Senin, 06 Maret 2017

Menelisik Sejarah Niama dan Perkampungan Nelayan di Pantai Sidem


Sidem adalah nama salah satu perkampungan sekaligus nama pantai yang berada di kawasan teluk Popoh. Berbicara tentang sidem secara menyeluruh akan membuat kagum siapapun yang  mendengarnya. Sekali mendayaung dua pulau terlampaui, tampaknya peribahasa tersebut sangat cocok untuk menggambarkan paket lengkap keindahan Pantai Sidem. Lokasinya berada di Dusun Sidem, Desa Besole, Kecamatan Besuki, kurang lebih 35 kilometer kearah selatan dari pusat kota Tulungagung. Apa yang menarik di Sidem ? Banyak tempat - tempat unik yang memaksa saya untuk menjelajahinya lebih dalam lagi. Mulai dari Sungai dan Terowongan Niama, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Tepi Pantai, Goa Sidem, Hingga Menelisik kehidupan perkampungan nelayan sidem. 

Untuk menuju perkampungan sidem ada dua alternatif jalan yang bisa ditempuh. Jalur resminya adalah lewat Pantai Popoh kemudian dilanjutkan menempuh jarak dua kilometer ke arah barat. Sementara jalur kedua adalah jalur tidak resmi, bahkan bisa dikatakan terlarang. Jalur kedua tersebut lewat tepian sungai niama menuju PLTA. Hanya motor saja yang bisa masuk, kecuali mobil kusus pegawai PLTA.

Dibalik nama Niama yang sederhana ternyata menyimpan banyak fakta sejarah. Niama merupakan mega proyek parit raya untuk mengatasi banjir di Tulungagung. Tujuanya untuk menanggulangi banjir yang kerap melanda Tulungagung. Dulunya sebagian besar wilayah Tulungagung adalah rawa. Sehingga tidak memungkinkan dapat mengalirkan air dengan drainase alami. Wacana mega proyek niama ini sudah di mulai sejak penjajahan jepang. 

Mekanismenya dengan membuat sungai buatan yang menjadi penghubung dan muara seluruh sungai di Tulungagung. Air dari muara sungai tersebut kemudian dialirkan langsung menuju laut Samudra Hindia. Pekerjaan ini tidaklak mudah, Karena harus membuat trowongan dengan menjebol tanah di bagian bawah pegunungan selatan. Meskipun terlihat mustahil dilakuakan tetapi proyek tersebut berhasil terlaksana dengan menggunakan tenaga romusha. Banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk mewujudkanya. Sayangnya kapasitas trowongan kurang memadai untuk mengalirkan air dari muara sungai. Baru setelah Indonesia merdeka proyek tersebut di ambil alih oleh pemerintah kemudian dikembangkan lagi dengan sekala yang lebih besar. Tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1993 trowongan ini mulai difungsikan menjadi pembangkit listrik dengan memanfaatkan tenaga air dari trowongan niama. Sekarang manfaatnya bisa dirasakan banyak orang. 

Dari ringkasan sejarah panjang niama saya tertarik untuk melihat langsung mega proyek bersejarah tersebut. Rasanya tidak percaya kalau sungai berukuran besar itu buatan manusia. Disamping kiri dan kanannya dibangun jalan beraspal mulus. Namun ada longsor dibagian tengahnya yang sekarang sedang dilakukang perbaikan (Februari 2017). Saya terus menelusurinya hingga sampai di pintu gerbang kawasan PLTA. Di pintu gerbang ini dijaga langsung oleh petugas setempat. Meskipun sebenarnya dilarang, namun orang masih diperbolehkan masuk. Jalur di kawasan PLTA ini memang lebih pendek rutenya untuk menghubungkan wilayah sidem dengan daerah luar. 


Panorama Sungai Niama 

Menara PLTA

Naik turun menjadi hal biasa menuju pantai sidem. Melewati pepohonan rimbun dengan jalan berkelok - kelok. Melihat dari dekat sebuah Menara dari PLTA yang sekilas mirip dengan marcusuar yang berdiri megah di atas pegunungan selatan. Sebelum sampai di kawasan pantai ada sebuah cekungan berdinding batu besar yang ketika surut panoramanya terlihat menakjubkan. Cekungan ini mungkin bisa disebut sungai kareana ada air yang mengalir, airnya mungkin berasal dari sungai niama. Batu - batu besar yang memenuhi permukaanya membentuk undakan - undakan semacam tangga kecil. Dengan kolam - kolam alami yang manis. Kalau sedang surut mungkin lebih tepat disebut mini air terjun. Sayangnya ditempat tersebut sangat berbahaya jika debit airnya tinggi atau ketika musim hujan.



Setelah melewati tempat indah tersebut perjalanan selanjutnya disambut dengan adanya sebuah goa. Goa Sidem namanya, berada persis diseberang jalan menuju PLTA. Belum banyak penelitian mengenai Goa Sidem ini. Sebuah papan nama yang terpampang di dekat pintu masuk goa memudahkan siapa pun untuk mencarinya. Bagian luar goa terlihat artistik dengan semak belukar yang tumbuh liar. Saya pun sempat masuk dan melihat bagian dalam goa tersebut. Goanya tidak terlalu besar namun cukup mudah masuk kedalamnya. Sayangnya minim sekali penerangan di dalam goa tersebut. 


Tiba saatnya saya melihat dari dekat aliran air yang menerobos trowongan panjang niama. Hanya beberapa meter dari bibir pantai berdiri bangunan PLTA yang megah. Saya membayangkan betapa panjangnya trowongan di bawah gunung itu . Siapapun pasti dengan mudah bisa memperkirakan panjangnya setelah menelusuri sungai niama dari awal. Aliran air yang deras keluar deras melewati kali butan. Mengalir langsung menuju laut samudra Hindia. Warnanya yang coklat membuat gradasi unik ketika berbaur dengan birunya air laut. 




Pantai Sidem dan Perkampungan Nelayan
Pantai sidem berda persis di tengah teluk popoh, menghadap langsung  ke arah selatan samudra hindia. Garis pantainya memanjang namun terpisah menjadi dua bagian Karena adanya sungai ditengahnya. Di sebelah barat terdapat tambak yang cukup luas. Terdapat pohon nanas dan semak liar di pasirnya yang berwarna kecoklatan. Pantai di sebelah barat adalah tempat yang paling romantis. Sepi dan bebas memandang laut lepas. 


Semantara di sebelah timur adalah perkampungan nelayan yang padat penduduk. Kehidupan sederhana khas pesisir sangat terasa di sidem. Saya melihat ada masjid yang berdiri tepat di pinggir pantai. Sebelahnya berdiri warung - warung makan yang menawarkan menu andalan khas Tulungagungan. 



Mendekat ke bibir pantai saya di suguhi pemandangan yang tidak biasa. Aktifitas menangkap ikan dengan jaring yang ditarik ke pantai menjadi rutinitas warga di Sidem. Warga sidem menyebutnya dengan “Tarik jaring”. Tarik jaring dilakukan dengan menebar jaring besar berukuran 300 meter ke arah laut. Jaring di bawa ke laut menggunakan perahu. Setelah jaring – jaring tersebar orang - orang di pantai bersiap menariknya. Suasana kerjasa begitu harmonis terlihat. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit jaring mulai di tarik kedaratan. Butuh waktu hampir tiga jam untuk menyelesaikan proses ini. Lelah akan sirna ketika hasil tangkapan ikan segar berhasil di dapatkan. Hasil tangkapan tersebut dikumpulkan kedalam keranjang bambu untuk dibawa di tempat pelelangan. Sebagian besar tangkapan diangkut untuk kemudian dijual di Pasar Bandung. Sebagian lainya tentu di olah dan dijajakan langsung di pinggir pantai. Pengunjung bisa membeli ikan segar untuk dijadikan oleh - oleh. Atau membeli ikan bakar yang sudah siap makan adalah pengalaman yang menggoda siapa pun disana. Kreatifitas warga sidem mengolah hasil laut sudah tidak diragukan lagi. Trasi dan Ikan Asin salah satu produk yang laris manis diburu. 


Baca Juga : Tentang Perjalanan dan Cerita dibalik Pantai Popoh 

Saya kembali melanjutkan perjalanan menyisir pantai. Melihat rumah - rumah dan pohon kelapa yang seolah melambaikan daunya. Saya juga menjumpai para tukang mancing yang sedang asik dengan aktifitasnya itu. Pantai Sidem selalu menyimpan kenangan bagi siapa pun yang pernah singgah disana. Tentang alamnya, nelayan, dan kenangan perjalanan yang memaksa kembali untuk bernostalgia.

Share: