Geliat Seni Tradisi Jaranan di Desa Pucung Kidul



Setiap daerah di Nusantara pasti memiliki produk seni tradisi yang khas. Seni tradisi lahir sebagai bentuk kreatifitas masyarakat atas budayanya. Tentu bukan hanya sekedar hiburan, didalamnya juga diselipkan nilai – nilai filosofis yang sarat akan makna. Bentuknya bisa berupa tembang (lagu), musik, tari, drama, atau gabungan dari unsur - unsur tersebut. Yang pasti ciri seni dengan keindahannya yang universal sangat mudah diterima semua kalangan.

Di Tulungagung (Jawa Timur) banyak dijumpai ragam seni tradisi yang saat ini masih teguh dipertahankan. Seni tradisi bernafas budaya jawa seperti Karawitan, Tayupan, Jemblungan, Wayang Kulit, Jedor, Tiban, Ketoprak / Ludruk, Reog Kendang, Kentrung, dan Jaranan adalah aset berharga yang mewarnai kehidupan di kampung halaman tercinta. Saya yakin kesenian – kesenian tersebut juga bisa dinikmati di daerah lain, khususnya di pulau Jawa. Namun yang khas Tulungagung seperti Reog Kendang, Kentrung, dan Jaranan cukup sulit ditemukan di tempat lain. Kecuali ditanggap (diundang) oleh seponsor khusus seperti instansi atau donatur independent pecinta seni.

Kali ini ijinkan kami mengajak sahabat untuk berkunjung ke desa Pucung Kidul, Kecamatan Boyolangu. Melihat lebih dekat salah satu seni tradisi khas Tulungagungan. Jaranan begitulah orang – orang menyebut seni tradisi ini. Kesenian yang masih digemari sebagian besar orang Tulungagung, penikmatnya pun merata hingga lintas generasi. Seni tradisi ini banyak di temukan di daerah Jawa Timur khususnya bagian selatan. Namun perkembangannya tidak sepesat dan sesemarak di Tulungagung. Setiap Kecamatan atau bahkan hampir setiap desa – desa di Tulungagung punya grup jaranan. Dari sini lahir para seniman kondang yang sukses. Proses regenerasi juga tidak ketinggalan. Anak - anak muda ikut antusias mempelajari seni tradisi daerahnya itu. Berbagai inovasi terus ditambahkan. Hasilnya lahirlah grup – grup jaranan legendaris yang dikenal banyak orang. Lihat saja grup jaranan Kuda Birawa atau Safitri Putra yang mendunia dengan seni jaranan dangdut kreasinya.

Kata “Jaranan”  sendiri berasal dari bahasa Jawa. Jaran artinya kuda istilah jaranan bisa bermakna kuda mainan atau bermain kuda. Sebagian orang mungkin lebih mengenalnya dengan istilah kuda lumping atau Jaran Kepang. Jaranan ini sebenarnya tidak hanya sekedar tarian. Dalam jaranan bisa kita nikmati alunan musik dari para pemain gamelan, bahkan sekarang dikolaborasikan dengan peralatan musik moderen.  Ada juga aksi ndadi atau kesurupan yang justru ditunggu – tunggu penonton.

Kenal lebih dekat dengan Jaranan
Malam itu (11/07/17) saya menerima ajakan dari Pak Ali (32) salah seorang teman yang juga pecinta seni tradisi. Rencananya kami akan menonton langsung pertunjukan jaranan. Ini adalah pertunjukan kali pertama setelah lama libur lebaran. Jadwal pertunjukan kami dapatkan dari grup sosial media. Tentu kami sudah hafal betul tempatnya. Sayangnya untuk jadwal kali ini lokasinya cukup jauh. Harus melewati dua Kecamatan dulu untuk sampai di desa Pucul Kidul.

Riuhnya kerumunan warga menjadi penanda bahwa kami telah sampai. Dibawah purnama kami ikut berbaur mendekati panggung terbuka. Panggung dimana seni tradisi jaranan dipentaskan disitu. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung kehebohan para seniman jaranan. Sementara di bagian belakang panggung dibuatkan dekorasi dengan tema berbentuk bagunan candi. Dari situ pula saya tahu, grup jaranan yang sedang tampil ini adalah Turonggo Siswo Budoyo. Grup jaranan kebanggan warga Desa Pucung Kidul. Kali ini mereka tampil dirumahnya sendiri. Dalam rangka syukuran salah seorang sesepuh desa.


Wangi aroma kembang dan kemenyan menjadi santapan wajib untuk kami hirup. Menambah kesan mistis yang selama ini kerap dikaitkan dengan pementasan jaranan. Sayangnya perhatian saya lebih tertarik pada lantunan musik pengiring jaranan. Terkesan bersemangat dan asik untuk ikut manggut manggut. Sumber suara itu ternyata berasal dari pemain gamelan disamping panggung. Tentu saja tidak hanya gamelan, ada juga peralatan sekelas band yang juga turut memeriahkan. Belum lagi dukungan dari soundsystem yang dipasang didepan panggung. Saya yakin tidak hanya pemain jaranannya yang bersemangat untuk jingkrak – jingkrak. Penonton pun pasti ikut hanyut layaknya menonton konser band – band ibu kota. 

Ketika kami datang, acara sudah berlangsung di atas panggung. Tampak beberapa anak kecil menunjukan kebolehannya. Generasi baru pewaris jaranan ini tampil percaya diri sebagaimana orang dewasa. Pakem - pakem gerakan jaranan sentherewe mereka suguhkan dengan lincah dan gesit. Jaran dari anyaman bambu mereka tunggangi. Peran pasukan bekuda khas kerajaan ditampilkan dengan gagah perkasa. Tak lupa cemeti (Cambuk) digenggamnya dengan erat sesekali terdengar suara cambukan “ceples, ceples, ceples ….. “


Ini masih pukul sembilan malam, untuk jaranan biasanya berdurasi lebih dari empat jam. Mereka menjadi tim pembuka yang menggebrak panggung terbuka malam itu. Selanjutnya masih ada beberapa penampilan lagi. Tentu saja dengan formasi dan pemain yang berbeda. Di ronde kedua ini pemainnya usia remaja. Mereka terlihat lebih matang dari grup sebelumnya. Formasi pemainnya sagat bervariasai. Salah satu yang saya ingat adalah saat penapilan campuran, kolaborasi dua remaja perempuan dan dua remaja laki - laki.

Dalam pertunjukan seni jaranan Tulungagungan ada semacam alur cerita yang khas. Mulai dari gerakan berkelompok  yang menggambarkan kekompakan pasukan kerajaan. Kemudian gerakan solo  ala kesatria berkuda. Dilanjutkan dengan kisah pasukan berkuda melawan celeng. Gerakan pemain celeng sangat tidak beraturan. Bertingkah gesit dan rakus persis seperti babi hutan. Pada puncaknya kita akan disuguhkan pertarungan kesatria berkuda dengan barongan.

Aksi Barongan dan “Ndadi
Barongan adalah sosok berkarakter menakutkan dan berkuasa. Diwujudkan dalam bentuk naga versi mitologi Jawa. Sosok naga juga lekat dengan kisah legenda yang ada di Tulungagung, Seperti naga baruklinthing yang mashur itu. Properti untuk barongan seperti topeng pada reog Ponorogo. Namun dengan ukiran kepala naga yang lebih seram. Hidungnya besar dan matanya melotot keluar. Yang unik bagian mulut topeng barongan ini bisa digerakan. Sehingga keluar bunyi keras “dok, dok, dok … “ karena hal ini ada juga yang menyebutnya sebagai dokdokan. Untuk memainkan barongan hanya butuh satu orang. Penari barongan haruslah memiliki tenaga yang kuat, sebab ukuran topeng barongan ini cukup berat. Belum lagi sang penari harus menggerakan mulut barong dengan lincah. Pertarungan barongan dengan kesatria berkuda memang selalu mendebarkan. Tingkah polah barongan lebih brutal dari celengan. Sesekali terjadi aksi akrobatik seperti salto atau melompat tinggi. Tak jarang pula terjadi kontak fisik layaknya adegan di film laga.


Malam semakin larut kami pun semakin hanyut dalam pentas rakyat itu. Tepat pukul duabelas malam hal yang paling ditunggu pun kami dapati. Apalagi kalau bukan ndadi alias kesurupan. Ini memang terlihat aneh, namun selalu menarik perhatian. Pertunjukan jaranan tanpa adegan ndadi seperti sayur tanpa garam. Kurang lengkap atau bahkan kurang greget. Ndadi adalah kondisi dimana pemain jaranan kerasukan makhluk halus (ghaib). Kerasukan menjadi hal yang wajar, bahkan umumnya para makhluk halus ini memang sengaja diundang.  Kerjasama ini semata - mata hanya untuk memeriahkan jalannya pertunjukan.

Satu persatu pemain jaranan kesurupan gerakannya jadi lebih agresif dan tak umumnya manusia. Dulu kalau seorang ndadi bisa aneh – aneh permintaanya. Seperti makan beling (pecahan kaca), mengupas sabut kelapa dengan gigi, atau makan bara api yang panas. Untungnya kami tidak mendapati kejadian se-ekstrim itu. Hanya saja jantung ini ikut berdebar saat salah seorang yang ndadi dengan mata melotot berlari mendekati penonton. Perang antara pasukan berkuda dan barongan menjadi lebih hidup berkat kesurupan ini. Barongan yang ganas benar - benar nyata malam itu. Pemainnya seperti hilang kendali. Suara dari mulut barongan semakin cepat dan keras. Disisi lain sang penantang pasukan berkuda juga ikut kesurupan. Seperti tidak ada ketakutan di raut wajahnya. Melawan barongan dengan gagah dan penuh keberanian.

Pertunjukan seni tradisi rakyat ini ditutup dengan kemenangan pasukan berkuda. Namun belum cukup sampai disitu, prosesi untuk menyadarkan para pemain yang ndadi tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menyadarkannya butuh bantuan juru gambuh (pawang) selaku pemimpin tertinggi di pertunjukan tersebut. Untuk yang tingakat bias acara menyadarkannya pun cukup ditepuk bahunya atau disuruh makan kembang. Semakin tinggi level ndadinya maka semakin sulit untuk disadarkan. Kalau sudah begini sang juru gambuh akan menerapkan jurus andalannya seperti menidurkan pemain atau mencambuknya dengan mantra tertentu. Yang pasti malam itu pertunjukan berjalan dengan lancar. Di akhir pertunjukan sang juru gambuh memanjatkan slametan atau doa atas suksesnya pertunjukan tersebut. Penonton pulang dengan membawa cerita mengesankan kerumah mereka masing - masing. Begitulah secuil cerita kearifan lokal yang terjadi di desa Pucung Kidul malam itu. Secuil cerita yang mengabarkan bahwa seni tradisi lokal masih hidup dan tetap dinikmati sebagian besar rakyat Nusantara.



Share: