Showing posts with label BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA. Show all posts

Tuesday, January 23, 2018

Tradisi Orang Jawa ketika Membangun Rumah


Pagi - pagi sekali saya kedatangan orang atur - atur (mengundang untuk suatu keperluan). Ketika melihat jam dinding ternyata masih pukul enam. “Sakniki Mas Nggeh, Kajate Slametan Nduduk Pondasi” ungkapnya memberi penjelasan. Ya, pagi itu juga saya diminta untuk menghadiri acara slametan.

Slametan atau selamatan adalah tradisi yang paling sering dilakukan masyarakat Jawa. Pada Prakteknya slametan dilakukan dengan cara mengundang beberapa tetangga dan kerabat. Kemudian berkumpul dan melakukan doa bersama. Diakhiri dengan makan bersama dan membawa berkat (bingkisan makanan) untuk dibawa pulang. Tujuan utama dari slametan adalah mendapat keselamatan dan perlindungan dari Tuhan Semesta Alam. Slametan juga merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur.

Bagi masyarakat Jawa slametan selalu dilakukan hampir disemua kejadian. Mulai dari kelahiran, kematian, khitanan, pernikahan, terkait perayaan Islam, menyambut hari atau bulan tertentu, bersih desa, membeli kendaraan, membuat rumah, dan tentu saja masih banyak lagi.

Kebetulan hari itu libur akhir pekan. Pak Nani sedang punya hajat membangun rumah. Lebih tepatnya masih tahap awal yaitu membuat pondasi. Prosesi ini sering disebut dengan istilah “Nduduk Pondasi”. Nduduk memiliki arti “menggali”, maksudnya menggali tanah untuk keperluan pondasi. Ada tradisi khas yang selalu dilakukan orang – orang di Dusun Ngembong (Kab. Tulungagung), ketika membuat pondasi. Seperti masyarakat jawa pada umumnya, mereka mengawalinya dengan slametan.

Saya pun bergegas menuju rumah yang punya hajat. Ikut srawung (berbaur) dengan tetangga dengan kehidupan sosialnya yang khas. Ketika saya datang, ruangan sudah penuh. Ada sekitar sepuluh orang yang sudah hadir. Mereka duduk bersila mengelilingi berkat dan beberapa properti untuk keperluan slametan. Slametan seperti ini memang skalanya lebih kecil. Undangannya pun hanya untuk tetangga dekat saja.

Suasana acara slametan setelah selesai doa
Disetiap slametan nduduk pondasi ini biasanya ada beberapa makanan dan properti khusus. Mungkin sebagian orang memaknainya sebagai sesajen. Padahal bukan itu masksudnya. Ada banyak hal tersirat yang ingin disampaikan lewat simbol makanan atau properti tersebut. Ya banyak sekali petuah - petuah luhur Jawa yang tersembunyi dibaliknya.

Lalu apa saja yang biasanya dihidangkan dalam slametan ini ?
  • Jenang Sengkolo adalah bubur beras yang ditengahnya diberi gula merah. Sesui namanya, digunakan sebagai perlambangan tolak bala.
  • Sego Gureh adalah nasi putih yang memiliki rasa gurih karena dimasak dengan santan kelapa. Nasi menjadi simbol kehidupan dan kesejahteraan.
  • Lodho (ingkung) adalah masakan ayam utuh yang hanya diambil isi perutnya. Ini melambangkan keutuhan wujud, maksudnya segala harapan dan keinginan bisa terwujud atau tercapai.
  • Pala Kependem adalah semua jenis umbi - umbian yang termasuk didalamnya telo rambat, suweg, bote, ganyong, uwi, dan lainnya. Jika dilihat dari kenyataannya, polo kependem merupakan sebuah akar dari tumbuhan. Analogi akar erat kaitannya fondasi rumah yang terpendam (kependem).
  • Gedang Rojo (Pisang Raja) dipilih karena kata “gedang” memiliki pelafalan yang dekat dengan kata “padang” (terang). Sehingga diharapkan segala prosesi yang dijalankan menjadi terang 

Tentu tidak hanya empat diatas, masih beberapa yang belum saya tuliskan. Yang pasti ada banyak hal yang harus dipelajari untuk menafsirkan simbol - simbol tradisi tersebut. Butuh banyak informasi untuk diinformasikan ulang pada generasi selanjutnya.

Acara pagi itu dipimpin salah seorang sesepuh. Dimulai dari sambutan, dan penjelasan maksud diadakannya slametan. Kemudian berlanjut pembacaan beberapa surat pendek Al-Qur’an bersama - sama. Untuk acara slametan seperti ini bacaanya tidak terlalu panjang. Sebagai puncaknya doa bersama pun dilakukan dengan penuh kekhusyukan.

Selesei doa, dua orang bergegas membagi berkat. Sego gureh dan ayam lodho dibagikan sama rata. Termasuk dengan jajanan khas slametan seperti jongkong dan apem. Berkat berasaal dari kata barokah (arab), diharapkan menjadi sebuah berkah bagi yang memakannya. Berkat ini nantinya dibawa pulang oleh masing - masing undangan.

Berkat slametan yang terdiri dari sego gureh, ayam lodho, geneman, telor, dan jajanan sslametan
Inilah yang menjadi salah satu kebahagiaan anak kecil di desa. Mereka akan antusias menanti berkat yang dibawa ayahnya sepulang dari slametan. Meskipun sederhana berkat menjadi sesuatu yang paling ditunggu - tunggu.

Selain berkat, juga ada nasi rames untuk dimakan bersama - sama usai acara slametan. Tak ketinggalan segelas kopi dan teh menjadi pelengkap jamuan. Suasana hangat pun tercipta. Kami saling bercengkrama membahas kabar masing - masing. Topik tentang sawah menjadi hal utama, karena kami memang tinggal dipedesaan.

Selesei acara slametan orang - orang akan kerumah masing - masing. Tapi sebagian ada yang balik lagi kerumah yang punya hajat untuk “sambatan”. Sambatan ini adalah istilah gotong royong. Para tetangga ini akan suka rela memberikan bantuan tenaga. Durasinya mungkin tidak lama atau malah terkesan simbolis, tapi cukup membantu tukang dalam proses pengerjaan pondasi.

Kebahagiaan ketika pulang membawa berkat hasil slametan
Begitulah harmonisnya kehidupan sosial di desa. Tentang slametan ini tentu saja ada pelajaran yang dapat dipetik. Kebersamaan (Jamaah) adalah mutlak diperlukan manusia sebagai makhluk sosial. Slametan juga mengajarkan untuk berbagi (sodaqoh) kepada sesama. Puncaknya slametan mengajarkan kita untuk selalau mengingat Tuhan dalam melakukan semua hal. Baik itu sebelum maupun sesudah. Karena sejatinya kehidupan hanya bersumber dari Tuhan Yang Maha Segalanya. 
Share:

Friday, September 8, 2017

Semarak Gelaran Karnaval Budaya di Trenggalek

Karnaval budaya menjadi agenda wajib di Trenggalek pada bulan Agustus. Itu karena bertepatan dengan dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus hari jadi Kabupaten Trenggalek. Suka cita masyarakat ditumpahkan dengan beragam kreatifitas. Tidak tanggung - tanggung karnaval digelar tidak hanya satu kali. Di tahun ini (2017) salah satu tema yang diusung adalah unsur etnik (Trenggalek Etnic Carnival). Peserta diharuskan menampilkan beragam kesenian khas trenggalek dan Nusantara.

Totalitas dari masyarakat Trenggalek sangat besar untuk menyukseskan gelaran tahunan ini. Semua bisa terlihat dari keunikan - keunikan yang ditampilkan peserta. Pengunjungnya pun membludak tumpah ruah memenuhi jalanan Kota. Menikmati langsung pesta rakyat sekaligus bernostalgia dengan budayanya. 

OMBONEJAGAD berkesempatan mengabadikan momen berharga ini lewat rubik foto. Kami selalu mendukung kegiatan budaya untuk mengenalkan keindahan Nusantara, 














TURONGGO YAKSO
JARANAN KHAS TRENGGALEK








CERITA RAKYAT
GAJAH PUTIH DAN DAM BAGONG 









Share:

Tuesday, September 5, 2017

Pembuat Barongan dan Keris dari Dusun Ngembong

Ada secerca harapan yang saya tangkap dari dusun kecil tercinta ini. Namanya Mas Ali Sodik (30), anak muda yang menaruh minat pada kearifan budaya Jawa. Khususnya dalam hal pembuatan benda seni dan pusaka. Dari belajar secara otodidak, ia sudah menghasilkan beberapa karya bernilai seni tinggi. Beberapa diantaranya seperti barongan dan keris sukses membuat saya takjub.


Pagi itu (1/8/17) saya bertandang ke rumah Mas Ali di Dusun Ngembong, Desa Bulus, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Tujuannya tentu melihat lebih dekat Mas Ali berkreasi. Di Dusun Ngembong ini juga terkenal dengan industri kerajinannya. Meskipun masih sekala rumahan namun produk yang dihasilkan layak untuk diperhitungkan. Produk seperti anyaman bambu dan sangkar burung dari Dusun ini sudah dikenal masyarakat luas. Maka tak heran jika para pengrajin handal (seniman) lahir dari tempat ini.

Mengintip Proses Pembuatan Barongan
Dari teras rumah sederhananya kala itu, sudah nampak kesibukan. Seperti biasa Mas Ali larut dalam keseriusan menyelesaikan buah karyanya. Ketika saya datang, segera ia menghentikan semua aktifitasnya. Menyambut penuh ramah, dan mempersilahkan saya melihat dari dekat proses pembuatan barongan.

Barongan adalah topeng berbentuk kepala naga yang terbuat dari kayu. Bagian mulutnya bisa digerakan, jika mengatup maka keluar bunyi keras. Barongan diperankan sebagai tokoh antagonis, berkuasa, dan menakutkan. Produk seni khas jawa ini bisa didapati pada seni pertunjukan jaranan. Barongan memegang peranan penting karena menjadi inti cerita seni pertunjukan jaranan. Cukup satu orang untuk memainkannya. Barongan akan semakin menarik kala pemainnya kerasukan makhluk halus.  

Ketertarikan Mas Ali pada pertunjukan Barongan menantang kreatifitasnya. Empat tahun yang lalu ia memberanikan diri membuat barongan. Ia menuturkan awalnya hanya bermodal mengamati dan kesungguhan. Bahkan hanya menggunakan peralatan dan bahan baku seadanya. Satu persatu karya ia hasilkan dengan penuh ketelatenan. Membuat barongan itu harus multi talenta. Setidaknya harus punya keterampilan dasar melukis dan memahat. Yang lebih penting lagi tentu jiwa seni yang tinggi.

Proses pembutan barongan kurang lebih tujuh hari. Tergantung kerumitan ukiran pada topeng kayu tersebut. Semakin rumit semakin lama. Tentu saja juga semakin tinggi nilai jualnya. Tahap pertama adalah mempersiapkan bahan baku berupa kayu. Uniknya Mas Ali hanya menggunakan kayu dari pohon yang tumbang secara alami. Seperti tumbang diterjang angin, Lapuk akibat faktor usia pohon, atau sisa penebangan imbas pembangunan jalan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Filosofi ini ia pegang teguh dan sering ia kampanyekan. Baginya berkarya tidak hanya untuk kepentingan manusia. Berkarya juga wajib selaras dengan alam.




Bahan baku utama barongan adalah kayu berbentuk tabung. Dari kayu tersebut kemudian dibuatlah sketsa dasar. Tahap ini butuh imajinasi dan kepekaan bentuk seni tiga dimensi. Setelah selesai berlanjut pada proses membuat ukiran. Dengan bantuan tatah (peralatan ukir) ia mulai mengerjakan tahap demi tahap. Semuanya dikerjakan manual mengandalkan keterampilan tangan. 

Dan pagi itu saya ikut melakukan proses pengecatan. Beberapa cat warna – warni sudah disiapkan lengakap dengan kuasnya. Proses pengecatan pada kepala barongan sudah hampir selesai. Mas Ali melanjutkan dengan melukis bagian jamang. Jamang adalah bagaian belakang kepala barongan bentuknya lebih mirip gunungan pada wayang. Bahannya dari kulit binatang namun bisa juga dengan kulit sintetis yang lebih murah.

“Membuat karya seni itu harus dengan hati, supaya bisa diterima oleh hati” ucapnya pada saya sembari menuruskan melukis. Karya Barongan Mas Ali ini sudah banyak dimiliki beberapa grup kesenian jaranan lokal. Bahkan yang terbaru peminatnya sudah luar daerah. Harga dari barongan yang termurah berkisar tiga juta rupiah. Untuk ukuran yang lebih besar mungkin lebih mahal lagi. Saya mencoba memainkan barongan yang sudah jadi. Cukup berat untuk mengangkatnya, tapi ini adalah pengalaman berkesan untuk saya.

Kerajinan Keris yang Berkelas
Bakat seni keterampilan Mas Ali juga menghasilkan keris. Benda yang tidak hanya dijadikan senjata adat, tetapi lebih pada pusaka oleh suku Jawa. Dulu pusaka ini hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Raja dan Bangsawan ternamalah yang berhak memilikinya. Keris adalah simbol kekuasaan. Seseorang yang memegang keris dianggap memiliki jiwa kepemimpinan yang karismatik. 

Bagi Mas Ali membuat keris adalah kebanggaan tersendiri. Jumlah pengerajin keris memang jarang ditemui. Meskipun kepopuleran keris masih langgeng dari generasi ke genarasi. Butuh lebih banyak lagi pengerajin keris. Semua itu untuk keberlanjutan masa depan keris sebagai benda pusaka khas.


Keris umumnya memang berbahan logam seperti baja. Namun sebagai pusaka ada juga yang dibuat dari bahan kayu tertentu. Mas Ali sendiri lebih banyak menggunakan bahan yang full kayu. Bukan kayu sembarangan, ia hanya memilih jenis yang teruji kualitasnya. Dan tentu saja masih dengan filosofinya tentang alam. Salah satu yang ia pilih adalah kayu stigi. Kayu yang terkenal dengan daya magis dan memiliki segudang kelebihan. Untuk mengetes keaslian kayu stigi, biasanya harus dimasukan kedalam air. Yang unik kayu stigi ini langsung tenggelam, seperti memiliki berat layaknya logam. Kabarnya jenis kayu ini sulit untuk dicari. 


Dari bahan berkualitas tersebut Mas Ali membuat keris dengan cita rasa seni tinggi. Lekukan - lekukan khas penuh makna tercipta pada karyanya tersebut. Jenis Majapahitan dan Sunan Kalijaga menjadi ragam yang paling banyak ia kerjakan. Semua bisa dilihat dari bentuk dan ukiran pada gagang dan sarung keris. Sama seperti barongan, semakin banyak detail ukiran semakin banyak pula ketelatenan yang dibutuhkan. Semua akan terbayar lunas dengan hasil karya yang berkelas. Sebuah karya seni berwujud pusaka yang menjadi kebanggaan.

Melestarikan budaya bukanlah perkara mudah di zaman yang serba dinamis ini. Para pelestari pun umumnya sudah berusia lanjut. Ini karena proses pewarisan budaya sering terbentur perubahan zaman. Budaya dianggap sudah ketinggalan zaman. Padahal banyak yang dapat diambil untuk dipelajari. Lebih jauh lagi budaya adalah identitas suatu bangsa. Maka menjaga dan meneruskannya adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Dari Mas Ali saya mendapat pelajaran yang begitu berharga. Kecintaan pada budaya dan kearifan hidup bersama alam. Tentang berkarya dengan hati dan hasil karya yang bisa menyentuh semua hati. Dan tentu saja pengalaman berharga melihat langsung pelestarian budaya penuh makna.

Catatan :
  •  Sahabat bisa membeli atau memesan barongan dan keris secara langsung maupun online dengan menghubungi  082381602100
  • Sahabat bisa mengunjungi langsung tempat pembuatan kerajinan Barongan dan Keris di rumah Mas Ali. Lokasinya di Dusun Ngembong, (RT.1 / RW.1 | No.1) Ds. Bulus, Kec. Bandung, Kab. Tulungagung, Jawa Timur. Buka setiap hari mulai pukul 8 pagi ( Kecuali Hari Libur )





Share:

Saturday, July 22, 2017

Geliat Seni Tradisi Jaranan di Desa Pucung Kidul



Setiap daerah di Nusantara pasti memiliki produk seni tradisi yang khas. Seni tradisi lahir sebagai bentuk kreatifitas masyarakat atas budayanya. Tentu bukan hanya sekedar hiburan, didalamnya juga diselipkan nilai – nilai filosofis yang sarat akan makna. Bentuknya bisa berupa tembang (lagu), musik, tari, drama, atau gabungan dari unsur - unsur tersebut. Yang pasti ciri seni dengan keindahannya yang universal sangat mudah diterima semua kalangan.

Di Tulungagung (Jawa Timur) banyak dijumpai ragam seni tradisi yang saat ini masih teguh dipertahankan. Seni tradisi bernafas budaya jawa seperti Karawitan, Tayupan, Jemblungan, Wayang Kulit, Jedor, Tiban, Ketoprak / Ludruk, Reog Kendang, Kentrung, dan Jaranan adalah aset berharga yang mewarnai kehidupan di kampung halaman tercinta. Saya yakin kesenian – kesenian tersebut juga bisa dinikmati di daerah lain, khususnya di pulau Jawa. Namun yang khas Tulungagung seperti Reog Kendang, Kentrung, dan Jaranan cukup sulit ditemukan di tempat lain. Kecuali ditanggap (diundang) oleh seponsor khusus seperti instansi atau donatur independent pecinta seni.

Kali ini ijinkan kami mengajak sahabat untuk berkunjung ke desa Pucung Kidul, Kecamatan Boyolangu. Melihat lebih dekat salah satu seni tradisi khas Tulungagungan. Jaranan begitulah orang – orang menyebut seni tradisi ini. Kesenian yang masih digemari sebagian besar orang Tulungagung, penikmatnya pun merata hingga lintas generasi. Seni tradisi ini banyak di temukan di daerah Jawa Timur khususnya bagian selatan. Namun perkembangannya tidak sepesat dan sesemarak di Tulungagung. Setiap Kecamatan atau bahkan hampir setiap desa – desa di Tulungagung punya grup jaranan. Dari sini lahir para seniman kondang yang sukses. Proses regenerasi juga tidak ketinggalan. Anak - anak muda ikut antusias mempelajari seni tradisi daerahnya itu. Berbagai inovasi terus ditambahkan. Hasilnya lahirlah grup – grup jaranan legendaris yang dikenal banyak orang. Lihat saja grup jaranan Kuda Birawa atau Safitri Putra yang mendunia dengan seni jaranan dangdut kreasinya.

Kata “Jaranan”  sendiri berasal dari bahasa Jawa. Jaran artinya kuda istilah jaranan bisa bermakna kuda mainan atau bermain kuda. Sebagian orang mungkin lebih mengenalnya dengan istilah kuda lumping atau Jaran Kepang. Jaranan ini sebenarnya tidak hanya sekedar tarian. Dalam jaranan bisa kita nikmati alunan musik dari para pemain gamelan, bahkan sekarang dikolaborasikan dengan peralatan musik moderen.  Ada juga aksi ndadi atau kesurupan yang justru ditunggu – tunggu penonton.

Kenal lebih dekat dengan Jaranan
Malam itu (11/07/17) saya menerima ajakan dari Pak Ali (32) salah seorang teman yang juga pecinta seni tradisi. Rencananya kami akan menonton langsung pertunjukan jaranan. Ini adalah pertunjukan kali pertama setelah lama libur lebaran. Jadwal pertunjukan kami dapatkan dari grup sosial media. Tentu kami sudah hafal betul tempatnya. Sayangnya untuk jadwal kali ini lokasinya cukup jauh. Harus melewati dua Kecamatan dulu untuk sampai di desa Pucul Kidul.

Riuhnya kerumunan warga menjadi penanda bahwa kami telah sampai. Dibawah purnama kami ikut berbaur mendekati panggung terbuka. Panggung dimana seni tradisi jaranan dipentaskan disitu. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung kehebohan para seniman jaranan. Sementara di bagian belakang panggung dibuatkan dekorasi dengan tema berbentuk bagunan candi. Dari situ pula saya tahu, grup jaranan yang sedang tampil ini adalah Turonggo Siswo Budoyo. Grup jaranan kebanggan warga Desa Pucung Kidul. Kali ini mereka tampil dirumahnya sendiri. Dalam rangka syukuran salah seorang sesepuh desa.


Wangi aroma kembang dan kemenyan menjadi santapan wajib untuk kami hirup. Menambah kesan mistis yang selama ini kerap dikaitkan dengan pementasan jaranan. Sayangnya perhatian saya lebih tertarik pada lantunan musik pengiring jaranan. Terkesan bersemangat dan asik untuk ikut manggut manggut. Sumber suara itu ternyata berasal dari pemain gamelan disamping panggung. Tentu saja tidak hanya gamelan, ada juga peralatan sekelas band yang juga turut memeriahkan. Belum lagi dukungan dari soundsystem yang dipasang didepan panggung. Saya yakin tidak hanya pemain jaranannya yang bersemangat untuk jingkrak – jingkrak. Penonton pun pasti ikut hanyut layaknya menonton konser band – band ibu kota. 

Ketika kami datang, acara sudah berlangsung di atas panggung. Tampak beberapa anak kecil menunjukan kebolehannya. Generasi baru pewaris jaranan ini tampil percaya diri sebagaimana orang dewasa. Pakem - pakem gerakan jaranan sentherewe mereka suguhkan dengan lincah dan gesit. Jaran dari anyaman bambu mereka tunggangi. Peran pasukan bekuda khas kerajaan ditampilkan dengan gagah perkasa. Tak lupa cemeti (Cambuk) digenggamnya dengan erat sesekali terdengar suara cambukan “ceples, ceples, ceples ….. “


Ini masih pukul sembilan malam, untuk jaranan biasanya berdurasi lebih dari empat jam. Mereka menjadi tim pembuka yang menggebrak panggung terbuka malam itu. Selanjutnya masih ada beberapa penampilan lagi. Tentu saja dengan formasi dan pemain yang berbeda. Di ronde kedua ini pemainnya usia remaja. Mereka terlihat lebih matang dari grup sebelumnya. Formasi pemainnya sagat bervariasai. Salah satu yang saya ingat adalah saat penapilan campuran, kolaborasi dua remaja perempuan dan dua remaja laki - laki.

Dalam pertunjukan seni jaranan Tulungagungan ada semacam alur cerita yang khas. Mulai dari gerakan berkelompok  yang menggambarkan kekompakan pasukan kerajaan. Kemudian gerakan solo  ala kesatria berkuda. Dilanjutkan dengan kisah pasukan berkuda melawan celeng. Gerakan pemain celeng sangat tidak beraturan. Bertingkah gesit dan rakus persis seperti babi hutan. Pada puncaknya kita akan disuguhkan pertarungan kesatria berkuda dengan barongan.

Aksi Barongan dan “Ndadi
Barongan adalah sosok berkarakter menakutkan dan berkuasa. Diwujudkan dalam bentuk naga versi mitologi Jawa. Sosok naga juga lekat dengan kisah legenda yang ada di Tulungagung, Seperti naga baruklinthing yang mashur itu. Properti untuk barongan seperti topeng pada reog Ponorogo. Namun dengan ukiran kepala naga yang lebih seram. Hidungnya besar dan matanya melotot keluar. Yang unik bagian mulut topeng barongan ini bisa digerakan. Sehingga keluar bunyi keras “dok, dok, dok … “ karena hal ini ada juga yang menyebutnya sebagai dokdokan. Untuk memainkan barongan hanya butuh satu orang. Penari barongan haruslah memiliki tenaga yang kuat, sebab ukuran topeng barongan ini cukup berat. Belum lagi sang penari harus menggerakan mulut barong dengan lincah. Pertarungan barongan dengan kesatria berkuda memang selalu mendebarkan. Tingkah polah barongan lebih brutal dari celengan. Sesekali terjadi aksi akrobatik seperti salto atau melompat tinggi. Tak jarang pula terjadi kontak fisik layaknya adegan di film laga.


Malam semakin larut kami pun semakin hanyut dalam pentas rakyat itu. Tepat pukul duabelas malam hal yang paling ditunggu pun kami dapati. Apalagi kalau bukan ndadi alias kesurupan. Ini memang terlihat aneh, namun selalu menarik perhatian. Pertunjukan jaranan tanpa adegan ndadi seperti sayur tanpa garam. Kurang lengkap atau bahkan kurang greget. Ndadi adalah kondisi dimana pemain jaranan kerasukan makhluk halus (ghaib). Kerasukan menjadi hal yang wajar, bahkan umumnya para makhluk halus ini memang sengaja diundang.  Kerjasama ini semata - mata hanya untuk memeriahkan jalannya pertunjukan.

Satu persatu pemain jaranan kesurupan gerakannya jadi lebih agresif dan tak umumnya manusia. Dulu kalau seorang ndadi bisa aneh – aneh permintaanya. Seperti makan beling (pecahan kaca), mengupas sabut kelapa dengan gigi, atau makan bara api yang panas. Untungnya kami tidak mendapati kejadian se-ekstrim itu. Hanya saja jantung ini ikut berdebar saat salah seorang yang ndadi dengan mata melotot berlari mendekati penonton. Perang antara pasukan berkuda dan barongan menjadi lebih hidup berkat kesurupan ini. Barongan yang ganas benar - benar nyata malam itu. Pemainnya seperti hilang kendali. Suara dari mulut barongan semakin cepat dan keras. Disisi lain sang penantang pasukan berkuda juga ikut kesurupan. Seperti tidak ada ketakutan di raut wajahnya. Melawan barongan dengan gagah dan penuh keberanian.

Pertunjukan seni tradisi rakyat ini ditutup dengan kemenangan pasukan berkuda. Namun belum cukup sampai disitu, prosesi untuk menyadarkan para pemain yang ndadi tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menyadarkannya butuh bantuan juru gambuh (pawang) selaku pemimpin tertinggi di pertunjukan tersebut. Untuk yang tingakat bias acara menyadarkannya pun cukup ditepuk bahunya atau disuruh makan kembang. Semakin tinggi level ndadinya maka semakin sulit untuk disadarkan. Kalau sudah begini sang juru gambuh akan menerapkan jurus andalannya seperti menidurkan pemain atau mencambuknya dengan mantra tertentu. Yang pasti malam itu pertunjukan berjalan dengan lancar. Di akhir pertunjukan sang juru gambuh memanjatkan slametan atau doa atas suksesnya pertunjukan tersebut. Penonton pulang dengan membawa cerita mengesankan kerumah mereka masing - masing. Begitulah secuil cerita kearifan lokal yang terjadi di desa Pucung Kidul malam itu. Secuil cerita yang mengabarkan bahwa seni tradisi lokal masih hidup dan tetap dinikmati sebagian besar rakyat Nusantara.



Share:

Friday, June 23, 2017

Menghias Jalan Desa Menjelang Hari Raya


Hampir genap satu bulan orang - orang Islam melaksanakan puasa. Hari - hari yang disucikan itu memasuki minggu terakhirnya. Setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan, begitu pula perjumpaan dengan Ramadhan. Suka cita bulan puasa pun merasuki seluruh kehidupan Masyarakat Nusantara. Negeri zamrud katulistiwa dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Berbagai tradisi tahunan dihadirkan kembali dengan penuh antusias baik di perkotaan hingga di gang – gang kecil pedesaan. Mudik, ngabuburit, buka bersama, nyumet mercon (bermain petasan), tadarus di langgar, ngaji pasan (pesantren kilat) dan kegiatan rondo (membangunkan orang sahur) menjadi warna tersendiri yang hanya ada di bulan suci ini.

Tahun ini saya lebih beruntung, bisa menikmati sepanjang momen puasa di kampung halaman. Desa tercinta yang tidak pernah kalah meriahnya dengan perkotaan ketika Ramadhan. Banyak orang - orang desa yang tinggal di kota - kota besar, mulai dari mencari nafkah, kuliah bahkan ada yang sudah menetap dan beranak pinak disana. Tidak sedikit pula yang sukses karena keuletan dan kesungguhanya. Namun sejauh apapun kita merantau, rumah adalah tempat yang paling dirindukan untuk kembali. Maka tidak heran jika arus mudik meningkat berkalilipat menjelang lebaran. Ramadhan di kampung halaman adalah idaman bagi perantau yang lama tak pulang. Entah sukses atau belum, pulang adalah obat mujarab untuk mengobati kerinduan. Suasana rumah dan kegiatan masyarakat desa yang senang berpesta menjadi hal yang paling ditunggu. Momen seperti itulah yang menjadi mesin nostalgia bagi siapapun yang merasakannya. Momen yang tidak pernah ada habisnya untuk diceritakan, momen yang selalu memaksa saya untuk selalu menuliskannya.

Seminggu menjelang berakirnya Ramadhan suasana desa tampak lebih meriah. Hari Raya yang kehadirannya tinggal menghitung hari akan mengakhiri puncak Ramadhan. Kesibukan akan bertambah, berbagai persiapan pun mulai dikerjakan. Ada salah satu tradisi yang khas menjelang lebaran. Jalan - jalan yang menjadi penghubung antar desa tampil beda dari biasanya. Lebih meriah,  semarak dan semakin berwarna. Tidak hanya jalan utama jalan - jalan di gang - gang kecil pun tidak luput dari kemeriahan. Warga akan berlomba - lomba menghias jalan semenarik mungkin. Sentuhan kreatifitas dan kekompakan dari anak - anak mudanya memiliki peran yang cukup penting pada proyek tahunan ini. Siang malam secara bergantian dari yang tua hingga yang muda bahu membahu aktif bekerja sama. Dananya diambil dari sumbangan sukarela para warga sendiri. Susunan panitanya berjalan otomatis tanpa peraturan yang mengikat. Ada yang bertugas mencari dana, tim desain yang super kreatif, pelaksana lapangan, penyemangat, komentator dan tak ketinggalan tim konsumsi yang setia menemani. Semua atas dasar kesadaran masing - masing. Kekompakan semacam ini mungkin yang sulit dijumpai di perkotaan. 



Kalau sahabat ingin merasakan pengalaman lebaran yang berbeda berkunjunglah ke desa kami. Sebelum hari raya datang, riuhnya pesta ala rakyat pedesaan sudah bisa sahabat rasakan. Utamanya di desa Kamulan, Sumbergayam, Pakis, Semarum, Ngadisuko dan desa - desa lain yang berada di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Kemeriahan juga bisa ditemui di Desa Bulus, Ngepeh, Gandong, Kesambi, Sebalor, Ngunggahan yang berada di Wilayah Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Kecamatan Durenan dan Bandung adalah dua kecamatan perbatasan Kabupaten yang dikenal selalu meriah setiap perayaan hari besar agama maupun nasional. Saya meyakini kalau kemeriahan semacam ini sejatinya juga merata hampir diseluruh wilayah Nusantara, khususnya Jawa.


Gambaran kemeriahannya adalah seperti pesta - pesta rakyat yang penuh kreatifitas. Di siang hari sahabat akan menjumpai umbul - umbul yang pasti ada di setiap rumah. Umbul - umbul adalah sebutan untuk kain panjang yang menyerupai bendera. Memasang umbul - umbul ini sudah menjadi hal wajib meskipun tanpa perintah. Hiasan yang khas tentu warna - warni kain yang memiliki desain berbeda di setiap desa. Ada yang di pasang di sisi kanan dan kiri jalan, ada yang di pasang melingkar ke atas badan jalan. Ada pula yang memasang lampion dengan pernak perniknya. Satu lagi untuk kemeriahan malam hari, pemasangan lampu hias sudah menjadi tradisi baru untuk melengkapi kemeriahan hari raya. Lampu warna - warni dipasang di setiap rumah, dipasang dengan tiang pancang dari bambu yang melengkung kejalan. Malam hari di jalan - jalan desa akan bertabur cahaya lampu hias yang berwarna - warni. Berjalan di sana seperti memasuki lorong goa yang dipenuhi cahaya. Tidak cukup sampai disitu, biasanya di tempat – tempat penting seperti Langgar / Masjid dibuatkan gapura dadakan yang bertabur hiasan lengkap dengan lampu yang memanjakan mata.  

Tradisi menghias jalan menjelang hari raya ini sudah turun - temurun dilakukan. Setiap tahunnya selalu ada inovasi mengenai ide desain yang labih menarik. Mereka ingin membuat sesuatu yang lebih sepesial dan bermakna untuk Idul Fitri yang hanya akan datang setahun sekali. Kegiatan semacam ini sekaligus untuk menyambut tamu atau keluarga yang datang dari perantauan. Gotongroyong dan kekompakan warga lah kunci sukses proyek tahunan ini. Banyak makna yang terselip, tidak hanya sekedar berpesta menghias jalan adalah wujud syukur dan suka cita warga desa dalam menyambut datangnya hari raya.



Share:

Monday, May 22, 2017

Mengenal Tradisi Megengan di Jawa

Islam dan Jawa dua kata ini menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan. Islam sebagai agama rahmat semesta alam sudah beberapa abad lamanya masuk ke tanah Jawa. Semua itu tidak terlepas dari kearifan dan kekreatifan Walisongo dalam menyampaikan Islam melalui pendekatan sosial budaya. Tanpa kekerasan, tanpa pemaksaan, dakwah islam dilakukan dengan penuh kasih sayang. Tanah Jawa memang terkenal memiliki tradisi yang kuat dalam melestarikan budayanya. Sebagian orang – orang Jawa masih berpegang teguh untuk menghormati leluhurnya. Oleh karena itu sangat tepat jika metode pendekatan sosial budaya diberlakuakan untuk mendapatkan hati orang – orang Jawa. Kini usaha para Walisongo tersebut berbuah manis, Islam turut memberi warna hampir diseluruh tradisi Jawa. Islam melengkapi tatanan nilai adat istiadat Jawa yang sebetulnya memang sangat relevan. Alkulturasi budaya tercipta sangat indah, beberapa pesan dakwah pun disampaikan dengan penuh estetika melalui bermacam - macam media budaya. Salah satunya bisa kita temukan pada tradisi Megengan yang memiliki banyak makna tersirat.


“Allahumma Barik lana fi Rojaba wa Sya’bana wa Ballighna Ramadhana” kalimat tersebut akan semakin ramai didengungkan melalui corong langgar (masjid) di desa - desa. Sekaligus menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadhan sudah dekat. Suka cita masyarakat pun lebih semarak kususnya di minggu terakir bulan Ruwah (Sya’ban). Ada sebuah tradisi yang dilakukan khusus untuk menyambut kedatangan wulan poso (bulan puasa). Orang jawa menyebutnya dengan “Megengan”. Ini juga dilakukan di desa saya Dusun Ngembong, Kabuten Tulungagung, Jawa Timur bagian selatan.

Foto Berkat
 Setiap keluarga, khususnya ibu - ibu akan disibukkan dengan aktifitas masak - memasak. Mereka harus mempersiapkan “berkat” untuk dibagikan kepada tetangga. Berkat adalah sebutan untuk satu paket makanan yang terdiri dari nasi dan lauk pauk serta dilengkapi dengan jajanan tradisional. Tidak ada ketentuan khusus dalam pembuatan berkat. Namun sebagian orang jawa tetap menjaga beberapa yang khas. Misalnya seperti kue “apem” yang selalu ada di setiap berkat. Kue apem ini memiliki filosofi yang dalam, secara subtansi bisa diartikan sebagai simbol permintaan maaf. Tidak hanya apem jika mau mempelajari, setiap detail makanan dan jajanan dari berkat sebenarnya adalah sebuah simbol yang memiliki makna khusus.
Foto Kue Apem
Dulunya berkat berawal dari sesajen yang ditujukan sebagai perlengkapan pemujaan, dan sesajen tidak boleh dimakan. Karena tidak sesuai ajaran Islam maka dirubahlah sesajen tersebut menjadi berkat yang digunakan untuk media sodaqoh dan orang boleh memakanya. Kata berkat yang mengandung makna barokah memang diharapkan dapat menjadi barokah bagi siapa saja yang membuat maupun memakannya. Inilah bukti bahwa Islam datang bukan untuk menghapus melainkan untuk menyempurnakan yang sudah ada.

Sejarah awal dimulainya tradisi megengan secara pasti memang sulit ditelusuri. Namun dugaan kuat memang berasal dari hasil pemikiran Sunan Kalijaga. Seorang wali yang terkenal memiliki kecerdasan dan kreatifitas tinggi dibidang kesenian  dan kebudayaan. Sunan Kalijaga banyak memberikan terobosan dalam memperkenalkan Islam. Produk kreatifitasnya seperti wayang kulit, aneka tembang bernuansa petuah, dan alkulturasi budaya seperti kasus berkat diatas telah melekat di hati rakyat hingga kini.

Jadi Megengan adalah tradisi untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Istilah megengan secara bahasa memiliki arti “menahan”. Kata menahan erat kaitannya dengan puasa, bahkan bisa dibilang sebagai pelajaran inti dari puasa itu sendiri. Secara tersirat ini juga pesan sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam menjalani salah satu rukun islam. Tradisi semacam ini mungkin sulit ditemukan di daerah lain, karena sifatnya yang lebih kedaerahan. Megengan menjadi ciri khas muslim di Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada Islam.

Apakah perintah langsung megengan ada dalam Islam ?, Tentu saja tidak. Tapi perintah untuk saling berbagi (sodaqoh), menjaga silaturahmi, dan melakukan dzikir atau doa banyak dicontohkan dalam Islam. Megengan ini adalah bentuk dari penerapan nilai - nilai islam tersebut yang dikemas dalam sebuh tradisi dengan nama megengan.


Setiap daerah memiliki tatacara sendiri dalam pelaksanaan megengan. Di desa saya megengan dilakukan dengan tiga cara. Pertama dilakukan secara individu, jadi setiap keluarga membuat berkat, sebelum dibagikan berkat - berkat itu didoakan. Doa ditujukan untuk diri sendiri dan juga untuk para luluhur. Kemudian berkat di bagikan kepada para tetangga untuk dimakan. Kegiatan semacam ini tampak seperti saling tukar menukar berkat. Selama sepuluh hari berturut – turut itu bisa dibilang hari berkat nasional. Berkat akan berdatangan silih berganti, bahkan terkadang ada jadwal yang ditentukan. Pelaksanaan yang kedua hampir mirip cara pertama. Bedanya pihak tuan rumah mengundang tetangga terdekat untuk datang ke rumah. Seperti halnya pada selametan, dalam megengan ini juga dilakukan doa bersama. Yang ketiga adalah dilaukan secara berjamaah atau secara masal. Dengan membawa berkat semua warga akan berbondong - bondong memenuhi langgar (masjid). Kemudian melakukan doa bersama yang dipimpin oleh kiai (pemuka agama). Acara berlanjut dengan saling tukar menukar berkat. Puncak dari tradisi megengan ini adalah melakukan nyekar. Nyekar adalah istilah ziarah kubur dalam bahasa Jawa. Nyekar akan ramai saat dua hari sebelum puasa.

Dari tradisi megengan banyak pelajaran yang dapat dipetik. Yang utama tentu ajakan untuk mempelajari dan menerapkan esensi dari dilakukannya puasa, yaitu sikap megeng (menahan sagala keburukan). Kita juga bisa mengambil hikmah lain dari proses tradisi ini. Tentang silaturahmi yang menghasilkan hubungan sosial masyarakat yang harmonis, tentang sikap teguh menjaga warisan budaya dan tentang menghormati jasa para leluhur melalui doa - doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara sederhana dengan melakukan megengan ini maka kita diajak untuk menerapkan nilai - nilai dalam Islam melalui bentuk tradisi lokal. Yang pasti megengan memiliki manfaat bagi diri sendiri, bagi orang lain dan bahkan memiliki manfaat bagi orang yang sudah meninggal. Itulah potret kecil dari kehidupan sosial dimasyarakat pedesaan menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Share: