“Slametan Nduduk Pondasi”, Tentang Tradisi Orang Jawa ketika Membangun Rumah


Pagi - pagi sekali saya kedatangan orang atur - atur (mengundang untuk suatu keperluan). Ketika melihat jam dinding ternyata masih pukul enam. “Sakniki Mas Nggeh, Kajate Slametan Nduduk Pondasi” ungkapnya memberi penjelasan. Ya, pagi itu juga saya diminta untuk menghadiri acara slametan.

Slametan atau selamatan adalah tradisi yang paling sering dilakukan masyarakat Jawa. Pada Prakteknya slametan dilakukan dengan cara mengundang beberapa tetangga dan kerabat. Kemudian berkumpul dan melakukan doa bersama. Diakhiri dengan makan bersama dan membawa berkat (bingkisan makanan) untuk dibawa pulang. Tujuan utama dari slametan adalah mendapat keselamatan dan perlindungan dari Tuhan Semesta Alam. Slametan juga merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur.

Bagi masyarakat Jawa slametan selalu dilakukan hampir disemua kejadian. Mulai dari kelahiran, kematian, khitanan, pernikahan, terkait perayaan Islam, menyambut hari atau bulan tertentu, bersih desa, membeli kendaraan, membuat rumah, dan tentu saja masih banyak lagi.

Kebetulan hari itu libur akhir pekan. Pak Nani sedang punya hajat membangun rumah. Lebih tepatnya masih tahap awal yaitu membuat pondasi. Prosesi ini sering disebut dengan istilah “Nduduk Pondasi”. Nduduk memiliki arti “menggali”, maksudnya menggali tanah untuk keperluan pondasi. Ada tradisi khas yang selalu dilakukan orang – orang di Dusun Ngembong (Kab. Tulungagung), ketika membuat pondasi. Seperti masyarakat jawa pada umumnya, mereka mengawalinya dengan slametan.

Saya pun bergegas menuju rumah yang punya hajat. Ikut srawung (berbaur) dengan tetangga dengan kehidupan sosialnya yang khas. Ketika saya datang, ruangan sudah penuh. Ada sekitar sepuluh orang yang sudah hadir. Mereka duduk bersila mengelilingi berkat dan beberapa properti untuk keperluan slametan. Slametan seperti ini memang skalanya lebih kecil. Undangannya pun hanya untuk tetangga dekat saja.

Suasana acara slametan setelah selesai doa
Disetiap slametan nduduk pondasi ini biasanya ada beberapa makanan dan properti khusus. Mungkin sebagian orang memaknainya sebagai sesajen. Padahal bukan itu masksudnya. Ada banyak hal tersirat yang ingin disampaikan lewat simbol makanan atau properti tersebut. Ya banyak sekali petuah - petuah luhur Jawa yang tersembunyi dibaliknya.

Lalu apa saja yang biasanya dihidangkan dalam slametan ini ?
  • Jenang Sengkolo adalah bubur beras yang ditengahnya diberi gula merah. Sesui namanya, digunakan sebagai perlambangan tolak bala.
  • Sego Gureh adalah nasi putih yang memiliki rasa gurih karena dimasak dengan santan kelapa. Nasi menjadi simbol kehidupan dan kesejahteraan.
  • Lodho (ingkung) adalah masakan ayam utuh yang hanya diambil isi perutnya. Ini melambangkan keutuhan wujud, maksudnya segala harapan dan keinginan bisa terwujud atau tercapai.
  • Pala Kependem adalah semua jenis umbi - umbian yang termasuk didalamnya telo rambat, suweg, bote, ganyong, uwi, dan lainnya. Jika dilihat dari kenyataannya, polo kependem merupakan sebuah akar dari tumbuhan. Analogi akar erat kaitannya fondasi rumah yang terpendam (kependem).
  • Gedang Rojo (Pisang Raja) dipilih karena kata “gedang” memiliki pelafalan yang dekat dengan kata “padang” (terang). Sehingga diharapkan segala prosesi yang dijalankan menjadi terang 

Tentu tidak hanya empat diatas, masih beberapa yang belum saya tuliskan. Yang pasti ada banyak hal yang harus dipelajari untuk menafsirkan simbol - simbol tradisi tersebut. Butuh banyak informasi untuk diinformasikan ulang pada generasi selanjutnya.

Acara pagi itu dipimpin salah seorang sesepuh. Dimulai dari sambutan, dan penjelasan maksud diadakannya slametan. Kemudian berlanjut pembacaan beberapa surat pendek Al-Qur’an bersama - sama. Untuk acara slametan seperti ini bacaanya tidak terlalu panjang. Sebagai puncaknya doa bersama pun dilakukan dengan penuh kekhusyukan.

Selesei doa, dua orang bergegas membagi berkat. Sego gureh dan ayam lodho dibagikan sama rata. Termasuk dengan jajanan khas slametan seperti jongkong dan apem. Berkat berasaal dari kata barokah (arab), diharapkan menjadi sebuah berkah bagi yang memakannya. Berkat ini nantinya dibawa pulang oleh masing - masing undangan.

Berkat slametan yang terdiri dari sego gureh, ayam lodho, geneman, telor, dan jajanan sslametan
Inilah yang menjadi salah satu kebahagiaan anak kecil di desa. Mereka akan antusias menanti berkat yang dibawa ayahnya sepulang dari slametan. Meskipun sederhana berkat menjadi sesuatu yang paling ditunggu - tunggu.

Selain berkat, juga ada nasi rames untuk dimakan bersama - sama usai acara slametan. Tak ketinggalan segelas kopi dan teh menjadi pelengkap jamuan. Suasana hangat pun tercipta. Kami saling bercengkrama membahas kabar masing - masing. Topik tentang sawah menjadi hal utama, karena kami memang tinggal dipedesaan.

Selesei acara slametan orang - orang akan kerumah masing - masing. Tapi sebagian ada yang balik lagi kerumah yang punya hajat untuk “sambatan”. Sambatan ini adalah istilah gotong royong. Para tetangga ini akan suka rela memberikan bantuan tenaga. Durasinya mungkin tidak lama atau malah terkesan simbolis, tapi cukup membantu tukang dalam proses pengerjaan pondasi.

Kebahagiaan ketika pulang membawa berkat hasil slametan
Begitulah harmonisnya kehidupan sosial di desa. Tentang slametan ini tentu saja ada pelajaran yang dapat dipetik. Kebersamaan (Jamaah) adalah mutlak diperlukan manusia sebagai makhluk sosial. Slametan juga mengajarkan untuk berbagi (sodaqoh) kepada sesama. Puncaknya slametan mengajarkan kita untuk selalau mengingat Tuhan dalam melakukan semua hal. Baik itu sebelum maupun sesudah. Karena sejatinya kehidupan hanya bersumber dari Tuhan Yang Maha Segalanya. 
Share: