Sabtu, 27 Juni 2015

Berziarah ke Makam Sunan Bonang



Tuban bumi wali bagitulah slogan yang akan kita lihat ketika memasuki kabupaten Tuban. Slogan tersebut memang sesuai karena di Kabupaten Tuban terdapat makam beberapa para wali yang sangat berjasa mensyiarkan agama Islam di Nusantara. Salah satu makam wali di Tuban yang selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah baik peziarah lokal maupun peziarah yang berasal dari luar Kabupaten Tuban adalah makam Sunan Bonang. Makam Sunan Bonang terletak di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Lokasi ini berada di pusat kota Tuban, di sebelah barat alun – alun atau lebih tepatnya belakang Masjid Agung Tuban. Lokasi tersebut sangat mudah untuk ditemukan karena berada di jalur Surabaya – Semarang. Sebagai petunjuk lokasi letak jalan ini berada mepet dengan pantai utara Jawa.
 
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau adalah kakak Sunan Drajat atau  putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Ilmu kebatinan merupakan ilmu yang terkenal dimiliki oleh sunan bonang. Dalam dakwahnya sunan bonang mempunyai strategi dakwah yang rata-rata menyentuh hati rakyat, Beliau memanfaatkan kesenian sebagai media dakwah. Banyak karya – karya terenal beliau yang terkenal salah satunya tembang Tombo Ati. Beliau juga seorang pencipta instrumen gamelan bonang sekaligus seorang dalang yang piawai dalam memainkan lakon perwayangan yang bernafas islam. Jadi tidak heran jika banyak masyarakat yang masuk Islam oleh syiar dari beliau.


Berikut ini adalah kisah perjalanan kami berziarah ke Makam Sunan Bonang. Perjalanan menuju makam dimulai dari Masjid Agung dengan berjalan kaki menuju gapura putih besar di pojok alun – alun Tuban. Setelah melewai gapura tersebut kita akan disuguhkan pemandangan layaknya pasar dengan kios – kios yang menawarkan berbagai barang dagangan mulai dari souvenir, makanan, pakaian yang cocok untuk oleh – oleh. Berjarak sekitar 100 meter berikutnya terdapat tanda panah yang memberikan informasi arah makam. Dengan mengikuti petunjuk tersebut sampailah kami pada gapura pertama menuju halaman satu. Gapura pertama berbentuk semar tinandu, terbuat dari susunan bata diplester, berwana putih dengan hiasan tulisan arab dan ukir-ukran  di bagian atas pintu. Di kanan kiri pintu terdapat dinding terawang (jalusi) bermotif kawung. Gapura tersebut cukup rendah sehingga untuk memasuki harus dengan agak menunduk. Di halaman pertama terdapat dua pendopo berbentuk limasan namun tak berdinding. Fungsi dari bangunan ini selain digunakan sebagai tempat istirahat peziarah, pada waktu – waktu tertentu digunakan sebebagi tempat selamatan.


Untuk masuk ke halaman kedua kita harus memasuki gerbang kedua berupa gapura paduraksa setinggi kurang lebih 5 meter. Terbuat dari susunan balok tras dengan pintu kayu sebagai penghubung halaman 1 dengan halaman 2. Atap gapura terdiri dari tiga tingkat dan bentuknya semakin mengecil di bagian atas. Gapura ini memiliki hiasan yang unik yang berbentuk geometris, motif sulur – sulur daun dan hiasan tumpal serta hiasan piring – piring cina cantik . Sementara pintunya terbuat dari kayu dengan ukir – ukiran yang indah. Memasuki halaman kedua terdapat halaman yang cukup luas dengan berbagai fasilitas umum, diantaranya adalah kamar mandi, tempat wudhu, kantor informasi / keamanan, pendopo yang digunakan untuk istirahat, serta bangunan masjid kuno astana yang masih berdiri kokoh.



Oke, setelah puas menyusuri halaman satu dan dua selanjutnya kita menuju halaman ketiga (utama). Gapura masuk halaman utama ini berbentuk sangat indah layaknya candi – candi kuno dengan hiasan piring cina yang tersusun rapi. Pada hiasan piring cina tersebut terdapat tulisan arab diantaranya berbunyi Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.  Pada bagian belakang terdapat dinding tembok yang lazimnya disebut bangunan kelir. Menurut metodologi kuno bangunan kelir dapat berati simbol penolakan bahaya. Sampai pada halaman utama akan terlihat banyak makam – makam kuno di samping kiri dan kanan selasar yang menuju bangunan makam. 



Tepat diujung selasar terdapat cungkup berbentuk limasan dengan atap berupa kayu. Cungkup tersebut merupkan tempat yang diyakini sebagai makam dari Sunan Bonang. Bangunan cungkup tersebut mempunyai pataka (lambang) terbuat dari perunggu dan bermotif tumpal dan dilengkapi hiasan semacam padma. Cungkup makam berbentuk sinom dengan atap sirap dan dindingnya diberi lubang semacam kisi – kisi. Selain menggunakan dinding tembok makam utama ini juga menggunakan dinding kayu yang lazimnya disebut dengan gebyok. Jirat makam terbuat dari susunan balok tras, berbentuk tingkatan pelipit dihias bentuk antefiks dan motif padma. Nisan berbentuk lengkung dengan puncak datar. Nisan bagian kepala makam Sunan Bonang dihias bentuk surya. Suasana makam utama sangat hikmat, tiap harinya datang peziarah dari berbagai daerah yang meramaikan area makam dengan doa dan dzikir – dzikirnya sebagai bentuk penghormatan kepada Sunan Bonang.




Banyak pelajaran yang kami peroleh dari wisata religi makam Sunan Bonang ini. Diantaranya perpaduan tradisi lokal dengan ajaran islam dikemas sangat indah oleh kreatifitas Sunan Bonang. Terdapat tradisi – tradisi budaya yang sampai sekarang masih dipegang oleh masyarakat di area makam kususnya dan oleh masarakat Nusantara pada umumnya. Diantranya ketika kami mengunjungi makam Sunan Bonang pada hari jumat 26 Juni 2015 kemarin yang kebetulan bertepatan dengan bulan puasa terdapat tradisi pembagian bubur suruh. Kegiatan tersebut membuktikan bahwa ajaran dari Sunan Bonang  masih dilestarikan oleh masyarakat, kususnya oleh masyarakat Tuban sendiri. Semoga artikel ini dapat  menambah wawasan kita dan menjadi pemicu kita untuk terus mengeksplorasi budaya Nusantara.


Share: