Showing posts with label BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA. Show all posts

Thursday, October 20, 2016

Jajanan Tradisonal Legendaris Khas Tulungagung

Membahas keanekaragaman budaya di bumi Nusantara ini memang selalu asik untuk diselami. Budaya selalu memberikan warna tersendiri bagi kehidupan masyarakat di suatu tempat. Mulai dari norma, bahasa, kesenian, hingga sampai pada hal - hal terkecil seperti kuliner. Bicara tentang kuliner tradisonal, kami akan mengajak sahabat pembaca untuk mengenal uniknya jajanan atau kue tradisonal Jawa khususnya yang berada di daerah pedesaan Tulungagung dan Trenggalek (Jawa Timur). Mengapa legendaris ?, jajanan tradisonal ini sudah ada sejak berabad - abad lamanya seiring dengan kehidupan masyrakat jawa pada jaman dulu. Jajanan ini tidak pernah absen ketika ada upacara selamatan yang selalu rutin dilakukan masyarakat jawa sebagai bentuk rasa syukur atas kehidupan. Sebagian orang yang jauh dari kampung halaman pasti banyak yang merindukan entah itu karena rasanya atau mungkin kenangannya. Yang jelas jajanan tersebut masih eksis hingga kini, meskipun sudah berkali – kali dimodifikasi namun ciri khasnya yang unik selalu dipertahankan.

Lalu apa saja yang termasuk jajanan tradisonal tersebut ?

Orang – orang di desa saya sering menyebutnya dengan “Jajan Slametan” , ada banyak jenis dan macamnya diatara yang paling populer adalah apem, jadah, lemper, lemet, lumpur, lumpia, roti gulung, mendut, bikang, dadar gulung, pipis, kaulin, lapis, salak, onde – onde, tahu isi, Cucur, gedang goreng. 
Jajan Slametan
Jajanan Tradisional
Sebenarnya masih banyak lagi jenis dan macamnya mulai dari yang masnis - manis hingga yang gurih menggoda. Kebanyakan dari kue tersebut merupakan jenis kue basah sehingga produksinya terbatas. Proses pembuatannya biasa dilakukan di rumah salah satu keluarga hajatan oleh ibu – ibu secara berjamaah, kegiatan ini biasa disebut dengan “rewang”. Dari rewang ini dihasilkan aneka macam kue / jajanan slametan. Berikut ini sebagaian kecil ulasanya :

#Apem adalah salah satu jajanan tradisional yang dianggap banyak orang memiliki filosofi mendalam. Kata apem diambil dari bahasa arap yang memiliki makna memaafkan. Oleh karena itu hampir bisa dipastikan apem tidak pernah absen pada saat jamuan upacara slametan atau tahlilan. Jajanan yang terbuat dari bahan tepung beras ini memiliki rasa manis dan sedikit asam dengan warna yang ngejreng. 
Kue Apem Khas Tulungagung

#Mendut Jajanan ini terkenal super jadul dengan ciri khas daun pisang sebagai pembungkusnya yang berbentuk persegi. Terdiri dari dua bagian, yaitu bagian luar atau pembungkus yang memiliki tekstur lengket yang dikombinasi dengan kinco manis (parutan kelapa dan gula merah) didalamnya. 
Jajanan Tradisional Jawa
Penampakan Mendut 
#Bikang adalah salah satu kue tradisional jawa yang memiliki bentuk unik. Anak - anak yang iseng sering menyebutnya dengan "bol jaran" atau dalam bahasa indonesia berarti pantat kuda. Rasnya manis dengan bagian belakang agak keras menyerupai pantat kuda.
Jajanan Tradsional Jawa Timur
Bikang Tampak dari Atas

#Lemet merupakan jajanan tradisonal yang berwarna putih pada bagan kulitnya dengan pisang manis di dalamnya. Dengan dibungkus daun pisang berbentuk persegi panjang jajanan yang satu ini menawarkan rasa gurih dan manis.
Penampilan Lemper

#Lemper memiliki ciri kusus yaitu memiliki isi berupa serondeng (patutan kelapa gurih) atau abon. Sedangkan bagian luarnya adalah ketan yang berbentuk seperti nasi. Penyajiannya menggunakan daun pisang yang dikukus.


#Dadar Gulung tampil sebagai makanan tradisional yang memiliki rasa manis dengan kinco didalmnya. Penyajianya memang digulung pada kulitnya.


Penyebutan atau penamaan jajanan diatas sangat mungkin berbeda karena keanekaragaman budaya yang kita miliki. Semoga ulasan jajanan Tradisional Jawa ini dapat memberikan kesan tersendiri pagi pembaca untuk lebih mengenal kuliner Nusantara. Tetap bangga dan selalu melestarikan kuliner Nusantara dimana pun dan Kapan Pun.
Share:

Sunday, August 21, 2016

Mengunjungi Kemeriahan Trenggalek Street Carnival, Event Terbesar Sepanjang Sejarah Trenggalek

Bulan Agustus nampaknya menjadi momen yang paling ditunggu oleh semua masyarakat Trenggalek. Ya, pada bulan tersebut terdapat dua hajat besar yaitu peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus hari jadi kota Trenggalek. Setiap tahunnya selalu diselenggarakan berbagai pesta rakyat dan kegiatan - kegiatan kusus yang menarik untuk dikunjungi. Tidak tanggung - tanggung agenda kegiatan biasanya berlangsung selama sebulan penuh. Mulai dari pawai budaya, gerak jalan, hingga berbagai lomba. Namun ada yang beda ditahun 2016 ini, acara yang diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Trenggalek ternyata malah semakin meriah, bahkan diklaim sebagai event terbesar sepanjang sejarah Trenggalek. 
Suasana kemeriahan TSC, di alun - alun Trenggalek
Dengan menggandeng Event Organizer ternama pemerintah Kabupaten Trenggalek serius menggarap acara rutin tahunan ini. Trenggalek Street Carnival (TSC) digelar selama 3 hari yaitu pada tanggal 19-21 Agustus 2016. Kemegahan acara tersebut ditunjukan dengan 3 panggung besar berkelas dan enam zona tempat yang membentang di jalan sepanjang 2,7 kilometer. Setiap Zona dilenkapi panggung berukuran sedang yang dibuat untuk berbagai pentas seni dan lomba. Ada Zona Religi, Zona Anak - Anak, Zona Tempo Dulu, Zona Teknologi, Zona UKM, dan Zona Modern.  Ratusan pelaku industri kreatif , beberapa komunitas, dan ribuan masyarakat sangat antusias menyambut digelarnya acara ini.
Masyarakat Trenggalek memadati jalan disepanjang TSC
Waktu saya datang malam itu, tepatnya hari kedua, berbagai komunitas sudah terlihat memenuhi jalan - jalan di TSC. Malah parahnya lagi ditambah dengan acara sepeda sehat yang ikut menambah sesak jalan. Berbagai penjual makanan unik nampak sibuk melayani pelangganya. Produk - produk kreatif khas Trenggalek pun tak kalah eksis, dengan kemasan yang lebih modern tak heran produk tersebut menarik perhatian kususnya anak muda.
Tampak anak - anak muda memenuhi stand yang menjual kaos khas Trenggalek
Produk - produk UKM andalan Trenggalek ikut meramaikan TSC
Tidak hanya bazar yang menjual produk, dibeberapa tempat panitia event juga menyediakan properti untuk berfoto selfi. Salah satu contohnya, balon raksasa berbentuk wayang yang dipasang disetiap zona. Ukuranya yang besar menjadi pusat perhatian para pengunjung. 
Balon Wayang di Trenggalek
Kemeriahan juga terlihat dipinggir alun-alun, yang diprovokatori para pemain gamelan. berjalan di event ini serasa tidak ada habisnya, bayangkan saja jarak yang kita tempuh sepanjang 2,7 kilo meter. Tapi kita juga bisa menikati perjalanan panjang tersebut denngan menggunakan transportasi becak murup yang siap melayani pengunjung.
Bermain Gamelan Khas Trenggalek
Puncaknya sebenarnya ada di dua tempat yang berbeda. Yang pertama berada di panggung besar stadion menaksopal dan yang kedua tentu saja di bundaran alun - alun Trenggalek. Sebuah panggung besar dengan penampilan band - band papan atas mencairkan malam di TSC.
Suasana di sekitar panggung Trenggalek Street Carnival
konsep (EXACT) Exhibition, Art and Community sangat kental kami rasakan. Intinya masyrakat dimanjakan dengan aktifitas belanja, menikmati hiburan dan berkumpul bersama komunitas. Dirgahayu Republik Indonesia dan salam sukses untuk hari jadi Kabupaten Trenggalek yang ke-822. 
Share:

Saturday, June 4, 2016

Tradisi Bersih Makam di Desa Bulus Menyambut Bulan Ramadhan



Setiap menjelang bulan suci Ramadhan ada suatu kegiatan khusus yang selalu rutin dilakukan oleh warga di Dusun Ngembong, Desa Bulus, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Para warga khususnya laki - laki berbondong - bondong mendatangi tempat makam. Mereka kerja bakti untuk membersihkan area makam dengan membawa seperangkat alat kerja bakti yang sudah dari awal sengaja dipersiapkan. Aura kebersamaan sangat terasa, kerukunan sudah menjadi darah daging ditengah kehidupan warga disana.


Memang sudah menjadi tradisi, ketika Ramadhan banyak orang berziarah ke Makam para leluhurnya. Tujuaannya tak lain adalah untuk menghormati dan kirim doa pada para leluhur tersebut. Untuk itu para warga dengan senang hati membersihkan makam, selain mempererat ikatan kekeluargaan kegiatan tersebut juga bermanfaat untuk kebersihan lingkungan.  





Share:

Monday, April 18, 2016

Nikmatnya Sarapan Pecel Punten dan Es Dawet khas Blitar

Pagi itu (8/04/2016) bertepatan dengan acara mudikku dari Malang menuju Tulungagung. Ya pagi pukul 8 aku memulai perjalanan dengan perut masih kenyang, karena memang kebiasaan tidak pernah mengenal yang namanya makan pagi. Mudik yang ku lakukan hanya seorang diri ini ternyata cukup menguras tenaga yang akirnya berimbas juga pada perut yang semakin menginginkan sarapan. Sementara jajaran warung di kanan dan kiri jalan terus saja menggoda dengan tampilan menu dan bahkan aroma yang semakin menggoyahkan iman. Memang sebenarnya mudah, tinggal berhenti lalu makan. Tapi bagiku memilih makan atau tempat makan tak sesederhana itu. Semua harus pas dan lolos standar uji, jangan salah seleraku soal rasa memang tinnggi. Paling tidak makanan dan tempat makan tersebut harus pas, maksudnya pas di lidah dan pas di kantong tentunya. Agar nantinya setelah makan tak hanya perut saja yang kenyang tapi hati pun juga riang.

Motor saat itu sudah menempuh hampir setengah dari perjelanan. Setelah melewati bendungan sutami tibalah saatnya memasuki daerah Blitar. Nah di Blitar ini, hatiku tergoda pada warung sederhana milik Mbak Mi. Tepatnya di Desa Mronjo, Kec. Selopuro atau di sekitar Jl. Raya Sumberaden. Dari bener penutup warung tertulis dengan jelas “Jenang dan Pecel Punten Mbak Mi“ ditambah dengan gambar pecel punten yang besar. Suasana ndeso yang khas dan menu tradisional yang langka aku kira layak untuk dicoba. Motor ku parkirkan tepat di depan warung, ku beranikan diri masuk warung kecil itu dengan rasa penasaran yang berlebihan. Pemilik warung ternyata seorang ibu muda yang ramah. Tanpa basa - basi langsung saja ku pesan menu yang menjadi andalan warung Mbak Mi ini, apa lagi kalau bukan pecel punten. Sedangkan untuk minum, aku lebih memilih es dawet yang segar menggelegar meskipun ada minuman es jenang yang lebih dulu populer. Sembari menunggu pesanan, ada beberapa jajanan yang juga masuk dalam katagori tradisional yang akirnya ku cicipi juga. Ada tape ketan dengan bungkus daun pisang hijau, ada juga beberapa gorengan seperti tahu isi dan ote – ote yang turut melengkapi acara sarapan pagi itu.
Tampilan semua makanan yang siap dimakan


Pecel Punten Khas Blitar


Hanya beberapa menit aku memesan, menu yang  menjadi idaman itu akirnya mendarat di meja makan. Satu porsi punten pecel tampak serasi berdampingan dengan satu mangkok es dawet yang segar. Oke kita mulai mencoba pecel puntennya, Ternyata isi dari porsi pecel punten tersebut adalah punten, capar (tauge), sayuran, tangkai bunga turi, ada tahu dan rempeyek udang dan sebagai penutupnya sambal pecel yang sangat terasa kacangnya. Punten sebagai pengganti nasi ini diptong kotak - kotak kecil mirip lontong, namun tekstur dan rasanya punya ciri khas tersendiri. Warnanya putih, teksturnya sedikit lengket dan rasanya gurih dengan sedikit asin. Jika dipadukan dengan sayur dan bumbu pecel nikmatnya meningkat berlipat – lipat. 

Satu bungkus rempeyek 

Untuk melengkapi kenikmatan pecel punten, kita bisa menambah satu bungkus rempeyek udang  lagi yang dijual terpisah. Semua rasa berbaur menjadi satu punten yang asin gurih, sayuran dan tauge yang segar, peyek udang yang renyah serta sambel pecel yang pedas manis berkolaborasi menjadi satu porsi pecel punten yang sempurna. 

Es Dawet penggoda iman

Puas dengan makan, selanjutnya berganti dengan minuman es dawet yang manis dan super seger. Es dawet ini menggunakan pemanis dan pewarna alami, gula aren yang berwarna coklat kemerahan membuat rasa dan tampilan kuah es dawet menjadi lebih greget. Rasa santan kelapa yang kuat turut mendominasi, ditambah lagi dengan butiran cendol kecil yang pas. Kesan manis alami dan aroma santan kelapa menjadikan minuman ini layak untuk melepas dahaga di pagi yang cerah itu.

Harga dari keseluruhan yang ku makan mulai dari satu porsi pecel punten, es dawet, satu bungkus rempeyek tambahan, tape ketan, dan beberapa gorengan hanya Rp.15.000,- saja. Murah dan cukup membuatku merasa puas. Menikmati makanan tradisional selalu memberikan kesan yang tak terlupakan. Terkadang meenjadi kenangan dan tak jarang momennya akan selalu dirindukan para pecintanya. Tetap lestarikan terus makanan tradisional, dan nikmatilah kelezatan cita rasa Nusantara.


Share:

Friday, March 4, 2016

Manisnya Cenil & Klepon Khas Trenggalek


Mengunjungi Trenggalek kurang lengkap rasanya kalau belum mencicipi legitnya Cenil dan Klepon. Jajanan legendaris yang identik dengan tempo dulu ini ternyata masih eksis hingga sekarang. Dengan bentuknya yang unik serta rasa manis yang kas jajanan ini selalu tampil memikat pecintanya. Tak perlu menunggu festifal makanan tempo dulu atau festival kuliner, untuk menikmatinya pun anda bisa cukup mudah mendapatkanya di lapak sederhana berlabel “Cenil Family ”. Lokasinya yang  berada tepat di sisi jalan sekitar perempatan Bendo, Kec. Pogalan, Kab. Trenggalek sangat mudah untuk anda temukan. Buka mulai pukul 16.00 WIB, jajanan tradisional ini selalu laris manis diserbu pembeli.  Ketika datang kesana, anda akan disambut ramah oleh mbak-mbak cantik yanp sibuk meracik pesanan dengan suasana antri dari para pelanggan. Anda bisa menikmatinya langsung ditempat dengan suasana lesehan sederhana maupun disantap dirumah bersama keluarga.

Di dalam bungkus cenil sederhana itu kita akan menjumpai warna – warni makanan yang menggoda iman. Bentuknya kecil mungil, bertekstur kenyal dengan toping parutan kelapa dan sebagai penyempurnanya ditamabah cairan manis dari gula merah. Pokonya super top markotop, pas di lidah pas di hati. 

Sementara untuk klepon, warnanya hijau, berbentuk bulat kecil mirip onde-onde, bertekstur kenyal, dilengkapi dengan parutan kelapa dan ketika digigit anda akan menemukan manisnya gula aren didalamnya.

Dengan harga Rp.2500  untuk satu porsi cenil campur dan Rp.1000 untuk empat butir klepon, jajanan yang satu ini mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Meskipun tergolong murah meriah namun soal rasa tidak pernah kalah dengan jajanan moderen yang ada sekarang. Selain ikut melestarikan kuliner nusantara menikmati kesederhanaan cenil dan klepon ini akan membawa kita pada suasana nostalgia  yang menyenangkan.  Selamat mencoba ……..




Share:

Friday, December 25, 2015

Tradisi Muludan di Dusun Ngembong

Suasana hangat di halaman Kepala Desa
Muludan adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Nusantara untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhamad SAW. Tentu keegembiraan dalam meyambut kelahiran pemimpin besar umat islam ini juga dilakukan diseluruh dunia dengan berbagai bentuk kebuayaan. Tradisi ini mempunyai banyak versi dalam penyebutannya di berbagai daerah, misal di Jawa sering disebut “mulud” yang diambil dari nama bulan mulud pada kalender jawa dan kata “maulid” yang mempunyai arti hari kelahiran. Sehingga tradisi ini dinamai muludan, namun kebanyakan orang jawa melafalkanya dengan kata “mulutan” karena lebih mudah dalam penyebutannya.

Foto Kepala Desa Bulus menyambut warga
Setiap satu tahun sekali warga Dusun Ngembong selalu rutin mengadakan tradisi mulutan. Daerah  pedesaan yang terletak di Ds. Bulus Kec. Bandung Kab. Tulungagung Jatim ini masih memegang teguhtradisi mulutan dengan baik. Hari ini tepat pada malam 12 Rabiul Awal 1437 atau 23 Desember 2015 Hijiriyah tradisi ini kembali dihadirkan dengan suasana yang selau dirindukan. Masyarakat satu dusun berbondong – bondong menuju halaman rumah kepala desa dimana acara akan digelar di tempat tersebut. Kehidupan sosial yang dibungkus dengan balutan budaya dan agama menjadi alkulturasi indah yang sulit ditemukan di daerah perkotaan.Kegiatan berkumpul bersama merupakan ciri kas dari keharmonisan warga desa. Mereka membawa “ambeng” atau makanan kas berupa lodho dengan pasanganya sego gureh (sekul suci ulam sari). Makanan kas berupa ayam kampung yang dimasak utuh dan Nasi yang dimasak dengan bumbu rempah kusus yang hanya dibuat setiap acara – acara penting di jawa.

Foto warga dari sisi timur tempat acara
Foto salah satu warga meletakan ambeng
Ayam lodho untuk dimasukan dalam ambeng

Di tempat ini muludan dilakukan dengan kegiatan berzikir, doa dan pembacaan kitab maulid Al-Barzanji. Pembacaan Kitab Al-Barzanji atau yang sering disebut dengan “berjanjen” tersebut bertujuan untuk menghadirkan kembali kegembiraan atas lahirnya Nabi muhammad SAW melalui bait – bait syair sejarah yang indah. Dengan mengenal sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, diharapkan kita mampu meneladani akhlak Beliau. Ada sesi “srakal”, sesi dimana para warga berdiri serentak dan melakukan shalawat dengan suasana hening dan haru layaknya acara tersebut dihadiri oleh Nabi Muhammad SAW.

Foto beberapa warga yang berada dipinggir jalan karena tempat acara yang penuh
Kemeriahan warga yang harmonis
Acara diakiri dengan doa yang dipimpin langsungoleh pemuka agama dengan suasana yang kusuk. Ambeng atau makanan yang dibawa dari rumah dan sudah didoakan akirnya dibawa pulang kembali untuk dimakan bersama keluarga di rumah masing - masing. Sehingga berkah muludan ini dapat dirasakan seluruh warga mulai dari anak – anak , pemuda dan orang tua. Acara peringatan maulid Nabi ini akan terus berlanjut dengan acara – acara lain sebagai bentuk kegembiraan warga. Semoga dengan diadakannya tradisi semacam ini semakin membangkitkan cinta kita kepada pemimpin besar Nabi Muhammad SAW.
Share:

Tuesday, July 28, 2015

Ngumbolne Balon Saat Hari Raya





Ngumbolne Balon adalah kegiatan khusus untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Di Dusun Ngembong tradisi ini dilakukan sesudah solat idul fitri dan juga pada hari raya kupatan (hari ke 7 bulan syawal). Tradidi Ngumbolne Balon (Menerbangkan Balon) dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Entah bagaimana sejarahnya, yang pasti kreatifitas anak - anak muda desa ini selalau ada setiap tahunya. 



Balon yang dibuat biasanya berukuran besar, pada gambar ini balon yang dibuat mempunyai tinggi sampai 18 meter. Untuk dapat menerbangkan balon ini dibutuhkan udara panas, di desa-desa udara panas diperoleh dari pembakaran blarak (daun kelapa kering). 


Ngumbolne Balon biasa dilakukan di depan halaman masjid atau tanah yang lapang. Masyarakat  pun selalau antusias menyambut tradisi ini. Mereka menjadikan tradisi ini sebuah hiburan sekaligus sarana silaturahmi menjalin keakraban sesama warga desa. Karena ketika hari raya banyak sanak saudra yang merantau kembali pulang untuk melepas rindu.


Share:

Sunday, June 28, 2015

Berburu Bubur Suruh kala Ramadan

Warga Kelurhan Kutorejo Kabupaten Tuban punya tradisi kusus di Bulan Ramadan. Yaitu berbagi bubur suruh. Menurut cerita, tradisi ini sudah ada sejak kepemimpinan Sunan Bonang. Kala itu santrinya diminta membuat bubur untuk dibagikan kepada jamaah sebagai menu berbuka. Sampai sekarang kegiatan itu masih berlangsung.

Ramadan waktu itu kami berada di Tuban (26/6/15). Sedang magang kerja di salah satu industri semen. Kami mendapat info dari warga sekitar tentang tradisi unik yang ada di area Makam Sunan Bonang. Sebuah tradisi yang hanya ada ketika Ramadhan. Rasa penasaran pun memuncak, kami memutuskan untuk datang langsung ke lokasi. Menempuh perjalanan sekitar 20 Km atau setengah jam dari lokasi kami. 

Akirnya kami sampai di Halaman depan Masjid Astana, Masjid Kuno di area makam Sunan Bonang yang menjadi tempat pembuatan dan pembagian bubur suruh itu. Banyak warga terutama anak – anak sukaria mengantri bubur suruh. Rasa penesaran kami akirnya terobati. Seorang laki - laki ramah (50) mempersilahkan kami mengambil bubur suruh yang sudah disiapkan di bawah pendopo. 


Untuk membuat bubur suruh yang melegenda itu dibutuhkan bumbu kusus. Bumbu tesebut merupakan bumbu gulai ala Timur Tengah dengan tambahan daging dan tulang sapi. Menurut juru masak bubur suruh, Bumbu rempah-rempah yang digunakan terdiri dari santan, daging dan tulang sapi, garam, bawang merah, bawang putih, merica, ketumbar dan rempah-rempah. Sedankan bahan pokoknya adalah beras ketan. 

Prosesnya, awalnya disiapkan wajan tembaga, yang digunakan untuk memasak air. Sebelum air mendidih, mulai dimasukkan daging dan tulang sapi yang telah disiapkan. Bahan yang adapun diaduk, selanjutnya dimasukkan bawang merah yang sudah diiris-iris, termasuk santan. Baru setelah mendidih, bumbu gulai dituangkan. Karena aromanya mirip Suruh itulah, kemudian bubur ini disebut Bubur Suruh," papar salah seorang warga sekitar. Namun ada versi lain dalam penamaan bubur suruh ini, ada yang mengatakan penamaan bubur suruh karena pembagiannya dilakukan saat sore hari atau dalam bahasa jawa disebut “surup” dan lama kelamaan ejaannya menjadi “suruh”. Entah mana yang benar namun yang pasti bubur suruh memang lezat dengan aroma rempahnya yang kuat. 



Kami buka bersama warga sekitar di emper masjid dengan manyantab bubur yang aromanya sangat menggoda itu. Tentu bubur ini rasanya sangat beda dengan bubur pada umumnya. Warnanya kuning kecoklatan sepintas mirip bubur jagung, ada rasa gurih, sdikit asin, pedas ala masakan india atau timur tengah.  Bumbunya terasa seperti kari, gule, atau masakan berkuah santan lainya. Teksturnya lembut agak sedikit lengket khas bubur pada umumnya, namun aromanya memang kuat dengan rempah – rempah asli nusantara. Sebagai tambahan berbuka kami mendapat beberapa potong buah pisang, air mineral, serta kopi hangat yang sangat nikmat.

Itulah secuil cerita Ramadhan kami di Bumi Wali. Menikmati tradisi yang menjadi ciri khusus suatu daerah. Sungguh Ramadhan selalu datang penuh berkah. 
Share: