Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

Friday, October 5, 2018

Makam Panembahan Jago Pati


Tepat tengah malam kami sampai di Jatisari (2/10/2018). Sebuah desa yang dikenal minyimpan banyak cerita tentang masa silam. Lokasinya berada di Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang. Sekitar setengah jam dari pusat kota.

Disana terdapat beberapa makam tokoh yang dikeramatkan. Tokoh yang disegani masyarakat atas jasa - jasanya untuk wilayah tersebut. KH. Abdul Wahab (Buyut Timah), Buyut Sareh, Buyut Marwie diyakini sebagai generasi pertama yang melakukan babad alas sekaligus syiar agama. Beliau datang dari Pati, Jawa Tengah.

Dulu daerah ini masih berupa hutan belantara yang didominasi pohon jati, kemudian dibukalah lahan untuk mendirikan perkampungan. Pembukaan lahan dilakukan dengan menebangi pohon jati. Hingga berhasil menyisakan sarinya. Maka peristiwa tersebut sering dikaitkan dengan penamaan desa, yaitu “Jatisari”.

Ketika sudah menjadi perkampungan, datang lagi beberapa tokoh ternama yang bergabung untuk menyebarluaskan ajaran agama. Diantranya Buyut Jum`ah, Mbah Landou, Mbah Sambisari dan yang paling akhir adalah Mbah Jagopati.

 Mengenal Mbah Jago Pati ? 
Plakat Makam Mbah Jago Pati
Nama asli beliau adalah Syeh Muhammad Mahmudi bin Yusuf. Merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati Cirebon. Beliau datang dari Serang Banten. Beberapa versi menyebut, bahwa beliau adalah bagaian dari pasukan Pangeran Diponegoro (tahun 1825 – 1830 M). Bahkan Jagopati juga dipercaya sebagai nama satuan militer ketika perang Jawa berkecamuk.

Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap penjajah, maka para pengikutnya berpencar ke berbagai penjuru daerah. Menyiapkan stategi baru dengan berbagai cara. Seperti mendirikan pesantren, berdakwah dan lain sebagainya. Begitu juga dengan Mbah Jago Pati yang memilih Desa Jatisari untuk menyebarluaskan ajaran luhur.


Suasana Area Makam Panembahan Jagopati
Setelah mamasuki sebuah gapura, mobil kami menembus jalan setapak area persawahan. Lokasi makam cukup jauh dari pemukiman penduduk.  Kondisi jalannya bagus meskipun masih berupa tanah. Pohon kelapa berjajar rapi di sepanjang kiri dan kanan jalan.

Sampai disana tampak sebuah komplek makam dengan area yang luas. Terdapat tiga lapis tembok sebelum sampai di makam utama. Penerangan yang cukup dengan berbgai fasilitas yang dibangun sangat membantu para peziarah.

Selalu ada saja tamu yang datang. Selih bergantian dengan rapal doa sebgaimana tradisi ziarah pada umumnya. Masyarakat Jawa sangat percaya bahwa dengan berziarah ke makam orang sholeh merupakan bagian dari ikhtiar untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Usai subuh pandangan mulai terlihat jelas. Matahari muncul dari balik gunung. Sinar emasnya meyembur ke semua perswahan yang luas. Hingga sampailah di pelataran makam yang menhadap timur itu.

Beberapa bangunan dengan arsitektur kuno nampak menarik di sebelah selatan. Sumur tua di depannya menambah kesan klasik khas tempo dulu. Di sebelah utara juga terdapat bangunan lawas yang difungsikan sebagai kantor juru kunci dan tempat parkir motor.

Di bagian tengah adalah sebuah Masjid yang berdampingan dengan makam utama. Masjid Jagopati memilki atap berbentuk limasan bertingkat. Dilengkapai dengan pendopo sebagai teras yang luas. Sebelum masuk pendopo masjid terlihat juga hiasan payung khas kerajaan dan gentong air yang berada di kedua sisi tangga.

Sementara itu makam utama terlihat mencolok dengan khubah bercat emas. Bendera merah putih berukuran besar juga dipasang tepat di luar pintu masuk makam. Suasana hening pun sangat mudah ditemui desekitar makam.

*****


Pemandangan Persawahan di depan area makam Mbah Jagopati ( Tajinan - Malang)

Akses jalan menuju makam Mbah Jago Pati 

Suasana Pagi di halaman makam Mbah Jago Pati 

Bangunan untuk tempat istirahat para peziarah makam Mbah Jago Pati 

Di sebelah kiri belakang adalah masjid, Kiri depan pendopo, sebelah kanan berkubah emas adalah makam utama

Pelataran makam Mbah Jago Pati


Payung dan tempat minum di tangga menuju pendopo

Tampak depan masjid Mbah Jago Pati
Suasana di Pendopo Masjid Mbah Jago Pati

Bangunan Makam Mbah Jago Pati ( Syeh Muhammad Mahmudi bin Yusuf ) 

Proseesi Ziarah adalah bagian dari adab seseorang untuk menghormati leluhur dan Ikhtiyar mendekatkan diri dengan sang Ilahai lewat wasilah para kekasih - kekasih-Nya
Share:

Saturday, October 7, 2017

Ziarah Walisongo, Ekspedisi Religi Keliling Tanah Jawa

Hingga sekarang nama besar Walisongo masih akrap kita dengar. Ceritanya terus bersambung dari generasi ke generasi. Seakan tidak lekang tergerus zaman. Walisongo adalah dewan dakwah yang menyebarkan Islam di Nusantara sejak abad ke 14 M. Anggotanya di kenal dengan sebutan Wali atau Sunan. Seorang tokoh karismatik yang diyakini memiliki kedalaman ilmu dalam berbagai hal. Bahkan masih memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW dan Raja - Raja di Jawa. Di era Walisongo ini pernah terjadi revolusi besar. Orang - orang peribumi  berbondong - bondong masuk Islam dengan masif. Dilanjutkan dengan lahirnya kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Kini prestasi tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Melalui pendekatan budaya, Walisongo memperkenalkan Islam yang damai. Berbagai tradisi Jawa yang sudah berkembang disesuikan dengan nilai Islam. Munculah keindahan alkulturasi budaya yang dapat dinikmati hingga kini. Kesenian wayang, gamelan, dan ragam tembang seperti macopat adalah sebagian kecil contohnya. Media dakwah kreatif ini terbukti ampuh menarik perhatian. Maka tidak heran jika sosok para wali sangat lekat dihati masyarakat.

Masyarakat Jawa khususnya sangat menghormati keberadaan Walisongo. Eksistensinya terus dipertahankan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui napak tilas dengan mengunjungi makam para Wali Allah tersebut. Kagiatan ini lazim disebut sebagai Ziarah Walisongo. Bentuk tradisi yang sudah turun temurun dilakukan. Bahkan di bulan - bulan tertentu, antusiasmenya bertambah besar. Di desa biasanya orang akan melakukan ziarah Walisongo ini secara berkelompok. Meskipun begitu ada juga yang hanya sekeluarga atau atau bahkan seorang diri.

Di awal bulan Rajab (1437 H) kemarin, kami berkesempatan mengikuti ziarah Walisongo. Kami ikut bergabung bersama rombongan dari Tulungagung. Dua bus berukuran besar sudah penuh dengan jama’ah. Ini adalah kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun. Salah seorang rombongan ada yang mengajak serta anak -anaknya. Ia sangat antusias untuk mengenalkan sejarah leluhurnya lewat napak tilas ini.

Posisi keberangkatan bus berada di wilayah paling selatan Jawa. Sementara tujuan kami berada di pesisir utara. Perjalanan darat ini akan menempuh tiga provinsi sekaligus. Berikut ini daftar tempat yang akan kami kunjungi secara beruntun :
  • Makam Sunan Ampel di Surabaya (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Giri di Gresik (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Gresik di Gresik (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Drajat di Lamongan (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Bonang di Tuban (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Muria di Gunung Muria, Kudus (Jawa Tengah)
  • Makam Sunan Kudus di Kudus (Jawa Tengah)
  • Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak (Jawa Tengah)
  • Makam Sunan Gunung Jati di Cerobon (Jawa Barat)
  • Makam Syeh Panjalu di Ciamis (Jawa Barat)



Siang setelah sholat Jum’at bus bergerak pelan menuju pusat kota Tulungagung. Perjalanan ini diawali dengan berziarah ke pondok PETA. Letaknya persis di sebrang Masjid al Munawar ( alun - alun ). Tempat di mana Hadratus Syaikh KH Mustaqim bin Husain di makamkan. Seorang Imam Besar Thariqah yang juga pahlawan saat zaman penjajahan. Kisahnya jarang dipublikasikan, akan tetapi nama besarnya tidak bisa ditutupi. Hal itu terlihat dari acara Haul yang diadakan pondok PETA setiap tahun sekali. Jutaan orang dari penjuru Nusantara selalu ramai memadati acara tersebut.

Dari pusat kota Tulungagung perjalanan dilanjutkan ke arah utara. Kondisi jalan cukup ramai kala itu. Beberapa jam berlalu kota Kediri terlewati. Waktu sholat ashar tiba, bus pun berhenti di Masjid dekat pasar Tunggorono kabupaten Jombang. Selesai sholat hujan mengguyur dengan derasnya. Jalanan yang kami lewati sebagian tergenang air. Namun begitu semua berjalan lancar.


Makam Sunan Ampel (Surabaya)
Malam pukul 21.18 WIB Bus berhenti di lapangan parkir Makam Sunan Ampel. Terlihat masih ada sisa hujan yang belum kering. Surabaya malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.  Kami pun segera turun dan bergegas menuju Makam. Beberapa menit kemudian sebuah gapura masuk kami dapati. Gapura tersebut menjadi penanda yang cukup jelas, karena letaknya di seberang jalan besar. Komplek Makam ini berada di Jl KH Mas Mansyur Kelurahan Ampel, Semampir, Surabaya, Jawa Timur. 



Jalan menuju makam berada persis ditengah pasar. Kios - kiosnya berjajar di samping kiri dan kanan jalan. Berbagai macam barang dagangan pun digelar selama dua puluh empat jam disana. Selain dihuni pedagang lokal, di pasar Ampel juga terkenal dengan pedagang keturunan Arab. Hal itulah yang membuat pasar di Ampel menjadi unik. Barang – barang dagangannya sangat khas dan sulit ditemui di tempat lain. Melewati pasar ini seperti berada di perkampungan arab yang ada di timur tengah.

Tepat diujung pasar ini adalah Masjid Ampel. Masjid tua legendaris yang dibangun sejak era kerajaan Majapahit. Arsitektunya mengagumkan, gabungan dari budaya Arab dan Jawa Kuno. Di sekitarnya juga masih banyak bangunan - bangunan lawas. Membuat suasana tempo dulu semakin kental terasa.


Kami semakin tertarik untuk mengenal banyak hal lagi tentang Sunan Ampel. Dari beberapa sumber sejarah diketahui bahwa Sunan Ampel memiliki nama asli Sayid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat). Keturunan Nabi Muhammad SAW ke-23. Putra dari Syekh Ibrahim Asmoroqondi dan Dewi Candrawulan. Merupakan cucu seorang raja dari kerjaan Campa.

Peran Sunan Ampel ini bermula saat raja Majapahit saat itu mengundangnya ke Jawa. Beliau yang juga masih keponakan salah satu istri Prabu Brawijaya tersebut ditugaskan untuk memperbaiki moral bangsawan dan kawula Majapahit. Seiring berjalannya waktu Sunan Ampel berhasil melaksanakan perintah tersebut. Beliau mendapat hadiah tanah di wilayah Ampel Surabaya. Kemudian mendirkan sebuah masjid dan pesantren untuk menyebarluaskan Islam. Dari situlah kader - kader baru pejuang Islam dibentuk. Mulai rakyat biasa hingga putra dari petinggi tanah Jawa menjadi santri disana. 

Alumni dari pesantren Ampel ini banyak yang menjadi orang besar. Ke-dua putra sunan Ampel yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat juga menjadi bagian dari Walisongo. Sunan Giri dan Raden Paku (Raja Demak) juga santri di Ampel Denta. Sebagai seorang sesepuh Walisongo, beliau sangat sukses mempersiapkan generasi penerus.

Sunan Ampel wafat diperkirakan pada tahun 1478 H. Makamnya berada di sebelah barat Masjid Ampel. Sebelum menuju kesana, kami berhenti sejenak di tempat wudhu untuk bersuci. Kemudian kembali melangkahkan kaki di jalan kecil berpaving samping masjid itu. Untuk sampai di makam utama harus melewati tiga gapura masuk. Semuanya punya makna filosofis tersendiri. Misalnya gapura paneksen yang melambangkan syahadat.


Kerumunan orang dari rombongan lain semakin membludak. Berdesakan memenuhi pintu masuk gapura. Setiap harinya para peziarah memang tidak pernah putus mengunjungi tempat ini. Masing – masing rombangan membentuk barisan rapi mengelilingi makam. Sayup - sayup terdengar lantunan doa, dzikir dan bacaan ayat suci yang saling bersautan

Di area tersebut tidak hanya makam Sunan Ampel saja. Ada juga makam Mbah Soleh dan Mbah Sonhaji (Mbah Bolong). Santri dari Sunan Ampel yang memiliki cerita terkenal. Mbah Soleh adalah seorang yang dipercaya menjaga kebersihan di lingkungan masjid Ampel. Konon beliau meninggal dan hidup lagi sebanyak Sembilan kali. Makamnya yang berjumlah sembilan menjadi bukti kebenaran cerita ini hingga sekarang. Sedangkan Mbah Sonhaji  ceritanya bermula dari banyaknya orang yang meragukan arah kiblat masjid Ampel. Mbah Sonhaji kemudian menjawabnya dengan melubangi Imaman Masjid. Hebatnya dari lubang tersebut tembus sebuah pemandangan Kakbah yang ada di Makkah.


Masih di sekitar Makam, kami mendapati gentong - gentong berisi air. Kabarnya air tersebut berasal dari sumur bersejarah yang kini sudah ditutup besi. Banyak orang meyakini air tersebut memiliki kasiat layaknya air zam-zam di Makkah. Peziarah memanfaatkannya untuk minum dan terkedang ada yang membawanya pulang.


Kami keluar dari komplek makam yang banyak ditumbuhi pohon rindang itu. Kembali menyusuri Masjid dan ramainya pasar untuk melanjutkan perjalanan. Sungguh masih banyak lagi informasi menarik tentang tempat ini. Namun karena jadwal yang cukup padat, kami harus tetap mematuhi agenda yang sudah dibuat.

Makam Sunan Giri
Perjalanan masih berlanjut ke arah utara, Kota Gresik akan kami singgahi setelah Surabaya. Ada dua makam wali yang masuk agenda kunjungan ini. Itu adalah makam Sunan Giri dan Makam Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim). Mereka adalah bagian dari sesepuh yang membesarkan nama besar Gresik. Kota pesisir utara yang terkenal dengan kemegahan industrinya itu. Banyak sejarah besar yang tersimpan disana. Tentang Islam dan kejayaan masa silam yang jarang terpublikasikan.

Hari semakin malam ketika dua bus rombongan ziarah ini memasuki perbatasan kota. Pukul 21.30 WIB kami sampai di pelataran terminal Desa Kebomas. Terminal khusus yang menampung bus – bus rombongan ziarah wali di area Makam Sunan Giri. Terlihat beberapa bus sudah parkir memanjang. Meskipun malam, aktivitas di terminal ini seakan tidak ada matinya. Jarak antara terminal dan makam sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar satu kilometer saja.


Ketika turun dari bus puluhan tukang ojek bergegas mendekati kami. Merekalah yang akan mengantarkan peziarah dari terminal ke lokasi makam. Namun begitu ojek bukanlah satu – satunya kendaraan, Dokar yang khas juga masih banyak ditemui di terminal tersebut. Kendaraan yang ditarik kuda itu mampu membawa penumpang 4 sampai 5 orang. Sementara ojek hanya mampu mengangkut 2 penumpang. Namun untuk motor atau mobil pribadi bisa langsung menuju makam. Tanpa harus transit terlebih dahulu seperti rombongan dengan bus. Kami memilih ojek untuk melanjutkan ke makam. Sejak awal perjalanan gas lansung ditancap di jalan yang naik itu. Beruntung driver-nya cukup lihai dan berpengalaman. Sehingga rasa was - was kami terbayar dengan waktu tempuh yang lebih cepat.

BERSAMBUNG ....

Share:

Sunday, March 26, 2017

Menelisik Sejarah Prasasti Cunggrang



Bertolak dari Candi Jawi rombongan kami kembali melanjutkan perjalanan. Ada empat destinasi lagi yang harus dikunjungi. Semua masih dalam satu rangkaian bertajuk “Jelajah Patirthan” dalam rangka memperingati hari air. Saya bersama Mas Alfian (Ketua Blogger Ngalam) dan Mas Tomi ikut membaur bersama peserta lain di dalam bus. Sementara Bus melaju dengan santainya, mengikuti irama lalu lintas yang cukup ramai siang itu.  Tujuan selanjutnya adalah menelisik prasasti Cunggrang. Prasasti peninggalan tokoh legendaris Empu Sindok, yang berada di sebelah timur kaki gunung suci Pawitra (Penanggungan). Tepatnya di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Baca Juga : Jelajah Budaya di Candi Jawi


Kami sampai di Dusun Sukci pada siang hari (19/03/2017). Bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah lapangan yang cukup luas. Seterusnya kami harus berjalan kaki untuk menuju lokasi. Mungkin kalau menggunakan mobil atau motor bisa langsung sampai. Kali ini saya pun harus menikmati berjalan kaki, meresepai suasana desa kuno ini lebih kusyuk lagi. Beramai - ramai kami diajak menyusuri perkampungan. Melewati jalan dan gang - gang kecil di antra rumah - rumah warga. Beberapa menit kemudian kami sampai di lokasi. Saya merasa cukup sulit untuk menemukannya, ini karena lokasi benda bersejarah tersebut membaur di tengah pemukiman warga. Bahkan lebih menjorok kedalam jika diukur dari badan jalan. Seolah - olah memang berada di belakang rumah warga. Bangunan sederhana berbentuk pendopo menjadi pelindung prasasti Cunggrang dari gempuran cuaca. Di depanya terdapat halaman kecil yang sekaligus menjadi halaman bangunan posyandu di sampingnya.


Semua peserta bergegas memenuhi ruangan pendopo yang dibatasi pagar besi setinggi satu meter itu. Duduk melingkar dan mengelilingi prasasti. Karena jumlahnya yang banyak sebagian tetap antusias berdiri di luar pagar. Di dekat prasasti sudah bersiap Pak Dwi Cahyono (Dosen dan Peneliti Sejarah) menjelaskan banyak hal tentang prasasti ini.

Prasasti Cunggrang diresmikan pada 18 September 929 Masehi (851 Saka). Angka tersebut sekarang juga digunakan sebagai acuan hari jadi Kabupaten Pasuruan. Pendirian prasasti ini diprakarsai oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa yang lebih dikenal dengan Mpu Sindok. Ia adalah raja pertama dari kerajaan Medang (Mataram periode Jawa Timur). Beberapa peneliti sejarah mengungkapkan bahwa Empu Sindok merupakan menantu dari Raja Wawa penguasa kerajaan Medang sebelumnya pada periode Jawa Tengah.  

Pada masa Empu Sindok ini sudah diterapkan sistem pengarsipan. Hal ini juga didapati pada prasasti Cunggrang. Sistem pengarsipan tersebut meliputi penulisan pada daun lontar, proses selanjutnya memahatkan deretan huruf sangsekerta itu pada permukaan batu adesit yang sekarang disebut sebagai Prasasti Cunggarang A. Berlanjut pembuatan salinan pada lempeng tembaga yang disebut sebagai prasasti Cunggrang B. Prasasti Cunggrang versi lempeng tembaga ditemukan di lereng gunung Kawi, dan sekarang keberadaanya tersimpan di kompleks Gereja Kayu Tangan.


Jika kita mengamati prasasti Cunggrang lebih seksama, maka terdapat tiga batu disamping kiri dan kanannya. Yang pertama terdapat batu berbentuk silindris yang sengaja ditanam disamping batu utama prasasti, dikenal dengan sebutan batu sima. Merupakan penanda bahwa wilayah disekitarnya merupakan tanah sima (perdikan). Salah satu isi dari prasasti Cunggrang ini juga menetapkan Desa Cunggrang sebagai tanah sima atau perdikan. Merubah setatusnya dari desa biasa menjadi desa istimewa yang bebas pajak. Selanjutnya terdapat dua batu lumpang (berlubang) disebelah sisinya. Batu lumpang ini digunakan untuk memecahkan endok (telur). Pecah telur mengandung makna bahwa setiap keputusan yang sudah ditetapkan tidak bisa dirubah. Begitupun dengan keputusan raja yang dikenal dengan “Sabda Panditha Ratu” berkaitan dengan penetapan desa perdikan tersebut.

Tugas penduduk yang daerahnya dijadikan perdikan ialah memerlihara tempat pertapaan dan memperbaiki bangunan pancuran di Pawitra. Jika dilihat dari keberadaan prasasti yang sulit untuk dipindahkan, maka bisa dipastikan Desa Cunggrang memang berada di Desa Sukci. Hal ini semakin diperkuat dengan penemuan sejumlah benda - benda bersejarah. Sementara pancuran air yang dimaksud adalah tempat yang sekarang dikenal dengan Candi Belahan (Sumber Tetek). Lokasinya persis di gunung Pawitra (Penanggungan), hanya berjarak kurang dari lima kilometer . Jadi kesimpulanya prasasti Cunggrang ini semacam referensi atau sumber hukum tertulis untuk merawat pancuran air di Candi Belahan.


Banyak yang bisa dipanen dari kunjungan bersejarah ini. Bahwa tradisi literasi dan pengarsipan pun sudah dimulai berabad - abad lamanya. Suatu upaya untuk mengabadikan peristiwa dan mengabarkanya kepada lintas generasi.  Sudah ada sumber hukum tertulis, sudah tergambar dengan jelas bagaimana harmonisnya hubungan penguasa dengan rakyatnya. Imbal balik yang saling menguntungkan dengan segala bentuk apresiasi lainya. Perhatian penguasa terhadap tempat pertapaan dan patirtan menjadi catatan bahawa peradaban leluhur Nusantara sangat memperhatikan kebutuhan rakyatnya dari segi jasmani dan rohani. Hanya sedikit harapan pada pemrintah untuk lebih memperhatikan lagi benda bersejarah semacam ini. Sementara  pesan untuk pengunjung adalah ajakan untuk bersama - sama menjaga prasasti Cunggrang ini. Minimal tidak menyentuhnya, terlebih lagi sengaja merusak. Ini bukan lagi sekedar warisan, lebih dari itu saya menganggapnya sebagai pusaka.

Ikuti perjalanan kami selanjutnya di Candi Belahan (Sumber Tetek)


Share: