Berziarah ke Makam Sunan Drajat

Sunan Derajat atau Raden Qosim adalah putra dari Sunan Ampel dan adik Sunan Bonang. Sunan Drajat dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang terkenal akan kecerdasan, kearifan dan kedermawanannya. Beliau memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Metode dakwah beliau diantaranya lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar, melalui pesantren, memberi petuah yang sarat akan makna,melalui media kesenian, serta melalu ritual adat tradisional yang disusaikan dengan ajaran islam. Sehingga banyak masyarakat jawa yang tertarik masuk Islam. 

Makam Sunan Drajat terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Kira – kira sekitar 14 Km dari taman Wisata Bahari Lamongan. Jika alamat tersebut kurang jelas maka sangat disarankan untuk menggunakan bantuan GPS agar lebih mudah sampai tujuan. Tepatnya pada hari Sabtu Kliwon 20 Juni 2015 yang bertepatan dengan hari ketiga bulan Ramadhan, Kami memulai perjalanan dari kota Tuban dengan rencana awal menuju Kota Malang. Namun sebelumnya kami sudah merencanakan akan berziarah ke makam Sunan Drajat yang letaknya disekitar pesisir pantai Lamongan. Perjalanan dimulai pukul 7 pagi dengan menyisir jalanan sepanjang pesisir pantai utara Tuban menggunakan sepeda motor. Sangat terasa dengan jelas aroma amis pantai dengan ombak – ombak yang agak tinggi. Di sepanjang jalan tersebut sering terlihat pantai – pantai yang indah dan sangat memanjakan mata. Rute jalan yang ditempuh secara fisik tidak terlalu nyaman karena masih banyak yang berlubang dan terganggu dengan adanya kegiatan perbaikan jalan, namun suasana yang umumnya berupa hutan menjadikan perjalanan terasa sejuk. Setelah melewati WBL suasana sekitar jalan mulai sedikit ramai. Dengan menggunakan bantuan GPS kami mulai masuk gang yang bertuliskan “jalan masuk kusus peziarah” sebuah gang kecil yang sebenarnya bukan jalan utama menuju makam. Perjalanan terus berlanjut melewati pemukiman Desa Drajat dengan lorong – lorong kecil yang terkesan sederhana. Akirnya pada jam 8.50 kami tiba tepat di depan gapura masuk makam yang terlihat tua dan bersejarah. Tepat didepan pintu masuk terdapat tempat parkir kecil dan mushola yang digunakan untuk berwudhu. Akhirnya tiba juga saatnya kami melangkahkan kaki memasuki pintu kayu yang  terlihat unik dengan ukiran – ukiran kas jawa.




Pada sisi selatan halaman pertama makam terdapat pagar pacak suji dengan pintu kayu beratap sirap menghadap ke selatan. Ketika awal masuk kita akan memasuki selasar yang bergaya seperti rumah jawa tradisional dengan suasana yang sakral. Selasar tersebut menghubungkan ke halaman kedua. Memasuki halaman kedua terdapat bangunan seperti bale dengan bentuk alas segi empat dan beberapa pilar.




Memasuki area yang kedua akan akan disuguhi papan – papan kayu yang digantung diatas soko (pilar)  bertuliskan petuah – petuah dari Sunan Drajat. Disamping slasar terdapat makam – makam kuno dengan patok batu yang terlihat sudah berumur ratusan tahun. Pagi itu suasana sangat sepi karena sedang ada renovasi pada bangunan utama. Memasuki area utama yang terletak diposisi paling tinggi kita akan naik tangga batu menuju makam Sunan Drajat. Bangunan utama yang asli sekarang sudah tertutup konstruksi limasan yang melindungi seluruh area makam. Namun kontruksi limasan dibuat terbuka dan difungsikan hanya untuk melindungi area makam.  Area makam utama sendiri juga berbentuk bangunan kecil berbentuk limasan beratap kayu. Ukuranya sekitar 4,5 x 4,5 meter membentuk persegi. Atap makam dibuat rendah agar ketika memasuki area makam utama dipaksa merunduk yang mengandung filosofi untuk menghormati sang sunan.




Pagi itu seperti kebiasaan para peziarah lainya, kami membaca doa-doa yang ditujukan untuk Sunan Drajat sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuh yang telah banyak berjasa mensyiarkan islam. Setelah selesai berdoa perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalan kecil sekitar makam berbentuk undakan – undakan batu menuju Masjid, Musium, dan pasar yang menjual souvenir. Terdapat masjid atau surau kecil Sunan Drajat yang berbentuk panggung dan hampir seluruh materialnya terbuat dari bahan kayu. Dari kejahuan memang tidak tampak seperti masjid namun setelah kita memasuki ruangan tersebut akan terlihat ruangan kas langgar tempo dulu. 


Suasana disekitar masjid sangat asri dan penuh pepohonan. Disekitarnya terdapat tempat beristirahat dan musium.  Pada bagian sisi musium yang menghadap masjid dipajang sebuah peninggalan bayang gambang . Bentuknya berupa papan kayu panggung mirip angkringan. Menurut keterangan yang ada bayang gambang digunakan sebagai tempat musyawarah para sunan untuk memutuskan hal-hal yang penting dan sebagai tempat mengaji sahabat dan murid – murid Sunan Drajat. Sayangnya kami tidak bisa masuk musium karena pada hari itu sedang libur


Perjalanan menuju tempat parkir kami melewati ruko – ruko pasar yang pada saat juga libur. Menurut info  pasar yang lumayan luas tersebut digunakan untuk berjualan aneka makanan, berbagai macam souvenir. Bagian depan dari pasar tersebut adalah area parkir bus  dan mobil yang luas. Perjalanan kami akhiri dengan mengambil motor dan kembali ke tujuan awal kota malang. Sekian dari cerita kami semoga lebih banyak yang tertarik untuk kembali mempelajari sejarah dan budaya.  










Share: