih murah.




“Membuat karya seni itu harus dengan hati, supaya bisa diterima oleh hati” ucapnya pada saya sembari menuruskan melukis. Karya Barongan Mas Ali ini sudah banyak dimiliki beberapa grup kesenian jaranan lokal. Bahkan yang terbaru peminatnya sudah luar daerah. Harga dari barongan yang termurah berkisar tiga juta rupiah. Untuk ukuran yang lebih besar mungkin lebih mahal lagi. Saya mencoba memainkan barongan yang sudah jadi. Cukup berat untuk mengangkatnya, tapi ini adalah pengalaman berkesan untuk saya.

Kerajinan Keris yang Berkelas
Bakat seni keterampilan Mas Ali juga menghasilkan keris. Benda yang tidak hanya dijadikan senjata adat, tetapi lebih pada pusaka oleh suku Jawa. Dulu pusaka ini hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Raja dan Bangsawan ternamalah yang berhak memilikinya. Keris adalah simbol kekuasaan. Seseorang yang memegang keris dianggap memiliki jiwa kepemimpinan yang karismatik. 


Bagi Mas Ali membuat keris adalah kebanggaan tersendiri. Jumlah pengerajin keris memang jarang ditemui. Meskipun kepopuleran keris masih langgeng dari generasi ke genarasi. Butuh lebih banyak lagi pengerajin keris. Semua itu untuk keberlanjutan masa depan keris sebagai benda pusaka khas.


Keris umumnya memang berbahan logam seperti baja. Namun sebagai pusaka ada juga yang dibuat dari bahan kayu tertentu. Mas Ali sendiri lebih banyak menggunakan bahan yang full kayu. Bukan kayu sembarangan, ia hanya memilih jenis yang teruji kualitasnya. Dan tentu saja masih dengan filosofinya tentang alam. Salah satu yang ia pilih adalah kayu stigi. Kayu yang terkenal dengan daya magis dan memiliki segudang kelebihan. Untuk mengetes keaslian kayu stigi, biasanya harus dimasukan kedalam air. Yang unik kayu stigi ini langsung tenggelam, seperti memiliki berat layaknya logam. Kabarnya jenis kayu ini sulit untuk dicari. 


Dari bahan berkualitas tersebut Mas Ali membuat keris dengan cita rasa seni tinggi. Lekukan - lekukan khas penuh makna tercipta pada karyanya tersebut. Jenis Majapahitan dan Sunan Kalijaga menjadi ragam yang paling banyak ia kerjakan. Semua bisa dilihat dari bentuk dan ukiran pada gagang dan sarung keris. Sama seperti barongan, semakin banyak detail ukiran semakin banyak pula ketelatenan yang dibutuhkan. Semua akan terbayar lunas dengan hasil karya yang berkelas. Sebuah karya seni berwujud pusaka yang menjadi kebanggaan.

Melestarikan budaya bukanlah perkara mudah di zaman yang serba dinamis ini. Para pelestari pun umumnya sudah berusia lanjut. Ini karena proses pewarisan budaya sering terbentur perubahan zaman. Budaya dianggap sudah ketinggalan zaman. Padahal banyak yang dapat diambil untuk dipelajari. Lebih jauh lagi budaya adalah identitas suatu bangsa. Maka menjaga dan meneruskannya adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Dari Mas Ali saya mendapat pelajaran yang begitu berharga. Kecintaan pada budaya dan kearifan hidup bersama alam. Tentang berkarya dengan hati dan hasil karya yang bisa menyentuh semua hati. Dan tentu saja pengalaman berharga melihat langsung pelestarian budaya penuh makna.

Catatan :
  •  Sahabat bisa membeli atau memesan barongan dan keris secara langsung maupun online dengan menghubungi  085257494323
  • Sahabat bisa mengunjungi langsung tempat pembuatan kerajinan Barongan dan Keris di rumah Mas Ali. Lokasinya di Dusun Ngembong, (RT.1 / RW.1 | No.1) Ds. Bulus, Kec. Bandung, Kab. Tulungagung, Jawa Timur. Buka setiap hari mulai pukul 8 pagi ( Kecuali Hari Libur )





Share: