Catatan Perjalanan di Gunung Bromo (Episode 1)

Mendengar kata Bromo, bayangan kita akan tertuju pada sebuah gunung api cantik di wilayah Jawa Timur. Lokasi tepatnya berada di antara Kabupaten Malang, Pasuruhan, Probolinggo, dan Lumajang. Gunung api yang satu ini sangat terkenal dengan ikon yang sudah melekat dihati para pecinta perjalanan. Pada kesempatan yang berbahagia ini kami akan membahas keindahan Bromo lewat cerita perjalanan yang berhasil kami abadikan.

Sebuah perjalanan yang minim persiapan itu kami mulai dari kota dingin Malang. Menggunakan mobil pribadi yang terdiri dari empat orang perempuan dan dua orang laki - laki. Jalur yang kami pilih adalah Malang - Pasuruan - Warungdowo - Ranggeh - Puspo - Tosari - Gunung Bromo. Pukul 23.30 WIB mobil melaju lambat karena suasana cukup macet di daerah Lawang. Sangat kontras dengan sebelumnya justru perjalanan kami di daerah pasuruhan lebih sepi, bahkan sempat mobil kami terasa salah jalan karena dimalam yang hening itu tidak ada satupun kendaraan yang berlalu lalang. Perjalanan semakin keren dengan jalan khas pegunungan yang menanjak dan berkelok – kelok tajam. Meskipun beraspal mulus namun tikungan tajam itu berlangsung hampir berpuluh - puluh kali. Di kanan dan kiri jalan hanya terlihat gelep dan sesekali ada cahaya lampu itupun hanya satu dua. Namun yang pasti di beberapa titik masih ada petunjuk jalan yang terlihat cukup jelas.

MEMASUKI POS DAN BERGANTI MOBIL JIP
Setelah lolos dari perjalanan menegangkan tiba juga kami di pos pertama Tosari. Mobil kami dihentikan oleh petugas setempat, mungkin tanda kami harus berganti transportasi. Di dalam pos yang berukuran mungil itu seorang petugas dengan ramah memberikan informasi beberapa paket wisata, tentu harus dengan menyewa mobil JIP yang terlihat berjajar di sekitar pos. Akan tetapi kesepakatan belum juga terpenuhi, bukan masalah harga sewa, tapi lebih karena permintaan kami mengenai warna mobil belum bisa disediakan. Solusinya kami dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan di pos terakir Wonokitri. Lokasinya tidak terlalu jauh hanya beberapa menit saja sudah sampai. Di pos terakir ini terdapat pendopo dengan parkiran yang cukup luas, nah disini kami bertemu dengan Mas Slamet salah satu dari anggota paguyuban mobil JIP Bromo. Negosiasi pun dimulai dan akhirnya permintaan kami dapat terpenuhi dengan mobil JIP putih yang tampil lebih mewah dari lainya. Harga yang ditawarkan adalah Rp. 650.000,- untuk sekali jalan dengan empat lokasi wisata. Maksimal penumpang adalah enam orang, dan itu artinya memang pas dengan jumlah anggota kami. Namun biaya tersebut masih harus ditambah dengan tiket masuk Rp.27.500 / Orang. Sembari menunggu perjalanan ke spot pertama kami masih ada waktu untuk sekedar mempersiapkan baju hangat dan perlengkapan lainya.
Suasana semakin meriah ketika penjual kaos tangan dan kupluk (penutup kepala) menawarkan barang dagangannya. Di Wonokirti ini suhu pegunungan yang dingin sudah terasa seperti menembus kulit saja. Sehingga kami harus menikmati dingin tersebut sembari menunggu keberangkatan selanjutnya pada pukul 03.00 WIB

MELIHAT MATAHARI TERBIT DI ATAS AWAN
Memulai perjalanan menuju pananjakan (spot pertama), kami dikejutkan dengan aksi sopir JIP yang kami tumpangi. Ditengah kegelapan dan jalur sempit berkelok-kelok naik turun, Mas Sopir mulai menunjukan kemahiranya mengendalikan mobil putih bertnaga itu. Kecepatan justru semakin ditambah tak peduli rintangan yang menghalang. Satu persatu mobil dan motor dari wisatawan lain dilibasnya dengan penuh percaya diri. Sebuah musik dengan tema gembira disuguhkan pada kami lewat audio sebagai pencair suasana, sungguh pengalaman luar biasa. Tanpa terasa mobil yang kami tumpangi sampai pada pananjakan, spot matahari terbit Bromo yang legendaris. Sampai disana belum terlihat tanda – tanda keistimewaan hanya dingin dan beberapa anak tangga dengan sedikit penerangan. Namun alangkah terkejutnya ketika kami melihat keatas langit, bulan tampak lebih dekat dan jutaan bintang terlihat lebih terang dari biasanya. Terus saja kami berjalan menempuh anak tangga yang tidak terlalu menanjak, samapi pada ujung lokasi dimana banyak orang sudah ramai berkrumun untuk berebut tempat terbaik melihat matahari terbit. Kami pun ikut berbaur dengan keramaian tersebut, sampai pada akhirnya seorang bapak penjual souvenenir menunjukan lokasi tersembunyi kepada kami. Lokasi tersebut berada dibawah pagar pembatas, tepatnya dibawah tower yang menjulang tinggi. Bermodal penerangan senter dari handphone bergegaslah kami menuruti arahan bapak penjual souvenenir tersebut. Dan ketika subuh menjelang cahaya merah dari timur mulai menampakan keindahanya. Sementara kami sudah bersiap mengabadikan di lerang bukit dengan penuh ketakjuban. 


Mentari mulai memberikan cahanya disisi timur permukaan gunung bromo yang bersanding mesra dengan gunung batok. Cantik persis dengan cerita yang dibangga – banggakan tentang keindahanya. Jepretan kamera mulai bersautan mengabadikan landscape yang mempesona. Kepulan asap dan gunung dengan mentari cantik memang terlihat seperti diatas awan.

Share: