Sunday, 23 April 2017

Terpikat Pesona Pantai Coro dan Tebing Banyu Mulok

Matahari bersinar dengan cerahnya sementara udara sejuk memenuhi pagi. Tanpa pikir panjang saya langsung bergegas mengambil motor. Mengajak saudara kecil saya untuk menyusuri jalanan desa yang masih lengang. Terlintas sebuah keinginan untuk menikmati suasana pantai, meskipun sudah terbilang cukup sering. Desa tempat saya tinggal memang tidak jauh dari pantai selatan Jawa. Banyak keindahan alam yang bertebaran. Yang terdekat seperti Watu Gedong dan Kalimas sudah saya tuliskan sebelumnya, dan sampai sekarang pesonanya tetap menjadi buah  bibir. Saya tinggal di Kabupaten Tulungagung lebih tepatnya di bagian paling barat dan berbatasan langsung dengan kabupaten Trenggalek.Jika ditarik garis lurus kurang lebih hanya 14 kilometer saja jarak antara rumah dengan kawasan teluk popoh yang terkenal itu.


Kawasan teluk popoh punya segudang tempat - tempat menawan. Secara beruntun sahabat bisa mengunjungi Pantai Klatak, Pantai Gemah, Pantai Bayem, Trowongan Neyama, Pantai Sidem, Padepokan Reco Sewu, Laut Bebas dan Pantai Popoh sendiri yang sudah melegenda. Terlebih lagi setelah kawasan tersebut di lewati Jalur Lintas Selatan. Membuat siapapun selalu antusias untuk mengeksplorasinya.

Di perjalanan saya sempat pesimis. Mengingat akhir pekan yang ramai, itu tandanya harus berbagi pantai dengan pengunjung yang lain. Rasanya mustahil mendapat suasana yang lebih tenang. Saya teringat nama pantai yang sudah lama saya dengar. Tetapi belum sempat saya kunjungi. Pantai Coro, begitulah orang biasa menyebutnya. Letaknya di sebelah timurdan berdekatan dengan pantai popoh. Pertama mendengar Pantai Coro ketika masih sekolah tingkat pertama. Jalan yang harus ditempuh terbilang sulit namun pantainya masih alami begitulah penjelasan dari teman saya. Penjelasan singkat tersebut membuat rasa penasaran saya memuncak. Namun sudah hampir bertahun – tahun belum juga kesampaian.

Hanya lima belas menit saja saya sudah sampai di kawasan popoh. Tentu saya sudah hafal betul jalanannya. Dulu hampir setiap minggu saya menghabiskan waktu di kawasan tersebut. Sedikit naik turun gunun dan melewati hutan kecil sampailah saya di jalan percabangan. Papan petunjuk sederhana itu memberikan informasi cukup jelas. Arah sebelah kanan langsung menuju pantai Popoh. Arah sebelah kiri kemudian saya pilih. Motor melewati padepokan reco sewu, salah satu jalur menuju Pantai Coro dan Tebing Banyu Mulok. Sedikit informasi, Banyu Mulok sendiri belakangan juga naik daun. Suatu tempat dengan padang rumputnya yang luas dan tebing batu yang megah. Meskipun sudah tersohor lagi - lagi saya juga belum sempat mengunjunginya.Kembali ke perjalanan, saya memilih parkir tepat didepan jalur masuk. Berisiap - siap jalan kaki dan menaklukan medan didepan sana, demi Pantai Coro dan Bonusnya Tebing Banyu Mulok.

Panas terik pagi mulai terasa. Menerawang kedepan hanya terlihat jalan kecil menembus belantara. Kondisi jalan setapak masih alami, hanya berupa tanah tanpa pengecoran. Beruntung cuacanya mendukung, kalau musim hujan tentu lain ceritanya. Kondisi seperti ini sangat mirip dengan perjalanan yang saya lakukan setahun lalu di Pantai Gatra dan Tiga Warna (Malang Selatan). Rumusnya sangat jelas, tempat - tempat yang tergolong alami selalu memerlukan usaha ekstra untuk mendapatkanya. Saya sempat menanyakan langsung pada penduduk sekitar. Berapa jarak yang harus saya tempuh dengan jalan kaki. “Kurang lebih satu setengah kilometer mas untuk sampai di sana” Jawab seorang penjaga parkir dengan ramah. Sambil menghela nafas, saya keluarkan hanphone dari saku celana. Mencoba memastikan jarak sebenarnya dengan google maps. Ternyata jika ditarik garis lurus jaraknya 1 km dari parkiran. Tetapi dengan kondisi jalan yang tidak semuanya lurus saya kira memang lebih dari 1 Km.



Langkah pertama saya mulai. Menginjakan kaki dan mencoba menikmati perjalanan kecil ini. Banyaknya pohon jati memberikan keuntungan sendiri bagi saya. Selain menjadi payung alami, pemandangan khas hutan bisa dinikmati di sepanjang perjalanan. Belum lama berjalan sudah disambut kali kecil yang memotong jalan. Airnya cukup jernih dan mengalir lirih melintasi batu - batu alam. Entah dari mana sumbernya yang pasti air tersebut air tawar. Tidak jauh dari kali pertama ini saya juga mendapati kali lagi. Ukuranya sedikit lebih lebar dan sekali lagi airnya jernih menggoda. Menurut warga segitar untuk sampai di Pantai Coro harus melawati tujuh kali terlebih dahulu. Kali - kali tersebut hanya berukuran kecil dan tidak perlu menggunakan jembatan.

Dalam perjalanan saya menjumpai beberapa pengunjung lain. Mereka terlihat berhenti sejenak di pinggir jalan. Kebanyakan dari mereka masih usia remaja. Namun ada juga satu dua rombongan keluarga. Sesuai perkiraan saya, pengunjungnya bisa dihitung jari meskipun akhir pekan. Beberapa menit kemudian saya sampai di pos pertama. Dua orang penjaga berseragam tampak sudah siap menyambut. Dari dalam loket sederhana itu mereka sibuk mempersiapkan tiket. Di sebelahnya ada dua warung kecil dan lainya hutan. “Tiket masuknya lima ribu mas, satu orang saja”  ucapnya pada saya. Sesudah membayar saya bergegas melanjutkan perjalanan. Pikir saya sudah dekat, ternyata kondisi jalannya lebih ekstrim.


Batu besar di samping kanan dengan jalanya miring empat puluh lima derajat wajib dilewati. Sangat asik untuk berpetualang, meskipun cukup untuk membuat kita ngos - ngosan. Di bawah jalan miring tersebut saya berjumpa dengan penduduk sekitar. Seorang bapak setengah baya yang sibuk dngan hasil panen pisangnya. Dua keranjang pisang – pisang besar tampak penuh dibawanya. Namun ada sedikit masalah dengan motornya. “Sudah biasa pak pakai motor di jalan seperti ini ?” sapa saya. “Biasa mas, biasanya juga lancar - lancar saja, Cuma ini tadi salah setingan motornya”. Saya kembali menerawang keatas dan membayangkan bagaimana motor bebek tersebut bisa naik.

Kucuran keringat sudah membasahi badan. Untungnya semilir angin dengan cepat meredakanya. Begitu segar, sensasi bahagia seperti habis berolahraga seketika itu juga muncul. Saya kembali bersemangat dan tetap melangkah dengan santai. Dari jauh tampak warna biru di sela - sela pohon jati yang berbaris rapi. Semakin saya dekati malah tidak sampai - sampai. Warna awan yang cerah berubah seperti fatamorgana di tengah perjalanan yang terik ini. Tampa sadar saya sudah berada di depan warung kecil. Hanya ada satu warung itu saja, di sampingnya hutan belantara. “Mampir dulu mas, istirahat sebentar disini” sapa seorang ibu mencairkan suasana. Saya hanya tersenyum dan membalas sapa kemudian melanjutkan perjalanan. Karena matahari juga sudah mulai naik. Sesekali saya juga menjumpai gubuk - gubuk kecil tempat singgah penduduk. Aktifitas berkebun menjadi roda ekonomi andalan. Karena tanahnya yang subur,kebun - kebun tumbuh dengan hasil bumi yang melimpah ruah disini.

Perjalanan yang cukup panjang akhirnya mulai menunjukan hasil. Masih dari atas bukit saya melihat warna biru lagi. Warna biru sedikit hijau yang berbatasan langsung dengan warna putih kecoklatan pasir pantai. Hamparan pantai seluas 400 meter sangat menawan dari kejauhan. Saya menghentikan langkah sejenak. Di tengah semak - semak liar itu saya menghirup nafas panjang. Memandangi lagi dengan setengah tidak percaya. Ternyata ada juga pantai berpasir putih di sekitar teluk popoh, sementara pantai - pantai lain di sekitarnya semua berpasir coklat.


Tidak sabar rasanya segera turun kebawah. Jalan mulai sedikit menurun, di sampingnya terdapat sebuah bukit. Dengan hati - hati saya menyusurinya. Sebuah bener yang dipasang di antara dua pohon menjadi penanda pintu masuk yang sederhana. Gambaran singkat tentang Pantai Coro ini adalah berada di balik bukit. Membentuk teluk berukuran kecil. Menghadap langsung ke arah selatan samudra Indonesia. Di kedua sisinya diapit tebing batu megah. Bahkan di sisi barat gugusan tebing batu terlihat memanjang dan luar biasa. Kesan alami begitu kuat saya rasakan. Sedikit sekali pengunjung yang datang. Bahkan bisa kita ibaratkan pantai pribadi.


Pasirnya putih sedikit kecoklatan dan tentunya sangat bersih. Memanjang dari barat ke timur. Pohon - pohon yang teduh dengan akarnya yang besar memenuhi pinggir pantai. Membuat siapapun yang datang ingin bersantai di bawahnya. Saya langsung melepaskan sendal, membuat jejak kaki di pasirnya yang lembut. Memandangi batu - batu karang yang terhempas ombak. Sayang ombaknya cukup besar.


Boleh bermain air tapi disarankan di tepi saja demi keamanan. Saya sangat menikmati setiap jengkal pasirnya. Dari ujung barat sampai ujung timur sangat sayang untuk di lewatkan. Ada juga sumber air tawar yang keluar dari bawah pohon. Mengalir lirih menyisir batu karang yang menjadi pembatas pantai.

Di sisi paling timur, saya rasa menjadi tempat ternyaman. Saya sedikit naik keatas menghampiri warung yang ada di pinggir Pantai. Dua botol minuman dingin segera saya beli. Minum di bawah pohon dengan suasana pantai yang sepi menjadi simulasi surga dunia. Saya cukup lama terdiam, meresapi kemegahan ciptaan Tuhan yang satu ini.

Tebing Banyu Mulok
Tidak mau larut dalam buaian pesona Pantai Coro saja, ingatan saya kembali tersedar. Tebing Banyu Mulok masih menjadi teka - teki yang belum terpecahkan. Rasa penasaran tentang kemegahanya menguasai rasa ingin tahu saya. Itu semua karena papan petunjuk di sebelah timur pantai Coro. Di dekat karang besar ada jalan setapak menuju arah timur. Semak belukar tumbuh dengan liar disana. Tingginya cukup untuk menyembunyikan tubuh kami. Semakin lama jalanya semakin naik. Semakin naik pemandangan yang didapat malah semakin menakjubkan. Seakan tidak peduli panas, langkah kaki tetap semangat mengitari bukit kecil. Terdepat gubuk kecil, mungkin digunakan sebagai tempat jualan. Satu tanjakan panjang berhasil saya tuntaskan.


Saya seperti berada disisi lain dari bukit sebelumnya. Samar - samar warna biru laut mengintip dari jauh. Sejauh mata memandang lebih didominasi rumput liar. Sedikit sekali pohon, kalaupun ada bisa dihitung jari jumlahnya. Namun tidak ada kesan gersang yang saya temui. Semua berwarna hijau atau dalam bahasa jawa terkenal dengan istilah ijo royo - royo. Jalan setapak masih belum selesai di tempuh.


Saya masih harus berjalan lagi beberapa langkah untuk sampai di Banyu Mulok. Membelah hijaunya rumput liar yang dari jauh lebih mirip dengan kebun teh. Sebuah bendera merah putih dengan gagah berkibar di atas tebing. Menjadi penanda bahwa kami telah sampai di tempat yang luar biasa ini. Kekaguman tidak henti - hentinya terucap. Entah dengan apa lagi saya harus mendeskripsikan eloknya Banyu Mulok ini. Wajah alam yang masih alami menyapa penuh damai.


Saya benar - benar menikmati birunya samudra Indonesia lebih leluasa. Luas dan seolah tanpa batas. Garis horizon antara laut dan langit hanya dibedakan tipis dengan gradasi warna biru. Keunikan Banyu Mulok sebenarnya ada pada ombaknya yang besar. Ombak tersebut akan menghantam kokohnya dinding tebing. Hingga airnya sampai naik dan menyembur ke atas. Mungkin karena hal itulah asal dari penamaan Banyu Mulok didapat.



Dalam bahasa Jawa kata Banyu Mulok bermakna air yang naik keatas. Kalau beruntung sahabat juga bisa melihat indahnya pelangi kecil dari bias cahaya karena air yang menghantam tebing. Dan yang paling menyenangkan adalah saya hanya menjumpai dua orang saja ketika berkunjung di tempat ini. Sepi, tenang, nyaman, dan sangat bebas menikmati keindahan surga dunia.

sumber : mreyhanflorean.blogspot.co.id
Untuk sementara sampai disini dulu petualangan kami, mungkin lain waktu bisa mampir ke pantai Dadap yang juga masih bersebelahan dengan Tebing Banyu Mulok. Banyak hikmah yang saya dapat. Banyak keindahan yang saya nikmati, dan semoga tetap banyak bersyukur karena dilahirkan di bumi Nusantara yang indah ini.

Info Penting :
  • Bagi sahabat yang berada diluar daerah bisa mempersipkan tiket perjalanan dan penginapan secara online melalui Tiket.com. Sekedar info untuk menuju Tulungagung, Sahabat dapat menggunakan kereta api dan turun di stasiun Tulungagung. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan transportasi umum menuju ke arah Pantai. Di sekitar teluk Popoh juga terdapat hotel dan penginapan murah lainnya untuk memudahkan liburan sahabat.
  • Pantai Coro dan Banyu Mulok berada di Ds. Gerbo, Kec. Besuki , Kab. Tulungagung. Kurang lebih 35 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Tulungagung
  • Peringatan penting untuk tidak membuang sampah sembarangan !

.
Share:
Post a Comment