Banyu Nget dan Air Terjun Rangkambu, Keindahan dalam belantara Hutan Watulimo


Ini adalah cerita perjalanan kami menembus belantara hutan di Watulimo. Salah satu Kecamatan di wilayah selatan Kabupaten Trenggalek dengan bentang alamnya yang tersohor. Watulimo adalah surga bagi penikmat pesona alam. Khususnya untuk para petualang yang gemar akan tantangan. Semua ada disini, mulai dari deretan pantai ternama, air terjun eksotis, tebing batu vertical tertinggi di Jawa Timur, goa terpanjang se-Asia Tenggara, dan yang terbaru adalah hutan durian terluas di dunia. Belum lagi dengan keindahan - keindahan lain yang tersembunyi dibalik belantara hutan. Maka sangatlah pantas jika Watulimo dijadikan icon wisata utama Trenggalek.

Kami sangat menikmati perjalanan darat ini. Jalurnya berkelok - kelok naik turun membelah hutan. Sesekali terlihat pemandangan sawah berundak dan kemegahan gunung selatan yang menawan. Semua akan lengkap manakala garis laut membaur dari jarak pandang yang jauh. Pemukimannya tidak terlalu padat. Namun banyak ditemui pedagang buah di pinggir - pinggir jalan. Manggis, salak, pisang dan kalau beruntung bisa melihat langsung panen raya durian.

Tujuan perjalanan ini adalah Dusun Ketro di Desa Dukuh. Desa yang bersembunyi diantara 650 hektar hutan durian. Ya, hutan durian terbesar di dunia. Akses untuk menuju ke Ketro sebenarnya tidaklah sulit. Cukup mengikuti arah ke pantai Prigi. Nanti setelah sampai di pasar Winong (Watulimo) akan ada papan petunjuk yang membantu. Dari pertigaan pasar tersebut hanya butuh kurang dari 500 meter untuk sampai di lokasi.




Apa yang menarik dari Dusun Ketro ini ?. Sejak diresmikan pada Juli 2016 tahun lalu, nama Banyu Nget dan Air Terjun Rangkambu semakin naik daun. Keindahan alam berupa air terjun, aliran sungai berbatu dan kedung dengan air hangat dikemas dalam satu paket wisata.

Butuh proses yang tidak mudah untuk mengangkat wisata baru. Di lahan milik perhutani tersebut dulunya belumlah seperti sekarang. Akses ke air terjun masih sulit, ranting pohon berserakan dimana – mana. Hanya sedikit orang yang tahu tempat ini. Namun kerjasama yang panjang itu sekarang mulai menunjukan hasilnya. Kini Ketro ikut ambil bagian menjadi salah satu destinasi wisata di Watulimo.

Setelah menembus rimbunya pepohonan Dusun Ketro, pagi itu kami sampai di lokasi. Papan selamat datang bertuliskan Banyu Nget terlihat masih baru. Disampingnya ada sebuah gapura dan pos jaga yang mengusung arsitektur etnik. Kami menghentikan motor di lahan parkir luas di atas bukit itu. Keseriusan warga menggarap wisata ini sangat nampak mana kala kami melihat display tempat masuknya. Rumput, aneka tanaman dan bunga disusun sedemikian rupa membentuk taman. Dilengkapi dengan kandang burung dan rumah pohon yang menarik untuk spot foto. Sementara di tengah taman sudah siap anak tangga berundak menuju gerbang kedua perjalan selanjutnya.


Pemandangan Halaman Parkir dari Rumah Pohon

Sebelum melanjutkan perjalanan kami mendapati info yang lebih rinci tentang tempat ini. Ternyata dalam satu kawasan wisata alam ini terdapat spot - spot yang lain. Diantaranya Banyu Nget, Kedung Batu, Goa Grojok, Batu Payung, Rangkambu, dan Goa Rancang. Kesemuanya masih dalam satu rangkaian. Ini seperti paket lengkap yang memaksa kami untuk segera menuntaskannya.

Langkah demi langkah pun mulai kami tempuh. Berjalan kaki melewati jalan setapak dilereng - lereng kecil. Ketika kami datang hanya ada sedikit sekali pengunjung. Mungkin hari masih terlalu pagi. Sejauh mata memandang hanya terlihat hijau pepohonan. Teduh dan membuat suasana damai lebih terasa bersama alam. Namun harus tetap waspada mengingat disamping jalan juga terdapat jurang.

Jembatan Bambu, Gazebo dan Banyu Nget
Kami menghentikan sejenak langkah kaki. Memandangi jembatan bambu yang membelah sungai berbatu itu. Bentuknya unik dengan batu besar yang menopang di tengahnya. Ini seperti bernostalgia dengan sesuatu yang sudah lama dirindukan. Tentu saja kami tak ingin terburu - buru melintasinya. Di seberang jembatan beberapa warung dan gazebo apik tertata rapi. Menghadap kedung banyu nget dan sungai. Semuanya mengusung konsep etnik yang selaras dengan alam. Fasilitas umum seperti Mushola juga sudah dibangun dengan konsep yang sama. Membuat siapapun betah berlama – lama disini.

Perjalanan kali ini terasa lengkap setelah kami bertemu dengan Pak Dani Sugianto. Salah seorang warga sekitar yang menjadi petugas disana. Sehari - hari beliau memiliki banyak peran, sebagai petugas kebersihan, keamanan dan seorang pemandu handal. Pak Dani memaparkan banyak hal tentang tempat ini. Beliau mengungkapkan bahwa setiap harinnya ada saja pengunjung yang datang. Kebanyakan malah dari luar kota. Selain mendapat perhatian dari pemerintah daerah, wisata ini juga menarik perhatian pemerintah pusat. Kabarnya akan ada bantuan untuk proses pembangunan lebih lanjut. Namun begitu menurut Pak Dani pengelolaan wisata ini memiliki standar khusus. Yang pasti konsep selaras dengan alam adalah hal yang utama.

Lokasi Kedung Banyu Nget

Spot pertama bernama Banyu Nget adalah kedung dengan air yang jernih. Luasnya sekitar lima meter dengan kedalaman setengah sampai dua meter. Sesui namanya “Banyu Nget” ini memang berasal dari kata “banyu anget”. Di tempat ini memang terdapat sumber air hangat (banyu anget) yang muncul dari lubang kecil dekat batu. Suhu hangatnya tidak akan terasa kalau sekedar mencelupkan tangan di kedung. Untuk membutikan fenomena banyu anget ini salah seorang pengunjung berenang mendekati sumber. Ia membenarkan perihal fenomena tersebut. Banyak yang percaya airnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Itu karena air hangat yang keluar diduga mengandung belerang. Kabarnya kemunculan sumber air hangat tersebut erat kaitannya dengan gunung api purba. Namun perlu penelitian yang lebih lanjut tentang hal ini.

Kedung Batu, Goa Grojok, dan Watu Payung
Sedikit naik keatas kami menuju ke spot selanjutnya. Butuh sedikit perjuangan meskipun letaknya berdampingan namun aksesnya berupa bidang vertikal. Kami hanya berpijak pada batuan layaknya pemanjat tebing. Ada air terjun kecil namun bukan itu ternyata. Pak Dani memandu kami sampai pada tempat yang diapit dua tebing tinggi. Di tengannya ada sungai yang dihambat beberapa batu. Untuk sampai di Goa Grojok dan Kedung Batu aksesnya lewat batu - batu tersebut. Cukup ekstrim karena salah sedikit bisa terpeleset. Nama Goa Grojok diberikan karena merupakan goa dengan air yang menggrojoknya dari atas. Sedengkan Kedung batu adalah tempat dimana air dari goa grojok bermuara. Persis seperti kolam dari batu yang airnya juga super jernih.


Pak Dani Menunjukan Jalan ke Goa Grojok dan Kedung Batu 

Seorang Pengunjung Berfoto di Spot Watu Payung

Kami harus keluar dari kedua spot tersebut. Bergegas menuju Watu Payung yang berada diatasnya. Jalan setapak yang kami lewati semakin eksotis. Kumpulan bambu menemani sepanjang langkah. Dulu warga sekitar sering memanfaatkan lokasi watu payung untuk berteduh mana kala pergi kehutan. Bongkahan batu besar tersebut membentuk goa kecil yang sanggup menahan terik matahari. Di depannya juga terdapat kubangan kecil yang airnya selalu mengalir.

Air Terjun Rangkambu dan Goa Rancang
Kami melanjutkan petualangan seru ini, dan akhirnya mendapati apa yang kami inginkan. Sebuah air terjun menawan bersembunyi diantara pepohonan yang menjualang tinggi. Kata Pak Dani dulu warga sering mendatangi tempat ini untuk menangkap urang / udang kambu. Sepesies hewan air yang banyak ditemukan di tempat ini. Oleh karena itu warga memberikan nama tempat eksotis ini air terjun / curug “Rangkambu”. Ini seperti lukisan nyata, air terjun dengan kedung dibawahnya yang sangat bening. Karena ini musim kemarau airnya tidak terlalu deras. Hanya mengalir lirih dari puncaknya, melewati dinding batu hitam besar. Kami tak kuasa untuk segera mendekati kolam air alami itu. Bahkan karena kejernihan airnya, mata kita sanggup melihat langsung bagian dasar kedung. Itu artinya spot ini bisa digunakan untuk foto under water. Namun begitu kedalaman kedung di bagian tengah mencapai 4 meter. Bagi yang tidak bisa berenag wajib untuk meminjam baju pelampung atau ban. Atau cukup bermain air di tepian kedung sambil berendam santai.

Suasana di Air Terjun Rangkambu

Kicau burung dan suara ranting yang tertiup angin seakan menjadi musik rileksasi alami. Beberapa menit kami hanya duduk di kursi kayu tepat didepan Rangkambu. Menghirup udara segar khas hutan dan menikmatinya penuh kepuasan. Sungguh nikmat mana lagi yang kami dustakan.

Menerawang keatas terdapat sebuah lubang besar dengan sedikit semak belukar yang menutupinya. Letaknya persis disamping atas air terjun Rangkambu. “Itu Goa Rancang, Masnya mau kami antar kesana ?”. Tentu saja tawaran Pak Dani tersebut langsung kami terima. Tidak mudah untuk sampai kesana, harus berjalan dulu memutari air terjun. Dengan medan tempuh seperti naik kepuncak gunung. Nafas mulai ngos - ngosan dan keringat pun ikut bercucuran. Tapi rasa penasaran yang memuncak membuat kami tetap setia mengikuti langkah Pak Dani. Beberapa menit kemudian kami sampai di puncak air terjun. Ternyasta bagian atasnya adalah sebuah sungai. Sebenarnya semua spot yang sudah dilalui masih terhubung dalam satu rangkaian Kali Keping. Jika naik keatas lagi sejauh beberapa kilometer kita akan sampai pada air terjun / curug Nanas. Tentu saja untuk lain waktu, karena butuh persiapan ekstra.


Panorama dari dalam Goa Rancang

Setelah menyebrangi sungai diatas air terjun sampailah kami di Goa Rancang. Goa rancang ini memiliki dua lubang utama. Yang pertama menghadap air terjun dan yang kedua disebelah barat sebagai pintu masuk . Bagian dalamnya cukup lebar meskipun tidak terlalu dalam. Sekali lagi harus tetap berhati - hati, karena dibagian yang menghadap air terjun itu lebih mirip jurang. Belum ada pengaman yang berarti, lengah sedikit bisa berbahaya. Di ruangan berbatu itu kami bisa menikmati rangkambu dari ketinggian. Sensasinya jauh berbeda, dalam gelap pemandangan kedung di bawah seakan menyala. Akar pohon yang bergelantungan di mulut goa membuktikan bahwa tempat ini masih sangat alami.





Matahari sudah semakin meninggi, rasa lelah pun sudah merasuk. Kami memutuskan untuk kembali menyusuri jalan setapak sebelumnya. Setelah tadi asik naik sekarang waktunya turun gunung. Untuk sementara tujuan kami adalah gazebo di depan Banyu Nget. Di Gazebo kami menghabiskan waktu cukup lama. Beristirhat dan santap siang dari warung sederhana disana. Sembari tetap asik memandangi aliran kali keping.

Salah satu yang paling kami ingat dari tempat ini adalah kebersihannya. Itu tidak terlepas dari kinerja petugas disana. Namun begitu pak Dani sempat mengeluhkan kelakuan beberapa pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Untuk isu klasik tentang sampah ini kami kira harus tetap gencar dikampanyekan. Mengaku mencintai alam berarti harus berani bertanggung jawab atas kelestariannya.

Itulah serangkaian perjalanan kami di Watulimo, Trenggalek. Masih banyak tempat yang harus dikunjungi. Salam berpetualang !



Info Penting :
  • Lokasi wisata ini berada di Dsn. Ketro, Ds. Dukuh, Kec. Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
  • Transportasi umum bisa menggunakan kereta api turun di Stasiun Tulungagung. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Terminal Gayatri Tulungagung. Naik Bus turun di pertigaan Durenan. Atau jika dari Terminal Trenggalek juga turun di Pertigaan Durenan. Dari Durenan silahkan menggunakan angkutan umum kolt / land jurusan Pasar Bandung – P. Prigi. Salanjutnya turun di pasar Winong ( Kecamatan Watulimo). Untuk selanjutnya tanyakan pada warga sekitar.  
  • Akomodasi berupa hotel berada di sekitar pantai Prigi. Tersedia juga “guest house” di sekitar lokasi. Info selengkapnya silahkan hubungi Bapak Dani Sugianto 081240762217

Share: