Pembuat Barongan dan Keris dari Dusun Ngembong




Ada secerca harapan yang saya tangkap dari dusun kecil tercinta ini. Namanya Mas Ali Sodik (30), anak muda yang menaruh minat pada kearifan budaya Jawa. Khususnya dalam hal pembuatan benda seni dan pusaka. Dari belajar secara otodidak, ia sudah menghasilkan beberapa karya bernilai seni tinggi. Beberapa diantaranya seperti barongan dan keris sukses membuat saya takjub. 
 
Pagi itu (1/8/17) saya bertandang ke rumah Mas Ali di Dusun Ngembong, Desa Bulus, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Tujuannya tentu melihat lebih dekat Mas Ali berkreasi. Di Dusun Ngembong ini juga terkenal dengan industri kerajinannya. Meskipun masih sekala rumahan namun produk yang dihasilkan layak untuk diperhitungkan. Produk seperti anyaman bambu dan sangkar burung dari Dusun ini sudah dikenal masyarakat luas. Maka tak heran jika para pengrajin handal (seniman) lahir dari tempat ini.

Mengintip Proses Pembuatan Barongan
Dari teras rumah sederhananya kala itu, sudah nampak kesibukan. Seperti biasa Mas Ali larut dalam keseriusan menyelesaikan buah karyanya. Ketika saya datang, segera ia menghentikan semua aktifitasnya. Menyambut penuh ramah, dan mempersilahkan saya melihat dari dekat proses pembuatan barongan. 


Barongan adalah topeng berbentuk kepala naga yang terbuat dari kayu. Bagian mulutnya bisa digerakan, jika mengatup maka keluar bunyi keras. Barongan diperankan sebagai tokoh antagonis, berkuasa, dan menakutkan. Produk seni khas jawa ini bisa didapati pada seni pertunjukan jaranan. Barongan memegang peranan penting karena menjadi inti cerita seni pertunjukan jaranan. Cukup satu orang untuk memainkannya. Barongan akan semakin menarik kala pemainnya kerasukan makhluk halus.  



Ketertarikan Mas Ali pada pertunjukan Barongan menantang kreatifitasnya. Empat tahun yang lalu ia memberanikan diri membuat barongan. Ia menuturkan awalnya hanya bermodal mengamati dan kesungguhan. Bahkan hanya menggunakan peralatan dan bahan baku seadanya. Satu persatu karya ia hasilkan dengan penuh ketelatenan. Membuat barongan itu harus multi talenta. Setidaknya harus punya keterampilan dasar melukis dan memahat. Yang lebih penting lagi tentu jiwa seni yang tinggi. 


Proses pembutan barongan kurang lebih tujuh hari. Tergantung kerumitan ukiran pada topeng kayu tersebut. Semakin rumit semakin lama. Tentu saja juga semakin tinggi nilai jualnya. Tahap pertama adalah mempersiapkan bahan baku berupa kayu. Uniknya Mas Ali hanya menggunakan kayu dari pohon yang tumbang secara alami. Seperti tumbang diterjang angin, Lapuk akibat faktor usia pohon, atau sisa penebangan imbas pembangunan jalan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Filosofi ini ia pegang teguh dan sering ia kampanyekan. Baginya berkarya tidak hanya untuk kepentingan manusia. Berkarya juga wajib selaras dengan alam.

Bahan baku utama barongan adalah kayu berbentuk tabung. Dari kayu tersebut kemudian dibuatlah sketsa dasar. Tahap ini butuh imajinasi dan kepekaan bentuk seni tiga dimensi. Setelah selesai berlanjut pada proses membuat ukiran. Dengan bantuan tatah (peralatan ukir) ia mulai mengerjakan tahap demi tahap. Semuanya dikerjakan manual mengandalkan keterampilan tangan. 

Dan pagi itu saya ikut melakukan proses pengecatan. Beberapa cat warna – warni sudah disiapkan lengakap dengan kuasnya. Proses pengecatan pada kepala barongan sudah hampir selesai. Mas Ali melanjutkan dengan melukis bagian jamang. Jamang adalah bagaian belakang kepala barongan bentuknya lebih mirip gunungan pada wayang. Bahannya dari kulit binatang namun bisa juga dengan kulit sintetis yang lebih murah.




“Membuat karya seni itu harus dengan hati, supaya bisa diterima oleh hati” ucapnya pada saya sembari menuruskan melukis. Karya Barongan Mas Ali ini sudah banyak dimiliki beberapa grup kesenian jaranan lokal. Bahkan yang terbaru peminatnya sudah luar daerah. Harga dari barongan yang termurah berkisar tiga juta rupiah. Untuk ukuran yang lebih besar mungkin lebih mahal lagi. Saya mencoba memainkan barongan yang sudah jadi. Cukup berat untuk mengangkatnya, tapi ini adalah pengalaman berkesan untuk saya.

Kerajinan Keris yang Berkelas
Bakat seni keterampilan Mas Ali juga menghasilkan keris. Benda yang tidak hanya dijadikan senjata adat, tetapi lebih pada pusaka oleh suku Jawa. Dulu pusaka ini hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Raja dan Bangsawan ternamalah yang berhak memilikinya. Keris adalah simbol kekuasaan. Seseorang yang memegang keris dianggap memiliki jiwa kepemimpinan yang karismatik. 



Bagi Mas Ali membuat keris adalah kebanggaan tersendiri. Jumlah pengerajin keris memang jarang ditemui. Meskipun kepopuleran keris masih langgeng dari generasi ke genarasi. Butuh lebih banyak lagi pengerajin keris. Semua itu untuk keberlanjutan masa depan keris sebagai benda pusaka khas.



Keris umumnya memang berbahan logam seperti baja. Namun sebagai pusaka ada juga yang dibuat dari bahan kayu tertentu. Mas Ali sendiri lebih banyak menggunakan bahan yang full kayu. Bukan kayu sembarangan, ia hanya memilih jenis yang teruji kualitasnya. Dan tentu saja masih dengan filosofinya tentang alam. Salah satu yang ia pilih adalah kayu stigi. Kayu yang terkenal dengan daya magis dan memiliki segudang kelebihan. Untuk mengetes keaslian kayu stigi, biasanya harus dimasukan kedalam air. Yang unik kayu stigi ini langsung tenggelam, seperti memiliki berat layaknya logam. Kabarnya jenis kayu ini sulit untuk dicari. 



Dari bahan berkualitas tersebut Mas Ali membuat keris dengan cita rasa seni tinggi. Lekukan - lekukan khas penuh makna tercipta pada karyanya tersebut. Jenis Majapahitan dan Sunan Kalijaga menjadi ragam yang paling banyak ia kerjakan. Semua bisa dilihat dari bentuk dan ukiran pada gagang dan sarung keris. Sama seperti barongan, semakin banyak detail ukiran semakin banyak pula ketelatenan yang dibutuhkan. Semua akan terbayar lunas dengan hasil karya yang berkelas. Sebuah karya seni berwujud pusaka yang menjadi kebanggaan.

Melestarikan budaya bukanlah perkara mudah di zaman yang serba dinamis ini. Para pelestari pun umumnya sudah berusia lanjut. Ini karena proses pewarisan budaya sering terbentur perubahan zaman. Budaya dianggap sudah ketinggalan zaman. Padahal banyak yang dapat diambil untuk dipelajari. Lebih jauh lagi budaya adalah identitas suatu bangsa. Maka menjaga dan meneruskannya adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Dari Mas Ali saya mendapat pelajaran yang begitu berharga. Kecintaan pada budaya dan kearifan hidup bersama alam. Tentang berkarya dengan hati dan hasil karya yang bisa menyentuh semua hati. Dan tentu saja pengalaman berharga melihat langsung pelestarian budaya penuh makna.

Catatan :
  •  Sahabat bisa membeli atau memesan barongan dan keris secara langsung maupun online dengan menghubungi  082381602100
  • Sahabat bisa mengunjungi langsung tempat pembuatan kerajinan Barongan dan Keris di rumah Mas Ali. Lokasinya di Dusun Ngembong, (RT.1 / RW.1 | No.1) Ds. Bulus, Kec. Bandung, Kab. Tulungagung, Jawa Timur. Buka setiap hari mulai pukul 8 pagi ( Kecuali Hari Libur )





Share: