Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

Sunday, March 26, 2017

Jelajah Budaya di Candi Jawi



Candi adalah sebutan untuk sebuah bangunan purbakala yang memiliki nilai sejarah. Hampir semua kerajaan di Nusantara khususnya Jawa membangun sebuah candi. Selain digunakan sebagai tempat peribadatan, candi juga menyimpan informasi peradaban bahkan memiliki fungsi teknologi. Banyak candi yang tersebar di tanah Jawa, Baik yang sudah ditemukan maupun yang masih tertimbun di dasar tanah. Namun karena rentang waktu yang panjang sebagian candi ditemukan dengan kondisi yang butuh perbaikan. Hanya beberapa saja yang ditemukan masih utuh. Salah satu contoh Candi yang masih dapat kita saksikan hingga saat ini adalah Candi Jawi. Peninggalan masa Kerjaan Singosari ini berdiri kokoh di seberang jalan Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur). Tentang candi Jawi, banyak informasi penting yang dapat kita pelajari. Salah satunya adalah tentang teknologi pengairan yang bisa dibilang canggih pada masanya.

Dalam rangka memperingati hari air, sejumlah komunitas peneliti dan pecinta sejarah di Malang mengadakan acara bertajuk “Jelajah Patirthan”. Kegiatanya adalah mengunjungi beberapa situs bersejarah yang berkaitan dengan air. Dua hari sebelum kegiatan berlangsung saya sudah antusias mendaftarkan diri pada acara jelajah budaya ini. Hari Minggu Pagi tanggal (19/3/2017) perjalanan di mulai dari depan stasiun kota baru Malang. Dua bus berukuran besar menampung sejumlah peserta dari berbagai latar belakang. Mulai dari peneliti, akademisi, fotografer, awak media dan masyarakat umum pecinta sejarah, semua berbaur menjadi satu. Dalam satu hari lima situs bersejarah akan kami tuntaskan. Sejumlah seniman dan penari juga ikut ambil bagian dengan aksi teatrikalnya.  Perjalanan kali ini seperti refleksi sejarah yang lengkap.

Pukul sembilan pagi bus sudah sampai di kaki gunung Welirang, lokasi dimana Candi Jawi berada. Suasananya lebih ramai, mungkin karena faktor hari libur dan jumlah peserta jelajah yang memang cukup banyak. Saya langsung bergegas memasuki halamannya yang luas. Menembus suasana pagi di tempat yang dianggap sakral oleh leluhur bangsa Jawa.  Letak candi Jawi persis di seberang jalan besar, diapit pemukiman - pemukiman padat penduduk. Sekilas memang mirip sebuah taman. Tertata rapi dengan kombinasi rumput hijau dan desain arsitekturnya yang megah. Ada parit / kolam air yang mengelilingi bangunan utama. Lebih tepatnya candi berada pada bagian tengah kolam air dengan posisi tanah yang lebih tinggi. Sahabat bisa membayangkannya seperti danau Toba dengan daratan di tengahnya. Bentuk kolamnya persegi dan simetris, di dalamnya terdapat kumpulan tumbuhan teratai. Banyak ikan hias yang bersembunyi di balik teratai yang juga turut menghibur pengunjung. Kalau berkenan kita boleh memberi makan ikan - ikan tersebut dengan pakan yang dijual di dekat pintu masuk. Pintu masuknya berada di sebelah timur. Dulu pintu masuk sebelah timur ini hanya untuk kalangan tertentu (Raja dan Keluarganya). Pintu gerbang sebelah baratlah yang seharusnya untuk umum. Namun sekarang hal itu sudah tidak berlaku, hanya pintu disebelah timur yang dijadikan pintu masuk umum. Setelah melewati kolam, saya harus naik beberpa anak tangga untuk sampai di pelataran utama. Sementara para peserta lain sudah siap mengambil posisi untuk mendengarkan penjelasan dari Bapak M. Dwi Cahyono, seorang peneliti sejarah yang menjadi pemandu pada kegiatan jelajah patirthan ini. Kami seperti diajak kuliah di alam terbuka, mempelajari bangunan bersejarah dan peradaban budaya langsung dari sumbernya.





Sejarah Singkat Candi Jawi
Berdirinya Candi Jawi berawal dari perintah Raja Kertanegara, Raja terakhir kerajaan Singosari. Kitab Negarakertagama pupuh 56 mengungkapkan bahwa bangunan tersebut juga dibangun sendiri oleh Raja Kertanegara. Sedangkan untuk penamaan candi berasal dari kata “jajawa” (syair 55 bait 3) dan kata “JawaJawa” (syair 73 bait 3) yang semuanya termuat pada kitab Negarakertagama. Sedangkan kata “Jawi” merupakan bahasa krama dari kata “Jawa”, yang memiliki makna lebih halus. Pelafalan “Jawi” mungkin tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat Jawa pada umumnya, untuk menghormati sesuatu yang dianggap sakral dengan tingkatan bahasa krama. Tahun awal pembuatanya diperkirakan pada akhir pemerintahan kerajaan Singosari yaitu abad ke-13. Mengenai fungsi dari candi jawi ada perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Sebagian menyatakan candi ini dibuat sebagai tempat peribadahan, Karena dibangun pada saat raja Kertanegara masih hidup. Pendapat lainya menganggab candi ini bukan sebagai tempat ibadah, dengan alasan arsitektur candi yang membelakangi gunung pawitra (penanggungan) meskipun masih dalam satu garis lurus.


Raja Kertanegara menganut ajaran singkretisme Siwa-Budha. Singkretisme adalah suatu proses perpaduan tentang kepercayaan atau agama. Faham singkretisme raja Kertanegara memberikan pengaruh besar pada corak arsitektur candi Jawi. Unsur Siwa ditemukan pada bagian bawah candi, sedangkan unsur budha bisa dilihat pada bagian atas candi berupa bentuk dagobha (stupa). Pada tahun 1253 Saka, bagian ujung candi Jawi pernah tersambar petir. Yang mengakibatkan kerusakan fisik bahkan hilangnya arca aksobhya (budha). Selang satu tahun setelah insiden tersebut dilakukan renovasi Candi oleh kerajaan Majapahit. Jadi pembangunan candi Jawi ini dilakukan lintas generasi dua kerajaan besar Nusantara. Proyek tersebut dibawah kuasa Raja Hayam Wuruk, Raja Kerajaan Majapahit ke-empat yang masih memiliki hubungan darah dengan leluhurnya Raja Kertanegara. Renovasi peninggalan bersejarah ini juga sebagai bentuk penghormatan Raja Hayam Wuruk kepada leluhurnya. Ini lah yang menarik perhatian saya, ada pelajaran yang dapat dipetik dari kejadian ini. Bagaimana arifnya seorang Raja dengan kebesaranya tetapi tidak pernah lupa untuk menghormati para leluhurnya.

Tentang Arsitektur Candi Jawi
Ketika sedang serius mendengarkan penjelasan yang panjang, saya sempat terkesan dengan salah satu pernyataan. Ternyata candi Jawi ini memiliki gambaran tentang detail rancang bangunannya sendiri. Lebih tepatnya pada relif di sebelah utara. Relif tersebut menunjukan detail penggambaran arsitektur komplek candi Jawi beserta suasananya. Jika dicermati lebih dalam, saya menduga komplek candi jawi yang sekarang hanya sebagian kecil saja. Mestinya lebih luas lagi jiga ditinjau dari penggambaran pada relifnya.




Bangunan utama candi berukuran panjang 14,24 meter dan lebar 9,55 meter. Tingginya mencapai 24,5 meter menjulang ke langit, lebih tinggi dari bangunan yang ada di sekitarnya. Bentuk bangunan candi tinggi dan ramping, mirip dengan candi Prambanan yang ada di Jawa Tengah. Bangunan utama candi ini terdiri dari beberpa blok. Dari paling bawah berupa batur, tangga, kaki, tubuh, atap, ratna dan puncaknya adalah dagobha (stupa). Bentuk atapnya seperti limas segi empat yang meruncing pada puncaknya. Pada bagian tubuh candi sahabat bisa menemukan sebuah bilik / ruangan kecil berisi yoni bermotif naga. Menurut kitab Negarakertagama dulu di dalam rungan tersebut juga terdapat beberapa arca hindu. Sayang sekarang sudah tidak ada lagi ditempatnya, sebagian ada yang sudah dibawa ke museum. Sahabat bisa masuk ke dalam bilik candi dengan menaiki beberapa anak tangga. Ada beberapa arca disisi kanan dan kiri tangga dan pada bagian atas pintu masuk bilik terdapat ukiran banaspati. Satu hal yang menarik lagi bagi saya adalah penggunaan material batu putih (kapur) pada bagian tubuh candi. Warnanya lebih putih dan kontras dengan batu - batu penyusun candi yang lain. Dari jauh gradasi warna batu - batu candi ini terlihat elegan ketika dipandang.

Teknologi Irigasi Candi Jawi
Tentang parit atau kolam yang mengelilingi candi Jawi, ada penjelasan kusus yang berkaitan dengan sistem teknologi pengairan (irigasi). Menurut bapak M. Dwi Cahyono, air yang berada di kolam dengan kedalaman 2 meter tersebut dipasok melalui pipa air bawah tanah. Airnya berasal dari sumber air yang letaknya tidak jauh dari lokasi candi. Beliu menujuk sebuah pohon besar arah gunung Welirang untuk memberi tanda dimana sumber air tersebut berada. Jadi air dalam parit candi Jawi terisi secara otomatis, melalui teknologi pipa air bawah tanah yang terbuat dari pahatan batu. Air dalam parit candi Jawi kemudian dialirkan lagi ke saluran bawah tanah menuju area persawahan. Trowonganya mungkin masih berada di bawah jalan raya. Dengan sekema aliran air tersebut maka parit yang mengelilingi candi Jawi juga digunakan sebagai tempat untuk memonitor debit sumber air. Debit sumber air akan berbanding lurus dengan debit air yang berada di parit.



Dari penjelasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa teknolongi irigasi sudah ada dan bahkan sudah diterapkan oleh arsitek kerajaan Singosari sejak abad ke-13. Candi tidak hanya dibuat sebagai tempat peribadahan saja akan tetapi juga dirancang sebagai sarana teknologi irigasi. Pemerintah kerajaan juga memahami betul tentang air sebagai sumber kehidupan. Oleh karena itu mereka selalu memanfaatkanya secara bijak dan arif.


Relif - Relif di Candi Jawi
Penjelasan tentang relif yang terpahat pada candi Jawi memang banyak penafsiran. Pada sisi utara sudah jelas bahwa relif tersebut menggambarkan bangunan candi Jawi sendiri. Motif - motif tumbuhan yang banyak mungkin melambangkan bahwa dulunya daerah ini adalah hutan belantara. Inilah keunikan candi Jawi, mungkin hanya satu - satunya candi yang menggambarkan dirinya sendiri. Di sisi sebelah selatan terdapat relif yang menggambarkan suasana penyambutan rombongan elit. Hal tersebut diperkuat dengan adanya simbol hewan gajah sebagai alat transportasi. Informasi yang saya dapat secara keseluruhan gambaran tentang relif di candi Jawi mengisahkan tentang perjalanan spiritual manusia. Gambaran tersebut diperankan tokoh utama seorang perempuan bernama Gayatri. Gayatri menjalani wanaprasta atau pendalaman rohani yang kisahnya dimuat pada relif candi Jawi. 



Puas mengeksplorasi area utama Candi Jawi, saya bergegas menuju tempat yang paling pojok diluar parit. Saya mendapati unsur bata merah yang menjadi jejak arsitektur Kerajaan Majapahit, Material bata merah bisa sahabat lihat pada gapura (Candi bentar). Candi bentar atau gapura ini hanya tinggal bagian bawahnya. Berada di luar parit dan posisinya tidak simetris dengan banguanan utama. Saya mencoba berdiri diatas gapura bentar tersebut dan memandangi candi Jawi dari kejauhan. Posisi gapura yang tidak simetris ini memberikan keuntungan tersendiri. Sahabat bisa mendapatkan sudut pandang candi yang berbeda. Saya merasa tampat ini yang paling strategis untuk melihat siluet candi Jawi ketika terbit matahari atau saat bulan purnama. Ada bangunan kecil di dekat gapura (candi bentar) yang mungkin sering dilewatkan pengunjung. Ruangan tersebut berisi kumpulan arca dan serpihan - serpihan benda purbakala lain. Pengunjung bisa mengamatinya dari pembtas berupa pagar besi.




Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari jelajah budaya ini. Tentag kearifan Raja Kertanegara (Singosari) dalam menjalani hidupnya. Sikap untuk selalu menghormati leluhur seperti yang diajarkan raja Hayam Wuruk (Majapahit). Pelajaran tentang arsitektur candi Jawi yang penuh dengan filosofi. Dan yang paling berkesan adalah bahwa penerapan teknologi irigasi sudah dilakukan oleh leluhur bangsa Nusantara. Mereka mengolah sumber daya alam secara bijak dan profesional. Terlepas dari itu semua, keindahan dan panorama candi Jawi memang layak untuk diapresiasi. Ini adalah sebuah wawasan dan kebanggaan yang harus dikabarkan khusunya pada generasi Nusantara.





Aksi teatrikal dari kolaborasi para seniman dan penari menjadi penutup kunjungan kami di Candi Jawi. Sekelompok orang - orang berbakat tersebut mempersembahkan maha karya yang mengesankan. Musik - musik tradisional diperdengarkan dengan penuh kekhusyukan, sementara para penari dengan penuh penjiwaan melakukan perannya. Sebuah lakon dibawakan dengan kedalaman cerita, beberapa orang hanyut dalam ekpresi – ekspresi seniman yang serius. Saya seperti dibawa ke masa silam, masa dimana saat kerajaan Nusantara berlangsung dalam kebesaranya. Hampir semua pengunjung terbawa suasana pertunjukan. Tidak hanya sekedar menikmati tapi kami juga mendapati pesan – pean moral didalam pemesntasan tersebut. Itulah secuil cerita dari jelajah budaya di Candi Jawi. Ini masih awal, ada empat situs bersejarah lagi yang harus kami kunjungi dalam waktu satu hari.

Ikuti perjalanan kami selanjutnya "Menelisik Sejarah Prasasti Cunggrang"

Share:

Saturday, June 27, 2015

Berziarah ke Makam Sunan Bonang



Tuban bumi wali bagitulah slogan yang akan kita lihat ketika memasuki kabupaten Tuban. Slogan tersebut memang sesuai karena di Kabupaten Tuban terdapat makam beberapa para wali yang sangat berjasa mensyiarkan agama Islam di Nusantara. Salah satu makam wali di Tuban yang selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah baik peziarah lokal maupun peziarah yang berasal dari luar Kabupaten Tuban adalah makam Sunan Bonang. Makam Sunan Bonang terletak di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Lokasi ini berada di pusat kota Tuban, di sebelah barat alun – alun atau lebih tepatnya belakang Masjid Agung Tuban. Lokasi tersebut sangat mudah untuk ditemukan karena berada di jalur Surabaya – Semarang. Sebagai petunjuk lokasi letak jalan ini berada mepet dengan pantai utara Jawa.
 
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau adalah kakak Sunan Drajat atau  putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Ilmu kebatinan merupakan ilmu yang terkenal dimiliki oleh sunan bonang. Dalam dakwahnya sunan bonang mempunyai strategi dakwah yang rata-rata menyentuh hati rakyat, Beliau memanfaatkan kesenian sebagai media dakwah. Banyak karya – karya terenal beliau yang terkenal salah satunya tembang Tombo Ati. Beliau juga seorang pencipta instrumen gamelan bonang sekaligus seorang dalang yang piawai dalam memainkan lakon perwayangan yang bernafas islam. Jadi tidak heran jika banyak masyarakat yang masuk Islam oleh syiar dari beliau.


Berikut ini adalah kisah perjalanan kami berziarah ke Makam Sunan Bonang. Perjalanan menuju makam dimulai dari Masjid Agung dengan berjalan kaki menuju gapura putih besar di pojok alun – alun Tuban. Setelah melewai gapura tersebut kita akan disuguhkan pemandangan layaknya pasar dengan kios – kios yang menawarkan berbagai barang dagangan mulai dari souvenir, makanan, pakaian yang cocok untuk oleh – oleh. Berjarak sekitar 100 meter berikutnya terdapat tanda panah yang memberikan informasi arah makam. Dengan mengikuti petunjuk tersebut sampailah kami pada gapura pertama menuju halaman satu. Gapura pertama berbentuk semar tinandu, terbuat dari susunan bata diplester, berwana putih dengan hiasan tulisan arab dan ukir-ukran  di bagian atas pintu. Di kanan kiri pintu terdapat dinding terawang (jalusi) bermotif kawung. Gapura tersebut cukup rendah sehingga untuk memasuki harus dengan agak menunduk. Di halaman pertama terdapat dua pendopo berbentuk limasan namun tak berdinding. Fungsi dari bangunan ini selain digunakan sebagai tempat istirahat peziarah, pada waktu – waktu tertentu digunakan sebebagi tempat selamatan.


Untuk masuk ke halaman kedua kita harus memasuki gerbang kedua berupa gapura paduraksa setinggi kurang lebih 5 meter. Terbuat dari susunan balok tras dengan pintu kayu sebagai penghubung halaman 1 dengan halaman 2. Atap gapura terdiri dari tiga tingkat dan bentuknya semakin mengecil di bagian atas. Gapura ini memiliki hiasan yang unik yang berbentuk geometris, motif sulur – sulur daun dan hiasan tumpal serta hiasan piring – piring cina cantik . Sementara pintunya terbuat dari kayu dengan ukir – ukiran yang indah. Memasuki halaman kedua terdapat halaman yang cukup luas dengan berbagai fasilitas umum, diantaranya adalah kamar mandi, tempat wudhu, kantor informasi / keamanan, pendopo yang digunakan untuk istirahat, serta bangunan masjid kuno astana yang masih berdiri kokoh.



Oke, setelah puas menyusuri halaman satu dan dua selanjutnya kita menuju halaman ketiga (utama). Gapura masuk halaman utama ini berbentuk sangat indah layaknya candi – candi kuno dengan hiasan piring cina yang tersusun rapi. Pada hiasan piring cina tersebut terdapat tulisan arab diantaranya berbunyi Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.  Pada bagian belakang terdapat dinding tembok yang lazimnya disebut bangunan kelir. Menurut metodologi kuno bangunan kelir dapat berati simbol penolakan bahaya. Sampai pada halaman utama akan terlihat banyak makam – makam kuno di samping kiri dan kanan selasar yang menuju bangunan makam. 



Tepat diujung selasar terdapat cungkup berbentuk limasan dengan atap berupa kayu. Cungkup tersebut merupkan tempat yang diyakini sebagai makam dari Sunan Bonang. Bangunan cungkup tersebut mempunyai pataka (lambang) terbuat dari perunggu dan bermotif tumpal dan dilengkapi hiasan semacam padma. Cungkup makam berbentuk sinom dengan atap sirap dan dindingnya diberi lubang semacam kisi – kisi. Selain menggunakan dinding tembok makam utama ini juga menggunakan dinding kayu yang lazimnya disebut dengan gebyok. Jirat makam terbuat dari susunan balok tras, berbentuk tingkatan pelipit dihias bentuk antefiks dan motif padma. Nisan berbentuk lengkung dengan puncak datar. Nisan bagian kepala makam Sunan Bonang dihias bentuk surya. Suasana makam utama sangat hikmat, tiap harinya datang peziarah dari berbagai daerah yang meramaikan area makam dengan doa dan dzikir – dzikirnya sebagai bentuk penghormatan kepada Sunan Bonang.




Banyak pelajaran yang kami peroleh dari wisata religi makam Sunan Bonang ini. Diantaranya perpaduan tradisi lokal dengan ajaran islam dikemas sangat indah oleh kreatifitas Sunan Bonang. Terdapat tradisi – tradisi budaya yang sampai sekarang masih dipegang oleh masyarakat di area makam kususnya dan oleh masarakat Nusantara pada umumnya. Diantranya ketika kami mengunjungi makam Sunan Bonang pada hari jumat 26 Juni 2015 kemarin yang kebetulan bertepatan dengan bulan puasa terdapat tradisi pembagian bubur suruh. Kegiatan tersebut membuktikan bahwa ajaran dari Sunan Bonang  masih dilestarikan oleh masyarakat, kususnya oleh masyarakat Tuban sendiri. Semoga artikel ini dapat  menambah wawasan kita dan menjadi pemicu kita untuk terus mengeksplorasi budaya Nusantara.


Share: