Akhir Tahun di Pantai Goa Cina


Suatau hari di Bulan Desember seorang sahabat menghubungi saya. Lewat percakapan pesan singkat, ia mengutarakan keinginannya untuk berkunjung ke Malang Selatan. Sebagai seorang pendatang, ia tertarik untuk mengenal tempat wisata di sekitarnya. Lantas meminta saya menemani kunjungan perdananya tersebut.

Kami sepakat memilih penghujung akhir tahun sebagai waktu berkunjung (31/12/2017). Dengan konsekuensi mungkin terkena imbas macet panjang. Tidak ada perencanaan yang matang. Semua mengalir begitu saja. Bahkan tujuaan perjalanan ini belum ditentukan ketika akan berangkat. 

“Yang penting pantai, Kamu yang lebih tahu”, ucapnya pada saya  pagi itu. Seketika saya dipaksa menentukan. Tidak mudah, mengingat ini pengalaman pertamanya. Jadi pilihannya harus yang terbaik.

Malang selatan memang dikenal memiliki garis pantai yang panjang. Dari barat ke timur ada sekitar seratusan pantai – pantai ternama. Dan tentu saja belum semua sempat saya singgahi. Hanya empat pantai saja yang sudah, itu adalah Pantai Balekambang, Pantai Nganteb, Pantai Gatra dan PantaiTiga Warna.

Cukup lama saya berjibaku dengan ponsel. Mencari referensi yang paling cocok. Memilih satu dari sekian banyak daftar pantai yang semuanya menarik. Dari sekian banyak pantai yang ada, pilihannya jatuh pada pantai Goa Cina. Ini juga akan menjadi pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di pantai itu.

Pukul 9 pagi kami berangkat dari pusat kota. Mengambil rute Gadang, Bululawang  dan Gondanglegi. Dengan tujuan akhir Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Benar saja efek libur akhir tahun membuat jalanan lebih padat. Beruntung kami menggunakan motor, sehingga cukup leluasa menembus riuhnya kendaraan.

Memasuki wilayah pegunungan, Jalannya semakin sempit dan berkelok - kelok. Bonus pemandangan alam hijau segera menyertai kami. Namun harus tetap waspada. Karena ada sebagian jalan curam yang menantang. Sesekali kami juga melintasi sungai berbatu dengan airnya yang jernih. Menembus hutan, dan menyaksikan langsung sawah berundak tersusun rapi.

Pemandangan Perbukitan di Sekitar JLS Malang
Hampir 2 jam lamanya kami menempuh perjalanan. Akhirnya sampai juga di Jalur Lintas Selatan (JLS) Malang. JLS adalah mega proyek yang akan menghubungkun semua kota yang ada di selatan Jawa. Di Kabupaten Malang sendiri sudah rampung sekitar 24 kilometer. Menghubungkan wilayah Balekambang dan Sendangbiru yang dulu aksesnya sangat sulit.

Hari sudah siang ketika kami melintasi JLS. Kami pun memutuskan menepi dari badan jalan. Pilihannya adalah sebuah warung sederhana. Menyantap nasi pecel menjadi ritual yang menyenangkan siang itu. Saat puncak libur seperti ini banyak dijumpai pedagang dadakan. Tidak hanya warung saja, pedagang buah dan sempol (cilok) juga turut memeriahkan pesta libur akhir tahun ini.
Suasana Jalur Lintas Selatan Malang 

Beranjak dari istirahat, perjalanan berlanjut. Motor kembali kami pacu melintasi bukit – bukit hijau nan eksotis. Sebelum sampai ke pantai Goa Cina ada lokasi pantai lain yang kami lewati. Jumlahnya cukup banyak. Diantaranya Pantai Nganteb, Pantai Ngudel, Pantai Batu Bengkung dan berlanjut melewati jembatan lengkung bajul mati yang terkenal itu.

Pukul 11.27 kami tiba di Dusun Tumpak Awu, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang (Jawa Timur). Lokasi dimana Pantai Goa Cina berada. Sebuah gapura besar berarsitektur cina di seberang jalan menjadi petunjuk yang jelas. Dari gapura tersebut masih ada 1,4 km jalan yang harus ditempuh. Sebagian besar sudah beraspal, hanya saja masih ada sebagian lagi yang berupa makadam.

Memasuki pos, motor kami diberhentikan. Dari bilik loket petugas mengeluarkan tiga lembar karcis masuk. Semuanya harus ditebus dengan uang tiga puluh ribu rupiah. Dengan rincian karcis masuk seharga Rp.10.000,- per orang dan uang parkir sebesar Rp.10.000,- per motor. Disisi lain kami melihat antrian motor dan mobil pribadi yang mengular.

Mengapa dinamai pantai Goa Cina ?
Ini mungkin sedikit aneh. Mengingat lokasinya berada di Malang. Nama tempat ini sebenarnya adalah pantai “Rowo Indah”. Ceritanya bermula pada tahun 1950-an. Ada seorang biksu (etnis cina) yang bertapa di sebuah goa di sekitar pantai tersebut. Kemudian ia meninggal tanpa diketahui penyebabnya. Ketika ditemukan, yang tersisa hanya tulang belulangnya saja, dengan sebuah mangkok dan tulisan mandarin di langit - langit goa. Hingga akhirnya goa tersebut dikenal dengan sebutan Goa Cina. Nama “Goa Cina” pun lebih populer dan menggeser nama pantai “Rowo Indah”.


Untuk masuk ke dalam goa, pengunjung harus menaiki tangga terlebih dulu

Petualangan sebenarnya baru dimulai. Dari pintu parkir kami bergegas keluar. Mengikuti jalan yang membawa kami tepat disebelah bukit. Riuh orang mengantri sudah memenuhi bagian tangga bukit tersebut. Mereka rela berdesakan demi melihat rupa goa diatas sana.

Pantai Goa Cina memiliki garis pantai sepanjang 800 meter. Saya membaginya menjadi dua, bagian barat dan timur. Keduanya dipisahkan oleh sebuah bukit karang yang menjorok ke laut. Jika dilihat dari atas (google maps) bukit tersebut seperti tepat berada di tengah lokasi pantai. Di atas bukit itulah lokasi goa cina berada. Bukit ini sebenarnya adalah sebuah pulau yang letaknya sangat dekat dengan daratan.

Area untuk mendirikan tenda terasa nyaman karena dinaungi pepohonan 

Meski matahari sedang berada dipuncaknya. Suasana teduh nan nyaman menjadi kesan pertama kami. Itu karena adanya pohon – pohon besar yang menaungi area pantai. Di bawah pohon tersebut pengunjung memanfaatkannya untuk bersantai dengan menggelar tikar. Ada juga yang mendirikan tenda. Seseorang menawarkan harga sewa tenda Rp. 150.000,- per malam pada kami. Harganya mungkin lebih murah jika tidak bertepatan dengan libur akhir tahun.

Mengeksplorasi Bagian Barat
Kami kembali berjalan menuju sisi barat. Hamparan pasir putih memanjang sukses membius penglihatan kami. Seketika lelah karena perjalanan sirna begitu saja. Bagian pasir putihnya yang luas seakan cukup untuk menampung ledakan pengunjung kala itu.

Air lautnya bening, dengan warna hijau toska menawan. Namun jika siang datang, kondisinya berubah. Air menjadi pasang, lebih tinggi dari kondisi waktu pagi. Seperti ciri khas pantai selatan lainnya, ombak disini sangat besar. Papan pengumuman dilarang berenang ditempel di beberapa sudut. Meskipun begitu banyak yang nekat melanggar.

Tidak henti - hentinya saya berdecak kagum. Pantai ini seperti indah dilihat dari sisi manapun. Sayangnya siang itu langit berubah gelap. Hujan turun dan memaksa kami berteduh di gubuk beratap daun itu.

Sisi bagian barat Pantai Goa Cina kala siang hari saat mendung 
Pemandangan salah satu bukit di Pinggir Pantai ( Bagian Barat Pantai Goa Cina )
Meskipun hujan, hasrat untuk menikmati pantai tetap membara
Foto diambil dari ujung barat pantai Goa Cina
Tebing di sisi paling barat pantai Goa Cina berbatasan langsung dengan pantai Watu Leter

Karena semakin deras, kami pun segera beralih. Tidak jauh dari pantai terdapat warung - warung berjajar rapi. Di situlah kami melanjutkan berteduh. Suasana santai sangat terasa, mungkin karena adanya kepulan asap ikan bakar yang nikmat itu. Akhirnya kami memilih bercengkrama dan menyeruput secangkir kopi sembari menunggu hujan reda. 

Tidak hanya warung, disini juga tersedia fasilitas yang lengkap. Seperti toilet umum, camping ground, dan tentunya mushola (tempat ibadah).

Pukul 2 siang hujan berhenti. Meskipun masih sedikit mendung, tapi tidak menyurutkan semangat kami. Eksplorasi kembali berlanjut. Disekitar pantai kami menemui aneka hewan laut. Sementar melongok keatas terlihat bukit karang hijau dengan gubuk dibawahnya cukup menarik untuk difoto. Kabarnya karena keindahannya inilah, lokasi ini sering digunakan sebagai spot foto pernikahan.

Blusukan di Atas Bukit
Kami menyusuri setiap jengkal pasir putihnya yang panjang itu. Di ujung barat ini kami mendapati sebuah jalan setapak menuju bukit. Dari  depan tampak bagus, dengan pavingnya menembus rerimbunan pohon. Rasa penasaran kami samakin memuncak. Satu persatu anak tangga kami lewati. Sayangnya fasilitas jalan berpaving belum selesai sampai diatas. Masih ada separo lebih yang berupa tanah. 


Sisa hujan beberapa menit yang lalu membuat jalan menjadi licin. Tantangannya bertambah dengan kemiringan jalan. Malah dibeberapa bagian terlihat sangat vertikal. Salah sedikit bisa terpeleset. Yang lebih berbahaya adalah batu - batu tumpul disekitar jalan kecil tersebut.

Karena nekat salah satu dari kami terpeleset hingga dua kali. Beruntung tidak terjadi masalah serius. Hanya saja celana bagian atas dipenuhi tanah lumpur. Untuk melanjutkan saya melepas alas kaki. Kemudian aktif mencari pegangan batang pohon untuk samapai keatas. Tentu jika tidak hujan tidak akan sesulit ini.

Panorama Pantai Goa Cina dari Ketinggian 

Belum sampai di puncak saya menengok kearah timur. Sungguh tidak sia - sia perjalanan ini. Sisi lain pantai goa cina kami dapati dari ketinggian. Dari celah dedaunan pemandangan pantai seakan bertambah indah berkali - kali lipat. Dari atas bukit ini pula kami tahu, bahwa kami berdiri diatas perbatasan antara pantai goa cina dan pantai watu leter. Pantai watu leter pun juga terlihat mengagumkan dari atas sini.
   
Menjelajahi Sisi sebelah Timur
Selepas naik bukit kami segera turun. Kemudian napak tilas dengan jejak kami sebelumnya. Sisi sebelah timur belum kami jamah. Sementara waktu berlalu begitu cepatnya.

Mengambil posisi start dari bukit goa cina, kami menelusuri setiap jengkal sisi timur ini. 

Panoramanya berbeda dengan sisi sebelah barat. Bebatuan eksotis lebih mendominasi mata pandang. Batu - batu karang tersebut menjadi pembatas antara daratan dan lautan. Sebagian besar berwarna coklat dan hijau lumut. Ukurannya bervariasi, bentuknya pun unik. Terdapat juga lubang - lubang di bebatuan karang yang dimanfaatkan anak - anak untuk bermain.

Memandangi pulau karang bersama pasangan
Seorang anak bermain - main dengan bebatuan karang
Fokus pada ombak yang lebih mirip Tsunami 

Menariknya di depan pantai kita bisa menyaksikan panorama pulau - pulau karang. Ya ada beberapa pulau dan batu karang besar yang letaknya cukup dekat dengan pantai. Yang terbesar adalah Pulau Goa Cina, Pulau Bantengan dan Pulau Nyonya. Semuanya di tumbuhi pepohonan hijau yang lebat.

Suara gemuruh ombak terdengar hampir setiap waktu. Itu kareana pengaruh arus gelombang yang bertemu dari arah timur, barat, dan selatan. Arus gelombang tersebut saling menghantam diantara Pulau Bantengan dan Pulau Nyonya. Semakin sore suara gelombang yang dihasilkan semakin keras. Maka tidak heran jika tidak ada prahu nelayan bersliweran di area tersebut.

Jika sahabat punya waktu luang, sangat disarankan untuk bisa menginap. Kabarnya, meskipun berada di selatan, dari Pantai Goa Cina kita dapat melihat keindahan matahari terbit. Bermalam diatas pasir dengan suara gemuruh ombak akan menjadi pengalaman menarik. Satu lagi, jika hari masih pagi air biasanya surut. Jadi bisa menyebrang ke pulau - pulau terdekat. Kemudian menikmati jernihnya air bersama awan biru cerah.

Menikmati Pantai Goa Cina dari Balik Pepohonan

Karena hari semakin sore, kami pun kembali keatas. Duduk sejenak diatas bangunan semen yang memanjang di tepian pantai. Sambil mengamati luasnya bagian timur pantai. Dari jauh terlihat dominasi batuan karang sedikit berkurang. Ya hari ini kami belum selesai menyentuh ujung paling timur pantai goa cina. Lain waktu kami pasti kembali, dengan persiapan yang lebih matang.

Tempat bersantai paling nyaman, duduk dan memandangi deburan ombak selatan

Ada satu hal yang membuat kami tidak nyaman. Masih saja kami dapati sampah dan sisa makanan yang mengganggu dibeberapa titik. Secuil harapan dari kami untuk ciptaan indah Tuhan yang satu ini. Semoga lebih banyak lagi orang yang sadar akan kebersihan. Tidak hanya datang untuk bersenang - senang, tapi bertanggung jawab dengan menjaga kelestarian alam. Terakir, kami mengajak siapa saja untuk membuang sampah pada tempatnya. Dimanapun dan kapanpun.








Share: