Menjelajah Pulau Menjangan (Taman Nasional Bali Barat)


Berangkat dari Kota dingin Malang kami bergegas melakukan perjalanan tengah malam. Tujuan kami sementara adalah sampai di ujung pulau Jawa, sebelum menjelajahi pulau - pulau di selat Bali. Jalur pantura malam itu cukup ramai dengan lalu lalang kendaraan dan truk - truk besar. Wajar saja karena bertepatan dengan hari libur akhir pekan. Beruntung kendaraan yang kami tumpangi cukup nyaman untuk dijadikan tempat istirahat berjalan. Dengan jam terbang cukup tinggi pak sopir sangat handal menaklukan jalanan pantai utara jawa timur itu. Satu persatu kota terlewati dengan mulus. Beberapa jam kemudian kami sempat melihat riuhnya lampu - lampu pabrik. Oh ternyata itu adalah aktifitas PLTU Paiton, pembangkit listrik terbesar di Jawa. Sesekali melewati perkampungan dan kota - kota kecil, tapi tak jarang juga melintasi hutan yang minim penerangan. Sebelum subuh datang kami sempat untuk beristirahat di SPBU daerah Bondowoso. Setengah jam kemudian perjalanan dilanjutkan. Memasuki jalanan di sekitar hutan Taman Nasional Baluran kendaraan yang kami tumpangi sering bergetar hebat karena kondisi jalan yang banyak berlubang.

Singgah di Pantai Grand Watu Dodol Banyuwangi
Di bawah rintik hujan tipis akhirnya ujung Pulau Jawa berhasil kami tempuh. Grand Watu Dodol (GWD) adalah nama pantai yang terletak di di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi menjadi  kami transit pagi itu. Mas Lutfi (koordinator ekspedisi) langsung menghubungi salah seorang petugas yang akan mempersiapkan semua perlengkapan kami. Beberapa menit kemudian kami dipersilahkan menunggu sembari mempesiapkan keperluan yang akan kami bawa. 




Meskipun gerimis GWD pagi itu sudah ramai dengan konser mini dari event komunitas. Tidak hanya sembagai tempat transit, GWD ternyata juga asik untuk dinikmati. Pohon - pohon kelapa yang menjulang tinggi begitu apik berbaris. Yang khas di GWD ini adalah adanya jembatan kayu yang terhubung dengan gazebo berdesain unik. Di tengah jembatan kayu yang lebih mirip panggung tersebut di biarkan pohon kelapa tumbuh bebas. Alami dan terkesan romantis. GWD juga terkenal dengan penangkaran hiu-nya. Makan pagi tarasa sangat nikmat pagi itu. Kami lebih memilih asik bercengkrama untuk menunggu prahu yang kami tumpangi datang. Paket perjalanan yang ditawarkan cukup lengkap mulai dari bekal makanan, alat snorkeling sekaligus trasportasi prahu menuju pulau menjangan. Di tepi pantai yang didominasi dengan batu - batu kecil itu kami melihat Pulau Bali (Taman Nasional Bali Barat), Pulau Menjangan dan Pulau Tabuhan. GWD merupakan salah satu lokasi terdekat untuk menyebrangi pulau Bali.




Menuju Pulau Menjangan
Perahu yang kami nanti akhirnya menepi juga di pinggir pantai berbatu kecil – kecil itu (GWD). Sang kapten sebagai orang yang paling bertanggung jawab di atas perahu kembali memastikan. Peralatan wajib seperti pelampung, alat snorkling, kaca mata dan kaki katak tak luput dari pengecekan pagi itu. Satu lagi yang harus dibawa adalah bekal makanan. Kenapa harus ada bekal makanan? Sekedar informasi perjalanan ini akan memakan waktu panjang. Sementara di Pulau Menjangan yang terkenal itu tidak ada yang menjual makanan atau pun minuman segar. Sebelas orang dari tim ekspedisi kami ditambah dengan satu orang (kapten) yang multi talenta memulai perjalanan penuh sensasi. 



Gerimis masih saja terasa, namun intensitasnya mulai berkurang. Perahu melaju perlahan namun pasti. Semakin lama semakin bertambah kecepatanya. Kabut yang menghalangi horizon perlahan mulai memudar. Dari tengah perairan biru yang luas kami menyaksikan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) yang tampak eksotis. Garis pantai yang putih dan memanjang berpadu dengan rimbunya hutan hujan tropis. Siapa pun pasti mengira tempat tersebut liar dan tak berpenghuni. Hanya lalu lalang perahu kecil yang tampak beraktifitas, itu pun bisa di hitung jumlahnya. Pulau Menjangan yang kita tuju ini secara administratif berada di bawah naungan  TNBB (Provinsi Bali). Namun untuk bisa sampai di Pulau ini banyak cara yang bisa ditempuh. Untuk yang berangkat dari Indonesia bagian barat atau Pulau Jawa Khususnya, transit dari GWD adalah rute terdekat. Tanpa harus menyeberang ke Pelabuhan Gili Manuk.


Pemandangan Taman Nasional Bali Barat dari Atas Perahu, Pantai dengan pasir putih memanjang dan hutan tropisnya yang masih liar


Apa yang istimewa dari Pulau Menjangan ?Pulau ini adalah wall diving terbaik di Bali bahkan merupakan salah satu dari sepuluh yang terbaik di dunia. Menawarkan surga bawah laut dengan keanekaragaman trumbu karang dan aneka hewan lautnya. Selain kekayaan laut, eksotisme daratanya juga tidak kalah menarik. Terdapat penghuni asli pulau yaitu kawanan hewan Rusa. Dalam Bahasa Jawa Rusa disebut dengan “Menjangan”. Karena itulah Pulau ini dinamai Pulau Menjangan. Di pulau ini juga terdapat beberapa Pura yang masih aktif di kunjungi umat Hindu.




Hampir 40 menit perahu yang kami tumpangi mengarungi perairan. Pulau Menjangan yang sedari tadi terlihat samar kini semakin dekat. Pasir putih yang menjorok sangat menawan dari kejahuan. Perahu terus saja melaju, menjaga jarak dan melewati dermaga di sebelah barat begitu saja. Melewati hutan bakau liar dan tebing - tebing batu bibir pulau. Ternyata Mas Rudi (Kapten Kapal) langsung mengarahkan kami di spot snorkling pertama. Letaknya masih disekeliling Pulau Menjangan. Warna air biru toska berpadu dengan biru tua di sekeliling prahu kami. Biru toska menandakan kedalaman yang rendah. Sedangkan biru tua biasanya berupa palung - palung kedalaman sedang. Di spot pertama ini hanya perahu kami yang terlihat. Pagi yang sepi dan penuh fantasi.

Melihat Surga Bawah Laut
Dengan hati - hati jangkar diturunkan. Kapten memberikan instruksi keamanan dasar. Minimal bagi yang awam untuk tidak panik ketika snorkling. Meskipun tergolong tidak terlalu dalam namun di beberapa tempat ada palung yang bagi orang awam harus berhati - hati. Sekedar informasi palung - palung tersebut justru yang paling indah pemandanganya. Yang terdalam sampai 60 meter. Ada juga goa - goa batu yang menjadi habitat flora dan fauna laut. Mas Rudi menceburkan diri lebih awal, memeriksa dan memastikan keamanan spot pertama ini. Pantas saja dijuluki yang terbaik di Bali. Aneka warna warni ikan yang entah apa jenisnya memenuhi setiap pandangan kami. Trumbu karang yang masih aktif juga tak kalah cantik. Suasana yang sepi juga menambah kekhusyukan kami mempelajari kehidupan bawah laut ini. Hampir satu jam berlalu dan kami masih betah. Kapten menginstruksikan kami untuk kembali ke Prahu. Sembari melepas lelah perahu terus melaju. Melewati hutan - hutan bakau pinggir pulau ditemini semilir angin laut. Sesekali kumpulan menjangan terlihat melakukan aktifitasnya. Beberapa menit kemudian kami tiba di spot kedua. Airnya lebih terang, warna - warni ikan terlihat langsung dari atas perahu. Membuat siapa pun tak sabar untuk masuk kedalamnya.


Tiga Foto UnderWater di atas bersumber dari : www.ridwanbahasa.com

Saking semangatnya Mas Faris salah satu dari kami tidak sengaja menginjak hewan bulu babi. Tangannya langsung diangkat keatas diikuti degan teriakan kesakitan. Rasanya seperti tersengat setrum disekujur tubuh menurut pengakuanya. Seakan sudah hafal betul kehidupan lautan, Mas Rudi memberikan saran yang cukup unik. Bagian yang tersengat duri bulu babi harus dikencingi. Air seni (urine) ternyata cukup ampuh sebagai pertolongan pertama. Akan lebih baik lagi kalau itu dilakukan masih di dalam air laut. Sekilas memang tidak masuk akal tapi faktanya cukup efektif. Kejadian tersebut tidak membuat kapok. Kami tetap melanjutkan petualangan bawah laut di spot kedua. Bedanya kali ini lebih disiplin dan berhati - hati. Kaki katak yang sebelumnya tidak dipakai menjadi laris manis digunakan. Mas Rudi (Kapten Kapal) benar – benar multi talenta. Tidak hanya mahir mengemudi perahu dan membelah gelombang, ternyata ia juga punya keahlian lain. Menjadi Tim Sar, Pemandu Wisata, Dokter, dan satu lagi sebagai Fotografer bawah laut yang handal. Mas Rudi biasa menyelam lebih dalam tanpa peralatan diving. Dia memulai aksinya dengan memotret dan mengabadikan aktifitas kami saat snorkling. 

Selesai dari spot kedua ini kami dibawa ke sisi lain Pulau Menjangan. Perahu mendekat pada Pura yang menjadi icon pulau ini. Meskipun tidak sampai menyentuhnya tapi patung ganesha besar berwarna putih itu terlihat sangat jelas kemegahanya. Hilir mudik orang -orang yang beribadah khas hindu bali  menjadi pemandangan kami. Tidak mudah untuk menepikan perahu di pinggir pura tersebut. Gelombang laut saat itu mendadak meninggi. Kapal bergoyang - goyang dan kadang miring hampir empat puluh lima derajat. Disinilah kemampuan seorang kapten diuji. Mas Rudi hanya tersenyum santai dan berusaha menenagkan penumpang - penumpangnya. Perahu dengan perlahan dapat dikendalikan, posisinya menguntungkan kami untuk mengambil foto. Selain di sisi barat pulau, ternyta kami juga menjumpai dermaga di sisi timur. Dekat dengan pura dan patung ganesha.


Beranjak siang kami menuju spot yang ketiga. Hampir sama dengan spot - spot sebelumnya. Namun kali ini airnya lebih berwarna kehijauan. Bening dengan ikan - ikan yang jumlahnya cukup banyak. Sempat pula kami melihat kumpulan ikan berukuran besar yang bermain - main membentu putaran air. Snorkling lagi dan menikmati kemegahan surga bawah laut. Seumur hidup menurut saya pulau menjangan-lah yang terbaik soal keindahan bawah lautnya. Tepat di spot ketiga ini kami akhirnya membuka bekal makanan. Betul sekali, kami akan makan siang di atas perahu. Masih ditemani gelombang yang mengombang ambingkan perahu dan angin laut yang semilir. Gerimis kembali datang bahkan lebih terasa. Di bagian barat mendung semakin menghitam sementara di Timur langit lebih cerah. Namun perjalanan masih berlanjut. Kali ini kami akan menginjakan kaki di daratan Pulau Menjangan. Dermaga di sebelah barat menjadi tujuannya..

Daratan Pulau Menjangan
Beberpa menit kemudian terlihat bendera merah putih berkibar di atas dermaga barat. Dengan lihainya Mas Rudi memarkirkan perahu yang kami tumpangi. Kejadinya persis seperti aksi film di “Tokyo Drift”. Di dermaga ini banyak ikan - ikan kecil yang seolah tidak takut dengan kehadiran kami. Ukuranya mungkin sebesar jari. Menggemaskan dan sangat menggoda bagi siapa pun yang baru melihatnya. Bantalan Ban menjadi pijakan kami menuju dermaga kayu. Panjangnya kurang lebih sekitar 30 meter. Sebuah gapura kecil berarsitektur khas bali menyambut kami dengan tulisan selamat datang di Pulau Menjangan TNBB.



Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tempat untuk buang air besar. Di dekat dermaga barat ini fasilitasnya cukup lengkap meskipun terlihat kurang terawat. Ada semacam resort dan beberapa orang yang sedang asik bercengkrama di dalamnya. Kami menjupai pura kecil lagi di dekat pintu masuk. Masih ada bunga - bunga bekas orang beribadah. Aromanya sama seperti kita berada di desa-desa Bali pada umumnya. Di dekat Pura tersebut ada jalan setapak yang mengarah ke timur. Sayangnya kami belum beruntung menyusurinya karena keterbatasan waktu.
Kami juga melihat beberapa menjengan (rusa) yang mendekat. Ukuranya lumayan besar namun masih malu - malu ketika kami dekati. Sebelum menyusuri pantainya yang unik kami menyempatkan istirahat sejenak di gazebo yang menghadap pantai. Ada alat musik dari bambu yang bisa dimainkan. 



Kami pun mulai berjalan dan menapaki pantai berpasir putih langkah demi langkah. Berjalan santai dan menikmati setiap momen lebih detail. Sebuah pasir putih menjorok layaknya sebuah tanjung kecil. Hanya warna putih dengan biru toska diujungnya. Ukuranya separuh lapangan futsal namun memanjang. Tempat yang sangat menawan untuk mengabadikan perjalanan. Sayangnya di beberapa sudut pulau masih ada sampah yang berserakan. Hal ini tentu sangat mengganggu pandangan. Masalah sampah memang menjadi isu lingkungan yang klasik. Semoga kedepanya banyak orang yang semakin sadar dengan kebersihan. Karena waktu kami dibatasi maka Mas Rudi mengingatkan kami untuk segera kembali ke dermaga. Hari sudah menuju sore dan masih ada satu tempat lagi yang harus kami singgahi. Sekian dulu secuil cerita dari ujung barat Provinsi Bali. 

Baca petualangan selanjutnya edisi    Pulau Tabuhan Banyuwangi  


Share: